Arkan berhasil meminta Milea masuk kembali ke dalam mobil untuk meneruskan perbincangan mereka.
“Aku baru tahu kalau Dina hamil seminggu setelah ujian akhir. Dia bilang sudah memberitahumu. Aku menyuruhnya meminta pertanggungjawaban pria itu tapi Dina bilang tidak mungkin karena pria itu akan segera menikah.
Sungguh tidak terlintas kalau pria yang dimaksud Dina adalah Kak Henri. Kamu tahu sendiri kan kalau pernikahan Kak Arumi dan Kak Henri sudah di depan mata.”
“Aku hanya mendengarnya darimu. Kamu tidak pernah mengenalkanku pada keluargamu makanya aku tidak pernah tahu kalau Ibu Arumi adalah kakak kandungmu. Apalagi wajah kalian tidak terlalu mirip.”
“Kamu tahu alasannya Mili, tapi bukan berarti aku tidak serius padamu saat itu. Aku hanya menunggu momen yang tepat, aku sudah sepakat dengan Dina untuk membawa pacar kami masing-masing biar rencana perjodohan kami dibatalkan.”
“Dan kamu hanya bisa dibohongi oleh Dina,” sindir Milea sambil tersenyum sinis.
Arkan hanya diam saja tidak membantah lagi ucapan Milea karena tahu kalau memang seperti itulah dirinya saat itu.
“Dina sempat berpikir untuk memberitahu kehamilannya pada Kak Henri tapi aku melarangnya. Tidak terbayang bagaimana hancurnya Kak Arumi kalau mengetahui kenyataan ini. Aku malah menyuruh Dina menggugurkan kandungannya. Aku sudah mencari tahu nama dokter yang bisa melakukan aborsi, tapi Dina tidak mau, dia bersikeras mempertahankan janin itu dengan alasan dia benar-benar mencintai Kak Henri dan ingin memiliki anak itu sebagai pengganti Kak Henri.”
“Memangnya Pak Henri tidak tahu kalau sudah meniduri perempuan lain ?”
”Malam itu Dina bilang dia tidak sengaja melihat Kak Henri bertemu klien dan Dina sendiri sedang menunggu temannya di salah satu hotel. Hidup di tengah-tengah para pemangsa pria berkantong tebal, Dina diberi ide untuk menjebak Kak Henri supaya bisa menjadi miliknya, bahkan temannya memberikan obat perangsang yang menjadi modal mereka sehari-hari. Dina berhasil melakukannya.
Dina bercerita kalau dia berhasil mendapatkan tubuh Kak Henri namun bukan hatinya karena sepanjang percintaan mereka, nama Kak Arumi lah yang terus diucapkan oleh Kak Henri.”
“Dasar gila !” desis Milea sambil menghela nafas. “Apa teman-teman Dina dari sekolah kita juga ?”
“Bukan, sebagian besar dari mereka adalah anak kuliahan, hanya Dina dan seorang perempuan lain yang masih SMA.”
“Dan kamu bersedia menggantikan Kak Henri untuk bertanggungjawab ?”
“Aku tetap berkeras meminta Dina menggugurkan kandungannya, Milea dan menawarkan bantuan untuk menemaninya, tapi Dina itu keras kepala.
Perut Dina yang semakin membuncit membuat tante Heni curiga apalagi Dina sering muntah-muntah di awal kehamilannya.
Malam itu setelah kita pergi untuk terakhir kalinya, keluarga kami sudah berkumpul di rumahku. Aku terkejut saat melihat Dina sedang menangis sesunggukan. Perasaanku langsung tidak enak, yang terlintas dalam benakku adalah kehancuran Kak Arumi karena Dina mengaku sedang hamil anak Kak Henri.
Tapi aku sempat bingung karena tidak ada Kak Henri di situ dan Kak Arumi sendiri belum datang dari Singapura.
Papi langsung memukulku tanpa bertanya apa-apa lagi, Ternyata kedua orangtua kami sudah tahu tentang kehamilan itu dan Dina mengakuinya, tetapi gilanya Dina mengarang cerita kalau akulah pria yang menghamilinya.
Aku dihajar habis-habisan oleh papi yang begitu percaya pada Dina. Tidak ada rasa kasihan di mata Dina saat melihat aku dipukuli karena kebohongannya. Dia malah terus bermain drama dengan menangis sejadi-jadinya.
Saat aku bicara berdua dengannya, Dina malah memberi pilihan, menikahinya atau membiarkan dia memberitahu Kak Henri.”
“Arkan, satu hal yang tidak aku mengerti. Apa Pak Henri tidak ingat apapun kalau dia… ya kamu tahu maksudku kan. Memangnya Dina sempat memakaikan kembali pakaian Kak Henri setelah mereka bercinta ?”
“Teman-teman Dina yang membantu mengaturnya hingga Kak Henri tidak sadar kalau dia sudah melakukan hubungan badan dengan Dina.
Mereka orang-orang profesional yang sudah terbiasa melakukan jebakan seperti itu dan kebanyakan hanya untuk mendapatkan uang dari pria-pria berkantong tebal.
Kalau menurut cerita Dina, besok paginya dia datang ke kamar hotel Kak Henri seolah tidak terjadi apa-apa. Dina bilang ia dihububgi oleh orang tidak dikenal yang membantu membawa kak Henri ke kamar hotel karena mabuk semalam. Masalah darimana mendapatkan nomor Dina, itu semua sudah diatur dengan alasan nomor Dina ditemukan paling atas yang mengirimkan pesan menanyakan kabar Kak Henri.”
“Mengerikan,” desis Milea.
“Dan akhirnya aku menerima permintaan Dina karena tidak ingin Kak Arumi mengalami kehancuran.
Seiring berjalannya waktu, ternyata Dina bukanlah wanita yang kuat saat merasa sendirian.
Sejak mengetahui kalau Dina hamil, kedua orangtua kami menjaganya dengan sangat ketat dan menunda kuliah Dina. Saat merasa kesepian itulah Dina mulai mengalami depresi peripartum*), apalagi saat tahu kalau kamu pergi dan tidak lagi kuliah di kampus yang sama dengannya. Aku pun menolak tidur seranjang dengannya bahkan diam-diam setiap malam aku keluar dan pindah ke kamar lain.
Dina pun ditinggalkan oleh teman-temannya karena dianggap sudah tidak mungkin lagi menjadi bagian dari mereka.
Pernah beberapa kali dia mencoba mengatakan kondisinya pada Kak Arumi, namun dengan segala cara aku berhasil menggagalkannya.
Dalam keadaan depresi, emosi Dina tidak terkendali dan semakin sering mengancamku, membuat aku semakin membencinya. Setelah memenuhi permintaan orangtuaku untuk memberikan status pada anak yang dilahirkan Dina akhirnya aku mengurus proses perceraian kami.
Tidak mudah membuat Dina menandatanganinya, tapi kondisinya yang mulai drop membuat Dina tidak melawan seperti biasanya.
Diam-diam aku melakukan tes DNA untuk memperkuat permohonan perceraianku baik secara agama maupun negara dan tidak butuh waktu lama, proses perceraian kami dikabulkan.”
“Apa semudah itu orsngtuamu mengijinkan pergi meninggalkan Dina ? Mereka bahkan tidak pernah memberimu kesempatan untuk bicara.”
“Mungkin sedikit terlambat untuk menjadi anak yang pemberontak, tapi kalau aku tetap bersama Dina lama-lama aku bisa ikutan gila. Mami tetap tidak menerima permintaanku tapi tidak bisa menolak karena papi sudah memberi ijin. Papi yakin kalau aku punya alasan yang kuat, apalagi papi melihat kalau proses perceraianku tidak bertele-tele dan dikabulkan dengan cepat.”
“Sekarang kamu tetap tidak mau menerima Emilia dan ingin mengungkapkan fakta kalau ternyata bocah itu adalah anak kandung Pak Henri ?”
“Masalah Emilia biar menjadi urusan om Irwan dan tante Heni. Lagipula masih ada Kak Dino yang bisa mengangkatnya sebagai anak. Aku tidak akan pernah mengungkap siapa ayah kandung Emilia selain padamu. Tidakkah kamu juga melihat bagaimana Kak Arumi dan Kak Henri saling mencintai ?”
“Namun jangan juga membencinya, Ar. Emilia tidak bersalah, dia pun sama seperti dirimu, korban keegoisan Dina.”
“Aku akan mencobanya tapi tolong jangan paksa aku menerimanya sebagai anak kita saat kita menikah nanti.”
“Arkan, bagaimana kamu berpikir kita akan menikah ? Sudah aku katakan kalau saat ini perasaanku tidak lagi sama sarperti 5 tahun yang lalu. Aku sudah menyingkirkan namamu dari dalam hatiku tanpa ingin menyimpannya.”
“Dan jika mungkin menggantinya dengan Kak Dino ?” Arkan tertawa getir.
“Populasi perempuan memang lebih banyak dari pria di dunia ini, tapi tidak berarti aku bisa menerima sembarangan pria untuk menjadi kekasihku.”
“Kak Dino bukan sembarangan pria. Dia dokter jantung yang cukup terkenal, secara ekonomi sangat mapan karena mewarisi rumah sakit ternama di Jakarta dan wajahnya juga tampan,” Arkan berbicara ketus membuat Milea tertawa.
“Sepertinya memang patut aku pertimbangkan,” Milea mengangguk-anggukan kepalanya. “Selama ini aku tidak pernah punya kriteria khusus dalam mencari pacar dan ucapanmu barusan adalah ide yang bagus.”
Arkan mendengus kesal dan keluar dari mobil. Ia berdiri tidak jauh dari pintu mobil sambil mengibas-ibaskan kemejanya seperti orang yang sedang kepanasan.
Milea tertawa melihat tingkah Arkan yang terang-terangan sedang cemburu.
“Arkan, tolong antar aku pulang, sudah malam dan besok aku harus kerja lagi,” pinta Milea setengah berteriak dari dalam mobil.
Arkan diam saja, masih dalam mode cemburunya membuat Milea makin ingin menggodanya.
Milea pun keluar dari mobil dan berdiri di samping pintu mobil yang terbuka.
“Antarkan aku pulang atau aku naik taksi saja. Kalau perlu aku minta Kak Dino datang untuk menjemputku di sini.”
Arkan buru-buru membalikkan badan saat mendengar suara pintu mobil ditutup. Dilihatnya Milea sudab berjalan menjauhi mobil menuju jalan utama.
“Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan aku lagi.”
Bukan hanya menahan lengan Milea, Arkan memeluk gadis itu dari belakang membuat Milea terkejut dibuatnya.
“Aku yakin kalau masih ada sedikit sisa cintamu padaku dan aku hanya perlu membuatnya hidup kembali dalam hatimu.”
“Jangan terlalu percaya diri, Arkan,” Milea tersenyum tipis.
“Kali ini aku harus percaya diri untuk mendapatkan cintamu dan tidak boleh plin plan lagi. Kalau perlu aku akan membuatmu hamil duluan biar terikat denganku,” bisik Arkan begitu dekat di telinga Milea membuat gadis itu bergidik kegelian.
“Berani kamu berbuat begitu, bukan mencintaimu malah aku akan tambah membencimu seumur hidup,” ujar Milea dengan wajah cemberut dan tangannya memukul tangan Arkan yang sedang memeluk pinggangnya.
“Tidak masalah kamu membenciku karena aku tidak akan meninggalkanmu. Biasanya dari benci orang bisa menjadi cinta.”
“Oooo… jadi kamu takut balik mencintai Dina kalau tidak cepat-cepat meninggalkannya ? Kamu takut tergoda dengan kecantikan Dina ? Aku tidak yakin kamu bisa menahan hasratmu kalau memang kamu laki-laki normal.”
Milea melepaskan tangan Arkan dan berdiri berhadapan sedikit berjarak dengan pria itu.
“Untuk masalah Dina itu kasus khusus. Mana mungkin aku mencintai wanita yang sudah mulai setengah gila. Dina terus dihantui rasa bersalah karena perbuatannya sendiri namun tidak ada orang yang mau memberikan maaf padanya. Itu sebabnya ia memilih mengakhiri hidupnya.”
“Kalau kamu tidak membiarkan Dina melewati masa kehamilannya sendirian, Dina tidak akan merasa kesepian dan akhirnya dihantui rasa bersalah.”
Arkan melipat kedua tangannya di depan dada dan dengan sedikit menyipit menatap Milea yang membuang pandangan ke lain arah.
“Kenapa aku menangkap hawa cemburu dalam ucapanmu ? Kamu cemburu kalau kita membicarakan Dina ?”
“Ngaco !” Milea mecebik dengan wajah ditekuk.
Arkan tergelak dan mendekati Milea lalu memeluknya sebelum gadis itu kabur lagi. Milea memberontak tapi akhirnya memilih diam saat Arkan malah semakin mengeratkan pelukannya.
“Aku malah senang kalau kamu cemburu,” ujar Arkan sambil tergelak.
“Kamu terus berusaha lari dariku bukan karena tidak mencintaiku lagi, Mili, tapi sebaliknya kamu tahu kalau masih ada sisa cintamu untukku tapi kamu tidak mau mengulangnya lagi karena takut kembali sakit hati. Apalagi kamu tidak tahu alasan aku menikahi Dina dan menolak Emilia.
Dan sekarang kamu sudah tahu semuanya langsung dari mulutku, jadi jangan pergi lagi, jangan menghindari perasaanmu sendiri. Aku janji dengan seluruh jiwa ragaku, aku akan mencintaimu sepenuh hati dan tidak akan membuatmu tersakiti seperti yang pernah terjadi. Aku mencintaimu Milea, dulu, sekarang dan di waktu yang akan datang.”
Milea hanya diam meskipun tangannya tidak balas memeluk Arkan, bahkan Milea membiarkan Arkan mencium keningnya.
*) depresi peripartum adalah depresi saat kehamilan, dimana seorang wanita dalam masa rentannya mengalami perubahan emosional, biologis, keuangan atau kehidupan sosialnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Farida Wahyuni
kalau aku jadi milea, ogah deh terima arkan lagi.
tp kalaupun milea mau kembali sm arkan, jangan buru2 dulu deh, pikirkan dg baik2. karna masalah sebelumnya, dina hamil anak siapa tdk mau diungkpa oleh arkan.
kalau masalahnya ga clear, jangan mau deh milea, nambah2 masalah dan beban hidup aja.
2023-05-05
2