Milea mengerjap saat handphonenya yang ada di atas nakas bergetar. Matanya menyipit melihat tanda penunjuk waktu yang ada di layar handphone. Jma 5.45.
Nomor yang tidak dikenal kembali melakukan panggilan membuat Milea enggan mengangkatnya dan membiarkan hingga terputus. Hingga panggilan keempat dari nomor yang sama mengganggu tidurnya, Milea akhirnya bangun dan duduk di atas ranjang.
“Halo,” sapa Milea.
“Kirimkan lokasi rumahmu ke nomor ini.”
Milea menghela nafas saat mendengar suara ketus yang menyuruhnya tanpa basa-basi.
“Ini siapa ?” Milea balik bertanya dengan suara malas.
“Baru 5 tahun tidak aku telepon, sudah lupa dengan suaraku. Simpan baik-baik nomorku dan siap-siap aku ganggu setiap waktu.”
Milea hanya diam saja tanpa berniat mengirimkan lokasi rumahnya.
“Mili, kamu nggak tidur lagi, kan ? Aku bisa mendengar suara nafasmu. Kirimkan sekarang supaya aku bisa atur waktu harus berangkat jam berapa.”
“Tidak usah,” sahut Milea ketus. “Sudah aku bilang pada Ibu Arumi kalau aku akan berangkat sendiri.”
“Ini juga perintah Kak Arumi sebagai bossmu, jadi jangan coba-coba menolaknya.”
“Tidak usah. Pertemuan hari ini tidak ada hubungannya dengan urusan kantor, jadi tidak usah repot menjemputku.”
Milea langsung menutup teleponnya, bahkan mematikan benda pipih itu lalu kembali bergelung di dalam selimut.
Pertemuan di kantor pengacara masih jam 10 pagi. Setidaknya masih ada waktu 1 sampai 2 jam untuk meneruskan tidurnya. Akhir pekan adalah waktu Milea bangun lebih siang, tidak seperti hari-hari kerja yang mengharuskannya bangun jam 4 pagi.
****
“Tante Milea,” suara Emilia langsung menyapanya begitu Milea masuk ke dalam ruangan yang ada di lantai 2 kantor pengacara.
“Hai Emilia,” sapa balik Milea sambil melakukan high five dengan bocah berusia 4 tahun itu.
Tante Heni langsung bangun dari kursinya dan membalikan badan saat mendengar Emilia memanggil Milea.
“Lea,” wajah Tante Heni terlihat berbinar dan langsung membalas pelukan Milea yang menyapanya.
Kedekatannya dengan Dina membuat Milea cukup akrab dengan kedua orangtua Dina termasuk Dino, kakak kandungnya yang berprofesi sebagai dokter.
“Dina sangat mengharapkan bisa bertemu denganmu hingga tarikan nafas terakhirnya. Dia terus meminta maaf padamu saat tidak sadarkan diri,” ujar Tante Heni saat melerai pelukannya dengan Milea.
Wajah wanita baya ini terihat sedih, terutama saat mengingat kondisi Dina di akhri hayatnya. Putri satu-satunya itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan kondisi depresi, namun mama Heni tidak mengetahui akar masalahnya.
Milea sempat terkejut saat mendengar cerita Tante Heni tentang aksi bunuh diri yang dilakukan Dina, apalagi statusnya saat itu sudah menjadi ibu dari Emilia yang masih berusia 8 bulan.
Sejak Milea mengenalnya, Dina adalah gadis periang yang cukup manja. Terbiasa hidup sebagai orang berlimpah harta, semua keinginan Dina pasti dipenuhi kedua orangtuanya. Bahkan Dino, kakak satu-satunya juga sangat memanjakan Dina hingga gadis itu tumbuh menjadi gadis yang tidak bisa menerima penolakan apalagi kegagalan.
Hampir semua keinginan Dina harus didapatkan dan terkadang gadis itu menggunakan Arkan atau Milea untuk mencapai tujuannya.
“Saya turut berduka cita atas meninggalnya Dina, Tante.”
Hanya itu yang mampu diucapkan Milea. Terus terang ia baru mengetahui soal berita kematian Dina sebulan sesudah sahabatnya itu dimakamkan.
Saat itu tidak ada keinginan untuk kembali ke Jakarta hanya untuk berziarah ke makam Dina.
“Apa aku sudah terlambat ?” seorang pria tampan masuk ke dalam ruangan.
“Uncle Dino,” Emlia langsung menghampiri pria itu dan mengulurkan tangannya minta digendong.
Dino menyapa kedua orangtuanya sebelum menggendong iEmilia.
“Kamu terlihat tambah cantik, Lea,” Dino menyapa Milea yang masih berdiri dekat Tante Heni.
”Apa kabarnya,Kak ?” Milea tersenyum dan menganggukan kepala sekilas.
“Masih sama seperti dulu, menunggu siapa tahu jawabanmu berubah,” kelakar Dino sambil tertawa membuat wajah Milea memerah.
Sekitar3 tahun yang lalu mereka pernah bertemu di Semarang, namun Milea mengaku kalau ia sedang liburan di kota itu, bukan menimba ilmu.
Keduanya sempat menjadi dekat karena Dino sendiri mulai sering bolak balik ke Semarang untuk menjajaki kerjasama guna mengembangkan rumah sakit mili keluarga om Irwan, papa Dino dan Dina.
Gara-gara itu, Milea harus membuat kebohongan lainnya. Ia tetap bersikeras tidak akan memberitahu Dino kalau ia sedang menimba ilmu di kota Semarang.
Hubungan singkat itu mempererat keduanya yang memang sudah lama saling mengenal. Sudah lama Dino memperhatikan Milea yang sering datang ke rumah mereka untuk membantu Dina belajar. Lama-lama perasaan Dino berubah menjadi suka pada Milea. Saat itu, Dino tidak tahu kalau Milea adalah kekasih Arkan, tetangga sekaigus anak sahabat oangtuanya.
“Maaf kami terlambat,” suara Tante Mira, mama Arkan dan Arumi terdengar saat pintu ruangan kembali terbuka.
Bukan hanya kedua orangtua, Arkan, Arumi dan Henri ikut masuk bersama Tante Mira.
Kedua keluarga yang bertetangga dan bersahabat cukup lama itu saling menyapa. Dari pembicaraan mereka, Milea baru tahu kalau keluarga Dina sudah tidak lagi bertetangga dengan keluarga Arkan sejak Dina meninggal.
“Jadi ini yang namanya Milea ?” Tante Mira mendekati Milea yang sejak tadi menepi dan membiarkan kedua keluarga itu saling berbincang.
“Saya Milea, Tante,” Milea tersenyum dan berusaha menghlangkan perasaan tidak nyaman karena dipandangi dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan kurang bersahabat.
“Mami,” Arkan yang menangkap sikap maminya yang tidak suka dengan Milea mendekti dan berdiri di samping gadis itu.
“Jangan terlalu galak pada calon istriku,” Arkan dengan penuh percaya diri menggenggam jemari Milea membuat banyak orang tercengang melihatnya, kecuali Henri dan Arumi yang sudah pernah melihat kelakukan Arkan lebih dari ini.
“Tante Milea akan jadi mama Mili, Oma,” Emilia yang masih berada dalam gendongan Dino berceloteh bahagia.
Dada Dino berdegup tidak karuan saat mendengar ucapan Arkan yang memperkenalkan Milea sebagai calon istrinya.
”Arkan !” desis Milea sambil menatap pria itu. Arkan terlihat acuh dan tidak membiarkan jemari Milea terlepas dari genggamannya.
Tidak lama pengacara keluarga Dina masuk ke ruangan bersama dua orang stafnya.
Arkan dan Milea diminta duduk berdampingan berhadapan dengan pengacara sementara keluarga mereka duduk di tempat yang ada di meja besar berbentuk oval.
Setelah melakukan prosedur pemeriksaan data Arkan dan Milea, staf pengacara mengeluarkan satu amplop coklar berukuran F4 yang disegel.
“Ini adalah surat wasiat yang dibuat Dina sebulan sebelum ia meninggal. Sesuai permintaannya kalau surat ini akan diserahkan saat kalian bertemu kembali.”
Devi Syahrir, pengacara keluarga Dina memperlihatkan amplop yang masih tersegel dan membukanya di hadapan semua yang hadir dan mulai membacakan detil surat wasiat Dina itu.
“Jadi intinya, Dina mengharapkan kalian bersatu untuk mengasuh, mendidik dan membesarkan Emilia sebagai orangtua baginya.”
“Tidak !” Keduanya menjawab bersamaan membuat banyak orang menatap mereka.
Arkan dan Milea sempat berpandangan dan Arkan pun memberikan isyarat supaya Milea berbicara lebih dulu, menjawab pertanyaan pengacara dan kebingungan keluarga Dina dan Arkan.
Belum lama dengan penuh percaya diri Arkan memperkenalkan Milea sebagai calon istrinya, namun menolak menikahi gadis itu karena wasiat Dina.
Milea menghela nafas mencoba mengumpulkan keberanian untuk berbicara sesuai isi hatinya.
“Sebelum Arkan memutuskan menikah dengan Dina, kami adalah sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama 2 tahun. Sebelumnya hubungan saya dengan Dina pun sangat baik, kami bersahabat sejak masih SMP.
Namun saat Arkan menikahi Dina sebagai bentuk pertanggungjawaban perbuatannya, saya sudah memutuskan menutup semua lembaran saya bersama Arkan sebagai catatan yang tidak ingin saya buka kembali. Jadi maaf kalau saya tidak bisa menikah dengan Arkan sekalipun itu permintaan terakhir Dina.”
“Sedangkan saya,” Arkan menyambung ucapan Milea. “Saya tidak bisa memenuhi wasiat itu karena adanya catatan tentang menjadi orangtua bagi anak Dina.”
“Arkan,” mami Mira menegur putranya, namun Arkan mengabaikannya dan menoleh ke arah salah satu staf pengacara Devi.
“Apa berkas yang saya kirimkan ke Bapak sudah diselidiki keasliannya ?”
“Sudah,” sahut staf yang ditatap oleh Arkan.
“Tolong dibuka saja faktanya di depan keluarga kami. Saya tidak ingin menyembunyikan apa-apa lagi.”
Semua yang hadir termasuk Milea mengerutkan dahi, menebak-nebak maksud ucapan Arkan.
Setelah mendapat ijin dari pengacara Devi, staf itu mengeluarkan berkas yang ada di amplop lainnya. Dokumen yang ada diangkat supaya semua bisa melihatnya.
“Ini adalah akta perceraianku dengan Dina, sah secara hukum dan secara agama pernikahan kami sudah dibatalkan. Kenapa bisa ?”
Arkan memberi isyarat pada staf itu untuk memperlihatkan lembaran selanjutnya.
“Ini adalah hasil tes DNA yang sudah dikonformasi keasliannya oleh Om Devi. Dengan dasar itulah, agama dan hukum mengabulkan permohonanku untuk menceraikan Dina. Apalagi Dina menandatanganinya tanpa paksaan bahkan ia minta maaf padaku.”
Tante Heni memberi isyarat pada Dino untuk memeriksa surat tes DNA yang dipegang oleh staf pengacara.
Bukan hanya orangtua Dina yang langsung lemas, kedua orangtua Arkan ikut merasa bersalah dengan sikap mereka pada putra tunggalnya.
“Aku sudah memenuhi tanggungjawab untuk tidak membuat malu keluarga Dina dan memenuhi permintaan papi mami untuk menjadikan Dina sebagai menantu meski hanya 6 bulan saja.
Inilah fakta yang sebenarnya. Sungguh sedih saat papi tidak mau mendengarkan penjelasanku 5 tahun yang lalu. Sungguh miris melihat mami tertipu dengan air mata Dina yang mengaku kalau akulah yang memperkosanya.
Saat aku bertemu kembali dengan Mili… maksudku Milea, aku merasa bahwa sudah saatnya aku membuka fakta yang sebenarnya dan memikirkan kebahagian diriku sendiri.
Aku memang bermimpi menjadikan Milea sebagai istriku saat kami pacaran, namun Dina dengan teganya menghancurkan mimpi itu dan menyakiti sahabatnya sendiri.
Mengharapkan orang melupakan sakit hati mereka dengan satu kata maaf ? Tidak semudah itu menyembuhkan luka yang dibangun dengan fitnah.
Sampai kapanpun aku tidak akan mengakui anak itu sebagai anakku. Bahkan aku akan mengurus pencabutan akta lahirnya dengan bukti DNA itu.”
”Arkan, jangan lakukan itu,” pinta papi Firman. “Emilia tidak bersalah. Dia yang akan menanggung akibatnya jika di akta kelahirannya hanya ada nama ibu. Seumur hidupnya ia akan dianggap anak haram.”
“Bukan urusanku lagi, Pi,” sahut Arkan dengan senyuman tipis. “Dina tidak pernah memikirkan perasaanku dan Milea hanya demi status anak haram yang dikandungnya saat itu. Dan sekarang, bukan urusanku memikirkan bagaimana kehidupan anaknya.”
Tante Heni mulai terisak saat tahu kenyataan tentang kehidupan Dina yang sebenarnya.
“Sudah terlalu lama kalian melindungi Dina dan memenuhi semua keinginannya tanpa melihat kalau ia tumbuh menjadi manusia yang egois. Masalah keputusannya untuk bunuh diri malah membuat kalian berpikiran negatif padaku dan Milea. Kalian menganggap kami berdua tega mengeraskan hati pada sahabat sendiri. Aku yakin kalau Milea bicara jujur, baginya Dina bukan lagi sahabatnya, sama seperti aku yang berharap tidak pernah bertemu dengan Dina dalam hidupku.”
Arumi dan Henri hanya diam menjadi pendengar cerita Arkan. Dino sendiri sedang menenangkan mamanya yang makin terisak membuat Emilia bingung menatap omanya karena tidak mengerti percakapan para orang dewasa.
Emilia bergeser dan duduk di pangkuan mama Heni lalu memeluk omanya sambil mengusap-usap lengan omanya.
“Jadi saya tegaskan Om Devi, surat wasiat itu tidak akan kami jalani. Tolong Om, Tante dan Kak Dino mengerti. Kami berdua punya kebebasan berpikir dan memilih sebagai manusia dewasa. Tidak disangka kalau Dina masih saja egois sebelum mengakhiri hidupnya dengan memaksa kami menikah demi menjadi orangtua anaknya.”
Suasana hening sejenak, hanya terdengar isakan mama Heni. Mami Mira pun terlihat sangat terpukul saat menerima kenyataan kalau putri sahabatnya telah menyakiti dan membuat hidup putranya menderita dengan kebohongan yang tidak pernah terbayangkan mami Mira.
“Kami permisi dulu, masih ada yang harus kami selesaikan berdua. Om Devi, kalau memang diperlukan pernyataan tertulis soal penolakan wasiat Dina, tolong disiapkan saja, kami bedua akan menandatanganinya.”
Arkan langsung menyuruh Milea yang menatapnya dengan wajah bingung untuk bangun dari kursinya.
Arkan langsung menarik tangan Milea dan hendak membawamya pergi.
“Arkan tunggu !” suara Dino menghentikan langkah Arkan yang sudah membuka pintu.
“Aku percaya kalau kamu pun tahu siapa ayah kandung Emlia. Jadi tolong katakan pada kami supaya setidaknya Emilia memiliki orang tua kandungnya.”
Arkan menoleh dan tersenyum sinis.
“Aku tidak peduli dan tidak mau tahu, Kak. Silakan kakak dan yang lainnya mencari tahu sendiri.”
Arkan kembali menarik tangan Milea menuju lantai dasar, dan menyuruh gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
“Kita mau kemana ?”
Arkan mendorong pelan tubuh Milea supaya masuk ke dalam mobil dan langsung memasang sabuk pengamannya, setelah itu ia pun masuk ke kursi pengemudi dan melajukan mobil meningggalkan kantor pengacara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
3sna
berita kmtian sebuln srlh dimakamkan baru tau ,tp ini kok kaget kalo dina mati bundir,apa baru tau kalo matinya bundir
2025-01-20
1
3sna
trus knp pas masih idup diem2 bae gk ngejln mlh hahahihi
2025-01-20
2
Kris Wru
nah kaaan...
2024-11-07
0