Sepenggal Cerita Masa Lalu

“Aku mau bertemu dengan orangtuamu,” Arkan berdiri di depan meja kerja Milea.

Sore ini Arumi sudah meninggalkan kantor sejak jam 3 sore dijemput Henri. Milea masih mengerjakan tugas-tugasnya dan tidak menduga kalau Arkan akan datang menemuinya.

Pria di depannya ini tidak berhenti mendekatinya. Setiap kali ada waktu senggang, Arkan pasti datang menemuinya, entah mengajak makan siang atau menjemput sepulang jam kerja.

Namun setiap kali mengantar Milea ke rumah, gadis itu belum mengijinkan Arkan turun menemui kedua orangtua Milea, yang pasti akan menolak kehadiran Arkan bahkan mungkin memaki pria itu.

Tapi alasan utamanya karena hati Milea tidak yakin bisa menerima Arkan kembali meski pria ini menegaskan berkali-kali kalau tidak terjadi sesuatu antara dirinya dan Dina.

“Untuk apa ?”

“Untuk minta maaf lalu melamarmu untuk menjadi istriku. Aku tidak ingin kehilangan dirimu untuk kedua kalinya.”

“Jangan memaksa, Arkan. Saat ini aku belum punya perasaan apapun padamu. Aku bukan lagi Milea 5 tahun yang lalu. Tolong jangan terlalu percaya diri. Lagipula selama aku belum mendapat kejelasan tentang alasanmu menerima permintaan Dina untuk menikahinya dan sekarang kamu menolak mentah-mentah mengakui Emilia sebagai anakmu, sulit bagiku untuk membuka hati padamu.”

Arkan terdiam, menimbang-nimbang pernintaan Milea apakah mungkin ia mengabulkannya saat ini.

“Apa kalau aku mengatakan semuanya kamu akan kembali padaku ?”

“Setidaknya saat aku mengambil keputusan, aku tidak meraba-raba lagi rahasia yang kamu simpan selama ini. Aku tidak ingin menjadi orang terakhir yang tahu tentang persoalanmu dengan Dina dan Emilia apalagi saat statusku adalah kekasihmu.”

“Aku akan mengatakan semuanya kepadamu dan tidak akan ada yang disembunyikan lagi. Aku harap kamu tetap berdiri di sampingku setelah semuanya terungkap. Kita bicara di tempat lain, jangan di sini. Aku belum siap kalau Kak Arumi atau siapapun tahu soal ini. Kamu adalah orang pertama yang mengetahui persoalanku dengan Dina.”

Terlihat tarikan nafas berat Arkan menatap Milea dengan penuh harap. Milea mengangguk dan merapikan mejanya, bersiap untuk pulang.

Arkan membawa Milea ke salah satu restoran yang agak sepi karena tujuan mereka bukan sekedar mengenyangkan perut tspi juga berbicara dari hati ke.hati.

Milea menatap Arkan yang masih terlihat ragu-ragu untuk bicara. Keduanya sudah memesan makanan.

“Jangan dipaksa juga kalau kamu enggan bercerita. Aku tidak masalah,” ujar Milea saat melihat wajah Arkan.

“Kamu takut karena akan membuka aib mantan istrimu sendiri ?” Milea tertawa pelan, ada nada sindiran dalam ucapannya.

Milea beranjak bangun hendak ke toilet. Ada rasa malas melihat sikap Arkan yang jadi plin plan seperti ini. Mau menjalin hubungan lagi tapi enggan meluruskan dulu kesalahpahaman di antara mereka.

“Mau kemana ?” Arkan menahan lengan Milea.

“Mau ke toilet. Perutku mendadak mulas berhadapan denganmu yang plin plan seperti ini. Lain kali pastikan dulu hatimu sebelum meminta waktu padaku.”

Milea menepis tangan Arkan dan meninggalkan pria itu. Sebetulnya Milea ingin pulang, tubuhnya yang letih mudah terbawa emosi. Baginya mengetahui kehidupan Arkan sudah tidak penting lagi karena belum ada niat untuk kembali bersama pria itu.

Milea sengaja kembali ke meja setelah pesanan mereka diantar. Wajahnya juga biasa-biasa saja, tidak menunjukkan kalau ia cukup penasaran mendengar langsung dari mulut Arkan.

Keduanya hanya diam sambil menikmati makanan yang ada di meja. Terdengar helaan nafas Arkan beberapa kali tapi Milea tidak peduli, sama dengan sikap Arkan saat melihat Milea terluka waktu gadis itu harus menerima kenyataan kalau calon pengantin sahabatnya adalah kekasihnya.

Sampai mereka keluar restoran, Arkan tetap bungkam membuat Milea bertambah kesal hingga akhirnya ia menghentikan taksi kosong yang kebetulan lewat di depan restoran.

“Milea,” Arkan kembali menahan lengan Milea sebelum gadis itu membuka pintu.

“Tolong jangan buang-buang waktuku lagi dengan alasan yang tidak berguna.”

Milea menepiskan tangan Arkan dan wajahnya langsung berubah kesal saat Arkan mendekati sopir taksi, memberikan selembar uang duapuluh ribuan sekaligus minta maaf karena batal menggunakan jada layanan taksi itu.

Arkan menarik lengan Milea dan membukakan pintu depan bagian penumpang.

“Masuk, aku yang menjemputmu dan aku yang akan mengantarmu pulang.”

“Sok gentle !” cebik Milea sebal.

Mobil perlahan meninggalkan parkiran restoran dan Arkan membawa Milea bukan ke arah rumahnya.

“Dina bukanlah perempuan baik-baik,” tanpa diminta Arkan mulai bicara.

“Dia sudah tidak gadis lagi sejak kelas X, dia menyerahkan miliknya yang berharga itu dengan sukarela bukan pada lelaki hidung belang, tapi pria beristri yang kesepian. Aku sudah menegurnya, tapi Dina hanya bilang kalau aku bukan siapa-siapanya, hanya teman masa kecil yang tidak penting.

Setelah menjalin hubungan gelap dengan om-om kesepian itu, Dina ketahuan dan hampir saja dilabrak habis-habisan oleh istri pria itu namun spontan aku malah melindunginya hingga Dina bisa terhindar dari rasa malu karena sudah jadi pelakor.

Berkali-kali Dina menyuruhku mencari pacar tapi aku belum menemukan gadis yang cocok. Begitu dia tahu aku tertarik padamu, dengan berbagai cara ia mengusahakan kita jadian. Semua itu tidak murni tulus dilakukan oleh Dina karena persahabatan kita, tapi ada agenda lain yang Dina sudah siapkan untuk dirinya sendiri.”

“Jadi kamu terpaksa menjadikan aku pacarmu hanya demi memenuhi permintaan Dina ?” Milea tersenyum getir.

“Bukan begitu, Milea. Tadi aku bilang kalau aku mulai tertarik padamu tapi belum sampai keputusan untuk menjadikanmu pacar apalagi kita baru berkenalan. Aku memang bukan pria yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk mengajak seorang gadis pacaran.”

Milea hanya tersenyum tipis, enggan berdebat di tengah suasana hatinya yang sedang tidak nyaman.

“Dina ikut pergi setiap kali aku akan mengajakmu pergi. Dia berhenti di tengah jalan karena sudah ada pria lain yang menunggunya.”

“Bukan om-om itu lag?” Arkan langsung menggeleng.

“Dan pulangnya begitu juga ? Kamu menjemput Dina seolah kalian habis berkencan ? Jadi itu sebabnya saat kita pacaran, kamu suka mengulur-ulur waktu sampai Dina siap dijemput ?”

“Seringnya begitu, tapi tidak selalu. Hanya saja Dina suka memakai namamu kalau tidak pulang karena menginap. Itu pun baru aku ketshui saat kita sudah kelas XII.”

“Kenapa kamu tidak jadikan Dina pacar beneranmu aja ? Kalau memang kamu hanya menganggapnya sebagai teman kecil, kamu tidak akan membelanya seperti itu, mengiyakan semua permintaannya yang sungguh kelewat batas. Masalahnya Dina mempertaruhkan nama baikmu dan nama baikku yang saat itu berstatus kekasihmu,” suara Milea meninggi.

Emosi mendengar cerita Arkan. Benar-benar pria yang tidak punya pendirian dan terlalu naif. Tidak aneh Dina bisa membuat Arkan menikahinya.

“Ternyata kamu sudah plin plan sejak dulu dan sepertinya aku harus bersyukur karena dibukakan mata saat melihat kamu bersanding dengan Dina. Dan sekarang tidak usah menemui orangtuaku dulu karena aku benar-benar kecewa padamu, Arkan.”

Milea membuka pintu karena posisi mobil Arkan sudah terpakir di kawasan pantai yang masih ada di Jakarta.

Aroma air laut langsung tercium hidung Milea, membuat hatinya sedikit tenang di tengah suasana yang makin menyulut emosi mendengar cerita Arkan.

“Mau kemana lagi ?” Arkan menyusul Milea yang berjalan menuju jalan raya dan menahan lengan gaids itu.

”Aku lagi capek, Arkan dan suasana hatiku tidak cukup baik untuk mendengarkan ceritamu yang terlalu naif itu. Persetan dengan pertemanan kalian sejak kecil !

Jujur, aku merasa bersyukur bisa lepas darimu, pria yang plin plan, tidak bisa tegas membuat keputusan untuk diri sendiri. Bagaimana kamu bisa melindungi orang lain jika dirimu sendiri tidak bisa kamu jaga ?”

Milea berusaha melepaskan cengkraman tangan Arkan namun tidak berhasil, pria itu malah semakin kuat memegang tangannya.

“Aku bukan lagi Arkan yang dulu, Milea,” suara Arkan meninggi, mulai emosi juga.

“Aku sudah memutuskan menjadi Arkan yang baru dengan menceraikan Dina dan meninggalkannya. Setahun setelah itu aku mencarimu, tapi kamu menghilang seperti ditelan bumi.”

“Kamu hanya kurang gigih mencariku, tidak segigih niatmu melindungi dan membantu Dina,” sindir Milea dengan senyuman sinis.

“Tolong lepaskan aku. Perasaan itu bukan koin yang mudah kamu bolak balik, jadi jangan memaksa orang lain untuk menerimamu setelah kamu campakkan begitu saja tanpa penjelasan apapun.”

“Aku tahu kesalahanku saat itu dan membiarkanmu pergi dengan hati terluka dan kesalahpahaman.”

“Arkan, tolong jangan bertele-tele. Aku tidak butuh rayuan gombal atau pernyataan penyesalanmu yang diulang-ulang karena semuanya itu tidak akan merubah apapun.”

Kali ini Milea menghentakkan tangannya cukup kuat saat dilihatnya Arkan mulai lengah hingga pegangan pria itu terlepas.

“Jangan mendramatisir keadaan, buatku sudah tidak penting lagi. Aku justru beryukur bisa diperlihatkan pria macam apa seorang Arkan saat kamu bersanding dengan Dina.”

Milea tersenyum getir dan kembali meneruskan langkah menuju jalan raya.

“Anak itu adalah anak Henri !” pekikan Arkan membuat langkah Milea terhenti dan langsung membalikan badannya.

Posisi mereka masih berjarak dan tidak ada yang berusaha saling mendekat.

“Anak itu adalah anak kandung Henri,” Arkan kembali mengulang ucapannya. “Dan Dina sengaja membuat Henri menanam benihnya karena terobsesi untuk memiliki Henri. Dina suka dengan pria-pria yang lebih tua darinya, terutama yang sudah berpasangan.”

Milea bergeming dan tidak mengeluarkan kalimat apapun, begitu juga dengan Arkan yang hanya menatap Milea dengan wajah sendu.

Terpopuler

Comments

Kris Wru

Kris Wru

nah kan....
mmg ya....
itu Arkan jg bikin geregetan..
tp di sisi lain aq paham yg dia lakukan demi kakak, & nama baik keluarganya

2024-11-07

2

dapoer Nita

dapoer Nita

hhhmmm penasaran reaksi mama Mira deh

2023-05-05

3

💕Y@t

💕Y@t

arkan menutupi aib kakak iparnya, dan menjaga hati kakak kandungannya

2023-05-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!