Episode 19 Menuju Ke Verdana

Keesokan harinya, setelah Fathian dan Rain pergi meninggalkan kota Iris.

“Ktuprak ktuprak ktuprak!!" Suara kereta kuda berjalan.

“Huah~ sudah sehari kita naik kereta kuda, Apa kota Verdana masih sangat jauh?" Tanya Fathian yang lelah menunggu.

“Hmm, meski Aku sudah pernah berkeliling antar kota, tapi untuk Verdana ... Aku belum pernah mengunjunginya," jawab Rain.

“Eh? yang benar saja, Aku sudah mulai bosan jika terus seperti ini." Fathian yang mengeluh.

Saat ini, Fathian dan Rain sedang menaiki kereta kuda menuju kota Verdana. Dalam kereta kuda tersebut, hanya Fathian dan Rain saja yang menumpang.

“Ano ... apa kalian berdua ingin ke kota Verdana?" Tanya Pak kusir agak ragu.

“Hm? Itu benar, kami ingin pergi ke sana, ku dengar di sana tempatnya nyaman." Jawab Fathian.

“Be—begitu ya ...." Pak kusir merasa ragu.

“Hm? kalau boleh tau, memangnya ada apa sampai harus menanyakan tujuan kami?" Tanya Rain ke pak kusir.

“...."

Pak kusir terdiam untuk sementara, disaat Rain bertanya kepadanya. Namun setelahnya, pak kusir itu pun menjawab.

“... Itu, sebaiknya kalian jangan pergi ke sana, sebenarnya, dari informasi yang kudapat, jala—" (ucapan pak kusir pun terputus).

Lalu tiba-tiba, kereta kuda yang dinaiki Fathian dan Rain, berhenti secara mendadak tanpa arahan pak kusir.

“BRUK!!"

“Huh? ada ap—" (ucapan Fathian terputus).

“UWAAHH! KENAPA MEREKA MUNCUL DI SINI!?" Teriak Pak kusir.

Disaat kereta kuda berhenti, pak kusir sontak terkejut. Setelah dirinya melihat sekelompok orang mencegat kereta kudanya.

“Yaampun, ini, ini mustahil ...." Pak kusir yang ketakutan.

disaat Pak kusir melihat apa yang sebenarnya terjadi, dia pun langsung pingsan karena ketakutan.

Mendengar hal itu, Rain segera mengintip dari balik kereta kuda melalui jendela. Dan ternyata, kereta kuda mereka saat ini telah dikepung.

Sekelompok bandit jalanan bersenjata lengkap, telah mencegat mereka. Tubuh kekar dan berotot serta wajah sangar seperti preman, membuat suasana mencekam.

“Turun kalian semua!!! serahkan barang milik kalian!!" Teriak salah satu bandit sambil mengarahkan senjatanya.

“Fathian, sepertinya mereka adalah bandit, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Rain menunggu perintah Fathian.

Fathian pun terdiam untuk sementara, sambil memikirkan sebuah rencana. Disituasi tersebut, Fathian juga bersikap tenang sambil melipat kedua tangannya.

“Rain, ayo keluar," Ujar Fathian.

Fathian kemudian turun dari kereta kuda, lalu pergi menghampiri para bandit tersebut. Sementara Rain, dia pergi keatas atap kereta, untuk mengawasi.

“Tap ... Tap ... Tap ...." Suara langkah kaki Fathian.

“Permisi, apa kalian adalah orang yang mencegat kereta kuda kami?" Tanya Fathian sambil tersenyum.

Fathian datang menghampiri dengan wajah tersenyum sambil menghunus pedangnya. Melihat hal tersebut, sontak para bandit terkejut, dan bersiap menggunakan senjatanya.

“Bocah, apa kau mau mat—"

“SHIING!!"

Tanpa pikir panjang, Fathian langsung menebas leher seorang bandit yang berdiri di depannya. Tebasannya yang begitu cepat, tidak disadari oleh para bandit lainnya.

“UWAHHH!! APA-APAAN!!?"

Melihat rekannya dihabisi, sontak para bandit mulai bersiap dan mengeluarkan senjata-senjata mereka.

Mereka tidak terima, saat rekannya terbunuh tepat dihadapan mereka secara langsung. Lalu kemudian, mereka menghunus pedangnya dan berlari menuju Fathian.

“Serang!!!! habisi dia!!!" Para bandit berlari ke arah Fathian.

Mereka semua berlari menghampiri dengan cepat, menuju ke arah Fathian.

“Majulah~ Aku siap," Fathian memasang sikap bertarung.

Sementara itu Rain, dia hanya duduk diam sambil mengawasi situasi sekitar dari atas kereta kuda.

“Hmm, sepertinya tidak ada musuh lain, selain para bandit ini." Rain mengawasi dari atas.

“PTANG!! PTING!!!"

Para bandit itu bertarung melawan Fathian, dengan perbandingan jumlah yang tidak seimbang.

Namun ....

“Apa hanya ini saja? Kemampuan kalian?" Fathian menangkis satu persatu serangan bandit.

“Mustahil! padahal kami mengeroyoknya secara bersamaan, dan orang ini ... dia terus-terusan menangkis semua serangan kami!!" Ujar salah seorang bandit.

“PTANG! PTING!! CLANG! PTANG!!"

Suara benturan pedang terdengar keras, dalam pertarungan Fathian melawan bandit. Para bandit itu terus menerus mengeroyok Fathian tanpa henti.

Namun menurut Fathian, para bandit ini hanya samsak untuk latihannya. Dalam pandangannya, mereka seperti anak kecil yang bermain pedang-pedangan.

“Lemahnya, tapi biarlah, sesekali aku bertarung tanpa menggunakan mana ke dalam pedangku." Batin Fathian.

Rain yang memperhatikan Fathian dari atas, mulai mengamati dengan seksama. Melihat Fathian yang bertarung tanpa kelelahan, meski tanpa mana yang dia gunakan.

“Luar biasa, dia tidak kelelahan sedikitpun." Batin Rain.

“PTANG!! PTING!!! Ha ... Ha ...."

“Hm? sudah selesai?" Fathian kebingungan.

Para bandit pun mulai kelelahan, saat mereka sadar bahwa serangan mereka tidak ada gunanya. Melihat dari skill mereka, mereka jelas kalah jauh dari Fathian.

“Sial! apa-apaan kau ini!?" Tanya salah seorang bandit ke Fathian.

Para bandit pun mulai ketakutan disaat mereka sadar akan kelemahan mereka, melawan Fathian.

Mereka sadar, bahwa kemampuan mereka saat ini tidak bisa menandingi Fathian. Berbagai macam serangan telah di keluarkan, namun hasilnya tetap tidak berubah.

“... Si—sial!! Semuanya!!! ayo pergi!!!"

Setelah tahu mereka akan kalah, para bandit itu pun lari kocar-kacir menghindari Fathian. Namun, nasib mereka kali ini tidak akan beruntung.

“Rain, habisi mereka," Ujar Fathian.

Mendengar Fathian memberi perintah, Rain bergegas dengan cepat menuju bandit yang barlari kocar-kacir. Dengan cepat, Rain melesat kencang melewati Fathian.

“WHUUSSH!!"

“Sial! kali ini Aku mendapat mangsa yang sal—"

“SHIING!!!"

“Ah? Bos! apa yang ter—"

“SLASHH!!"

Dengan gerakan yang cepat, Rain memotong kepala para bandit dalam waktu yang singkat. Satu persatu, nyawa para bandit telah jatuh ke tangannya.

“TI—TIDAK!! MENJAUHLAH!!! AKU HANYA DI AJAK MER—"

“SHING!!"

“AAAAAAHHH BERHEN—"

“SLASHH!!!"

Suara teriakan dari para bandit itu terdengar di mana-mana. Teriakan tersebut, seperti menandakan adanya pembunuhan berantai yang sedang terjadi.

“Wah ... Aku bahkan bisa mendengarnya sampai sini ...." Ujar Fathian sambil menggaruk kepala.

****

1 jam kemudian.

“Hmm, apa dia belum selesai? padahal hanya beberapa orang saja, Aneh." Fathian menatap ke kejauhan.

“Hmm ... oh? itu dia!" Fathian melihat Rain dari kejauhan.

Lalu diwaktu bersamaan, Pak kusir membuka mata dari pingsannya. “Ugh ... Aku, Aku di mana? apa Aku di surga ...."

“Oh, Pak? sudah bangun?" Tanya Fathian sambil melambai-lambaikan tangannya.

“HAH!!? DI MANA!!? DI MANA BANDIT ITU!?"

Pak kusir itu langsung terbangun dengan cepat, sambil melihat situasi sekitar. Dengan rasa panik, pak kusir pun langsung memasang kuda-kuda bela diri.

“HIAAT!! SSAAT!! HURYAA!!"

“GUSTI NU AGUNG! PAK UDAH, PAK!" Fathian ikut memasang kuda-kuda karena terkejut.

“Huwaaaah Ciat!!! eh, apa?" Pak kusir memukul ke sembarang arah.

Setelah itu, Fathian pun mulai menjelaskan semua kejadiannya. Tak lupa juga, Fathian memberitahu identitasnya bersama Rain sebagai petualang rank E.

“Begitu ya ... hah, syukurlah." Pak kusir mengelus dada.

Lalu kemudian, terdengar suara langkah kaki seseorang datang menghampiri. Tanpa diduga, asal suara itu berasal dari Rain yang baru saja kembali dari tugasnya.

“Tap Tap Tap Tap ...." Suara langkah kaki menghampiri.

“Fathian, Aku sudah mengurus mereka semua, dan juga ... Aku menemukan markas mereka di pedalaman hutan, namun karena itu berbahaya, Aku pun segera kembali ke sini," Ujar Rain.

Mendengar apa kata Rain, Fathian cukup terkejut. Bagaimana tidak, itu karena Rain baru saja menemukan markas bandit.

Jarang sekali seseorang bisa menemukan markas bandit. Itu dikarenakan, para bandit sudah hidup cukup lama dengan bersembunyi.

“Markas bandit, kah? hmm, sebaiknya ku lewat dulu, prioritas utamaku adalah kota Verdana." Batin Fathian.

“Untuk sekarang, kesampingkan hal itu, prioritas utama kita adalah kota Verdana, dan juga ... sebaiknya kau jangan terlalu gegabah seperti tadi, Aku khawatir tau." Fathian yang khawatir

“Ah ... Hm~ Terima kasih sudah mengkhawatirkan Aku," Ujar Rain sambil tersenyum.

Rain tersenyum bahagia, disaat dirinya dikhawatirkan oleh seseorang. Terlebih lagi, orang itu adalah rekannya.

“Tolong jangan tersenyum seperti itu, disaat ciptatan darah menempel di baju dan wajahmu," Pak kusir yang ketakutan.

“Ah, maaf!" Ujar Rain.

Setelahnya, mereka bertiga mulai melanjutkan perjalanan mereka kembali.

“Yosh, kita langsung OTW aja sekarang." Fathian bergegas masuk ke dalam kereta.

“Tunggu, apa!? Aku baru saja sadar dari tidurku, dan kau ingin Aku mulai mengendarai!?" Pak kusir yang kecapean.

“Untuk sekarang, biarkan Aku yang mengendarai kereta kudanya." Rain menepuk bahu Pak kusir.

Pada akhirnya, Berkat Fathian dan Rain, perjalanan bisa dilanjutkan kembali tanpa kendala.

****

Malamnya.

“Ktuprak Ktuprak ktuprak ktuprak!" Suara kereta kuda.

“Hmm, ini sudah gelap, sepertinya kita harus menepi dan membuat kemah, bagaimana menurut kalian?" Tanya Rain.

“Tidak masalah, lagi pula kudanya juga harus istirahat, kan?" Ujar Fathian.

“Itu benar, sebaiknya kita menepi dulu saja," Ujar Pak kusir.

Mereka pun Akhirnya berhenti menepi untuk beristirahat. Sambil mencari tempat yang pas, Fathian lalu meminta Rain untuk mencari kayu bakar dan sumber air terdekat.

“Oke Rain, sekarang kamu akan pergi mencari kayu bakar dan sumber air terdekat, sementara Aku, akan pergi berbu—"

“Kalian berdua, sebaiknya kalian cari kayu bakar saja, soal makanan, serahkan saja padaku." Pak kusir mengeluarkan sekarung roti yang masih layak dimakan.

“Waaah~" Fathian dan Rain tergoda dan lapar.

Setelahnya, Fathian pergi mencari kayu bakar di dalam hutan. Sementara Rain, bertugas menjaga pak kusir agar tetap aman.

“Oke, ini sudah beres, Aku sudah mendirikan tendanya...." Rain mengelap keringat di dahinya.

“Bagus, nak, dengan begini kita bisa tidur," Ujar Pak kusir.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!