Arkan masih senyum-senyum sendiri membuat Milea malah sebal melihatnya.
“Kamu nggak ketelen biduk catur kan, Ar ?”
Tidak tahan dilirik dengan senyuman maut Arkan akhirnya Milea buka suara. Hari ini Arkan menghabiskan waktunya menemani papa main catur.
Niatnya mendapatkan Milea kembali benar-benar dieksekusi, bahkan pendekatannya langsung ke orangtua Milea dulu.
“Memangnya kenapa ?”
“Kamu nggak bisa ngaca sebentar tuh di spion ? Dari tadi kok senyum-senyum sendiri kayak habis menang undian.”
“Memang habis menang undian cinta, cinta darimu,” sahut Arkan sambil terkekeh.
“Haiss Arkan, kenapa sekarang jadi pria yang suka gombal, sih ?” Milea menghela nafas.
“Nggak gombal kok, semuanya ungkapan dari hati yang paling dalam.”
Milea hanya menghela nafas dan menyandarkan kepalanya ke pintu tanpa berniat meneruskan perbincangan dengan Arkan.
Perasaannya masih belum jelas pada Arkan, belum bisa semudah itu untuk jatuh cinta lagi pada pria yang mengkhianatinya 5 tahun lalu.
Arkan melirik Milea yang memejamkan mata. Ia berhenti mengoceh dan membiarkan Milea menikmati ketenangan. Arkan paham kalau hati Milea sedang tidak menentu saat ini, terlihat tatapan gadis itu masih ragu saat memandangnya.
Bahkan Milea belum mau membalas pelukannya meski sekarang tidak selalu menolak saat Arkan memeluknya.
Kesalahan Arkan adalah tidak memberikan penjelasan pada Milea, bahkan Arkan menghindari Milea sebelum pernikahannya dengan Dina dilangsungkan.
Arkan tersenyum saat melihat gerakan kepala Milea tidak beraturan karena kondisi mobil yang melaju, tandanya Milea mulai tertidur.
Tangannya terulur mengusap kepala Milea dengan penuh cinta. Berharap Milea dapat segera membuka hatinya kembali untuk Arkan.
30 menit kemudian mobil Arkan sudah terparkir di salah satu mal. Sengaja Arkan tidak membangunkan Milea dan merubah posisi duduknya bersandar ke pintu supaya lebih mudah memandangi wajah Milea yang tenang.
Arkan senyum-senyum sendiri. Membayangkan bisa bersama Milea kembali adalah mimpinya sejak meningalkan Dina.
Hatinya tergoda untuk mencium Milea yang masih tertidur pulas.
Arkan melepaskan sabuk pengamannya dan perlahan mendekati Milea, namun belum sampai bibirnya menyentuh pipi Milea, mata gadis itu terbuka dan langsung membelalak saat melihat wajah Arkan begitu dekat.
“Kamu mau ngapain ?” Milea reflek mendorong tubuh Arkan supaya menjauh.
“Sakit Mili,” Arkan mengusap kepalanya yang terbentur jendela karena Milea mendorongnya.
“Lagian kamu mau ngapain ? Siapa yang nggak kaget begitu muka mata langsung melihat muka kamu gede begitu.”
Milea mengomel sambil merapikan rambutnya. Diam-diam dia melirik bajunya, berpikir jangan-jangan Arkan tergoda karena ada bagian pakaiannya yang terbuka.
Aman. Milea menggunakan blus tanpa kancing dengan leher bulat dilapisi kardigan dan tanpa belahan yang menggoda iman. Rok yang dikenakannya juga cukup panjang, sekitar 15 cm di bawah lutut.
“Aku mau cium pipi kamu,” gerutu Arkan sambil mengusap kepalanya.
“Makanya jangan suka curi-curi kesempatan, kena batunya kan ?” Milea malah menertawakannya.
Bergegas Milea melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil karena tidak ingin Arkan melanjutkan aksinya yang gagal.
“Kita mau kemana ?” Milea berdiri sedikit jauh dari Arkan.
Keduanya sudah masuk ke dalam mal. Kepala Arkan juga baik-baik saja, tadi sedikit di dramatisir untuk menarik perhatian Milea tapi gagal.
“Nonton mau ? Habis itu kita baru makan soalnya sekarang masih kenyang gara-gara keenakan makan masakan mama dan calon istri.”
“Siapa yang ijinin kamu panggil mama ? Dan siapa juga yang mau jadi calon istri kamu ?” Milea menggerutu dan berjalan dua langkah di depan Arkan.
Arkan tertawa melihat Milea jadi lebih banyak mengomel untuk menyangkal perasaannya.
“Jangan jauh-jauh, nanti diculik orang, aku susah cari gantinya,” Arkan langsung menggandeng tangan Milea dan tidak membiarkan jemari itu terlepas lagi.
Milea hanya pasrah, tidak mau mengundang perhatian pengunjung lain karena situasi mal di hari Sabtu sore ini cukup ramai.
“Mau nonton apa ?” tanya Arkan saat keduanya mulai antri di bioskop.
“Apa aja asal jangan horor dan sadis.”
“Masih takut nonton film horor ? Kan ada aku yang bisa kamu peluk-peluk kalau serem.”
Milea hanya melengos kesal melihat Arkan penuh percaya diri menatapnya sambil senyum senyum.
Arkan yang memilih film seperti biasanya. Sejak dulu memang selalu Arkan yang menentukan film saat mereka kencan ke bioskop. Milea hanya mengikuti pilihan Arkan karena percaya pria itu selalu mencari tahu dulu sinopsis film yang akan mereka tonton.
“Masih suka popcorn asin ekstra butter ?”
Milea mengangguk namun hatinya tidak berdesir saat Arkan masih hafal kesukaannya, perasaan Milea masih biasa saja.
Keduanya tidak banyak ngobrol saat menunggu pintu bioskop dibuka, masing-masing menyibukkan diri dengan handphonenya.
“Arkan, ya ?” tiba-tiba 3 orang perempuan datang mendekat, mereka tidak tahu kalau Arkan tidak sendirian karena Milea duduk berjarak 1 orang dari Arkan.
“Regina,” Arkan langsung balas menyapa saat kepalanya mendongak ke arah suara yang memanggilnya.
“Apa kabar ?” Arkan langsung bangun dan menjabat tangan perempuan itu.
“Baik, kamu langsung menghilang begitu aja habis wisuda, nggak kasih kabar kalau pulang ke Indonesia,” ujar Regina dengan nada manja.
Milea tadi sempat melirik perempuan yang mendekati Arkan. Cantik dan dari penampilannya terlihat bukan cewek sembarangan. Pakaian dan tasnya bukan barang murahan, calon menantu idaman orangtua Arkan.
Diam-diam Milea menjauh saat Arkan tidak sadar, menyingkir ke kamar kecil . Entah apa yang membuatnya harus berbuat seperti itu, seperti pertandingan, Milea menyatakan diri kalah sebelum berjuang.
“Kamu sendirian aja ?” Regina menoleh ke kiri dan kanan Arkan dan tidak melihat seseorang yang cukup dekat menempel dengan pria itu.
“Nggak, aku sama…” Arkan menoleh ke kiri dan langsung mengernyit karena tidak mendapati Milea di situ.
“Oh iya kenalin ini 2 sahabatku,” Regina bergeser sedikit, memberi kesempatan pada 2 temannya untuk berkenalan.
“Susi.”
“Karina.”
Kedua perempuan itu gantian menyalami Arkan yang juga menyebutkan namanya setiap jali bersalaman. Mereka tidak malu-malu memperhatikan Arkan yang tampan, tapi pria itu masa bodoh.
“Nonton film apa ?”
Arkan malah menyebut nomor studio sementara matanya beredar mencari keberadaan Milea. Fokusnya terbagi, Arkan tidak terlalu memperhatikan ucapan Regina.
“Kita bareng Ar, elo duduk dimana ?”
“Sorry gue tinggal dulu, cari calon istri, takut kenapa-napa soalnya udah dari tadi ke toiletnya.”
Arkan tidak menjawab pertanyaan Regina malah pamit menuju toilet karena pintu studio sudah dibuka.
Arkan tersenyum saat Milea berdiri di dekat pintu toilet sambil memegang handphonenya. Firasatnya bilang kalau Milea merasa sedikit cemburu melihat Arkan didekati wanita.
Sepertinya ide yang bagus kalau kehadiran perempuan lain bisa membangkitkan kembali rasa cinta Milea pada Arkan.
“Kamu ngapain di sini ?” Arkan berdiri di hadapan Milea membuat gadis yang fokus dengan handphonenya sedikit kaget.
“Habis dari toilet.”
“Kok nggak bilang dulu ? Tadi aku mau kenalin sama teman kuliahku.”
“Udah kebelet, takut nggak keburu kalau nunggu obrolan kalian selesai.”
Arkan mengangguk-angguk dan tangannya langsung menggandeng Milea membawanya masuk ke dalam bioskop.
Ternyata ketiga perempuan yang ditemui Arkan menunggu pria itu, penasaran dengan ucapan Arkan yang menyebutkan kalau dia datang bersama calon istri.
Mereka masih berharap kalau Arkan bohong, hanya mencari-cari alasan untuk menghindari mereka.
Arkan melirik Milea dan tersenyum tipis saat menangkap ada tatapan tidak suka saat Milea melihat ketiga perempuan tadi berdiri seperti menunggu Arkan.
“Kok belum masuk ?” tanya Arkan pura-pura bodoh.
“Baru dari toilet,” sahut Karina berbohong.
“Oh ya, kenalin ini calon istriku,” Arkan memperkenalkan Milea pada ketiga perempuan di depan mereka.
Milea tersenyum dan menyalami ketiganya sambil menyebutkan nama. Milea bisa menangkap kalau Regina sedikit memandangnya remeh, tapi Milea yang sudah pandai bersandiwara bersikap biasa saja.
“”Ayo sayang, kita masuk duluan.”
Malah Arkan yang semakin agresif menunjukkan kalau hatinya untuk Milea. Satu tangan Arkan langsung merangkul bahu Milea dan tangan lainnya memegang popcorn kesukaan Milea.
“Kamu cemburu, ya ?” bisik Arkan di tengah-tengah film. Milea hanya menggeleng tanpa menoleh pada Arkan.
Hembusan nafas Arkan menerpa sisi kanan wajahnya membuat Milea enggan menoleh karena jarak mereka pasti cukup dekat.
“Aku bahagia banget kalau dicemburuin sama kamu,” bisik Arkan kembali sambil mencium pipi Milea sekilas.
Mata Milea membola dan ia langsung menoleh ke arah Arkan yang ternyata langsung mengecup bibirnya.
Milea makin melotot sambil menggigit bibirnya menahan diri untuk tidak teriak.
“Daripada kesal lebih baik balas cium aku,” ujar Arkan sambil tertawa pelan.
Milea mengangkat kepalan tangannya namun hanya membuat Arkan makin tertawa tanpa suara.
Keluar dari studio ternyata ketiga perempuan tadi kembali menunggu Arkan di depan pintu masuk bioskop.
“Mau kemana habis ini ?” Regina langsung mendekati Arkan yang menggandeng Milea.
“Mau kencan lah, masa mau pergi ke kawinan,” sahut Arkan asal.
“Mau makan bareng ? Gue traktir. Merayakan udah lama nggak ketemu sama elo,” ajak Regina.
“Gimana sayang ?”
“Terserah kamu aja,” Milea mengangkat bahunya sambil tersenyum, mengikuti drama yang sedang dimainkan oleh Arkan.
“Sorry Regina, gue lagi menikmati kencan berdua soalnya sekarang sering sibuk keluar kota. Kapan-kapan kalau ada kesempatan lagi.”
Arkan langsung merangkul Milea yang masih menunjukkan wajah biasa saja, padahal dalam hatinya ingin memukuli Arkan yang seenaknya main peluk dan cium di depan orang.
Arkan sendiri tidak mau merusak mood Milea. Meskipun kehadiran Regina dilihatnya sebagai satu peluang untuk memancing rasa cemburu Milea, tapi Arkan tidak mau usaha awalnya malah membuat Milea berubah pikiran.
“Mau makan apa, sayang ?” tanya Arkan dengan mesra, tangannya pun masih anteng merangkul bahu Milea.
“Sayang, sayang,” gerutu Milea dengan bibir mengerucut. “Tangan dikondisikan, jangan seenaknya pegang cium dari tadi.”
“Duuhh galaknya calon istri. Kamu tahu Mili, semakin galak kamu semakin menggodaku.”
Milea mendengus kesal, dan membiarkan Arkan membawanya ke salah satu restoran ala Jepang.
Arkan masih ingat kalau gadis pujaannya ini penggemar udon berkuah pedas yang disajikan dinrestoran Jepang.
Keduanya berjalan menuju meja diantar seorang pelayan. Baru saja menyentuh kursi kayu yang disiapkan, panggilan bocah 4 tahun itu terdengar menggema.
“Uncle Arkan, Tante Milea.”
Emilia dengan langkah mungilnya mendekati meja Arkan dan Milea.
“Oma dan opa makan di sana,” Emilia menunjuk 2 meja yang ada di sisi kanan mereka.
“Oma bilang makannya sama-sama aja.”
Milea menatap Arkan, lebih tepatnya mengajak Arkan menuruti permintaan Tante Heni.
Milea menautkan alis saat melihat Arkan malah menepuk jidat dan menopang kepalanya dengan telapak tangan di bagian keningnya.
“Lepas dari mulut singa masuk ke kandang buaya. Runyam acara kencanku,” gerutu Arkan.
Meski pelan tapi Milea mendengarnya dan akhirnya tersenyum melihat wajah Arkan yang langsung ditekuk.
Milea bangun dari kursinya dan mendekati Arkan lalu berbisik dengan suara yang dibuat sedikit mesra.
“Siapa tahu dengsn begini aku bisa mendadak jatuh cinta lagi sama kamu.”
“Beneran ya !” Arkan mengangkat jari telunjuknya di depan wajah Milea. “Awas kalau cuma PHP doang.”
Milea tertawa pelan dan menuntun jemari Emilia menuju meja opa dan omanya, sementara Arkan mengekor dari belakang demi ucapan Milea.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Farida Wahyuni
jangan memancing keributan deh arkan, kamu ga bikin cemburu milea aja belum tentu milea mau, apalagi kamu jelas2 buat dia crmburu dan kasi peluang cewe lain deketin kamu, udah fix milea bakal ninggalin kamu, laki2 tukang caper malas deh.
2023-05-06
2