Jangan Lari Lagi

“Apa ini ?” Arumi mengeluarkan surat dari dalam amplop yang diberikan Milea.

“Pengajuan pengunduran diri saya, Bu. Maaf karena saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya dan dua minggu lagi saya akan berhenti jadi asisten Ibu.”

Sudah 3 hari berlalu sejak pertemuan di kantor pengacara. Milea sudah memikirkannya masak-masak dan sepertinya berhenti dari perusahaan milik kakak kandung Arkan adalah jalan yang terbaik.

“Mau melarikan diri seperti 5 tahun lalu ?” Arumi tersenyum tipis.

“Kali ini Arkan tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku sudah hafal dengan sifat adikku, Lea. Arkan pria penyabar dan cenderung mengalah, tapi saat dia memutuskan melakukan sesuatu, apapun akan dilakukannya, kalau perlu mengejar kamu hingga ke ujung dunia.”

“Tapi Bu…”

“Aku yakin kalau Arkan benar-benar tidak pernah mengkhianatimu sekalipun ia menikahi Dina. Buktinya Dina sampai depresi hingga mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya. Semua itu bisa diartikan karena Arkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri bahkan sampai nekad menceraikan Dina dan meninggalkannya bersama Emilia yang baru berusia 40 hari.”

“Arkan sudah menceritakan masalah itu pada saya, hanya saja dia belum bilang alasannya menerima permintaan Dina untuk menikahinya.”

“Bersabarlah, mungkin Arkan belum siap. Mencarimu selama 5 tahun pasti cukup berat bagi Arkan dan sekarang tujuan utamanya membuatmu yakin kalau Arkan tetap mencintaimu dan tidak pernah berkhianat.”

Milea terdiam dan menundukkan kepala. Terlihat beberapa kali ia menghela nafas.

“Sebagai kakak yang menyayangi adiknya, aku mohon padamu Lea, jangan tinggalkan Arkan lagi. Kamu sangat berarti baginya dan kali ini ia akan berjuang mati-matian untuk membuatmu tetap di sampingnya.”

“Tapi saya sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya,” ujar Milea dengan suara pelan.

“Apa Dino sudah menggantikan posisi Arkan di hatimu ?”

Mata Milea membola bertatapan dengan Arumi yang memandangnya dengan mata menyipit.

“Apa maksud Ibu ?”

“Dino sudah mengaku di hadapan kami semua kalau ia pernah menembakmu 3 tahun yang lalu tapi ditolak. Apa karena Dino adalah kakak kandung Dina makanya kamu menolak dia ?”

“Itu alasan kedua, tapi alasan utamanya karena saya tidak punya perasaan apapun pada Kak Dino. Sejak dulu di mata saya Kak Dino hanyalah kakak teman saya.”

“Lau Arkan ? Apa nama itu benar-benar sudah tidak ada lagi di hatimu atau kamu sembunyikan karena sudah menyakiti hatimu ?”

Arumi kembali tersenyum saat Milea menghela nafas dan menatap ke lain arah, enggan menatap Arumi.

“Jangan lari lagi, Lea. Menurutku kamu berjodoh dengan Arkan, hanya saja harus tertunda karena masalah dengan Dina. Ambil saja hikmahnya, pasti ada hal positif yang bisa dipetik untuk membuat hubungan kalian semakin kuat.”

“Saya bukan ingin lari, Bu. Bagi saya Arkan sudah masa lalu dan saya sudah berhasil menata hidup saya kembali untuk membuka hati bagi pria lain.”

“Yakin kalau kamu sudah tidak bisa membuka hatimu itu untuk Arkan yang baru ? Arkan yang akan memperjuangkanmu sekalipun ia harus melepaskan semua yang dimilikinya sekarang ?”

“Maksud Ibu bagaimana ?” Milea menautkan kedua alisnya.

“Aku tidak akan menutup-nutupi kalau mami masih belum setuju Arkan memilih pasangan hidup sendiri, masih kolot,” Arumi terkekeh.

“Tapi dengan sikap Arkan yang berani membawamu pergi meninggalkan kami, aku melihat Arkan sudah bukan lagi anak penurut yang menderita karena terpaksa menerima semua keputusan orangtua kami. Arkan sudah berani menentukan jalan hidupnya dan kalau sudah begitu, ia tidak akan keberatan jika harus melepaskan semua jabatan dan fasilitas yang dia dapatkan sebagai anak papi dan mami.

Siap-siap punya pacar yang miskin dan harus memulai semuanya dari titik nol,” ledek Arumi sambil tertawa pelan.

“Sejak dulu saya tidak pernah memilih Arkan karena dia anak orang kaya,” protes Milea dengan wajah masam.

“Cocoklah kalau begitu,” Arumi kembali tertawa. “Kamu tetap akan bahagia, karena aku adalah kakak ipar yang menyenangkan.”

Milea ikut tertawa pelan saat Arumi menyombongkan dirinya.

Keduanya langsung menoleh saat pintu ruangan Arumi dibuka tanpa diketuk.

“Sayang, kok jam segini sudah datang ?” Arumi langsung bangun dari kursinya dan berjalan menghampiri Henri yang baru masuk dan ternyata diikuti oleh Arkan.

”Ada yang sudah tidak sabar bertemu calon istrinya. Begitu tahu aku akan menjemputmu makan siang, dis langsung memaksa ikut tanpa minta ijin,” lapor Henri pada istrinya.

“Lebay,” Arkan mencebik. “Sepertinya malah ada suami yang seperti kurang waktu sama istrinya. Baru selesai meeting di proyek sudah buru-buru mau pergi, takut istrinya diculik orang.”

“Makanya cepat-cepat nilah sama Milea,” Arumi meledek Arkan sambil melirik Milea yang baru saja beranjak dari kursinya.

“Aku sih siap aja. Mau besok juga boleh,” Arkan menatap Milea yang hanya tersenyum tipis.

“Kok tumben asisten sama boss ngobrol santai di sini ?” tanya Henri sambil merangkul Arumi, mengajaknya duduk di sofa.

“Milea mau berhenti jadi asistenku,” sahut Arumi.

“What ? Mau kemana ?” Arkan nampak terkejut dan berjalan mendekati Milea. Matanya melihat sekembar kertas yang ada di atas meja Arumi.

“Kamu beneran mau berhenti, Mili ?” Arkan mengambil surat itu, membacanya sekilas dan kembali mendekati Milea.

”Mau pindah jadi asisten Dino di rumah sakit,” ujar Arumi sambil terkekeh.

”Kenapa pindah ke tempat Dino ?” Arkan mengerutkan dahi menatap tajam ke arah Milea yang menatap ke arah lain.

“Setelah kalian pergi, Dino mengakui perasaannya di depan kami kalau dia menyukai Milea sejak lama,” ujar Arumi sambil terkekeh.

“Beneran ?” Arkan langsung memegang kedua bahu Milea membuat gadis itu mendongak, menatap Arkan.

“Kamu pernah bertemu Dino sebelum ini ? Dia menyatakan cintanya padamu ? Apa ini alasan kamu menolak kembali padaku ?”

Milea menghela nafas mendengar pertanyaan Arkan yang bertubi-tubi dengan emosi yang mulai meninggi.

Selama mereka pacaran, seperti kata Arumi, Arkan adalah pria yang penyabar, supel dan pengertian hingga Dina seringkali bertindak semena-mena padanya.

Pernah beberapa kali Milea protes karena tidak terima kekasihnya diperlakukan seenaknya oleh Dina meskipun mereka berteman sejak kecil.

“Ya, saya tidak sengaja bertemu Kak Dino 3 tahun yang lalu dan seperti yang Ibu Arumi bilang kalau Kak Dino menyatakan cintanya pada saya.”

“Mili, jangan bicara formal begitu. Di depan kamu ini Arkan, teman kamu, mantan pacar kamu,” ujar Arkan dengan wajah kesal.

Hatinya tidak karuan saat mendengar cerita soal Dino. Saat statusnya masih kekasih Milea, Arkan sudah melihat tatapan Dino saat memandang Milea, ada yang berbeda.

“Sudah aku duga,” gerutu Arkan.

“Dino sudah menyukai Milea sejak kalian masih SMA, loh,” Arumi tertawa dan memprovokasi Arkan yang terlihat kesal.

“Aku sudah tahu,” sahut Arkan ketus. “Aku sudah bisa melihat kalau Kak Dino punya perasaan khusus pada Milea:”

“Ada hawa-hawa cemburu nih,” ledek Arumi.

“Sayang, kamu senang banget sih buat adikmu kesal,” Henri merangkul bahu Arumi yang duduk di sampingnya.

“Sudah lama tidak melihat wajah Arkan yang lucu dan menggemaskan kalau sedang mengomel. Iya kan, Lea ?”

Milea menoleh ke arah Arumi dan hanya tersenyum tipis.

“Kamu juga menyukai Kak Dino ? Itu alasannya kamu gampang melupakan aku ?” Arkan kembali memegang kedua bahu Milea membuat gadis itu sedikit jengah karena Henri dan Arumi menatap mereka sambil tertawa pelan.

“Saya permisi keluar dulu,” Milea mencoba melepaskan diri dari tangan Arkan namun pria itu malah menggenggam jemari Milea

”Jangan coba-coba menghindar apalagi kabur !” tegas Arkan. “Aku benar-benar tidak akan melepaskanmu kali ini. Apalagi aku sudah bilang kalau tidak terjadi apapun antara aku dan Dina baik sebelum atau saat kami menikah.”

“Maksud Arkan, biar duda dia masih perjaka, Lea,” ledek Arumi sambil tertawa.

“Sayang,” Henri kembali mengingatkan istrinya.

“Nggak apa-apa, sayang. Aku hanya menegaskan ucapan Arkan. Habis susah banget bilang kalau Arkan itu masih perjaka.”

“Saya permisi dulu, Pak,” Milea kembali berusaha melepaskan diri dari Arkan namun pria itu malah makin erat menggenggam tangan Milea.

“Jangan coba-coba lari lagi atau akan aku buat kamu terikat padaku dengan cara yang kasar sekalipun.”

“Apa maksudmu ?” Milea mengerutkan dahi. Semakin berusaha melepaskan diri, semakin erar Arkan menggenggamnya.

“Aku akan menghamilimu dulu biar kamu harus menerima aku sebagai suamimu,” bisik Arkan di telinga Milea namun masih saja terdengar oleh Arumi yang sudah menajamkan telinganya.

“Besok langsung di halalkan lah,” ledek Arumi sambil tergelak. “Enak di kamu, rugi di Milea kalau kamu de-pe dulu.”

“Biar mami langsung kasih restu, sayang,” timpal Henri ikut tertawa.

“Arkan !” Milea langsung melotot dan menghentakkan tangannya membuat genggaman Arkan terlepas. “Kalau begitu aku berhenti sekarang aja.”

Milea kembali ditahan oleh Arkan yang sudah membaca gerakan Milea.

“Mau kemana ?” tanya Arkan dengan tatapan galak.

“Mau kabur dari orang gila,” sahut Milea ketus. “Lama-lama bisa ikutan gila.”

“Iya aku gila, sayang, tergila-gila padamu,” Arkan tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Ya ampun Arkan, kamu kelihatan keren banget,” Arumi kembali tergelak. “Nggak nyangka kalau adikku terlihat lima kali lebih tampan kalau lagi bucin begitu. Mau pakai acara dicium lagi juga boleh, aku sama Mas Henri nggak akan ngiler melihatnya.”

“Tuh Ar, sudah dapat restu dari kakak tercinta,” timpal Henri.

“Jadi cuma adikmu saja yang tanbah ganteng kalau lagi bucin ? Terus kalau suamimu ?” protes Henri.

“Kamu tidak ada bandingannya di mataku, sayang,” Arumi mengusap wajah Henri dengan mesra.

“Ayo temani aku makan, tambah lapar gara-gara bicara soal Kak Dino dan bisa bahaya kalau dekat mereka berdua,” Arkan menarik tangan Milea, berniat membawanya keluar.

“Kami nggak ditraktir sekalian, Ar ?” ledek Henri.

“Uang kalian lebih banyak dariku, lagian aku yakin kalau kalian perlu menu pembuka khusus.”

Henri dan Arumi tertawa sampai akhirnya Arkan menutup pintu ruangan Arumi.

“Adikmu itu sungguh pengertian,” ujar Henri sambil membuka laci meja kecil yang ada di sampingnya.

Arumi mengerutkan dahi saat melihat Henri mengeluarkan remote untuk mengunci pintu ruangan Arumi.

“Aku butuh penambah selera makan siang hari ini,” bisik Henri sambil menggigit daun telinga Arumi.

“Sayang,” Arumi merengek manja. “Kamu ini ya, masih siang begini.”

“Mood booster sayang, vitamin siang.”

Henri langsung ******* bibir istrinya yang membalasnya dengan penuh semangat hingga keduanya melewati jam makan siang.

Sudah 5 tahun usia pernikahan Arumi dan Henri. Meski belum dikaruniai momongan, kemesraan mereka tidak pernah berkurang. Semangat usaha untuk mendapatkan buah hati terus membara di dalam hidup perkawinan mereka.

“Semoga cepat tumbuh baby di sini,” Henri mengusap perut Arumi usai percintaan mereka siang itu.

“Bagaimana kalau…”

Henri langsung ******* bibir Arumi hingga kembali ciuman panas siang itu membangkitkan gairah keduanya.

“Jangan berpikir negatif karena bisa mempengaruhi emosimu dan akhirnya malah jadi kenyataan. Anggap saja kita diberi kesempatan bulan madu panjang karena selama ini kita pacaran jarak jauh.”

Arumi mengangguk dan merangkul leher Henri supaya mendekat dan memberikan ciuman panas untuk mengulang kembali percintaan mereka.

Terpopuler

Comments

Farida Wahyuni

Farida Wahyuni

sekali lagi aku bilang, milea jangan mau sama arkan, apalagi kalau ibunya ga restu, tambah ribet aja.

2023-05-03

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!