Henri langsung mengajak istri dan Emilia ke pusat perbelanjaan yang letaknya dekat dengan apartemen supaya tidak terkena macet saat pulang nanti.
Emilia yang bawel itu terus mengoceh bahkan ia juga bercerita tentang Loli dan Chika.
Henri dan Arumi dibuat tertawa melihat ekspresi wajah bocah itu yang mengomel-ngomel dengan bibir mengerucut.
Arumi dan Henri langsung mengajak Emilia ke tempat bermain anak-anak. Henri lebih banyak berinteraksi dengan Emilia ketimbang Arumi.
“Daddy, Mili mau main balap motor itu, tapi nggak bisa sendiri.”
“Jadi mau balapannya sama Daddy ?”
Emilia mengangguk-angguk dan tersenyum bahagia saat Henri menganguk juga.
“Sayang, aku temani Mili main balap motor dulu”
“Mil, kamu anak cewek masa mintanya main balap motor ?” ledek Arumi.
“Biar beda sama teman-teman Mili, Mom. Daddy Chika dan Loly belum tentu mau diajak main balap, Mom.”
Arumi tertawa dan membiarkan Henri menggendong Emilia duduk di atas motor diikuti Henri yang duduk di belakangnya.
“Pegangan tangan Daddy jadi Mili berasa lagi naik motor.”
Bocah yang sedang bahagia itu langsung memegang kedua pergelangan tangan Henri dan mulai menikmati permainan.
Arumi tersenyum saat beberapa kali bocah itu memekik kegirangan karena melewati jalan berliku di layar monitor yang membuat badannya harus ikut meliuk bersama Henri.
Beberapa kali Arumi mengabadikan momen itu dengan kamera handphonenya. Hatinya sempat tercubit membayangkan akan lebih bahagia lagi kalau Henri sedang bersama anak mereka.
“Arumi ?” seorang wanita menepuk bahu Arumi dan menyapanya dari arah belakang.
“Maya ?” Arumi membulatkan matanya, tidak menyangka akan bertemu kenalannya saat kuliah di Singapura.
“Mana anakmu ?”
“Eh..aku…”
“Aahh itu yang sama Henri, ya ?” Maya menunjuk dua orang yang sedang balapan motor.
Arumi lupa kalau Maya pasti mengenali Henri. Mereka sempat dekat meskipun tidak mengambil jurusan kuliah yang sama. Arumi dan Henri juga mengenal suami Maya dan masing-masing pasangan hadir dalam acara pernikahan pasangan lainnya.
“Wah mantap deh langsung dapat anak, malah wajahnya mirip banget sama Henri, cuma anakmu versi ceweknya.”
“Eh iya…” Arumi tersenyum canggung. “Kamu sendiri gimana ?”
“Annakku baru 1.5 tahun, lagi di sana,” Maya menunjuk ke arah bayi laki-laki yang sedang duduk di kereta bayi.
“Aku kemari lagi menemani keponakan, biasa mamanya lagi shopping, anak dititp,” lanjut Maya sambil tertawa.
Tidak lama Henri dan Emilia menghampiri mereka sambil tertawa-tawa.
“Apa kabar Henri ?” Maya menyapa suami Arumi yang dikenalnya dengan baik.
“Maya, ya ?” Dahi Henri berkerut mencoba mengenali wanita di depannya.
“Yups !” Maya mengangguk.
“Ini anak kalian ?” Maya menoleh menatap Emilia dan mengulurkan tangannya.
“Ayo kenalan Mili, Onti ini teman Mommy,” Arumi langsung memotong sebelum Henri sempat menjawab.
Emilia menyalami Maya sambil menyebutkan namanya. Maya langsung membawa Emilia bertemu putranya setelah mendapat ijin dari Henri dan Arumi.
“Kenapa kamu nggak kasih tahu aja kalau Emilia bukan anak kita tapi keponakan ?” bisik Henri saat Maya sudah menjauh.
“Tidak apa-apa, biar saja dia berpikir begitu,” Arumi tersenyum tipis.
“Rum, Juan ajak makan bareng sekalian bisa ngobrol-ngobrol. Kalian ada acara lain nggak setelah ini ?” tanya Maya yang sudah kembali dengan Emilia dan bayi laki-laki yang masih duduk di kereta bayinya.
“Boleh, sudah lama juga kan kita nggak ketemuan,” Arumi menerima tawaran itu setelah menatap Henri minta pendapat suaminya. Henri menyerahkan keputusan pada Arumi.
Emilia langsung menunduk lesu karena belum puas bermain di tempat itu.
“Hai cantik, kita makan dulu, ya ?” Henri berjongkok sejajar dengan Emilia dan berusaha membujuk gadis kecil itu.
“Boleh main 2x lagi, Dad ? Mili janji nggak akan minta tambah.”
Henri mendongak menatap Arumi yang mengangguk sambil tersenyum.
“Nanti aku kabarin nama restorannya, kamu ajak Mili main dulu, nanti nyusul.
Sayang, janji ya hanya 2 permainan lagi, nggak boleh lebih.”
“Thankyou Mom,” Emilia tersenyum dan mengangguk.
Maya dan Arumi pun meninggalkan Henri dan Emilia di tempat mainan anak-anak.
Keduanya memilih restoran ala western yang tidak terlalu ramai supaya nyaman untuk mengobrol.
Sampai di depan restoran, terlihat Juan, suami Maya sudah menunggu.
“Apa kabar, Rumi ?” Juan mengulurkan tangan menyalami Arumi.
“Baik, Ju. Lama juga nggak ketemu ya, terakhir saat kalian menikah 3 tahun yang lalu.” Juan hanya teratwa dan mengiyakan.
Mereka langsung masuk ke dalam membawa putra dan keponakan Maya.
Sekitar 15 menit kemudian, Henri pun datang bersama Emilia saat Arumi, Maya dan Juan sudah duduk dan selesai memesan makanan
“Ya ampun Arumi, anak kamu mirip banget mukanya sama Henri.” komentar Juan saat melihat Henri berjalan mendekat ke arah mereka sambil menggendong Emilia.
Hati Arumi seperti tercubit. Juan bukan yang pertama mengucapkan kalimat itu.
“Sudah aku bilang tadi sama Arumi, wajah putrinya benar-benar seperti copy-an Henri.”
Emilia langsung turun dan menyalami Juan lalu bermain dengan putra Maya dan Juan. Disusul Henri yang langsung menyalami Juan ala pria.
“Sayang, sudah cuci tangan ? Jangan pegang dedek kalau belum bersih tangannya,” ujar Arumi sambil tersenyum tipis.
“Sudah Mom,” sahut Emilia.
“Sudah aku ajak cuci tangan habis dari tempat main, sayang,” ujar Henri yang sudah duduk di samping Arumi.
“Gimana resepnya anakmu bisa mirip banget sama daddy-nya, Bro ?” tanya Juan.
“Harus tanya Arumi soal itu,” Henri tertawa.
Sekarang dia mengerti apa yang menyebabkan sikap Arumi langsung berubah.
“Resepnya nggak bisa dibagikan, rahasia perusahaan. Kalau mau tinggal coba terus sama Maya,” ledek Arumi.
“Jangan bilang selama kehamilan kamu sangat membenci Henri sampai akhirnya anakmu lahir begitu mirip dengan Daddy-nya.”
“Memangnya kamu masih percaya mitos itu, Sayang ?” Juan merangkul bahu istrinya. “Tidak ada penjelasan ilmiah yang bisa menjawab pernyataan itu.”
“Tidak perlu penjelasan ilmiah, sudan banyak buktinya,” sahut Maya dengan sedikit kesal. Juan hanya tertawa setelah menggoda istrinya.
Perbincangan terus mengalir dan tidak lagi membahas soal anak karena Henri berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Hingga akhirnya jam 8.30, kedua keluarga itu memutuskan untuk pulang karena keponakan Maya dan Emilia masih harus bersekolah.
“Kapan-kapan aku akan datang ke kantormu dan kita makan siang bersama,” ujar Maya.
“Boleh banget, aku tunggu,” Arumi tersenyum menjawabnya.
Mereka pun berpamitan dan Henri langsung menggendong Emilia yang mulai mengantuk.
***
“Sayang, jangan pikirkan ucapan orang. Ini bukan yang pertama orang bilang aku mirip dengan Emilia.”
Henri mendekati istrinya yang sudah merebahkan diri di atas ranjang dengan posisi memunggungi Henri.
“Kamu dengar sendiri ucapan Maya, kan ? Bukan tidak mungkin kalau diam-diam Dina membenci aku selama dia hamil Emilia sampai begitu lahir anaknya mirip denganku,” Henri masih berusaha mengajak Arumi bercanda.
“Hanya kepikiran. Sudah lebih dari 10 orang mengatakan hal yang sama,” sahut Arumi masih tetap
di posisinya.
“Kalau begitu kita harus mengakui kalau ucapan Maya itu benar banget,” ujar Henri terkekeh.
Ia menggeser posisi tidurnya dan memeluk Arumi dari belakang, menciumi leher wanita tercintanya setelah menyibakkan rambut Arumi.
“Jangan ngambek hanya karena ucapan orang. Kalau dengan membelah dadaku bisa membuktikan cintaku hanya untuk seorang Arumi, dengan senang hati aku akan membiarkan dokter melakukannya.”
Hati Arumi benar-benar terasa galau dengan reaksi spontan Maya dan Juan, namun sentuhan Henri juga tidak bisa ditahannya.
Hati Arumi yang kesal dan resah tidak bisa menolak ciuman hangat Henri yang terus memberikan sentuhan-sentuhan penuh cinta di setiap ciumannya.
“Mas Henri,” desah Arumi di tengah ciuman Henri yang semakin bersemangat
“I love you Arumi,” bisik Henri sebelum bibirnya kembali membungkam bibir Arumi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
shafana
kapan ketahuan nya Thor..emili anak henri?
2023-05-23
3