“Kita mau kemana ?” tanya Milea saat Arkah melajukan mobilnya memasuki jalan tol.
Arkan tidak menyahut dan tatapannya fokus menatap jalan. Milea hanya bisa menghela nafas panjang dan memandang ke jendela samping.
Kenapa takdir membuatnya harus kembali dipertemukan dengan Arkan dan keluarga Dina ? Kenyataan apalagi yang harus dihadapinya saat mendengar Arkan mengungkapkan fakta kalau Emilia bukan darah dagingnya ?
Setelah menempuh perjalanan hampir 40 menit, Milea tidak mampu lagi menahan perutnya berbunyi, membuat Arkan yang baru saja membelokkan mobil ke arah wisata pantai di pesisir Jakarta mengernyit dan menoleh ke arah Milea.
Gadis itu hanya tertawa kikuk membuat Arkan langsung tergelak.
“Lapar, ya ? Kacian banget nih calon istri kelaparan,” Arkan mengacak-acak rambut Milea membuat gadis itu langsung cemberut.
“Arkan iihh… Kebiasaan !” gerutu Milea dengan bibir mengerucut.
Arkan menghentikn tawanya, membayar biaya tiket masuk dan meneruskan kembali laju mobilnya ke arah pantai.
“Jadi masih ingat sama kebiasaan mantan pacar ? Belum bisa move on, ya ?”
Milea mendengus kesal dan menyenderkan kepala ke sisi pintu sambil menatap keluar jendela.
Arkan kembali tertawa melihat sikap Milea. Hatinya bahagia melihat gadis yang dicintainya sejak dulu masih menggemaskan kalau sedang merajuk.
“Ayo turun,” ajak Arkan setelah mobil berhenti di area parkiran salah satu restoran yang ada.
Milea diam saja dan melepaskan sabuk pengamannya lalu bergegas turun. Cuaca cukup terik siang ini hingga Milea langsung masuk ke dalam restoran tanpa menunggu Arkan.
“Duduk di sana, yuk !” ajak Arkan sambil menggandeng tangan Milea.
Milea diam saja, tidak mau membuat malu dirinya sendiri kalau berusaha melepaskan genggaman Arkan karena seorang pelayan mengikuti mereka.
“Makanan kesukaan kamu belum berubah, kan ?”
“Belum,” sahut Milea singkat.
Arkan pun memesan beberapa menu dan membiarkan Milea menikmati pemandangan laut yang terhampar di depan mereka.
“Akhirnya kesampaian juga ngajak kamu makan berdua di pingir pantai.”
Milea hanya tertawa pelan dan pandangannya masih ke arah laut.
“Aku mencintaimu, Mili. Dulu, sekarang dan selalu.”
Ucapan Arkan yang tiba-tiba itu membuat Milea tercengang dan menatap pria itu dengan alis menaut.
Arkan meraih jemari kiri Milea dan menggenggamnya dengan erat.
“Kamu sudah dengar ucapanku saat di kantor pengacara dan sudah melihat bukti hukumnya kalau anak itu bukanlah darah dagingku. Sebelum dan selama menikah aku tidak pernah menyentuh Dina. Aku tidak pernah megkhianatimu atau berselingkuh darimu. Kamu adalah perempuan spesial pertama dalam hidupku dan sampai saat ini aku selalu menjaga diriku hanya untukmu.
Aku laki-laki normal, tapi saat mengingat dirimu, aku bisa menghalau semua keinginan dan hasratku. Di sisi lain, pengalaman dekat dengan perempuan seperti Dina, membuat aku lebih hati-hati untuk jatuh cinta.”
“Jadi sejak awal kamu sudah tahu kalau Dina hamil dari laki-laki lain ? Lalu kenapa kamu nggak cerita sama aku ? Kamu tahu siapa ayah kandung Emilia ?”
“Pertanyaannya langsung borongan. Ceritanya mencari jawaban atas pertanyaan yang terpendam dalam hati selama bertahun-tahun ?” ledek Arkan sambil tertawa.
Milea hanya mendengus kesal. Bersamaan dengan itu pelayan mengantarkan pesanan mereka.
Bukan Milea yang melayani Arkan, tapi pria itu yang melayani Milea membuat gadis itu merasa risih.
“Arkan, aku bisa ambil sendiri,” ujar Milea saat Arkan menyendokkan sayur setelah mengambilkan nasi untuknya.
“Nggak apa-apa, dengan begini rasanya aku bisa menyalurkan rasa rindu yang aku tahan 5 tahun ini. Kalau perlu aku suapin,” sahut Arkan sambil terkekeh.
Milea tersenyum tipis. Hatinya masih belum ingin memberikan celah biar sedikit untuk Arkan.
Milea tidak ingin merasakan sakit hati yang sama seperti 5 tahun yang lalu meskipun masalah Arkan dan Dina lebih rumit dari yang Milea bayangkan.
“Aku menceraikan Dina setelah anaknya berusia 2 bulan dan meneruskan kuliah di luar negeri sampai selesai. Baru setengah tahun yang lalu aku kembali tinggal di Jakarta untuk membantu papi.”
“Lalu pada saat Dina meninggal ?”
“Aku tidak datang. Aku sudah mengeraskan hati. Sekalipun papi dan om Irwan akan membunuhku, aku tidak peduli lagi. Saat Dina ditemukan bunuh diri saja semua orang sudah menyalahkan aku sebagai suami yang tidak bertanggungjawab, jadi kedatanganku saat pemakamannya tidak akan membuat orang melihatku lebih baik,” Arkan tersenyum getir.
“Kenapa saat kejadian kamu tidak bicara apa-apa padaku ? Setidaknya semuanya tidak jadi abu-abu dalam pikiranku.”
“Maaf,” Arkan tersenyum tipis. “Aku punya alasan yang kuat sampai mengalah pada pernintaan Dina unruk menikahinya meski tahu kalau calon anaknya bukanlah benihku.”
“Apa aku boleh tahu alasannya dan siapa ayah kandung Emilia ? Kalau kamu sampai menerima ancaman Milea, berarti kamu tahu siapa yang menghamilinya dan kamu berniat melindungi entah Milea atau laki-laki itu.”
“Maaf kalau aku belum bisa menceritakan alasannya sekarang. Saat ini aku hanya ingin memberitahu pada keluarga kami kalau anak itu bukanlah darah dagingku dan cintaku hanyalah untuk Milea, bukan yang lain.”
Milea tersenyum tipis dan mendorong piring makannya yang sudah bersih.
“Kok udahan makannya ?”
“Kenyang,” sahut Milea sambil bangun dari kursinya hendak mencuci tangan.
Selesai ke kamar mandi, Milea kembali ke meja dan menunggu Arkan yang masih menikmati makan siangnya.
Milea memilih diam dan kembali memandang ke arah laut membuat Arkan cepat-cepat menyelesaikan makannya dan mencuci tangan.
“Kita jalan-jalan ke pantai, yuk,” ajak Arkan selesai membayar tagihan makan siang dan keduanya berjalan kembali ke mobil.
Milea hanya mengangguk tanpa suara membuat Arkan yakin kalau gadis yang disayanginya itu sedang ada pikiran.
Sampai di parkiran dekat pantai, Milea turun dari mobil tanpa memakai alas kaki.
“Mili, aku ada sandal cadangan, jangan berjalan tanpa alas kaki begitu,”’ujar Arkan setengah berteriak saat melihat Milea sudah duluan melangkah menuju bibir pantai.
Milea mengabaikan ucapan Arkan dan meneruskan langkahnya semetara Arkan bergegas mengambil sandal untuknya dan Milea di bagasi mobil.
Setengah berlari, Arkan menyusul Milea yang sudah sampai di bibir pantai. Terik matahari sudah tidak terlalu menyengat seperti tadi saat waktu menunjukkan hampir jam 3 sore.
“Milea,” Arkan menahan lengan Milea saat langkah gadis itu makin mendekati air laut yang mencapai pantai.
“Pakai sandal dulu.”
“Tidak usah, aku ingin merasakan air laut membasahi kakiku.”
Arkan menuruti permintaan Milea dan menenteng sandal mereka.
“Aku benar-benar bahagia bisa menghabiskan waktu seperti ini denganmu setelah kita berpisah selama 5 tahun,” Arkan menggenggam jemari Milea dengan satu tangannya yang bebas.
“Apa kamu pernah merindukanku Milea ?” Arkan menatap ke arah Milea yang berjalan di sampingnya. Mata gadis itu masih memandang lautan lepas.
“Hanya 3 bulan pertama dan selanjutnya hanya sesekali saja. Setelah setahun aku benar-benar bisa menghapus namamu dalam hatiku karena rasa sakit lebih besar daripada cintaku padamu,” sahut Milea jujur.
“Dan sekarang,” Arkan berhenti dan berdiri di depan Milea yang akhirnya ikut berhenti juga. “Belajarlah mencintaiku kembali. Aku benar-benar tidak pernah mengkhianatimu apalagi berpaling darimu.”
“Aku tidak bisa karena tidak ingin,” Milea membalas tatapan Arkan sambil tersenyum tipis.
“Apa ada pria yang lain di hatimu ?”
“Aku hanya belajar dari pengalaman yang lalu, Ar. Hubungan pria dan wanita bukan hanya terjalin baik dengan kalimat cinta saja, tapi juga saling terbuka dan percaya. Kalau saja 5 tahun yang lalu kamu setidaknya memberitahuku sebelum mengambil keputusan, hatiku akan merasakan hal yang berbeda.
Dan sekarang kamu pun tetap tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya, jadi hatiku juga tidak punya alasan untuk menerima dan mempercayai kata-kata cintamu.
Saling terbuka adalah bentuk kepercayaan, Ar, membuat pasangan memiliki perasaan dihargai dan merasa spesial karena dipercaya untuk menjadi teman sepenanggungan pasangannya.
Aku tidak ingin membuka hatiku saat tahu kamu belum bisa sepenuhnya terbuka padaku. Aku masih merasa tidak spesial untukmu karena banyak rahasia yang harus aku raba-raba.
Namun terima kasih karena kalimatmu masih sama seperti 7 tahun yang lalu.”
Milea kembali tersenyum tipis dan melepaskan genggaman Arkan.
“Biarkan waktu yang menjawab tentang bagaimana perasaan kita berdua. Aku sendiri perlu membangun kepercayaan padamu setelah kejadian Dina. Manusia mudah memaafkan tetapi sulit melupakan.”
Milea berjalan meninggalkan Arkan yang masih mematung di tempatnya.
Milea tertawa pelan saat merasakan riak ombak menyapu kakinya yang semakin terbenam dalam pasir.
“Milea,” Arkan berlari kecil melewati Milea dan mulai berjalan mundur di hadapan gadis itu.
“Aku mencintaimu, Milea, sangat mencintaimu. Aku akan membuktikannya padamu. Percayalah padaku.”
Milea tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya membuat Arkan mengerutkan dahi.
“Aku tidak akan pernah biss mempercsyaimu,”’tegas Milea sambil tersenyum membuat Arkan berhenti lagi di hadapan Milea.
“Bagaimana kamu bisa memintaku mempercayaimu, sementara di saat yang sama kamu justru menunjukkan sikap tidak percaya padaku ?”
Arkan mengerutkan dahi memikirkan maksud ucapan Milea sementara Milea sendiri sudah meneruskan langkahnya menyusuri bibir pantai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
💕Y@t
kayaknya anaknya henri suami kakak arkan ( Arumi) makanya arkan nggak bisa kasih tau ..... nebak aja thor 🤔😁
2023-05-04
1
Farida Wahyuni
betul bgt milea, dalam hubungan dibutuhkan bukan hanya cinta, tp juga saling percya.
milea jangan cepat2 buka hatimu ya, nikmati aja semuanya pelan2, jangan buru2 ambil keputusan.
2023-05-02
1