Milea duduk termenung di meja kerjanya sambil memegang surat pengunduran diri yang baru dicetak, sudah ditandatangani dan diliipat, tinggal dimasukkan dalam amplop.
“Siap-siap ke ruang meeting sekarang, Lea,” Arumi langsung memberi perintah begitu keluar dari ruangannya.
Milea tidak berkata apa-apa, hanya mengerutkan dahi. Seingatnya menjelang makan siang, tidak ada jadwal meeting dalam agenda Arumi.
“Tapi Bu…”
“Mendadak, meeting dengan konsultan dan pihak kontraktor untuk pembangunan rumah produksi,” potong Arumi cepat sambil memberi isyarat supaya Milea mengikutinya.
Milea masih sibuk dengan pikirannya. Kalau pertemuan dengan konsultan dan kontraktor berarti hari ini mereka akan bertemu dengan Henri dan Arkan.
“Ooohh sh**t !” maki Milea dalam hati. Kenapa juga harus kembali terlibat hubungan dengan Arkan, pria masa lalunya yang berhasil dia singkirkan 5 tahun yang lalu.
Tanpa mengetuk, Arumi yang berjalan duluan saat keluar lift langsung membuka ruang meeting di lantai 2. Dan tanpa perlu mengabsen pria-pria yang -duduk di sana, Milea yakin kalau selain Henri, suami Arumi yang mewakili pihak konsultan, pasti akan ada Arkan, dari pihak kontraktornya.
“Maaf saya terlambat,” ujar Arumi menyapa 7 orang yang ada di sana.
Milea yang berdiri di belakang Arumi hanya menganggukan kepala dan duduk di berdampingan dengan 2 orang staf entah dari perusahaan yang mana.
Terlihat Henri memberi isyarat pada 2 orang yang duduk di samping Milea. Keduanya langsung mengangguk dan melakukan presentasi mengenai hasil design, material yang akan dipergunakan dan detil lainnya yang berhubungan dengan fungsi mereka sebagai konsultan.
Milea sadar kalau sejak tadi Arkan sering menatapnya dengan tajam, tapi ia sendiri pura-pura sibuk mencatat poin-poin yang penting menurut Milea. Tidak lama, kedua staf yang duduk berseberangan dengan Milea melakukan presentasi juga namun lebih ke sisi teknis pembangunannya.
Hanya dalam waktu 1 jam pertemuan itu selesai, tepat saat jam makan siang. Milea merapikan beberapa berkas yang diberikan oleh staf dari perusahaan Henri dan Arkan.
Tanpa Milea sadari, kelima orang staf yang mendampingi Henri dan Arkan diminta lebih dulu keluar ruang meeting.
“Mau saya belikan makan siang apa, Bu ?” Milea mendekati Arumi dan sedikit berbisik ia menawarkan makan siang seperti biasanya.
“Tidak perlu, saya sudah menyuruh Umar membelikan makanan untuk kita,” sahut Arumi sambil melirik suaminya. “Kamu duduk saja di sini.”
Tidak mungkin juga Milea menolak permintaan bossnya dan sejak kapan Arumi memesan makanan langsung pada office boy kantor ? Tidak ingin lelah berpikir akhirnya Milea kembali duduk, kali ini lebih dekat dengan Arumi.
“Saya tidak mau berbasa basi lagi,” ujar Arumi membuka percakapan dengan tatapan tegasnya membuat Milea mengernyit.
Tanpa Arumi ucapkan, Milea sudah tahu kalau mereka akan menanyakan soal ucapan Emilia tiga hari yang lalu. Padahal Milea sudah sedikit tenang karena Arumi tidak memanggilnya secara pribadi untuk menginterogasinya.
“Sebetulnya apa hubungan kalian berdua ? Kenapa Emilia bisa bilang kalau mama Heni sudah memastikan kalau kamu akan menjadi mama sambungnya ?”
“Dia mantan pacarku, Kak,” Arkan yang langsung menjawab membuat Milea spontan melotot menatapnya. Arkan hanya melirik dan pindah tempat duduk, berseberangan dengan Milea, hingga lebih enak berbincang dengan Henri dan Arumi yang duduk di ujung meja oval.
“Bukan mantan pacar biasa pastinya,” timpal Henri sambil tertawa pelan.
“Kalau bukan karena Dina, mungkin kami sedang mempersiapkan pernikahan,” Arkan kembali menyahut dengan wajah santai.
“Arkan !” Milea masih melotot menatap Arkan yang hanya melirik sambil tersenyum sinis. “Jangan salahkan orang lain. Kamu yang membuat Dina hamil, tentu saja kamu harus bertanggungjawab pula.”
“Jangan membahas soal itu,” tegas Arkan dengan rahang mengeras dan tatapan tajamnya membuat Milea menautkan alisnya.
“Tapi itu…”
“Sebetulnya apa yang ingin Kakak ketahui ?” Arkan langsung memotong ucapan Milea dan mengalihkan pandangannya pada Henri dan Arumi.
“Mertuamu ingin bertemu karena ada surat wasiat yang ditinggalkan Dina untuk kalian berdua. Mama Heni tidak tahu apa isinya karena Dina langsung berhubungan dengan pengacara.”
“Kapan ?” tanya Arkan singkat dengan nada sedikit ketus.
“Lusa,” Henri yang menyahut. “Mertuamu…”
“Ralat,” potong Arkan cepat. “Mantan mertua, bukan mertuaku lagi.”
“Ya apapun istilahmu, Ar,” omel Arumi dengan wajah kesal melihat sikap Arkan yang mulai galak. “Mama Heni sudah mengatur pertemuan keluarga di kantor pengacara.”
“Pertemuan keluarga ? Maksudnya gimana, Bu ?” Milea bertanya dengan wajah bingung. “Apa keluarga saya perlu diikutsertakan juga ?”
“Untuk sementara ini belum perlu,” kembali Henri yang menyahut. “Cukup keluarga Dina dan Arkan yang datang bertemu dengan pengacara ditambah kamu sebagai penerima wasiat Dina.”
“Kebetulan lusa adalah hari Sabtu, jadi Arkan yang akan menjemputmu dan berangkat bersama ke kantor pengacara.”
“Saya bisa sendiri, Bu,” Milea menolak dengan sopan. “Lagipula letak rumah saya jauh dari tempat Pak Arkan tinggal, jadi lebih baik saya sendiri saja.”
“Memangnya kamu tahu dimana aku tinggal ?” tanya Arkan dengan ketus.
“Tidak tahu,” Milea menyahut sambil menatap Arkan tanpa gentar. “Tapi yang pasti masih di Jakarta, tidak mungkin di juga di Bandung,” sahut Milea asal membuat Henri tertawa pelan.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Bu,” Milea bangkit dari kursinya sambil membawa berkas.
“Mau kemana ? Saya sudah pesankan makanan untuk kita berempat. Masih banyak yang ingin saya tanyakan pada kalian bedua,” ujar Arumi.
“Maaf kalau kali ini saya membantah, Bu,” ucap Milea. “Kalau mau membahas soal saya dan Ar.. Pak Arkan maksud saya, lebih baik Ibu tanyakan langsung sama Pak Arkan saja. Saya tidak suka menggali masa lalu saya, Bu karena saya tidak suka hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Saya orang yang lebih suka maju daripada mundur, tapi khusus undangan lusa saya tetap akan datang karena menghargai permintaan Ibu dan Tante Heni. Saya permisi, Bu, Pak.”
Milea membungkukan badannya sedikit lalu berjalan keluar dari ruang meeting. Langkahnya belum jauh dari pintu ruang meeting, saat Arkan malah menahannya.
“Kemana saja kamu selama ini ?”
“Maaf Pak, ada keperluan apa sampai Bapak perlu tahu kehidupan pribadi saya ? Saya tidak merasa punya kewajiban lapor sama Bapak karena saya bukan tahanan kota dan bapak juga bukan polisi, kan ?”
“Jangan suka memancing emosi orang !” bentak Arkan dengan suara tertahan.
“Saya nggak punya hobi mancing, Pak. Selain bagi saya buang-buang waktu, memancing juga kegiatan yang cukup membosankan. Saya lebih suka tidur atau bersepeda,”
Arkan yang makin emosi malah menarik pinggang Milea ke dalam pelukannya lalu mendorongnya perlahan hingga tubuh Milea menempel di dinding.
“Ba..pak mau ngapain ?” jantung Milea mulai berdebar apalagi melihat Arkan tersenyum smirk.
Milea mencoba melepaskan pelukan Arkan, tapi secara fisik sudah pasti tenaganya kalah dengan Arkan.
“Sejak kapan aku jadi boss-mu sampai dipanggil bapak saat kita hanya berdua ?”
“Memang kenyataan kalau Bapak setara dengan Ibu Arumi, belum lagi status Bapak sebagai adik kandung boss saya.”
“Ternyata sekarang kamu jadi gadis yang suka membantah setelah 5 tahun tidak bertemu,” Arkan tersenyum smirk dengan wajah yang makin mendekati muka Milea.
“Jaman juga sudah berubah, Pak. Tidak mungkin manusia hidup di hari ini tapi pikiran dan jiwanya berdiam di masa lalu.”
“Kamu bahkan sudah pintar berargumen,” Arkan memicingkan matanya dengan tatapan Milea yang tanpa takut balas menatapnya.
Arkan yang sudah tidak bisa menahan gejolak kerinduannya menarik tengkuk Milea dan mencium bibir gadis itu yang sejak tadi menggoda netranya.
Mata Milea langsung membelalak dan tangannya yang bebas berusaha mendorong tubuh Arkan, tetapi ciuman Arkan justru semakin dalam.
“Arkan ! Milea !” suara pekikan Arumi yang baru keluar dari ruang meeting diikuit Henri tidak membuat Arkan langsung melepas ciumannya.
Milea kembali memukuli Arkan supaya pria itu menjauh. Dengan santainya Arkan melepas ciumannya, mengusap bibir Milea dengan ibu jariya.
“Itu tanda kepemilikan yang seharusnya aku berikan 5 tahun yang lalu. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekai,” Arkan berbisik di telinga Milea begitu dekat membuat Milea bergeming.
Arumi geleng-geleng dengan sambil menghela nafas beberapa kali sementara Henri hanya senyum-senyum melihat tingkah adik iparnya.
Arkan tersenyum dan berjalan meninggalkan Milea berdiri di tempatnya dengan perasaan canggung karena sadar kalau Arumi dan Henri masih memperhatikannya
“Arkan !” Milea yang baru bisa menenangkan diri berteriak sambil menyusul Arkan yang sudah berdiri di depan lift.
Milea memukul punggung Arkan dengan berkas yang ada di tangannya.
“Aawww !” pekik Arkan yang langsung memegang punggungnya .”Mili, kamu tega banget.”
Dengan wajah meringis, Arkan berbalik badan berhadapan dengan Milea yang memasang wajah kesal.
Tidak puas memukul punggung Arkan, kaki Milea langsung menendang kaki Arkan membuat pria itu kembali meringis.
“Dasar duda gatel,” Milea mengomel sambil masuk ke dalam lift yang sudah terbuka sementara Arkan mengusap pergelangan kakinya.
“Seenaknya aja nyosor, cium anak perawan orang,” Milea lanjut mengomel dengan mata melotot. “Kepemilikan darimana, siapa juga yang mau nukah sama duda model kamu !”
Tangan Milea menekan tombol lift benerapa kali dengan tergesa-gesa dan emosi.
Arkan tersenyum dan membiarkan Milea menghilang di balik pintu lift. Hatinya malah bahagia mendengar omelan Milea.
Arkan yakin kalau Milea masih sendiri dan belum pernah berpacaran lagi dengan orang lain setelah putus darinya.
“Kayak bocah aja !” Arumi memukul bahu Arkan yang senyum-senyum sendiri sambil memegang dadanya.
“CLBK nih ceritanya,” ledek Henri yang ikut berdiri di samping Arumi.
“Bukan bersemi lagi, Kak, memang belum pernah layu sejak 7 tahun yang lalu.”
“Arkan !” Arumi kembali menegur adiknya yang dianggap asal bicara.
Arkan diam saja dan masih senyum-senyum sendiri, tidak mempedulikan gerutuan Arumi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Endah Setyati
Kayanya waktu itu Arkan di paksa bertanggung jawab menikahi Dina,, padahal bukan dia yg menodai Dina,, makanya Milea liat wajah Arkan penuh lebam waktu itu
2025-03-21
1
Kris Wru
nah..nah...
dan untuk sementara tersangka kehamilan Dina adalah kecebong Henri...
2024-11-07
1