Milea menatap keluar jendela mobil yang akan membawanya pergi meninggalkan Jakarta. Milea tidak sanggup jika harus bertahan dan berpura-pura baik-baik saja dan tidak apa-apa.
Dina akan menjadi teman satu kampusnya. Mengingat Dina yang masih bisa tersenyum bahagia membuat hati Milea bagaikan dicabik-cabik.
“Maaf Lea sudah membuat papa dan mama jadi repot dan harus mengeluarkan uang ekstra karena Lea memutuskan pindah kuliah.”
Setelah mendengar alasan Milea minta dipindahkan jauh dari Jakarta, kedua orangtuanya langsung setuju.
Awal semester baru tinggal dua bulan lagi. Papa Heru tidak peduli harus mengeluarkan dana ekstra untuk mendapatkan kampus baru untuk putri tunggalnya. Tidak jadi masalah biaya kuliah di Jakarta dikembalikan dengan potongan yang cukup besar.
“Sayang, uang masih bisa dicari oleh papamu, tapi ketenangan jiwamu jauh lebih penting dan tidak bisa diukur dengan uang berapapun besarnya.”
Milea hanya bisa mengucapkan terima kasih dengan penuh rasa haru. Tidak menyangka orangtuanya akan mengerti apa yang dirasakannya saat ini.
Selama ini mama Lili adalah sahabat terbaik Milea selain Dina, tempatnya berbagi keluh kesah dan cerita termasuk situasi yang harus dijalani Milea saat menjalin hubungan dengan Arkan.
Mama Lili adalah teman curhat Milea, yang selalu mengerti dirinya dan pemberi solusi banyak kesulitan yang harus Milea lewati sebagai gadis remaja.
“Buang jauh-jauh kenanganmu dengan Dina. Perempuan semacam itu tidak pantas diingat apalagi dijadikan teman. Masih banyak orang baik di luar sana. Jangan pernah menutup diri untuk mencari teman baru. Tunjukkan kalau perbuatan Dina dan Arkan tidak akan membuat hidupmu berhenti,” nasehat mama Lili panjang lebar.
“Jangan gunakan lagi nomor lamamu,” pesan papa Heru.
“Fokus pada kuliahmu dan sembuhkan luka hatimu. Papa dan mama akan selalu mendukungmu, jangan pernah merasa sendirian,” mama Lili memeluk Milea sambil mengelus punggung putri tunggalnya.
Setelah orangtuanya pergi, Milea masuk ke dalam apartemen studio yang disiapkan papa untuknya. Lokasinya hanya 500 meter dari kampusnya.
Sepi. Ketenangan seperti ini mungkin yang Milea butuhkan untuk menghapus jejak cinta Arkan, cinta pertamanya yang harus kandas karena orang ketiga.
Milea membuka pintu menuju balkon dan menghirup dalam-dalam udara sore yang sejuk setelah hujan deras mengguyur kota Semarang.
Ingatan Milea melayang ke 2 tahun yang lalu, saat Dina menjodohkannya dengan Arkan, pria tampan yang masuk dalam jajaran pria idola sekolah.
“Arkan suka sama elo,” ledek Dina saat keduanya duduk di pinggir lapangan menonton pertandingan basket antar sekolah.
Arkan termasuk bintang utama yang menjadi andalan tim inti sekolah mereka.
“Ngaco !” Milea mencibir. “Elo aja hanya dianggap teman kecilnya dia, apalagi gue.”
Dina memang cantik dengan tubuh tinggi semampai. Sama seperti Arkan, Dina masuk dalam daftar incaran para cowok di sekolah sampai tingkat kakak kelas.
Milea sendiri, gadis pendiam yang lebih suka duduk membaca buku daripada berdandan di toilet.
“Beneran !” Dina mengacungkan jarinya membentuk huruf V. “Tampang Arkan keren tapi hatinya hello kitty, dia takut ditolak sama elo.”
“Nggak usah dibahas.”
Pandangan Milea mendadak terarah pada Arkan, padahal selama ini ia menganggap perhatian Arkan wajar saja karena Milea adalah sahabat Dina sejak SMP dan Arkan adalah teman kecil Dina.
“Cie cie yang perhatiin Arkan,” ledek Dina menyenggol bahu Milea yang langsung merona karena malu.
“Apaan sih ?” wajah Milea mulai merona meski bibirnya cemberut.
Milea beranjak bangun dan membersihkan celana trainingnya dari pasir yang menempel.
Buugghh !!
Lemparan bola basket dari pihak lawan menghantam punggung Milea yang baru saja berbalik, memunggungi lapangan.
Milea tersungkur hingga pelipisnya terluka dan dadanya terasa sakit akibat lemparan bola.
SepertinYa baru beberapa detik, Milea dibuat kaget saat tubuhnya melayang dalam gendongan Arkan. Buru-buru satu tangannya merangkul leher Arkan karena takut terjatuh.
“Pusing ?” tanya Arkan dengan wajah khawatir.
Arkan meminta Joel mengambilkan handuk kecil dari tasnya. Arkan membawa Milea menepi dan mendudukan Milea di bangku kayu dekat lapangan.
”Teruskan pertandingan dulu,” pinta Milea.
“Tapi kamu…” Arkan terlihat khawatir.
”Duduk di sini sampai pertandingan selesai,” ujar Milea sambil mengambil handuk yang dipegangi Arkan untuk mengelap lukanya.
“Benar ya, jangan kemana-mana. Ini ada minuman baru buat menghilangkan rasa kagetmu.”
Milea mengangguk dengan wajah makin merona dan menerima botol air mineral yang diberikan Arkan.
“Arkan,” panggil Milea. “Semangat !”
Arkan menoleh lalu mengangguk sambil tersenyum.
Dina tambah rusuh dengan ledekannya, terus menggoda Milea yang semakin merona karena jadi perhatian para siswa yang ada di sekitar lapangan.
Sebagian siswa SMA mereka membicarakannya bahkan ada juga yang mencibir pada Milea, karena ia tidak masuk dalam hitungan cewek yang pantas jadi pacar Arkan.
Tapi sepertinya omongan Dina benar, Arkan pun tidak peduli dianggap cinta lokasi dengan Milea.
Arjan benar-benar menyatakan perasaanya pada Milea hingga kehidupan masa remaja mereka terasa lebih berwarna, Milea begitu bahagia menjadi kekasih Arkan yang begitu perhatian.
Sayangnya Arkan belum bisa mengenalkan Milea pada keluarganya. Kedua orangtuanya sudah memberi ulimatum kalau Arkan hanya akan menikah dengan Dina setelah keduanya selesai menempuh pendiidkan formal.
Harapan kedua orangtua Dina dan Arkan benar-benar kesampaian tetapi menyisakan luka lebar di hati Milea.
Pasalnya mereka menikah karena Dina hamil duluan. Milea sempat tidak percaya kalau Arkan adalah cowok sebejat itu karena selama mereka pacaran, Arkan memperlakukan Milea dengan sopan.
Tapi yang namanya godaan tidak pernah bisa diduga kedatangannya. Kedekatan mereka berdua dan rencana perjodohan membuat kedua orangtua Dina dan Arkan memberi kebebasan pada putra putri mereka.
Arkan dan Dina bisa masuk ke kamar teman kecil mereka itu tanpa perlu ijin orangtua. Dan biasanya godaan datang saat ada kesempatan bagi setan untuk menggoyahkan iman manusia.
Milea menghela nafas. Hujan gerimis kembali mengguyur kota Semarang membuat suasana sedikit kelabu seperti hati Milea saat ini.
🍀🍀🍀
Enam bulan berlalu.
Wanita muda itu berdiri di depan pagar sambil menekan bel dan menggedor pintu pagar berkali-kali, tidak sabar menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.
“Ada perlu apa ?” suara dingin wanita paruh baya itu berdiri di balik pagar tanpa berniat membukakan pintu.
“Tante Lili, ini Dina, tolong bukakan pintunya dulu. Saya perlu bicara sesuatu pada Milea. Tolong berikan saya nomor handphone Milea, Tante. Saya baru tahu kalau Milea tidak jadi satu kampus dengan saya.”
“Di sini bukan lembaga konsultasi yang bisa didatangi lalu ditinggal pergi setelah mendapat solusi,” nada mama Lili masih terdengar dingin dan tidak ada niat membukakan pintu untuk wanita yang sesekali masih menggedor pintu.
“Tante, saya mohon,” iba Dina dengan wajah memelas. “Tolong berikan saya kesempatan bicara sebentar pada Milea.”
“Kamu bukan lagi siapa-siapa di keluarga kami, jadi berhenti mengganggu putri saya.”
Tanpa rasa iba sedikit pun mama Lili kembali masuk ke dalam rumah, tidak peduli dengan gerimis yang mulai turun membasahi kota Jakarta di siang hari ini.
Dina menutup wajahnya dan terisak karena mendapat penolakan dari wanita yang dulunya begitu ramah dan memperlakukannya seperti anak sendiri.
Dina sadar kalau perbuatannya bukan hanya melukai Milea, tapi juga kedua orangtua gadis itu. Bahkan om Heru juga enggan bicara panjang lebar dengannya saat Dina nekat menemui papa Milea itu di kantornya.
Dua bulan sesudahnya Dina kembali datang mengetuk pintu rumah keluarga Milea sambil membawa putrinya yang baru berusia 6 bulan. Dina berharap kedua orangtua Milea merasa kasihan saat melihat Dina menggendong putrinya.
Namun perlakuan kedua orangtua Milea tetap sama, tidak menganggap Dina sebagai orang yang pernah mereka kenal bahkan bersahabat dengan putri mereka.
“Tante, tolong kasihani saya. Saya mohon berikan saya kesempatan untuk berbicara sebentar dengan Milea.”
Dina hanya bisa sesunggukan di depan gerbang hingga putrinya ikut menangis karena belum mengerti.
Kondisi Dina sudah tidak lagi sama. Tubuhnya jauh lebih kurus dan kurang terawat seperti biasanya. Tatapannya kosong karena dipenuhi dengan rasa bersalah hingga semangat hidupnya pun ikut menghilang.
“Maafkan aku, Milea. Maafkan aku. Berikan aku satu kesempatan untuk mengucapkannya langsung padamu.”
Dina masih sesunggukan di depan pagar sambil berbicara pada dirinya sendiri.
Tangisan bayinya yang semakin keras mengundang perhatian tetangga di dekat rumah orangtua Milea hingga akhirnya sepasang petugas keamanan menghampiri Dina, menawarkan memanggilkan taksi atau apapun juga yang membuat Dina pergi dari lingkungan itu.
Dari lantai 2, mama Lili menatap Dina dari balik jendela sambil melipat kedua tangannya.
Sebagai ibu yang juga memiliki putri, hati mama Lili tentu saja tidak tega melihat kondisi Dina. Gadis cantik yang periang itu berubah menjadi wanita kurus yang kehilangan semangat hidup.
Mama Lili menghela nafas. Baginya hanya Milea yang bisa memutuskan apa yang akan dilakukannya pada Dina, sahabat yang pernah menyakitinya begitu dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kris Wru
episode awal sdh lari aja...
aq suka...
makasih cerita ny..
semangat..
2024-11-07
1
Devi Nurdianti
bagus
2024-10-28
1