Berbeda dengan Milea dan Arkan yang memilih pantai untuk melewati makan siang mereka, kedua keluarga Arkan dan Dina melanjutkan pembicaraan mereka dengan makan siang di rumah makan yang ada di tengah kota.
Arumi, Henri dan Dino ikut juga karena sama seperti para orang tua, mereka tidak menyangka soal fakta kalau Emilia bukanlah anak kandung Arkan. Pantas saja selama ini Arkan selalu menolak tinggal bersama Emilia dan memilih pergi ke luar negeri untuk meneruskan studinya setelah menceraikan Dina.
Bocah 4 tahun itu duduk tenang dengan menu ayam goreng kesukaannya. Emilia hanya sesekali mengernyit mencoba memahami pembicaraan pada orang dewasa yang beberapa kali menyebut namanya.
“Maafkan perbuatan Dina pada Arkan, Mira, Firman,” mama Heni terlihat lesu mengingat ucapan Arkan saat di kantor pengacara.
“Aku sudah gagal mendidik putriku sampai dia tega berbohong soal laki-laki yang sudah menghamilinya dan membuat Arkan yang harus bertanggungjawab,” lanjut mama Heni dengan air mata yang mulai menetes,
“Semuanya sudah terjadi Heni dan sekarang Dina pun sudah tidak ada di dunia ini. Tidak ada gunanya lagi menangis karena tidak akan merubah kenyataan kalau Arkan pernah menikahi Dina,” sahut mami Mira berusaha menenangkan sahabatnya.
“Maaf sebelumnya, Ma,” Arumi yang sejak tadi penasaran akhirnya tidak bisa lagi menahan diri.
“Saat pertama kali Mili bertemu dengan Milea, Mili langsung menelepon mama dan bilang pada kami kalau Milea adalah calon mamanya. Apa selama ini mama sudah tahu soal ini ?”
Mama Heni terlihat menghela nafas panjang dan meneguk air minumnya sebelum bicara.
“Dina tidak pernah bercerita soal hubungan Milea dan Arkan, tentang perbuatannya meminta Arkan menikahinya saat statusnya masih kekasih Milea. Hanya saja setelah Milea batal kuliah di tempat yang sama dengan Dina, Dina mulai mencari tahu alasannya dan ternyata Milea sudah pergi meninggalkan Jakarta.
Dina berusaha menghubungi Milea tapi nomornya sudah tidak aktif lagi. Dina berusaha mencari tahu keberadaan Milea lewat kedua orangtuanya namun tidak pernah berhasil. Dina sudah tidak lagi diterima oleh keluarga Milea.
Dina tidak pernah mau menceritakan alasan Arkan menceraikannya saat Emilia baru saja berusia 40 hari. Setelah perceraian itu, kondisi Dina semakin menurun dan kadang-kadang dia menangis sendirian sambil mengucapkan kata maaf berkali-kali. Terakhir ia mencoba kembali mendatangi keluarga Milea sambil membawa Emilia, ternyata tidak berhasil juga.
Dina semakin terlihat depresi. Saat itulah dia bilang, kalau sampai terjadi sesuatu pada dirinya, Dina mohon supaya Emilia diserahkan pada Milea. Dina hanya percaya pada Milea untuk menjadi ibu sambung Emilia. Dina bercerita alasan kenapa ia menamakan anaknya Emilia mirip dengan nama sahabatnya, karena kelak ia ingin anaknya memiliki sifat seperti Milea, bukan seperti dirinya sebagai ibu kandung Emilia. Dan ternyata Mili adalah panggilan kesayangan Arkan untuk Milea.”
“Dina tidak bercerita kalau Arkan dan Milea adalah sepasang kekasih ?” tanya Arumi.
“Tidak pernah sekalipun. Dina hanya bilang kalau Arkan dan Milea adalah sahabat terbaiknya karena itu ia ingin Emilia dibesarkan oleh mereka berdua.”
“Dasar egois !” gerutu Dino dengan wajah geram. “Bahkan Dina masih ingin memaksakan kehendaknya untuk menjadikan Milea ibu sambung Emilia tanpa menanyakan apakah Milea bersedia atau tidak dan Dina tidak mau mengatakan dengan jujur kalau dia sudah merebut Arkan dari Milea.”
“Dino !” tegur mama Heni. “Dina hanya ingin yang terbaik untuk anaknya dan mama juga setuju kalau Dina memilih Milea dan Arkan untuk menjadi orangtua Emilia.”
“Sekarang aku mengerti darimana Dina mendapatkan sifat egois itu,” desis Dino dengan senyuman sinis.
“Dino !” papa Irwan menegurnya dengan tatapan galak.
“Tidakkah papa dan mama berpikir kalau permintaan Dina itu sangat egois ? Dia bahkan tidak mau bicara terus terang kalau Arkan bukanlah ayah biologis Emilia. Dulu aku sangat marah pada Arkan karena meninggalkan adikku dan anaknya yang masih bayi, tapi sekarang aku mengerti akan keputusan Arkan. Kalau aku jadi Arkan, bahkan setelah aku memberi status pada anak itu, aku akan langsung menceraikan Dina.”
“Dino !” papa Irwan kembali menegur putranya. “Jangan berkata begitu, adikmu sudah meninggal juga. Apa maksudmu niat baik mama salah untuk Emilia ?”
“Sangat salah !” tegas Dino. “Mama seperti mencuci otak Emilia dengan mengatakan kalau anak itu akan menemukan mamanya setelah berhasil bertemu dengan Milea. Mama sudah tidak bertemu dengannya selama 5 tahun dan tidak mencari waktu dulu untuk menyampaikan keinginan Dina pada Milea saat bertemu kembali. Apa itu namanya bukan egois, Pa ? Emilia hanya bocah yang menuruti apa yang diucapkan omanya dan dalam pikirannya Milea adalah wanita yang akan menjadi mamanya.”
“Maaf kalau saya ikutan bicara,” Henri buka suara. “Saya setuju dengan pendapat Dino. Mama Heni tidak bisa memberikan ultimatum sebelum bicara dengan Milea. Kebetulan saja saat ini status Milea masih single. Bagaimana kalau saat bertemu kembali ia sudah menikah dan Mili tetap menganggap Milea sebagai calon mamanya ? Tidakkah akan lebih baik jika mencari tahu keberadaan Milea sebelum bicara pada Mili soal calon mamanya ?”
“Kenapa Arkan tidak bilang kalau selama ini dia sudah berpacaran dengan gadis itu,” mami Mira terlihat kesal dan mengomel.
“Karena mami sudah memberikan ultimatum kalau Arkan hanya boleh menikah dengan Dina,” sahut Arumi sambil tersenyum tipis.
“Hal yang sama mami lakukan juga padaku. Kalian sudah menjodohkan aku dengan Dino tanpa menanyakan perasaan kami masing-masing dan membuat kami berdua memilih keluar dari rumah. Tapi sayangnya adikku tidak bisa melakukannya apalagi Dina seolah menerima perjodohan itu dengan tujuan memanfaatkan Arkan untuk kebaikan dirinya sendiri.”
“Arumi !” tegur mami Mira sambil melotot.
“Seperti yang tadi Dino dan Mas Henri katakan, Dina terlalu egois. Pasti ada alasan yang cukup kuat hingga Arkan bersedia menikahi Dina. Apa mami lupa kalau waktu Dina mengadu kalau dia hamil anak Arkan, papi tidak memberikan kesempatan Arkan untuk bicara ?”
Arumi melirik papi Firman yang menatapnya dengan wajah tidak enak karena telah salah menilai putranya sendiri.
“Sekarang berhentilah memaksakan kehendak kalian pada Arkan,’ ujar Dino. “Sudah cukup dia menanggung beban perasaannya selama 5 tahun ini. Jangan paksaan Arkan dan Milea untuk menjadi orangtua Emilia karena Mili akan membuat mereka terus menerus mengingat keegoisan Dina.”
“Tapi Mili akan menjadi anak yatim piatu kalau kondisinya seperti itu,” ujar mama Heni.
“Itu resiko yang harus ditanggung Mili karena perbuatan mamanya. Arkan sudah cukup baik menolong Dina di masa hidupnya karena tidak ingin membuat anak mama malu,” sahut Dino. “Bisa jadi alasan Arkan bersedia menikahi Dina karea ia tahu siapa ayah kandung Emilia. Ada baiknya kita tanyakan langsung pada Arkan.”
“Untuk sementara ini Arkan masih ayah Emilia secara hukum,” ujar papi Firman mencoba menenangkan mama Heni.
“Tidak lagi, Man,” papa Irwan yang menyahut. “Tadi Devi memberitahuku kalau Arkan sudah menjalankan proses pembatalan akta kelahiran Emilia secara hukum dengan bukti tes DNA. Belum tahu bagaimana hasil akhirnya, tapi sepertinya Arkan sudah bertekad tidak ingin melepaskan hidupnya dengan semua hal yang berhubungan dengan Dina.”
“Aku akan bicara pada Arkan masalah Emilia,” ujar papi Firman.
“Papi, berhentilah memaksakan ego orangtua pada Arkan supaya ia tidak makin terluka dan akhirnya memilih pergi dari papi dan mami. Yang ada setelah Arkan pergi, papi dan mami benar-benar akan kehilangan seorang anak. Biarkan Arkan memutuskan pilihan hatinya sendiri, jangan lagi memaksa Arkan menerima Emilia sebagai anaknya.”
“Mami belum setuju Arkan bersama dengan wanita itu !” mami Mira kembali meninggikan suaranya. “Mami bahkan belum kenal dengan wanita itu. Dia pasti sengaja mencari tahu soal Arkan dan berencana menemuinya.”
“Mami, berhentilah menjadi orangtua yang egois. Wanita yang mami maksud punya nama, Milea. Biar bagaimana Milea adalah anak orangtua lain yang sama-sama menyayangi anaknya seperti mami. Milea itu adalah asistenku di kantor, baru 2 bulan ini dia bekerja menggantikan Puput. Pekerjaannya bagus, latar belakang keluarganya baik dan Milea adalah seorang asisten yang sangat bisa diandalkan.”
“Berarti dia berusaha mendekati Arkan kembali melalui kamu Arumi,” ketus mami Mira.
Arumi menghela nafas, kesal dengan sikap sombong maminya yang masih saja keras kepala.
“Aku mendukung pilihan Arkan kalau memang dia ingin menikahi Milea. Saat ini sudah terbukti kalau pilihan mami dan papi bukanlah yang terbaik untuk Arkan. Maaf mama Heni kalau aku harus mengatakan ini, tapi di mataku Dina sungguh-sungguh egois, ia tidak memikirkan bagaimana perasaan Arkan dan Milea saat itu. Perempuan dengan sifat seperti Dina sulit menjadi istri yang bisa membahagiakan suami.”
“Aku juga setuju dengan Arumi, Tante.” Dino menimpali.
“Milea adalah gadis yang baik dan sama seperti Arkan, aku pun sudah jatuh cinta padanya.”
“Serius, Din ?” Arumi menyela karena terkejut mendengar pernyatan Dino, Henri langsung memberi isyarat pada istrinya.
“Sebetulnya aku sudah bertemu dengan Milea 3 tahun yang lalu di Semarang. Kami tidak sengaja bertemu dan Milea tidak mau mengakui kalau dia kuliah di sana. Saat itu aku bercerita soal kepergian Dina, tapi Milea yang kuanggap sebagai sahabat Dina, mengabaikan berita duka itu. Seolah-olah Milea tidak ingin mendengar dan peduli lagi kabar tentang Dina dan saat itu aku cukup penasaran ingin tahu alasannya, tapi Milea selalu menghindar.
Merasa diberi kesempatan kedua untuk bertemu kembali dengan Milea, aku mengungkapkan peraaanku padanya yang sudah lama aku pendam tapi sayangnya Milea menolakku,” Dino tertawa getir.
“Aku tidak berpikir kalau penolakan Milea bukan hanya karena dia tidak suka padaku tapi karena Dina sudah menyakitinya begitu dalam hingga berita kematian Dina tidak mampu menyentuh perasaan Milea,” sambung Dino.
“Kenapa bukan kamu yang menikahi Milea dan menjadi orangtua Emilia ?”
Pernyataan mami Mira langsung membuat semua yang duduk di situ menoleh ke arahnya. Arumi menghela nafas berkali-kali sambil geleng-geleng kepala.
“Kenapa ? Boleh kan aku mengungkapkan apa yang aku pikirkan ?” mami Mira terlihat canggung karena dipandangi semua yang ada dalam meja bundar itu, tapi wanita baya itu masih berusaha menutupi rasa sungkannya karena gengsi.
“Inti masalah semua ini adalah tentang Arkan dan Milea, Mam,” ujar Arumi. “Emilia hanya sebagai pelengkap saja. Dan seperti kataku tadi, berhentilah menjadi orangtua yang egois pada anaknya. Mami hanya punya satu anak lelaki. Mami pikir Arkan tidak bisa memutuskan untuk pergi meninggalkan mami dan papi ? Bahkan Arkan akan meninggalkan semua kemewahan dan jabatan yang papi berikan hanya untuk mencari kebahagiaannya sendiri, kebahagiaan yang harus dipendamnya selama 5 tahun ini.”
“Tapi…”
“Cukup Mira !” tegas papi Firman. “Apa yang dikatakan Arumi benar, dan aku tidak mau kehilangan Arkan sebagai putraku. Lagipula apa yang dilakukannya selama ini sudah cukup membuat kita bahagia meski keputusan kita membuat Arkan, anak kandung kita, terluka. Aku juga yakin pertemuan kembali dengan Milea bukan disengaja, tapi karena mereka berjodoh.”
Mami Mira memilih diam karena sudah hafal dengan sifat suaminya. Kalau sudah begini akan lebih baik kalau mami Mira menurut dan menerima keputusan papi Firman.
“Tolong atur pertemuan papi dan mami dengan Milea. Kita akan membicarakan lebih lanjut soal hubungannya dengan Arkan,” ujar papi Firman pada Arumi yang langsung mengangguk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kris Wru
nah...
masih abu-abu juga...
aq suka alurmu yg detail Thor...
jd mendalami ceritany...
2024-11-07
1
Farida Wahyuni
jangan mau milea, csri aja kebahagiaan sendiri, daripada dapat mertua modelan mira
udah jelas2 diba bukan pernpuan baik2, tp masih aja ngotot. ga merasal bersalah sekali sdh jadi oenyebab ga bahagianya anaknya sendiri, dasar orangtua egois, nikahin anaknya sama perempuan bekas, orangtua bodoh dan egois.
2023-05-03
2