Sudah seminggu lebih Arkan tidak menghubungi Milea apalagi datang menemuinya dan menjemputnya di kantor. Terakhir pertemuan mereka adalah saat Arkan membuka semua cerita tentang Dina dan Emilia.
Ucapan Arkan malam itu ada benarnya. Bagaimana mungkin hati ini membuang cinta pertama dengan begitu mudah ? Milea hanya membentengi diri supaya tidak merasakan sakit dari orang yang sama.
Milea mulai merasa kehilangan namun gengsi untuk bertanya pada Arumi atau mengirimkan pesan lebih dulu pada Arkan. Entah kemana pria itu, Milea berpikir pasti sibuk dengan pekerjaannya.
Sabtu pagi ini seperti biasa Milea menikmati sarapan bersama kedua orangtuanya. Kondisi mama sudah lebih baik sejak Milea kembali tinggal bersama mereka.
“Aku sudah di depan gerbang rumahmu,” suara Arkan langsung menyahut saat Milea mengangkat panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
Handphonenya terus berbunyi sejak tadi, sampai akhirnya Milea menjeda sarapannya dan menerima panggilan itu.
“Mau ngapain pagi-pagi begini kemari ?”
“Mau ketemu calon mertua. Minta maaf dan minta ijin untuk menikahi anak gadisnya.”
“Calon mertua darimana ? Bahkan kita belum mulai pacaran lagi.”
“Pacarannya nanti saja kalau sudah menikah. Yang penting sah dulu,” sahut Arkan sambil terkekeh.
Milea menghela nafas menghadapi sikap Arkan yang sangat berbeda dengan masa SMA dulu. Arkan yang penurut dan sabar itu berubah menjadi Arkan yang tegas dan susah dibantah.
“Mau dibukakan pintu atau aku pencet bel berkali-kali ?” tanya Arkan memecah keheningan di antara mereka.
“Aku masih sarapan, aku minta bibik membukakan pintu sekalian aku bicara dulu sama papa dan mama supaya mereka tidak kaget dengan kedatanganmu.”
“Aku juga belum makan bahkan belum tidur cukup. Semalam…”
Milea tidak mau mendengar penjelasan Arkan lebih lama lagi. Milea bergegas keluar kamar dan kembali ke meja makan sekaligus minta tolong pada bibik untuk membukakan pintu.
“Memangnya ada siapa yang datang , Lea ?” tanya mama Lili sambil mengerutkan dahi karena melihat wajah Milea berubah sedikit tegang.
“Arkan, Ma,” sahut Milea dengan wajah sedikit menunduk.
“Mau apa lagi anak itu datang kemari ? Sudah papa dan mama tegaskan supaya pergi jauh-jauh darimu. Seenaknya saja mengharapkan kami melupakan perbuatannya cukup hanya dengan minta maaf,” gerutu papa Heru dengan wajah kesal.
“Arkan bilang dia pernah menemui papa dan mama beberapa tahun lalu ?”
“Iya dan dia bilang kalau dia sudah bercerai dengan Dina bahkan Dina sudah meninggal dunia juga. Terus setelah Dina nggak ada, dia mau balik lagi sama kamu ? Mana bisa begitu. Sudah menyakiti kamu, punya anak dari perempuan lain dan sekarang mau menikahi kamu yang masih gadis.”
Milea hanya terdiam dan menyuap sisa nasi gorengnya yang tinggal sesendok.
“Minggu lalu Milea ditemui sama pengacara oleh keluarga Dina dan Arkan.”
“Mau apalagi pakai pengacara segala ?” Papa Heru menatap Milea sambil mengerutkan dahi.
“Dina buat surat wasiat, meminta aku dan Arkan menjadi orangtua Emilia, anaknya Dina.”
“Aneh pakai surat wasiat segala,” papa Heru tertawa sinis. “Sudah jelas kalau anak itu anaknya Arkan, kenapa juga Dina masih nyuruh-nyuruh kamu menikahi mantan suaminya dan mengurus anaknya juga.”
“Emilia anaknya Dina, tapi bukan anak kandung Arkan,” ujar Milea dengan suara pelan.
“Apa maksudmu, sayang ?” mama Lili memegang tangan putrinya. “Maksud kamu Dina berselingkuh gitu ?”
“Bukan, Ma,” Milea menggeleng. “Arkan dipaksa untuk menikahi Dina padahal sejak awal bukan Arkan yang melakukannya, tapi Dina memaksa Arkan yang bertanggungjawab dan bilang kalau dia yang menghamili Dina.”
“Kamu kan hanya dengar pengakuan Arkan dan tidak bisa konfirmasi lagi dengan Dina yang sudah meninggal,” sindir papa Heru sambil tersenyum sinis.
“Arkan sudah membuktikannya dengan tes DNA, Pa. Arkan juga sudah memproses secara hukum tentang pembatalan akta kelahiran Emilia yang mencantumkan kalau Arkan adalah ayah kandungnya.”
“Apa Dina sampai setega itu sama Arkan ? Bukannya mereka teman sejak kecil ?” tanya mama Lili.
“Terus sekarang mau ngapain Arkan kemari ?” tanya papa Heru dengan ketus.
“Saya mau minta maaf atas perbuatan saya yang sudah menyakiti hati putri Om dan Tante,” Arkan yang menyahut.
Milea terkejut mendengar suara Arkan sudah ada di dekat ruang makan. Pria ini benar-benar sudah bertekad untuk mendapatkan Milea kembali.
“Maaf kalau saya mengganggu waktu sarapan Om dan Tante,” Arkan berjalan mendekat dan berdiri di belakang Milea yang menghela nafas beberapa kali.
“Sudah tahu mengganggu, masih berani datang,” sahut papa Heru dengan wajah galak.
“Karena saya nggak mau membiarkan Milea kabur lagi,” Arkan malah tersenyum.
“Memangnya kamu mau kemana lagi, Lea ?” tanya mama Lili.
“Milea mau berhenti bekerja dari kantor kakak saya, Tante dan berencana pergi lagi. Siapa tahu kali ini lebih jauh dari Semarang. Jadi daripada Tante kesepian lagi karena ditinggal pergi anak semata wayang ini, saya bermaksud mencegahnya dan kalau perlu mengikatnya jadi istri saya supaya tidak jauh-jauh dari Om dan Tante.”
“Arkan !” Milea sampai menoleh mendengar ucapan Arkan. Pria itu hanya nyengir kuda, tidak peduli dengan pelototan Milea, tatapan galak papa Heru dan wajah bingung mama Lili.
“Kalau masalah gadis dan perjaka, saya juga masih perjaka kok, Om. Hanya status secara hukum saja kalau saya ini duda. Jadi status saya duda tapi perjaka, Om,” Arkan melanjutkan ucapannya dengan nada santai.
Mama Lili langsung berdehem karena tidak mampu menahan diri untuk tersenyum. Miea kembali menghela nafas sambil memutar bola matanya. Sejak kapan Arkan bisa melawak seperti ini.
“Duduk Nak Arkan,” mama Lili langsung mempersilakan pria itu duduk di sebelah Milea. “Sudah sarapan ?”
“Belum sih, Tante. Baru sampai rumah tadi jam 1 subuh, karena takut Milea kabur saya bangun jam 5 pagi dan langsung siap-siap kemari, jadi belum sempat sarapan soalnya di rumah belum siap juga.”
“Kamu lagi laporan sama atasan atau curhat ?” sindir Milea.
“Lagi curhat sama calon mama mertua,” sahut Arkan dengan sedikit berbisik namun masih terdengar oleh kedua orangtua Milea.
Papa Heru masih menatap tajam ke arah Arkan namun hatinya sudah tidak emosi seperti tadi. Papa Heru menghargai keberanian Arkan dan melihat kalau pria yang mencintai putrinya ini serius dengan ucapannya, apalagi Milea sudah memberitahu masalah jalur hukum yang ditempuh Arkan untuk membuktikan hubungannya dengan anak Dina.
“Masakan Tante tidak berubah sejak dulu, nasi gorengnya masih sama enaknya,” puji Arkan setelah menelan satu sendok nasi goreng yang ada di piringnya.
“Masa sih ?” mama Lili tersenyum. “Kamu yakin nggak ada yang berubah. Tante bilang nasi gorengnya keasinan.”
“Kata orang kalau masak keasinan artinya ingin kawin, tapi kalau Tante pasti ingin cepat menikahkan anaknya,” seloroh Arkan membuat Milea menyikut perut pria itu.
“Sakit, Mili,” gerutu Arkan sambil mengusap perutnya.
“Mungkin ada benarnya juga omongan kamu, soalnya nasi goreng ini hasil masakan Lea bukan Tante,” sahut mama Lili sambil tertawa pelan.
“Wah pas banget kalau begitu, kamu beneran mau cepat-cepat menikah ? Aku sih siap-siap aja,” Arkan menaik turunkan alisnya membuat Milea langsung melotot.
“Jadi kamu kemari mau numpang sarapan apa mau minta maaf ?” tanya papa Heru dengan suara tegas.
“Niat awal mau minta maaf. Om. Tapi melihat nasi goreng buatan Milea yang mirip buatan Tante ini saya susah menolak, Om. Ini salah satu menu favorit saya waktu masih pacaran sama Milea. Putri Om ini nggak pernah absen membawakan saya bekal nasi goreng kalau pas ada di rumah.”
“Arkan ! Nggak usah ungkit-ungkit masa lalu deh !” omel Milea dengan wajah ditekuk.
“Memangnya kamu mau pacaran lagi sama Milea ?”
“Kalau boleh bukan sekedar pacaran, Om, tapi saya mau melamar Milea dan ajak nikah. Saya takut Milea kabur lagi atau direbut sama cowok lain, soalnya saya dengar ada dokter sekaligus pemilik rumah sakit yang sudah siap menikahi Milea juga.”
“Memangnya selama ini kamu pacaran dengan siapa, Lea ?” tanya papa Heru dengan tatapan tajam menatap Milea.
“Nggak pacaran sama siapa-siapa, Pa,” sahut Milea cepat. “Arkan aja yang lebay,” Milea mencibir ke arah pria yang duduk di sampingnya.
“Kakaknya Dina sudah siap meminang Milea, Om,” Arkan malah melanjutkan kalimatnya.
“Arkan iihhh,” Milea memukul bahu pria itu. “Kapan juga Kak Dino ngajak aku nikah, dia cuma ajak aku pacaran.”
“Ajak pacarannya kan 3 tahun lalu dan sekarang pasti ngajaknya nikah bukan pacaran lagi,” sahut Arkan sambil menyuap sendok terakhir nasi gorengnya.
Papa Heru bangun dari kursinya karena sudah mulai tidak bisa menahan diri untuk menanggapi gurauan Arkan.
Arkan memang calon menantu ideal di mata papa Heru. Saat Milea masih pacaran dengannya, Arkan memperlakukan Milea sangat baik dan bertanggungjawab. Arkan juga perhatian pada orangtua Milea, bahkan tidak sungkan menemani papa Heru bermain catur atau merapikan mobil kesayangannya saat datang ke rumah Milea.
Papa Heru sangat terpukul saat tahu kalau Arkan menikahi sahabat baik Milea, hatinya ikut tersakiti saat melihat putrinya menangis tersedu menghadapi kenyataan yang tidak terduga.
“Om kok bangun ? Permintaan maaf saya dikabulkan atau ditolak ?” Arkan ikut bangun dan menyusul papa Heru yang berjalan ke arah ruang tamu.
“Memangnya kamu masih mau membersihkan mobil saya seumur hidupmu kalau sampai jadi suami Milea ?”
“Kalau hanya cuci mobil dan poles-poles nggak nolak, Om, tapi nggak bisa sesering dulu soalnya sekarang saya sudah kerja. Harus kerja keras demi kebahagiaan putri Om juga, demi segenggam berlian dan tas Hermes, Om,” Arkan terkekeh membuat papa Arman akhirnya tersenyum.
“Berani menyakiti putri saya sekali lagi, saya habisi perkututmu !” ancam papa Heru.
“Wah jangan dong, Om,” Arkan langsung memegang celananya. “Ini kan aset berharga yang bisa membuat putri Om bahagia juga.”
Milea mendengus kesal dan menyusul kedua pria itu ke ruang tamu.
“Papa nggak ada wibawa banget, sih, masa segampang itu memaafkan cowok yang sudah bikin Milea pergi ? Lagipula kenapa papa nggak nanya dulu sama Milea, memangnya Milea masih mau sama dia,” Milea menunjuk ke arah Arkan.
“Yakin udah nggak mau sama dia ?” papa Heru ikut menujuk Arkan. “Kalau nggak mau kenapa tadi suruh bibik bukakan pintu ? Kalau nggak mau biar aja dia berdiri di luar gerbang sampai kering kena matahari.”
Arkan langsung tersenyum lebar dan menaik turunkan alisnya lagi pada Milea yang masih cemberut.
“Ya udah kalau kamu udah nggak mau sama Arkan,” mama Lili ikut bergabung sambil mengusap punggung Milea.
“Kamu masuk kamar aja sana dan biarkan Arkan menemani papamu main catur. Nggak usah dianggap, kalau kamu mau pergi juga boleh,” lanjut mama Lili.
Milea menghela nafas kasar dengan bibir mengerucut. Bisa-bisanya kedua orangtuanya begitu mudah memaafkan Arkan hanya dalam hitungan menit, padahal saat ini Milea belum memberikan jawaban pasti kalau ia mau menjalin hubungan lagi dengan Arkan.
“Memangnya papa sama nggak malu punya calon menantu duda begini ?”
“Nggak apa-apa, selama duda beneran, bukan suami orang. Lagipula dudanya masih muda, bukan om-om yang jablai,” sahut papa Heru sambil tertawa.
“Wah Om tambah keren aja nih,” Arkan mengacungkan jempolnya pada papa Heru.
Milea menggerutu kesal dan masuk ke dalam, berniat kembali ke kamarnya. Teringat masa SMA dulu, papa Heru langsung menguasai Arkan setiap kali pria itu datang ngapel ke rumah Milea. Satu putaran permainan catur sudah jadi rutinitas mereka.
“Kamu yakin nih mau ninggalin Arkan ke kamar ?” ledek mama Lili.
“Bukannya ninggalin Tante, itu sepertinya kode supaya segera saya halalkan jadi bisa ikut ke kamar sama Milea.”
“Arkan !!” Milea berbalik dan memukuli bahu pria itu. “Aku belum bilang mau baikan sama kamu, ya, apalagi mau dinikahin sama duda gatel kayak kamu.”
“Milea, ampun,” Arkan mencoba menghindari pukulan Milea yang bertubi-tubi di bahunya.
Papa Heru dan mama Lili hanya senyum-senyum dan meninggalkan keduanya di ruang tamu. Mereka sekarang tahu alasan kenapa Milea lebih ceria dalam beberapa minggu terakhir ini.
“Kamu sekarang kuat banget sih,” Arkan berhasil memegang kedua tangan Milea dan menjepit gadis itu hingga bersandar ke tembok.
Nafas Milea tersengal karena emosi, wajahnya masih ditekuk menahan kesal.
“Jangan begitu dong, bikin aku jadi tergoda.”
“Memangnya aku ngapain ?” mata Milea melotot.
“Cara nafas kamu,” Arkan melirik ke arah dada Milea yang naik turun. Posisi mereka cukup dekat hingga hembusan nafas keduanya terasa menyapu wajah.
Mata Milea membola hingga Arkan tidak mau Milea memekik kembali, bibir gadis itu langsung dibungkamnya dengan ciuman hangat. Milea kembali membelalak namun tidak memberontak hingga Arkan semakin berani menciumnya.
“Aku menyayangimu Milea, sejak dulu, sekarang dan di waktu yang akan datang,” bisik Arkan dengan lembut membuat Milea malah memejamkan matanya.
Milea tidak tahu kalau Arkan sudah beberapa kali datang menemui kedua orangtuanya sejak mereka bertemu kembali di kantor Arumi, itu sebabnya papa Heru tidak sulit untuk memberi maaf setelah mendengar detil cerita Milea.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Fitra Smart
lanjut ya thor.. udah mulai bagian uwu uwuan... belum konflik nech
2023-05-06
1
Fitra Smart
tambahee lagee
2023-05-06
1