Episode 18 Mengulur Waktu

Berlanjut ke bagian Fathian dan Rain. Kali ini, mereka berdua berjalan menghampiri lokasi jalan yang terbelah.

Jalan yang dibelah oleh Fathian tadi, berhasil membuat sekawanan kerbau tanduk besi berhenti. Sehingga, ini menjadi peluang bagi mereka, untuk mengulur waktu.

“Daya hancur ini ... ini sungguh mengerikan." Rain melihat jalan yang dibelah Fathian.

“Ini belum seberapa, sekarang, kita lanjut ke masalah utamanya"

Fathian dan Rain mulai berjaga di sekitaran lereng gunung. Sambil mengawasi pergerakkan kerbau di seberang jalan, yang hancur terbelah.

Meski begitu, mereka tidak hanya diam dan duduk menunggu bantuan. Kali ini, mereka ingin masalah ini selesai secepat mungkin.

“Rain, Aku akan menghancurkan tebing di sebelah sana, kali ini, Aku berniat untuk menjatuhkan mereka semua!" Fathian melirik ke arah tebing didekat jalan.

Melihat gerakan mata Fathian, Rainpun mengikuti arah gerakan mata yang dilirik oleh Fathian.

“Ho~ menghancurkan tebing, ya ... itu boleh dicoba." Rain memandang ke arah tebing.

Setelah itu, Rain mulai menjaga jarak dari Fathian sejauh mungkin. Bukan tanpa alasan, kali ini Fathian akan mengeluarkan jurus terkuatnya yang dia punya saat ini.

“Yosh, kali ini, Aku akan mencobanya ... SWORD! AURA! WHOOOSSSSHHH!!!"

Angin berhembus sangat kencang. ledakan Aura yang di keluarkan oleh Fathian, membuat tanah di sekitarnya terkikis dan terlempar ke udara.

Fathianpun mulai memasang sikap bertarungnya. Tatapan tajamnya tertuju ke arah sebuah tebing tinggi didekat jalan.

“HMM! HAAATTT!!! SHIING!!!" Fathian mengayunkan pedangnya dengan cepat.

Satu kali ayunan pedang Fathian, mampu menghempaskan energi dari pedangnya. Energi ini membentuk seperti sabit yang melesat kencang menuju tebing.

“DHUARRR!!!!" sebuah ledakan terjadi.

Fathian berhasil mengarahkan serangannya ke arah tebing. sehingga, tebing itu mulai roboh dan runtuh seperti longsor.

Bebatuan tebingpun mulai bergelinding dan berjatuhan, menuju ke arah kawanan kerbau tanduk besi.

Para kerbau mulai panik, melihat kondisi lereng yang menjadi kacau. Dalam situasi tersebut, mereka semua berusaha untuk mundur, namun tetap tidak bisa.

“MOOOO!!!! MOOO!!!" Para kerbau kepanikan.

Melihat rencananya berhasil, Fathian kemudian mulai menyarungkan pedangnya kembali. “Fyuh~ ini terlalu beresik— hm!? OHOK!!!!"

Tiba-tiba, Fathian mulai batuk berdarah. Hal ini disebabkan karena penggunaan mana yang berlebih, yang dilakukan oleh Fathian.

Melihat hal itu, Rain tidak tinggal diam dan segera menghampiri Fathian. “Fathian!! kau tidak papa!!?"

“Ohok! ohok!! Ugh ... Aku terlalu memaksakan diri ...." Darah mulai keluar dari mulut Fathian.

dengan cepat, Rain langsung mengeluarkan botol ramuan dari tas sihirnya.

“Minumlah, ini ramuan penyembuh yang ku beli di kota." Rain menyodorkan botol ramuan ke mulut Fathian.

Tanpa banyak pikir, Fathian langsung meminumnya dan meneguk cairan dalam botol tersebut.

“Gusti! Phah!! PAHIT!!! ADU— OHOK!!" Fathian tidak kuat meminum.

“FATHIAN!!? MINUM LAGI!!" Rain terus menyodorkan botol ramuannya.

“TUNGGU! WOY!!!"

****

Setelah penderitaan yang cukup lama, akhirnya Fathian mulai kembali pulih sedikit demi sedikit. Berkat ramuan yang Rain beli, Fathian berhasil disembuhkan.

Namun ....

“MOOOOO!!!!"

Para kawanan kerbau itu terus berdatangan dari balik gunung. Meski Fathian sudah menjatuhkan tebing di atas, tetap saja jumlah kerbau itu masih terlalu banyak.

“Aku sudah menduga ini, mereka masih saja berdatangan ... tapi syukurlah, mereka tidak bisa melewati jalan," Ujar Rain.

“Hup ah! Sialan kau, Rain, Aku malah dicekoki!" Fathian tersadar setelah lemas meminum obat.

“Maaf Fathian, keselamatan diutamakan," Ujar Rain.

Merekapun mulai bersiap kembali pada posisinya. melihat kawanan kerbau itu terus berdatangan dari balik gunung, mereka hanya bisa mengandalkan kemampuan mereka saat ini.

“Rain, kali ini kita mundur terlebih dahulu, deh," Ujar Fathian.

Mendengar ucapan Fathian, Rain langsung menurutinya tanpa pikir panjang. “Aku mengerti, kalau begi—"

Lalu tiba-tiba, sebuah bola api raksasa muncul dari atas langit. “WHOOSSHH WHUURRR!!"

Fathian dan Rain sebenarnya sudah menyadari kedatangan bola api tersebut. Namun, mereka hanya menunggu timing yang pas disaat mereka ingin mundur.

“Rain!"

“Aku mengerti!"

Mendengar panggilan Fathian, Rain langsung mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari tas sihirnya. Gulungan tersebut, dilemparkan ke atas udara hingga isi gulungan terbuka.

Disaat gulungannya terbuka, cahaya terang muncul menyinari mereka.

“SHIIIIING~ WHOOSHH!!!"

Fathian dan Rain langsung hilang di tempat kejadian.

****

Lalu di suatu tempat, di dekat sungai.

“Whosshhh!!!! Shiiing~" lingkaran sihir muncul di tepi sungai.

Lingkaran sihir itu muncul, akibat gulungan teleportasi yang digunakan oleh Rain tadi. Lalu setelahnya, Fathian dan Rain muncul dari lingkaran sihir itu.

“Hmmm ... oh? kita sampai, Rain." Ujar Fathian.

“Hm? Ini ...." Rain melihat sekeliling.

Mereka berdua muncul di tepi sungai yang jaraknya tidak jauh, dari kota Iris.

“Kalau begitu, ayo kembali ke kota, tugas kita sudah beres, dan sisanya ... biarkan Vetra yang mengurusnya~" Ujar Fathian.

****

Lalu di suatu tempat, di lereng gunung.

“Hhhhmm~ ya ampun, mereka ini sungguh membuatku kerepotan, tapi biarlah~" Vetra yang melayang di atas udara dekat jurang.

Kemunculan Vetra di lereng gunung, ada hubungannya dengan bola api raksasa yang jatuh dari langit. Bola api itu adalah sihir tingkat tinggi yang di keluarkan oleh Vetra.

Akibat perbuatan Vetra tersebut, lereng gunung menjadi seperti lautan api, yang penuh dengan mayat di mana-mana.

“Ini sudah cukup ...." Tatap tajam Vetra, yang mengarah ke mayat-mayat kerbau.

“Baiklah~ waktunya kembali." Vetra memutar balik arah, lalu terbang menuju kota Iris.

****

Lalu disuatu tempat, penginapan kota Iris. tepatnya di kamar Fathian.

“Slurp~ ah~ susu ini enak, Aku suka." Fathian meminum segelas susu.

“Aku lebih suka kopi," Ujar Rain sambil meniup kopi yang masih panas.

Mereka berdua duduk di meja yang sama, sembari meminum susu dan kopi. Namun, Kali ini Fathian dan Rain tidak sedang diam bersantai.

saat ini, mereka sedang dalam rapat diskusi.

Diskusi yang mereka bahas kali ini, bukan masalah keuangan atau masalah tempat tidur. melainkan mereka sedang memikirkan untuk pergi ke kota lain.

Fathian dan Rain, ingin menjalani kehidupan mereka di sebuah kota yang sudah disepakati.

Kota yang ingin mereka kunjungi selanjutnya adalah, kota Verdana.

“Kapan kita berangkat, Fathian?" Tanya Rain.

“Kita akan berangkat sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi." Fathian mulai bersiap-siap.

“Aku juga, kita langsung saja." Rain bangun dari kursinya.

“Apa di kamarmu tidak ada barang yang tertinggal?" Tanya Fathian.

“Tenang saja, Aku memasukkan semuanya ke dalam tas sihir." Jawab Rain.

Setelah itu, mereka mulai pergi secara diam-diam dari penginapan. Dengan berbekal gulungan teleportasi, Mereka berencana pindah ke tempat yang lumayan jauh.

Oh iya, sebelum itu, mari kita belajar cara kerja gulungan teleportasi. Di dunia ini, gulungan teleportasi sudah tersebar di mana-mana.

Namun meski begitu, gulungan ini cukup mahal. Satu gulungannya saja, bisa mencapai 1 sampai 5 koin emas, tergantung penjualnya. Oke, lanjut ke pembahasan.

Cara kerja gulungan ini, sangat sederhana. Dalam satu paket gulungan, bisanya sudah disediakan selembar kertas yang bergambar lingkaran sihir.

Nah, kertas bergambar tersebut berfungsi untuk menjadi penanda dalam perpindahan tempatnya.

Contoh, sebelum Fathian berteleportasi, Fathian sudah meletakkan kertas lingkaran sihir itu di tepi sungai, dengan ditempel di bebatuan.

Jadi ketika gulungan dibuka, otomatis sihir yang di dalamnya akan aktif. Sehingga, munculah sebuah cahaya yang menyebabkan terjadinya perpindahan ruang.

Nah, perpindahan tersebut menuju ke tempat kertas yang ditempel di bebatuan, dekat tepi sungai tersebut.

kembali ke cerita.

Kali ini Fathian dan Rain berjalan melalui jalanan sempit di gang kota. Alasan mereka melakukan itu, agar orang-orang dari Guild, tidak melihat mereka.

“Rain, pegang tanganku, sekarang." Fathian menawarkan tangannya ke arah Rain.

“Apa? Memegang—"

Dengan cepat, Fathian langsung memegang tangan Rain, sambil mengendap-ngendap melalui gang sempit.

Tujuan mereka kali ini adalah mencari jalan sebelumnya, yang digunakan saat menyusup masuk ke kota Iris.

“Ketemu, Rain Ayo masuk duluan, Aku akan berjaga," Ujar Fathian.

Rain melepas tangannya dari Fathian, lalu turun masuk ke lubang terowongan bawah tanah.

“Fathian! Aku akan menunggu di bawah!" Teriak Rain di bawah lubang.

****

Sementara itu ditempat lain, kamar penginapan Fathian.

Setelah mengurus masalah kerbau tanduk besi, Vetra segera menghampiri kamar Fathian.

“Begini tuan, mereka tiba-tiba pergi terburu-buru," Ujar pemilik penginapan.

“...."

“... Ha~ mereka berdua, apa mereka harus melakukan ini?" Vetra menepuk jidat.

Fathian dan Rain, sudah pergi meninggalkan penginapan secara diam-diam. Tapi tenang saja, soal biaya penginapan, Fathian sudah mengurusnya.

“Nak, Fathian, Aku tidak tau apa masalahmu dengan Guild Master, tapi ... terima kasih atas bayarannya~" Batin pemilik penginapan.

Seperti itulah, Fathian yang menyogok pemilik penginapan, agar membantunya membuat alasan sambil mengulur waktu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!