Milea benar-benar tidak diberi kesempatan untuk bertanya-tanya pada Arumi. Entah sengaja atau tidak, Arumi sibuk memesan makanan dengan Henri lalu berbincang berdua, membuat Milea sungkan menyelanya.
“Maaf kami terlambat.”
Sepasang suami istri yang baru masuk membuat mata Milea membola, apalagi di belakangnya ada Arkan yang ikut juga.
“Selamat malam Bu, Pak,” sapa Milea langsung berdiri dan membungkukkan badannya sekilas.
“Jangan terlalu formal begitu, Lea,” Arumi tertawa mendengar sapaan Milea pada kedua orangtuanya.
“Malam ini kamu adalah tamu kami, papi dan mami mau bertemu denganmu,” lanjut Arumi.
Milea tersenyum tipis dan menatap Arkan yang terlihat acuh dan tidak peduli dengan kehadiran Milea di ruangan itu.
Milea tampak canggung meski belum ada kalimat yang diucapkan oleh kedua orangtua Arkan.
“Kamu tinggal dimana ?” akhirnya papi Firman membuka percakapan dengan Milea sambil menikmati hidangan yang langsung disajikan.
Milea menyebutkan alamat tempat tinggalnya dan terlihat papi Firman mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Apa pekerjaan orangtuamu ?” mami Mira ikut bertanya dengan wajah ketusnya.
“Mami,” tegur Arumi dengan suara pelan namun tegas. “Mami tidak lupa dengan perjanjian kita, kan ?”
Mami Mira terlihat kesal dan menggerutu sambil mengambil beberapa lauk yang tersaji.
“Jadi berapa lama kalian sempat pacaran waktu SMA ?” papi Firman dengan nada santai kembali bertanya pada Milea.
Tidak ada sindiran atau niat lainnya dari pertanyaan papi Firman yang bersikap lebih ramah dibandingkan mami Mira.
“Hanya 2 tahun, Pi, dan sudah tidak penting lagi membahasnya sekarang,” ujar Arkan dengan suara datar.
“Papi nanyanya sama Lea, kenapa kamu yang jawab, Ar ? Takut Lea salah jawab ?” ledek Arumi.
Arkan hanya diam saja , tidak peduli dengan ledekan kakaknya. Pria itu terlihat tenang menikmati makan malamnya.
”Maaf sebelumnya, apa saya bisa minta ijin untuk bicara dengan Arkan sebentar ?”
“Jadi kamu benar-benar tidak menyangka akan kejutan malam ini kan ?” Arumi terlihat senang karena ini semua memang rencananya.
Semula Arkan yang diminta oleh papi Firman untuk memperkenalkan Milea secara resmi, namun pria itu tidak pernah berhasil membujuk Milea.
Bahkan setelah pertemuan Milea malam itu, Arkan bicara pada orangtuanya untuk tidak lagi meminta Arkan memperkenalkan Milea dalam waktu dekat dengan alasan kesibukan pekerjaaan.
Arumi yang merasa adiknya terlalu lambat bergerak akhirnya membahas dengan suaminya yang langsung setuju untuk mengadakan makan malam ini tanpa memberitahu Arkan dan Milea kalau mereka dipertemukan.
“Ingat jangan lama-lama diskusinya,” ledek Arumi kembali. “Mami dan papi bukan orang yang sabar kalau soal tunggu menunggu.”
Milea tersenyum dan meminta Arkan untuk keluar ruangan. Terlihat ekspresi Arkan semula ingin menolak permintaan Milea namun akhirnya beranjak juga dari kursinya.
Keduanya keluar dari restoran dan Arkan mengajak Milea ke mobilnya yang diparkir tidak jauh dari pintu masuk restoran.
“Jadi masalah pertemuan malam ini yang mau kamu bicarakan waktu itu ?” tanya Milea saat keduanya sudah duduk di dalam mobil.
“Sudah tidak penting lagi. Sesudah pembicaraan kita malam itu, besok paginya aku langsung memberitahu papi dan mami untuk menunda pertemuan denganmu karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jadi tidak usah khawatir kalau aku akan memaksakan keinginanku.
Acara makan malam hari ini murni rancangan Kak Arumi, bahkan aku juga datang sebagai undangan.”
“Ar…”
“Aku sudah memikirkan semua ucapannu malam itu. Maaf kalau selama ini aku malah membuatmu tidak nyaman dan merasa tertekan. Beri aku waktu dua minggu, aku akan memastikan pada keluargaku kalau aku berubah pikiran. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di luar kota seminggu ke depan. Tolong pengertiannya.”
“Ar…”
“Aku hanya belajar untuk lebih berani dan jujur pada diriku sendiri. Aku tidak ingin terus menerus jadi pengecut. Aku salah telah menyamakan dirimu dengan diriku yang tidak pernah bisa menghapus perasaanku. Maaf.”
Arkan tersenyum tipis dan tangannya sudah membuka pintu. Milea menghela nafas dan menyebut nama Arkan dengan cukup keras membuat pria terkejut dan kembali menutup pintu supaya suara Milea tidak terdengar keluar.
“Arkan ! Aku mau bicara denganmu bukan sekedar mendengar curahan hatimu,” Milea mengomel dengan wajah cemberut.
“Sejak tadi kamu tidak memberi aku kesempatan untuk bicara. Sikapmu ini benar-benar membuatku kembali berpikir ulang untuk memulainya kembali.”
Milea mendengus kesal dan sekarang tangannya yang membuka pintu.
“Tunggu !” tangan Arkan menahan lengan Milea. “Apa maksudmu ?”
“Malas aku bicara padamu,” omel Milea sambil berusaha melepaskan diri dari cekalan Arkan namun pria iti malah menarik Milea lebih keras hingga jatuh ke dalam pelukan Arkan.
“Arkan,” Milea berusaha melepaskan diri dari pelukan Arkan.
“Aku akan melepaskanmu seandainya kamu memintanya sekarang, dan aku pastikan saat pelukan ini terlepas, aku tidak akan memaksakan diri lagi untuk membuatmu tetap di sampingku.”
“Kamu mengancamku ?” gerutu Milea. “Posisi ini rasanya sangat tidak nyaman, pinggangku mulai sakit.”
“Yakin kamu mau aku melepaskan pelukanmu ?”
Milea terdiam dan Arkan membiarkannya sampai Milea berbicara lagi.
“Bolehkah aku merubah posisiku dulu ? Kalau pinggangku sakit, memangnya kamu mau menggendongku ?”
“Kenapa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan,” Arkan yang sebenarnya memgerti ucapan Milea pura-pura tidak tahu.
“Arkan, aku mulai kesal kalau kamu membiarkan aku begini,” Milea mulai meninggikan suaranya.
“Setelah 5 tahun jauh dariku, kamu menjadi wanita yang pemarah dan galak. Tapi semuanya membuat aku makin menyukaimu bahkan tergila-gila padamu.”
“Dasar duda gatel ! Sekarang lepaskan aku, pinggangku benar-benar sakit, Ar.”
“Oke…oke…” Arkan tertawa dan melepaskan pelukannya.
Milea menggerutu sambil memukul-mukul pinggangnya.
“Jadi ?” Arkan merubah posisinya menghadap Milea.
“Aku belum memiliki rass yang sama seperti 5 tahun lalu, tapi…”
Arkan senyum-senyum melihat Milea terlihat ragu-ragu melnajutkab kalimtanya.
“Setelah percakapan kita malam itu dan kamu berhenti menghubungiku selama hampir seminggu, aku mulai merasa kehilangan,” ujar Milea dengan suara semakin pelan.
“Terus ?”
Milea melirik Arkan yang masih dalam posisi miring ke arah Milea. Alis Arkan terangkat satu, wajahnya datar tanpa senyuman.
Milea menarik nafas dalam-dalam untuk mengunpulkan keberaniannya.
“Jangan jauh-jauh dariku,” lirih Milea dengan wajah tertunduk. “Jadilah Arkan yang sekarang dan jangan bosan membuat hatiku kembali mencintaimu.”
“Kamu ngomong apa barusan ? Terlalu pelan, aku nggak dengar,” Arkan mencondongkan badannya semakin dekat dengan Milea, menyapu wajah gadis itu dengan hembusan nafasnya.
“Tetaplah menjadi Arkan yang sekarang dan jangan bosan membuat hatiku kembali mencintaimu.”
Milea meninggikan volume suaranya sedikit lebih keras namun wajahnya masih mendunduk.
“Milea.”
“Hmmm”
“Nggak asyik bicara sama kamu tapi nggak bisa tatapan mata.”
Milea mengangkat wajahnya dan menoleh, yakin kalau wajah Arkan cukup jauh darinya karena hembusan nafas pria itu tidak lagi terasa dekat.
Cup !
Arkan mencium bibir Milea sekilas lalu tertawa saat melihat mata Milea menbola.
“Arkan ! Senang banget sih memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,” Milea mengomel sambil memukuli bahu Arkan.
“Naluri pebisnis, Mili. Tidak akan melepas peluang,” Arkan tertawa-tawa.
“Jadi kamu sudah sering memanfaatkan kesempatan untuk menjerat perempuan ? Sudah berapa banyak. ?”
Arkan menangkup wajah Milea dan menatapnya penuh cinta.
“Aku terlalu sibuk marah pada diri sendiri dan berusaha menjadi pria yang berani dan bertanggungjawab agar saat diijinkan bertemu denganmu lagi, aku bisa menatapmu dengan kepala tegak. Maaf aku pernah menjadi pengecut dan kalau masih diberi kesempatan, aku akan membayar semuanya sepuluh kali lipat.”
Milea tersenyum dan mengangguk, menutup matanya perlahan saat wajah Arkan semakin dekat dan merasakan kehangatan bibir Arkan yang mencium bibirnya dengan penuh kelembutan.
Hati Milea menghangat, merasakan cinta Arkan yang tulus untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments