Hari demi hari terlewati, akhirnya Fathian mulai memasuki pertandingan terakhirnya. Kali ini Fathian berhadapan dengan lawan yang cukup tangguh. Tidak, lebih tepatnya luar biasa.
“HIAT!!!! HAH!!!!" Rex yang melancarkan pukulan dan tendangannya
“Huh? Ha!!! Huff!!" Fathian yang berusaha Menghindari serangan Rex.
Suasana Arena pertandingan, semakin memanas. Melihat Fathian dan Rex yang bertarung di atas Arena, membuat para penonton bersemangat.
Mereka berdua telah bertarung, sejak tujuh menit yang lalu.
“Wow! Good~ kau bisa menghindari tendanganku, tapi tidak untuk yang ini!" Rex mulai mengeluarkan pukulan kerasnya.
“Huh? Lagi? Apa dia selama ini menang hanya karena gerakan yang berulang dan tidak teratur?" Batin Fathian.
Beberapa hari yang lalu, Fathian sudah memenangkan 7 kali pertandingan, melawan provinsi lain. Namun, kali ini Fathian bertemu lawan yang merepotkan.
Alasannya, Rex memiliki tenaga yang kuat.
Tidak hanya itu, Rex juga tidak asal menyerang secara membabi buta.
Dan yang lebih merepotkannya lagi adalah....
“Apa dia robot!? Seberapa besar stamina yang dia punya?" Batin Fathian.
Selama pertandingan berlangsung, Fathian hanya menghindar dan menangkis serangan Rex. Fathian juga kesulitan mencari celah, untuk meluncurkan serangannya.
Fathian mulai fokus kembali sambil memasang sikap bertarungnya. Kali ini Fathian akan menggunakan teknik guntingan.
Teknik ini adalah teknik mencapit tubuh lawan dengan kedua kaki, lalu membantingnya dengan cara memutar tubuh lawan ke arah samping, sampai lawan terjatuh.
Rex kemudian berbicara. “Yo! Bagaimana? Kau ingin menyerah? Dari tadi kau seperti tikus! Aku sarankan kau meny—" (terputus)
“NTAPS!! ADA CELAH!!!" Batin Fathian.
Disaat Rex berbicara, Fathian memanfaatkan kondisi tersebut dengan melesatkan tendangan sabitnya.
“ARGHHH!!!" Teriak Rex kesakitan.
Fathian berhasil mengenai perut Rex, dengan tendangannya.
“wah, mantap! Kalo gini aku gak perlu teknik guntingan, kayaknya si Rex ini udah mulai bosan karena aku terus menghindar" Batin Fathian.
“Agh!!! Kuat sekali! Dan juga ... Aku tidak bisa membaca raut wajahnya, apa dia masih manusia?" Rex yang kebingungan dalam batinnya.
Disaat Fathian berhasil mengenai perut Rex, Fathian juga menarik kembali kakinya secepat mungkin.
Alasannya, karena di saat tendangannya mengenai target, Rex berinisiatif untuk menangkap kaki Fathian.
“Kali ini kena!!!" Batin Rex.
“Hahaha, dengan bigini kau tid— Hah!? Apa!!?" Rex berusaha menangkap kaki Fathian, namun sayangnya tidak berhasil.
“DASHHH!!!"
Fathian meluncurkan pukulannya, bersamaan saat menarik kembali kakinya. Pukulan itu mengenai bahu Rex, Namun Rex tidak merasakan apa-apa.
“Haha, seperti yang diharapkan~ dari sabit kematian, Fathian." Ujar Rex sambil memasang sikap bertarung.
“Kau juga, kalau gak salah julukanmu itu Tank Baja, kan~ itu julukan yang bagus." Puji Fathian untuk Rex.
“wah ... Gila! Mereka seperti monster!" Ujar salah seorang penonton.
Disaat semuanya memanas, wasit Kemudian memberhentikan pertarungan.
“Priiit!!!" Bunyi pluit wasit.
***
Sepuluh menit setelah pertandingan, Fathian beristirahat di ruangan yang sudah disediakan panitia.
“Fyuh~ capek juga, akhirnya aku bisa pulang, aku gak nyangka perlombaan kali ini menghabiskan waktu 6 hari." Fathian berbaring di atas kursi.
“Fathian, lu mau gue beli— eh buset!? Ngapain itu kursi lu pake semua buat lu tidurin!!?" Doni yang baru selesai dari Arena.
“Diam! Aku capek! Aku mau cepet pulang!" Ujar Fathian.
“Yaelah!! Tunggu bentar napa, kita tunggu dulu anak-anak yang lain." Doni melempar handuk ke kepala Fathian.
“Ugh!! Woy! Btw thanks handuknya." Fathian mengelap keringat dengan handuk.
“Ya udah, gue mau liat anak-anak yang lain dulu." Doni pergi.
Kemudian Doni pergi, untuk melihat anak-anak yang lain. Sementara Fathian berbaring di atas kursi yang dibariskan.
“Hah ... Mending aku baca lanjutan dari novel yang ku baca kemarin, kalau gak salah ... Chapter berapa ya?" Fathian memainkan ponselnya sambil berbaring.
Disaat Fathian asyik membaca novel online di ponselnya, Mita kemudian datang menghampiri Fathian dari pintu masuk ruangan.
“Kak! Nih air minum." Mita menawarkan sebotol air.
“Oh? Makasih." Fathian bangun dari berbaringnya.
“Kak, tadi aku ketemu lawan susah banget loh, udah gitu dia serangannya cepet!"
Mita menceritakan pertarungannya kepada Fathian. Dimulai dari awal pertarungan sampai akhir pertarungan.
“Nah, terus! Udah gitu dia ngeselin banget loh, kak"
“emangnya kenapa dia bikin kamu kesel?" Tanya Fathian.
“jadi, kan waktu dia tanding sama aku, dia itu ngeledek aku terus sama gerakannnya, kaya gimana ya? Pokoknya pas dia mau nendang gitu, eh dia malah gak jadi nendang! Huh! Kesel!" Mita bercerita sambil mengembungkan sebelah pipinya.
“HAHAHA, itumah udah biasa, itu salah satu trik buat ngecoh lawan, yang awalnya mau nendang tapi nyatanya dia ganti ke pukulan." Fathian tertawa.
“Ih kak! Aku tuh setiap pertandingan, pasti kalah mulu, bahkan aku juga tadi gak menangin apapun." Mita merasa dirinya beban.
“...."
Fathian kemudian menepuk kepala Mita sambil mengatakan sebuah kalimat. “Mit, kamu itu udah hebat, jarang manusia sekuat kamu yang masih berusaha keras, walaupun terus jatuh dan kalah."
Mendengar kalimat tersebut, Mita kemudian merasa tenang. “Makasih kak ...."
“Mita, sekarang kamu umur berapa?" Tanya Fathian.
“Aku mau masuk umur 20 kak, sebulan lagi hehe"
“kamu mau masuk 20? Wah kayaknya aku harus kasih hadiah nih"
lalu Fathian dan Mitapun beristirahat bersama sambil menunggu anak-anak yang lain.
“Kak, kalau boleh tau, umur Ka—" (ucapan Mita terputus).
“DOOOORRRR!!!"
Hari itu mereka tidak tahu, bahwa ancaman berbahaya, mulai mendekati mereka.
“AHHHH!!!" Mita yang terkejut.
Tidak hanya Mita, Fathianpun ikut terkejut. “Apa itu!? Kok kaya suara pistol?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments