“Arkan lepasin,” Milea berbisik sambil berusaha melepaskan genggaman Arkan yang menarik perhatian karyawan perusahaan milik Arumi.
“Kenapa ? Kamu seharusnya bangga jalan bersama adik pemilik perusahaan,” ledek Arkan terkekeh.
“Arkan,” gerutu Milea.
“Biar jadi gosip di kantor dan nggak ada cowok berani deketin kamu lagi.”
Milea hanya menghela nafas dan berusaha tersenyum membalas sapaan beberapa karyawan yang berpapasan
“Papa, Tante Milea,” panggilan Emilia yang berlari dari pintu lobby membuat Arkan langsung cemberut.
“Mau ngapain kemari lagi ?” gerutu Arkan dengan bibir mengerucut.
“Papa, Tante Milea,” Emilia mengulangi sapaannya sambil tersenyum. Tangannya langsung terulur minta digendong Milea.
“Arkan,” tegur Milea dengam suara berbisik. “Emilia menyapamu, balaslah sapaannya, jangan malah buang muka begitu.”
“Selama dia masih memanggilku papa, aku tidak akan menanggapinya,” sahut Arkan dengan ketus.
“Milea, Arkan,” mama Heni menyapa mereka dengan sedikit canggung.
Rencana kedatangannya ke kantor Arumi karena ingin bertemu dengan Milea, mama Heni tidak menyangka kalau Arkan ada di sini juga.
“Kalian mau keluar makan siang ?” tanya mama Heni dengan senyum kikuk.
“Iya Tante, saya dan Arkan mau keluar. Tante dan Emilia sudah makan siang ?”
Arkan langsung mendengus kesal. Rencananya ingin makan siang berdua dengan Milea berantakan karena kedatangan mama Heni dan Emlia.
“Mili belum makan, Tante. Baru pulang sekolah dijemput oma. Mili mau makan sama papa dan tante.”
Arkan makin bertambah kesal karena bocah berusia 4 tahun itu malah mengiyakan pertanyaan Milea, belum lagi dengan santainya Emilia betah dalam gendongam Milea.
“Mili jangan digendong terus sama Tante Milea. Mili bilang sudah tambah besar sekarang, kasihan Tante Milea,” ujar mama Heni yang sudah bisa membaca sikap ketus Arkan.
Emilia menuruf dan langsung minta turun dari gendongan Milea dan spontan menggandeng tangan Arkan dan Milea.
Emilia tampak terkejut saat Arkan menepis tangan mungil itu dengan kasar membuat Milea menghela nafas sambil menggeleng.
Emilia langsung mendongak, menatap Milea dengan wajah sedih.
“Emilia gandengan sama Tante dan Oma aja, ya,” Milea tersenyum dan mengeratkan genggamannya lalu memberi isyarat supaya Emilia menggandeng mama Heni.
Arkan akhirnya mengikuti pilihan Milea yang membawa mereka ke cafe yang letaknya tidak jauh dari kantor Arumi.
Arkan terlihat mengabaikan kehadiran Emilia dan mama Heni bahkan tidak menutupi rasa tidak sukanya pada kedua oramg itu.
“Papa nggak makan ?” Emilia menatap Arkan yang tampak sibuk dengan handphonenya.
Arkan hanya diam saja, seolah tidak mendengar ucapan Emilia dan masih fokus dengan handphonenya. Tangan Milea langsung menepuk tumit Arkan di bawah meja, namun pria itu hanya menoleh sekilas lalu acuh kembali.
“Emilia, tante bisa minta tolong sama Emilia ?”
Bocah itu langsung mengangguk sambil menikmati kentang goreng di piringnya.
“Mulai sekarang Emilia panggilnya jangan papa, tapi om Arkan karena om Arkan bukan papanya Emilia,” ujar Milea dengan pelan dan hati-hati.
“Tapi oma bilang kalau papa Arkan adalah papanya Mili dan mamanya Mili adalah mama Dina. Mili pernah melihat foto papa berdua sama mama pakai baju princess.”
Milea tersenyum dan mengangguk-angguk.
“Di foto itu uncle Arkan bukan pangerannya tapi pengawalnya mama. Tante akan membantu Emilia mencari pangeran pasangan putri Dina, mama Emilia. Nah pangeran itulah papanya Emilia.”
“Beneran, Tante ?”
“Iya benar. Nanti papa Emilia marah kalau sampai putri cantiknya ini memanggil orang lain dengan sebutan papa.”
“Lalu mommy dan daddy, kenapa Mili boleh memanggil momny dan daddy ?”
“Itu karena mommy dan daddy maunya begitu dan meskipun artinya sama dengan mama dan papa, tapi kedengarannya berbeda kan ? Jadi kalau papa Emilia dengar, beliau tidak akan marah.”
“Jadi Mili harus panggil apa, Tante ? Dan kapan Mili bisa ketemu papa Mili ?”
“Boleh panggil uncle sama seperti uncle Dino.”
“Kalau tante, boleh Mili panggil mama ?”
“Tidak boleh !” tegas Arkan dengan wajah galak. Emilia langsung terlihat takut menatap mata Arkan.
“Kalau Emilia memanggil tante dengan sebutan mama, mama Dina yang ada di surga bisa menangis karena sedih, jadi tetap panggil tante saja, ya ?”
Emilia terlihat sedih mendengar permintaan Milea namun dalam pikirannya jika panggilan itu bisa membuatnya tetap dekat dengan Milea, Emilia tidak keberatan.
Sedangkan masalah Arkan, Emilia tidak keberatan karena tidak pernah memiliki ingatan masa kecil dengan pria itu sebagai ayah dan anak.
Panggilan papa adalah ajaran kedua omanya yang mengatakan kalau Arkan adalah papanya.
Selesai makan, Milea membawa Emilia untuk cuci tangan lalu mengambil buku dsn satu permainan anak yang disiapkan oleh pengelola cafe.
“Arkan, mama mau minta maaf padamu. Mama juga minta maaf atas nama Dina yang telah membuatmu terpaksa menikahinya dan mengakui Emilia sebagai anakmu.”
Arkan hanya diam saja, tidak menunjukkan kalau ia berminat mendengarkan namun juga tidak membantahnya.
“Kalau boleh mama mohon, tolong penuhi permintaan Dina untuk yang terakhir kalinya. Tidakkah kamu merasa kasihan melihat Emilia tumbuh tanpa kasih sayang orangtua ?”
“Bukannya ada om dan tante serta kak Dino yang bisa mencurahkan kasih sayang lebih dari cukup, sama seperti yang Dina dapatkan selama ini ?” Arkan tersenyum dengan nada menyindir.
“Dina sudah berhasil tumbuh menjadi wanita yang luar biasa sampai bisa hamil tapi mengaku dipaksa melakukan hubungan badan dengan pria yang tidak tahu apa-apa.
Belajar dari masalah itu, saya yakin kalau om dan tante pasti lebih pengalaman dalam mendidik dan membesarkan anak. Saya belum pernah punya anak jadi pasti hasilnya akan berbeda dengan yang punya jam terbang lebih banyak.”
Mama Heni menghela nafas mendengar sindiran Arkan yang diucapkan dengan nada sinis. Belum lagi panggilan Arkan tidak lagi mama, tapi tante.
“Oma, Pa… Uncle Arkan,” Emilia menyapa saat kembali ke meja dan belajar membiasakan lidahnya mengganti panggilan untuk Arkan.
“Tante Milea akan membelikan aku buku seperti ini, Oma dan berjanji akan membacakannya untukku sekali-sekali.”
Arkan langsung menatap Milea dengan alis menaut. Kalau membacakan cerita berarti Milea bersedia datang ke rumah mama Heni.
Milea mengabaikan tatapan Arkan yang terlihat kesal. Hatinya yang lembut merasa iba pada Milea yang merindukan kasih sayang orang tua. Apalagi Milea sempat bercerita kalau teman-temannya di sekolah memiliki orangtua yang lengkap.
“Kita cari buku lain, yuk ?” Milea melihat kalau mama Heni masih ingin bicara dengan Arkan karena itu ia mencoba membujuk Emilia untuk kembali menjauhi meja yang mereka tempati.
“Mili bisa pergi ke sana dan pilih buku sendiri ?” pinta mama Heni. “Oma, uncle dan tante akan melihat Mili dari sini. Sebentar lagi Mili akan naik kelas TK B, jadi harus tambah pintar.”
“Bisa oma,” Emilia mengangguk dengan mantap. “Mili sudah besar sekarang, sudah nggak ngompol lagi, tante.”
Milea yang semula ragu membiarkan Emilia memilih buku sendiri ditahan oleh Arkan.
“Kamu bukan mamanya,” tegas Arkan. “Kalau tante Heni yakin membiarkan dia sendirian berarti anak itu bisa tanpa pendampingan. Cukup kamu mengawasinya dari sini.”
“Iya, tidak masalah Lea, selama kita masih bisa mengawasinya dari sini.”
Milea akhirnya mengalah dan kembali duduk di samping Arkan sambil sesekali melihat ke arah Emilia.
“Terima kasih atas perhatianmu pada Mili, Lea,” mama Heni menggenggam jemari Milea. “Sebetulnya tante masih berharap kalau kamu bisa menjadi ibu sambung Emilia sesuai permintaan Dina.”
“Tante, tolong jangan memancing emosi saya,” ujar Arkan dengan tatapan menusuk. “Saya dan Milea tidak akan merubah keputusan. Saya akan menikahi Milea seperti impian saya saat kami menjalin hubungan, tapi Emilia sungguh tidak ada dalam agenda saya dan tidak akan pernah saya masukkan dalam rencana hidup saya. Tolong jangan memaksakan kehendak tante, sudah cukup anak tante menjadikan hidup saya seperti mimpi buruk.”
Milea menarik nafas panjang melihat kekerasan hati Arkan. Belum pernah Arkan bersikap seperti ini selama Milea mengenalnya.
“Kalau tujuan Tante hanya untuk membujuk saya apalagi Milea untuk menerima anak itu sebagai anak kami, saya akan melarang Milea menemui Tante. Tolong jangan usik kehidupan saya lagi. Saya bukan lagi menantu tante, saya hanya seorang anak sahabat tante yang sudah menolong anak Tante dari rasa malu karena hamil tanpa suami.”
Arkan bangkit berdiri dan menarik lengan Milea untuk ikut pergi bersamanya.
Arkan membayar semua tagihan makanan dan minuman tanpa menggubris tangisan Emilia yang memanggil-manggil Milea. Mama Heni sendiri langsung menghampiri dan membujuk cucunya.
”Arkan, kasihan Emilia menangis. Kalau kita pamit baik-baik dengannya, pasti dia tidak akan sesedih itu,.”
Milea mencoba melepaskan pegangan tangan Arkan dan berniat kembali menghampiri Emilia untuk membujuk bocah itu.
“Tolong turuti permintaanku kali ini dan percayalah pada keputusanku. Jangan memberikan harapan jika kamu tidak bisa mewujudkannya.”
Milea terdiam dan menuruti permintaan Arkan. Teringat akan ucapan Arumi yang mengatakan kalau belum pernah Arkan sekeras sekarang. Pria ini pasti punya alasan yang kuat dengan sikapnya, hanya saja Milea perlu sabar untuk mengetahui alasannya.
“Kita cari makan siang di tempat lain,” ujar Arkan.
“Memangnya kamu belum kenyang ?”
“Bagaimana bisa menikmati makanan kalau hati begitu kesal duduk semeja dengan orang yang tidak diharapkan.”
“Terserah kamu saja.”
Arkan tersenyum tipis tanpa diketahui oleh Milea. Ia akan membawa Milea makan siang di tempat yang agak jauh.
Henri sempat mengirimkan pesan padanya, meminta Arkan supaya membawa asisten Arumi pergi kemana saja dan jangan kembali sebelum Henri mengirimkan pesan pada Arkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments