Kemana Emilia ?

Milea sedang sibuk mengecek data persiapan fashion show yang akan digelar oleh Arumi bekerjasama dengan beberapa perancang muda Indonesia.

Terlihat Arumi sedang berbicara di handphone saat masuk ke dalam ruangan Milea. Ia memberi isyarat supaya Milea ikut masuk ke dalam ruangannya.

“Nanti saya akan minta Milea mencari tahu, Tante,” ujar Arumi saat Milea masuk dan menutup pintu.

“….”

“Iya saya akan atur sekarang. Oke Tante. Bye.”

Milea sudah siap dengan buku memonya, mencatat tugas-tugas baru yang akan diberikan Arumi.

“Mili menghilang di sekolah. Saat dijemput, satpam bilang dia ikut mobil temannya yang biasa menjadi tebengannya, tapi karena Tante Heni tidak menitipkan Mili, mama temannya berpikir kalau Mili akan dijemput Tante Heni.”

“Tidak ada rekaman CCTV di sekolah, Bu ?”

“Sempat terekam Mili keluar dari gerbang tanpa terlihat satpam, tapi tidak ada tanda-tanda kalau ia dijemput seseorang.”

Milea tidak berkomentar apa-apa sampai akhirnya Arumi memberikan instruksi padanya.

“Serahkan tugasmu pada Kiki dan Hana. Saya sudah minta Umar memanggil sopir untuk mengantarmu ke sekolah Mili. Tante Heni minta tolong kamu membantunya karena Mili masih mengharapkan kamu jadi mamanya. Siapa tahu kedatanganmu bisa membantunya mengungkapkan apa yang dirasakannya saat ini.”

“Baik Bu,” Milea berbalik hendak keluar ruangan Arumi.

”Lea, mulai sekarang panggil aku kakak, mau sedang berdua atau di depan orang. Tidak masalah bagiku karena aku senang kamu bisa membuat Arkan memiliki semangat hidup lagi sejak bertemu denganmu.”

“Baik Bu,.. eh.. Kak Arumi,” Milea mengangguk sambil tersenyum dengan sedikit canggung.

“Tolong bantu menemukan Mili, kasihan bocah itu. Bahkan di saat hidup, Dina tidak terlalu mempedulikannya.

“Saya akan lakukan semampu saya, Kak.”

***

Milea langsung menemui satpam dan meminta ijin untuk melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan posisi Emilia terakhir kalinya.

Arkan sempat menghubungi Milea saat dalam perjalanan tadi, dan sempat mengungkapkan rasa tidak sukanya Milea ikut campur masalah Emilia.

“Sementara lupakan dulu kalau Emilia adalah anak Dina. Bocah itu seperti kehilangan kasih sayang. Kamu tahu sendiri kan bagaimana Tante Heni pintar memanjakan anak tapi tidak membekali mereka tentang bagaimana menghadapi masalah ?”

“Sepertinya aku juga perlu menghilang supaya mendapatkan cinta darimu,” ledek Arkan.

“Kamu sudah terlalu tua untuk dicari-cari kalau sampai hilang.”

“Yakin tidak akan membuat hatimu khawatir ?” Arkan tertawa dari seberang sana.

Milea tidak menyahut, hanya tersemyum tipis yang pasti tidak bisa dilihat Arkan.

“Aku sudah sampai di sekolah Emilia, nanti aku telepon kembali.”

“Beneran bakal telepon aku ya ? Jangan PHP.”

“Iya… Kenapa Arkan yang dulu cool menjadi pria bawel yang menyebalkan ?”

“Kamu lupa kalau aku sedang mengejar cintamu saat ini ? Satu ciuman setiap kali kamu bilang belum cinta padaku biar semakin cepat hatimu menerimaku.”

“Dasar duda mesum,” gerutu Milea membuat Arkan tertawa.

Selesai menutup panggilan Arkan, Milea langsung berjalan menuju ruang guru.

“Maaf kalau boleh saya tahu… Ibu…” seorang pria seumuran Arkan menemui Milea di ruang guru.

“Saya tantenya Emilia,” sahut Milea sambil tersenyum.

“Ooo baik… “

Pria itu mempersilakan Milea mengikutinya masuk ke ruangan bertuliskan Principal.

“Saya kepala sekolah di sini. Maaf atas kejadian ini. Kami akan memberikan bantuan dalam bentuk apapun. Kalau Ibu…eehh” Pria itu terlihat canggung.

“Terima kasih,” Milea tersenyum lalu mengulurkan tangannya. “Perkenalkan saya Milea, panggil saya Lea saja, tidak perlu tambahan apapun.”

“Oo oke. Saya Jonathan. Panggil saja Jo,” Pria itu membalas uluran tangan Milea dan tersenyum juga.

Jonathan langsung membawa Milea ke ruang CCTV dimana seorang pria muda lainnya sedang membuka beberapa rekaman.

Pria bernama Ardi itu memperlihatkan beberapa rekaman yang memperlihatkan keberadaan Emilia.

Milea melihat rekaman itu sampai 4x dan akhirnya pamit pada kedua pria yang menemaninya melihat rekaman itu.

“Saya pamit dulu. Tidak ada tanda-tanda penculikan dan tidak ada yang menghubungi juga untuk minta tebusan. Saya coba mencarinya dekat-dekat sini dulu. Sepertinya anak seusia Emilia tidak akan bepergian terlalu jauh.”

“Boleh aku temani ?” Jonathan langsung menawarkan diri.

MIlea terlihat bingung memberikan jawaban namun Jonathan langsung berbicara lagi.

“Semuanya terjadi di sekolah, jadi tanggungjawab aku juga sebagai kepala sekolah.”

Milea akhirnya setuju ditemani Jonathan dan memilih berjalan kaki menyusuri jalan ke arah dimana Emilia terlihat terakhir kalinya lewat kamera CCTV.

“Aku tidak tahu kalau Emilia punya tante,” ujar Jonathan membuka percakapan.

Mereka mulai menyusuri trotoar ke arah kanan dari gerbang sekolah.

“Bukan tante karena saudara, sebetulnya aku teman Dina saat kami masih sama-sama SMA.”

“Jadi kamu adalah Milea yang dicari-cari Dina saat ia baru saja melahirkan Emilia ?”

“Kok kamu tahu ?”

“Kedua orangtua kami mengenal karena urusan bisnis. Aku kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan pendidikan psikologi di Surabaya. Saat itulah Tante Heni memintaku untuk membantu Dina yang mengalami depresi setelah ditinggalkan setelah dicerai oleh suaminya. Saat depresi itu, Dina bahkan tidak ingin menyusui anaknya sendiri.”

“Lalu apa Dina menceritakan kenapa Arkan, suaminya menceraikan dia dan meninggalkannya begitu saja ?

“Maaf kalau aku tidak bisa menceritakan detilnya karena sifatnya rahasia,” Jonathan tertawa pelan.

“Oooh oke… Aku tidak akan membahas lebih jauh. Minimal kamu telah bertemu langsung denganku, orang yang dicari-cari Dina,” Milea tertawa pelan dan tidak melanjutkan perbicangan dengan Jonathan.

Milea melihat handphonenya, memeriksa waktu dan jarak tempuh yang sudah dilewatinya.

Milea menepi, membuka foto Emilia yang dikirimkan oleh Arumi dan mulai bertanya pada beberapa orang yang ditemuinya dan juga warung yang sempat dilewatinya.

“Aku punya foto Emilia memakai seragam sekolah kami. Sepertinya orang akan lebih mudsh mengenalinya karena anak itu pergi dengan pakaian seragam.”

“Boleh aku minta fotonya juga ?”

Jonathan langsung meminta nomor Milea dan mengirimkan foto yang diminta.

“Kenapa kamu menolak bertemu dengan Dina ?” tanya Jonathan saat mereka kembali menyusuri jalan.

“Apakah Dina tidak menceritakan alasannya ? Bukankah itu tugasmu untuk mencari tahu alasan dari klienmu ?” sindir Milea.

”Mungkin karena aku ingin mendengar dari sisi yang lain. Lagipula penjelasanmu tidak akan mempengaruhi apapun karena Dina, klienku sudah meninggal dunia.”

Milea menghentikan langkahnya dan berdiri menatap Jonathan lekat-lekat.

“Anggap saja aku punya rahasia yang tidak bisa aku bagikan seperti katamu tadi,” Milea tersenyum pada pria di depannya. “Dan aku bukanlah klienmu, jadi aku berhak untuk tidak memberitahumu.”

Milea kembali berjalan mendahului Jonathan dan mulai kembali bertanya-tanya soal Emilia.

“Lea,” Jonathan menahan lengan gadis itu. “Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu.”

“Aku hanya tidak suka membahas soal Dina apalagi ucapanmu bisa diartikan sebagai anggapan kalau keputusan Dina mengakhiri hidupnya karena aku tidak mau menemuinya.

Bukankah salah satu tugas anda membantu klien untuk membuka pikirannya menjadi lebih rasional, tidak hanya berfokus pada diri mereka sendiri ?”

“Lea… sebetulnya…”

“Terima kasih, Bu.”

Mata Milea langsung berbinar dan ia sampai membungkukkan badan saat seorang ibu bilang kalau Emilia sedang tertidur di rumahnya.

Milea tersenyum saat melihat bocah itu tertulis di atas ranjang sederhana. Tidurnya sangat pulas dengan mulut sedikit terbuka. Emilia benar-benar letih. Sekalipun keringat membasahi kepala dan punggungnya karena kamar itu tanpa pendingin ruangan, bocah tetap pulas dalam tidurnya.

“Apa yang sebetulnya kamu ingin dapatkan Emilia ?” gumam Milea sambil menghapus peluh yang membasahi kening bocah itu

Terpopuler

Comments

Fitra Smart

Fitra Smart

ya kamu yang diminta sama emilia😅😅

2023-05-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!