Bocah Tanpa Cinta

Milea langsung menghubungi sopir yang mengantarnya untuk menjemputnya dan Emilia. Hanya butuh 5 menit mobil milik Arumi sudah berhenti di depan rumah Ibu Sri, wanita yang menolong Emilia.

Milea mengucapkan terima kasih lebih dari satu kali. Emilia masih tertidur pulas dalam gendongannya menuju ke mobil.

“Aku bantu,” ujar Jonathan menawarkan bantuan.

“Tidak usah, aku masih bisa sendiri.”

Jonathan memberi isyarat pada sopir yang sudah bersiap membukakan pintu untuk Milea supaya membiarkan Jonathan yang melakukannya.

“Bisakah aku menghubungimu di nomor yang tadi ?” Jonathan membungkukkan badannya supaya lebih mudah bicara dengan Milea.

“Untuk apa ?” Milea menautkan alisnya.

“Hanya ingin ngobrol sebagai teman. Bukankah kita sama-sama diminta bantuannya untuk menjaga Emilia,” sahut Jonathan sambil tertawa.

“Kalau tujuanmu hanya untuk mengambil kesimpulan dari perbuatan Dina, jangan harap aku mau bicara padamu. Lagipula klienmu sudah tidak ada, jadi tidak ada gunanya membuat analisa.”

“Jangan curiga dulu,” Jonathan kembali tertawa. “Aku hanya ingin mengenal kepribadian wanita yang dicari-cari Dina dan dipercaya oleh Tante Heni.”

“Saya pamit pulang dulu, Pak Jo. Terima kasih bantuannya,” Milea menganggukan kepala dan berbicara formal pada pria yang berstatus Kepala Sekolah Emilia.

Milea pun meminta sopir melajukan mobil dan perlahan menaikkan jendela.

“Kita kemana Nona ?”

Milea berpikir sejenak. Sejujurnya dia enggan menginjakkkan kakinya di rumah keluarga Dina. Meskipun mereka sudah tidak lagi tinggal di tempat yang sama, tapi rasa sakit itu belum bisa dihapus dari hati Milea.

“Ke rumah Tante Heni, Pak.”

***

”Terima kasih Milea, terima kasih,” Tante Heni sudah menunggu Milea di teras bersama seorang babysitter.

Dalam perjalanan, Milea sudah mengabarkan Arumi dan Arkan kalau Emilia sudah ditemukan, berada di salah satu rumah warga yang berjarak hampir 1 kilometer dari sekolah.

”Saya hanya menjalankan permintaan Kak Arumi, Tante,” sahut Milea sopan, enggan dianggap peduli dengan Emilia.

Bocah itu menggeliat saat digendong oleh babysitternya. Matanya terbuka perlahan dan langsung berbinar saat melihat sosok Milea.

“Onti Lea !” Emilia memekik bahagia. “Aku mau digendong Onti.”

“No, Onti tadi sudah memangku kamu mulai dari sekolah sampai kemari,” ujar Tante Heni. “Kaki Onti sepertinya kesemutan. Mili lihat Onti susah berdiri tegak.”

Bocah itu mengikuti arah telunjuk Tante Heni yang mengarah pada kaki Milea.

“Kalau gandeng saja boleh, Onti ?” mata bening itu mengerjap dan minta diturunkan dari gendongan.

“I am sorry Onti,” Emilia mendekati Milea dan menyentuh lengannya, matanya menatap Milea dengan tatapan bersalah.

“It’a okey. Emilia sekarang bersih-bersih lalu makan siang. Jangan pergi lagi tanpa pamit pada siapapun, ya ? Bahaya,” Milea tersenyum dan membelai kepala bocah itu. Emilia mengangguk-angguk sambil tersenyum.

“Onti balik ke kantor dulu.”

“Makan siang dulu bersama kami, Lea,” pinta Tahte Heni.

“Saya masih banyak pekerjaan di kantor, Tante. Maaf, mungkin lain waktu.”

“Onti,”Emilia memegang jemari Milea. “Temani Mili hari ini,” wajahnya yang polos terlihat memohon kembali.

“Mili pingin merasakan punya mama sehari,” pintanya lagi dengan wajah sendu.

Milea menarik nafas dalam-dalam, merasa iba pada bocah yang besar tanpa cinta ini. Bukan hanya Jonathan tapi Arumi juga pernah bercerita kalau Dina tidak peduli dengan anaknya, seolah-olah lupa kalau statusnya adalah seorang ibu.

Handphone Milea berbunyi dan begitu dilihat ada nama Arumi di sana.

“Baik Kak, saya akan di sini dulu, tapi biar sopir kembali ke kantor saja. Saya bisa pulang sendiri.”

Milea akhirnya mengalah saat Arumi juga memintanya untuk menemani Emilia. Bukan sekedar jadi mama sehari tapi teman curhat bocah tanpa kasih sayang orangtua itu.

Milea pun ikut masuk, membantu Emilia membersihkan diri dan berganti baju sebelum makan siang.

Begitu di meja makan, tidak banyak percakapan antara Milea dan Tante Heni. Emilia banyak berceloteh, bercerita pada Milea tentang teman-teman sekolah, guru-gurunya dan kegiatan bocah itu selama di sekolah.

Milea pun menanggapi layaknya seorang ibu pada anaknya. Pembicaraan keduanya mengalir membuat Tante Heni yang sejak tadi memperhatikan tersenyum bahagia.

Selesai makan, Emilia kembali mengajak Milea naik ke lantai dua sementara Tante Heni menyibukkan diri di dapur.

“Ini kamar siapa ?” tanya Milea saat bocah itu mengajaknya ke kamar yang berbeda.

“Mama Dina.” Emilia langsung menarik tangan Milea masuk dan hati Milea tidak tega untuk menolaknya.

Emilia meminta Milea duduk di pinggir ranjang sementara bocah itu berlari ke arah lemari pakaian.

“Itu apa ?” tanya Milea saat melihat Emilia membawa satu kotak berukuran sedang berwarna ungu.

Warna kesukaan Dina, batin Milea

Bocah itu menaruh kotak di atas ranjang dna membukanya. Dahi Milea berkerut saat melihat berbagai macam barang ada di dalam sana, mulai dari foto, buku, dan barang kecil lainnya.

“Oma bilang ini semua punya mama Dina. Oma kumpulin pas mama Dina pulang ke surga. Mili ngelihat ini,.”

Milea menerima satu album buku berukuran F4 yang disampul kertas kado. Nafas Milea tercekat, ia mengenali buku itu.

“Mili melihat banyak foto mama dan onti di sini, banyak tulisannya juga. Waktu itu Mili nggak bisa baca dan oma bilang Mili harus cepat besar dan pintar baca supaya tahu tulisan apa ini.”

Milea tersenyum getir saat tangan mungil Emilia membuka lembaran-lembaran buku itu.

Isinya tempelan foto-foto dengan tulisan tangan Milea dan Dina. Tentang persahabatan mereka, mimpi-mimpi sebagai remaja yang ingin cepat-cepat dewasa, kenangan mereka semasa sekolah dan di halaman-halaman terakhir, ada foto Arkan juga di sana.

“Oma bilang mama Dina dan onti seperti kakak adik sebelum Mili lahir ke dunia. Nama Mili dipilih karena mama Dina ingin Mili seperti onti kalau sudah besar. Mili pernah tanya foto ini,” Emilia menunjuk foto Arjan sedang merangkul leher Milea dari belakang.

“Kenapa papa.. sorry maksud Mili Uncle Arkan kenapa peluk Onti bukan mama Dina ?”

Milea hanya tersenyum tipis dan sedikit bingung memberikan penjelasan bocah 4 tahun ini. Pikirannya pasti belum bisa diajak bicara soal cinta dalam hubungan pria dan wanita.

Milea menepuk-nepuk ranjang di sebelahnya, meminta Emilia duduk di sebelahnya. Pandangannya sempat beredar ke sekeliling kamar. Meski bukan ruangan yang sama, tapi semua yang terlihat dibuat menyerupai kamar Dina yang lama.

“Tadi Emilia kenapa pulang sendirian ?”

Milea mengalihkan pembicaraan supaya tidak lagi fokus dengan Dina.

”Mili kesal sama Loli dan Chika,” gumam Emilia dengan wajah sendu. Jemarinya menaut, menggesekkan kuku jari jemarinya.

“Memang Loli dan Chika buat apa sama Emilia ?”

“Mereka bilang kalau Mili ini anak nyamuk,” gerutunya dengan bibir maju 5 senti.

Milea hampir tergelak mendengar istilah yang digunakan oleh anak-anak TK ini.

“Kenapa anak nyamuk ?” Milea menautkan alisnya.

“Karena nyamuk itu kan lahirnya ramai-ramai, mereka nggak tahu mama dan papa mereka yang mana.”

Milea tertawa pelan sambil mengusap kepala Emilia.

“Memangnya kata siapa nyamuk lahirnya ramai-ramai ? Lagipula nyamuk tidak dilahirkan seperti Emilia, tapi menetas dari telur seperti anak ayam.”

“Ibu guru pernah kasih lihat anak-anak nyamuk di bak penampungan air yang ada di belakang sekolah. Tomi tanya sama Ibu, kalau banyak begini, mereka bagaimana tahu yang mana mama papanya.”

“Terus Chika dan Loli bilang apa lagi sama Emilia ?”

“Emilia anak yang nakal makanya mama Dina cepat-cepat pulang ke.surga terus papa nggak mau tinggal sama Mili malah nggak pernah mau dipanggil papa.”

Milea menatap Emilia yang mulai meneteskan air mata dengan wajah tertunduk.

“Kamu masih punya opa dan oma, sayang. Ada momny dan daddy juga yang sayang sama Mili.”

”Mommy dan Daddy tidak pernah datang ke sekolah untuk nonton Mili menari atau menjemput seperti papa dan mama yang lain.”

“Mau Onti bantu Mili bicara sama mommy dan daddy untuk sekali-sekali menjemput kamu ?”

“Beneran Onti ? Memangnya Daddy bisa ? Daddy sibuk terus, Mommy juga sibuk bikin baju terus.”

“Nanti Onti coba ngomong sama mommy, ya ?” Milea kembali membelai kepala Emilia sambil tersenyum.

“Kenapa bukan Uncle dan Onti aja yang jadi papa dan mama Mili seperti kata oma ?” mata Emilia mengerjap-ngerjap sambil nyengir kuda.

Milea tidak tega untuk memarahi Emilia yang mulai tersenyum tapi tidak mungkin juga mengangguk mengiyakan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!