Seminggu berlalu sejak kencan pertama mereka.
Milea dan Arkan kembali disibukkan dengan pekerjaan mereka.
Serasa sudah resmi pacaran, Arkan tidak hentinya mengiriman pesan untuk Milea. Seperti minum obat sehari 3x. Dimulai dari ucapan selamat pagi, mengingatkan makan siang dan ditutup dengan ucapan selamat malam.
Dan malam ini, di tengah kesibukannya, Arkan meluangkan waktu untuk menjemput Milea di kantornya sekitar jam 7 malam.
“Kenapa harus maksa ketemu sih ?” Milea menggerutu sambil masuk ke dalam mobil Arkan.
“Dimana-mana seharusnya orang senang karena dijemput pacar,” Arkan malah meledeknya sambil ikut masuk ke dalam mobil.
“Sengaja minta dipakein sabuk pengaman ?” Arkan menatap Milea yang duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan.
“Apaan sih ?” Milea menggerutu dan langsung menarik sabuk pengamannya.
“Mau makan apa malam ini ?”
“Mau makan kamu !” gerutu Milea sambil mendengus kesal dan membuang pandangan ke jendela samping.
“Jadi kita check in ke hotel nih ? Dengan senang hati, Sayang. Aku sudah siap kok kalau kamu mau hamil anakku sekarang biar lagsung dinikahkan.”
“Arkan, aku nggak lagi mood bercanda !” suara Milea meninggi membuat Arkan menoleh sekilas dan dahinya berkerut.
“Aku mohon Arkan, berhentilah memaksakan keinginanmu untuk membuat hubungan kita kembali seperti dulu. Sudah 5 tahun berlalu, bisakah kamu berhenti mengusik aku lagi. Aku benar-benar tidak memiliki rasa yang pernah ada seperti 5 tahun yang lalu dan aku capek seolah terperangkap lagi dalam masa lalu.”
“Kamu bilang mungkin hatimu akan berubah kalau aku bisa bersikap baik pada Emilia.”
“Aku pesimis,” lirih Milea. “Kalau kamu terus menerus seperti ini dan membuat aku tidak nyaman, aku memilih mengundurkan diri dari perusahaan Ibu Arumi.”
Kening Milea hampir saja membentur dashboard kalau tangan Arkan tidak menahannya. Karena terkejut dengan ucapan Milea, Arkan sampai menginjak rem tiba-tiba.
“Aku akan menunggu sampai perasaanmu kembali padaku,” tegas Arkan.
“Jangan lakukan itu, Arkan. Apa yang kamu lakukan ini tidak akan membuat aku besar kepala, tapi justru menderita. Kalau memang kamu sungguh peduli padaku, berhentilah berharap mengembalikan cerita masa lalu kita.”
Terlihat helaan nafas berat dari mulut Arkan. Pria itu membuang muka dan menopang wajahnya dengan tangan yang bersandar ke pintu.
“Kalau aku bisa membuat waktu berputar kembali, aku tetap tidak akan membiarkan Dina menghancurkan kebahagiaan Kak Arumi dan Kak Henri karena apa yang terjadi bukan salah Kak Henri dan bukan keinginannya membuat Dina hamil. Mereka saling mencintai dan aku tidak akan membiarkan siapapun menghancurkannya.”
Milea ikut menghela nafas dan membuangnya perlahan, menyimak ucapan Arkan yang masih memandang ke samping.
“Namun satu hal yang tidak akan kubiarkan terijadi adalah membiakanmu pergi tanpa mengetahui persoalan sebenarnya. Setidaknya kita berpisah tanpa membawa luka tanpa tahu kenapa kita sampai terluka.”
Arkan tertawa getir sambil menoleh menatap Milea yang tengah menatapnya juga.
“Aku pikir dengan bersikap agresif kamu akan semakin yakin kalau perasaanku tidak main-main. Aku berharap bisa mendapatkan sesuatu yang hilang dalam hidupku. Maaf Milea, maaf karena tidak percaya kalau persaanmu sudah berubah.”
Arkan tersenyum getir. Tangannya kembali menyalakan mesin dan perlahan menjalankan mobil.
“Aku akan mengantarmu pulang. Maaf aku sudah mengganggumu.”
“Sebetulnya apa yang ingin kamu bicarakan sampai datang menjemputku ?” tanya Milea hati-hati karena tidak ingin menyinggung Arkan.
“Tidak ada, hanya ingin menjemputmu saja.”
Arkan tersenyum tipis dengan tatapn fokus ke depan, membawa mobilnya menuju rumah Milea.
Tidak ada percakapan apapun selama 30 menit perjalanan hingga mobil Arkan berhenti di depan gerbang rumah Milea.
“Terima kasih karena sudah mengantarku pulang,” ujar Milea sambil melepaskan sabuk pengamannya
.”Sama-sama,” Arkan hanya tersenyum tipis dan meraih handphonenya, tidak ingin berinteraksi dengan Milea.
Setelah Milea turun dengan sempurna dan sudah berdiri di samping mobil, Arkan langsung melajukan kembali mobilnya tanpa berpamitan pada Milea.
*****
Milea menautkan alisnya saat membaca pesan yang dikirim Arumi yang memintanya untuk mewakili Arumi dalam undangan makan malam.
Arumi
Jangan sampai kamu tidak datang karena undangan makan malam hari ini sangat pemting.
Milea
Dresscode nya, Bu ? Harus formal atau ada tema tertentu ?
Arumi
Saya sudah minta Kiki untuk mengantar pakaian yang harus kamu kenakan. Tidak perlu dandan menor yang penting rapi
Milea menghela nafas dan melirik jam dinding. Sudah jam 3 sore dan acara makan malam jam 6. Arumi berpesan beberapa kali supaya Milea jangan sampai terlambat datang.
Baru saja Milea mengangkat telepon yang ada di mejanya, Kiki, staf butik yang ada di lantai 1, masuk ke ruangan Milea dan membawa 1 kantong untuk
asisten Arumi itu.
”Kayaknya ada yang mau dating, nih ?” ledek Kiki sambil tertawa-tawa.
Pria bergaya separuh-separuh itu memang sering menggoda Milea saat melihat gadis itu sedang dijemput Arkan.
“Jangan bilang kalau hari ini ada acara dating sama si ganteng, Sis ?”
“Haiiss Ki, nggak ada kelanjutan cerita gue sama Arkan karena memang nggak pernah dimulai. Semuanya sudah berakhir 5 tahun yang lalu.”
“CLBK, Sis. CLBK. You sama si ganteng kan sama-sama single, jadi fine fine aja kalau CLBK.”
“Stok yang single masih banyak, Ki, kenapa harus milih duda,” Milea tertawa sambil mencibir.
“Duda mateng, Sis. Duda lebih mantap lah, dari segi pengalaman dan jam terbangnya sepuluh langkah daripada yang masih single. Lagipula biasanya mereka lebih setia karena belajar dari kegagalan pengalaman sebelumnya.”
“Nasehat lo kayak udah pengalaman aja sih.”
“Kalau gue nggak perlu begitu-begitu, Sis, bisa pusing pala barbie. Lebih enak urusan sama manekin aja, nggak minta ini itu, nggak berisik dan nggak suka ngambek.”
Milea tertawa dan meminta bantuan Kiki untuk mencarikan orang dari butik yang bisa membamtunya untuk dandan.
“Kalau gitu you beres-beres dulu, say, gue tunggu di bawah. Elo ganti bajunya di showroom aja.”
Milea mengiyakan, menyelesaikan beberapa pekerjaannya dan merapikan meja.
Milea dengan penampilan yang berbeda menarik perhatian beberapa karyawan yang selama ini mengenalnya sebagai gadis sederhana. Jam 4.30 taksi online yang dipesannya sudah sampai di lobby.
“Selamat kencan, Sis,” ledek Kiki sambil terkekeh.
“Kencan gundulmu,” gerutu Milea “Btw thankyou atas bantuan elo sama Debi. Gue berasa lebihcantik dari manekin,” Mikea terkekeh.
“Ogah gue punya manekin kayak elo, banyak maunya. Udah ditempel sama duren mateng aja masih banyak alasan.”
Milea hanya tertawa dan masuk ke dalam taksi online yang sudah menunggunya. Ia pun sempat melambaikan tangan pada Kiki yang mengantarnya.
**
Butuh waktu 1 jam 5 menit untuk sampai di restoran yang diinfokan oleh Arumi.
Milea turun dan bertanya pada pelayan yang menyambutnya di pintu masuk. Setelah menyebutkan nama Arumi, pelayan itu langsung membawa Milea ke ruangan VIP.
“Belum ada yang datang,” gumam Milea pada dirinya sendiri.
Ia langsung duduk di kursi yang menghadap ke pintu agar bisa melihat tamu yang datang.
Sedang asyik berselancar di media sosialnya, Milea langsung mendongak saat melihat pintu ruangan terbuka.
“Bu Arumi ?” dahinya berkerut begitu melihat Arumi masuk berdua dengan Henri.
“Bu Arumi datang juga ? Bukannya Ibu meminta saya mewakili Ibu untuk datang ke undangan makan malam ini ?”
“Iya, saya minta kamu datang mewakili, tapi tidak ada kalimat yang menuliskan kalau saya tidak akan datang malam ini,” sahut Arumi sambil tertawa pelan.
Milea mengangguk hormat pada Henri yang ikut tertawa melihat wajah bingung Milea.
“Lalu klien penting malam ini, apa saya mengenalnya ?”
“Hmmm… sepertinya belum secara formal, tapi yang pasti klien ini sangaf penting, bukan hanya untuk perusahaan tapi juga perkembangan kariermu.”
Milea mengerutkan dahi dan ingin bertanya lebih lanjut, tapi Arumi terlihat tidak ingin membicarakannya lebih detil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments