Menolak Wasiat

Arumi tersenyum bahagia saat melihat adiknya menggandeng Milea masuk kembali ke dalam ruang VIP.

Senyumnya semakin melebar saat melihat ada jejak lipstik Milea bibir Arkan.

“Udah beres ?” ledek Arumi yang senang menggoda adiknya.

“Nggak usah pura-pura lugu,” gerutu Arkan yang duduk di sebelah Milea. Arumi dan Henri hanya tertawa.

Arkan dan Milea melanjutkan makan malam yang tertunda sementara keempat orang lainnya sedang menikmati hidangan penutup.

Tidak ada perbincangan khusus membahas soal Arkan dan Milea hingga 15 menit kemudian, kedusnya selesai menikmati hidangan utama.

“Sepertinya akan lebih baik kalau kita bicara langsung ke intinya saja ya Milea,” ujar papi Firman sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

“Soal apa ya, Om ?”

“Surat wasiat Dina,” mami Mira menyahut dengan ketus. Papi Firman menatap istrinya yang membuang muka ke lain arah.

“Seperti kamu sudah dengar langsung saat di kantor pengacara tempo hari. Dina meminta kamu menikah dengan Arkan dan membesarkan Emilia sebagai anak kalian.”

Milea menoleh ke arah Arkan yang sedang menatap papi Firman dengan dahi berkerut.

“Maaf untuk masalah itu saya belum bisa memenuhi wasiat Dina.”

“Sama, aku juga menolaknya, Pi, Mi,” Arkan menimpali dengan nada kesal.

“Kenapa kesannya kamu jadi jual mahal ?” ketus mami Mira. “Kamu ingin balas dendam pada Arkan karena memilih Dina 5 tahun yang lalu ?”

Arumi menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Masalah Arkan dan Dina sudah dibuka semuanya oleh Arkan, bahkan adiknya bisa menunjukkan bukti tertulis kalau Emilia bukan anak kandungnya, tapi mami Mira masih sulit menerima kenyataan.

“Bukan sok jual mahal, Tante, tapi perasaan saya pada Arkan memang biasa-biasa saja. Maaf kalau saya bilang kalau Arkan bukan lagi pria yang spesial untuk saya, paling tidak saat ini, entah ke depannya.”

Arkan tersenyum tipis mendengar pengakuan Milea.

“Belajar dari pengalaman pahit yang lalu, saya tidak mau gegabah mengambil keputusan terutama dalam memilih pasangan hidup. Dina sendiri yang mendoakan saya supaya mendapat pria yang lebih baik dari Arkan saat mereka menikah, dan sekarang dia berharap bisa membatalkan doanya dan meminta saya bertanggungjawab membesarkan anak yang tidak jelas siapa ayah kandungnya. Bukan saya tidak menghormati pemintaan orang yang sudah meninggal, tapi Dina bukanlah siapa-siapa saya, bagaimana mungkin hidup dan masa saya ditentukan oleh selembar kertas yang berisi permintaannya.”

Arkan tersenyum dan menggenggam jemari Milea yang ada di bawah meja. Milea sendiri terus menguatkan hatinya saat bertatapan dengan mami Mira yang terlihat tidak senang.

“Saya juga sudah sampaikan pada Arkan saat kami di luar tadi. Perasaan saya benar-benar sudah berubah dan butuh waktu untuk kembali bicara cinta di antara kami. Dan Arkan mau menerima serta menunggu saya untuk mencintainya lagi.”

“Sombong,” gerutu mami Mira dengan suara pelan dan ketus.

“Mami, Papi, aku juga menolak untuk menerima wasiat Dina. Aku sudah memutuskan untuk menunggu sampai Milea bersedia menjadi istriku, tapi bukan karena wasiat Dina. Dan alasan kedua, aku tidak mau lagi menjadi penanggungawab atas perbuatan Dina. Sudah cukup sakit hati yang papi mami berikan saat pertama kali Dina mengaku hamil anakku. Papi tidak mau mendengarkan ucapanku dan mendengarkan argumenku,” Arkan tersenyum getir. Papi Firman merasa canggung saat putranya menyindir sikap kerasnya 5 tahun lalu.

“Dan sampai detik ini Mami pun berharap aku tetap mengakui Emilia sebagai anakku,” Arkan beralih menatap mami Mira yang enggan membalas tatapan putranya.

“Aku bukan lagi Arkan yang dulu, yang menuruti keinginan papi dan mami hanya demi menjaga nama baik keluarga. Aku merasa cukup menderita selama 5 tahun hidup menanggung keegoisan Dina. Bagaimana aku bisa menggantikan papi kalau untuk hidupku sendiri, aku tidak bisa mengambil keputusan yang tegas.”

“Jangan egois Arkan ! Biar bagaimana pun Emilia…”

“Kalau memang papi dan mami mau membesarkannya sebagai cucu kalian silakan saja,” potong Arkan. “ Tapi jangan memaksaku mengakuinya sebagai anak kandung apalagi memintaku membesarkannya sebagai ayahnya.”

Papi Firman dan Arumi tidak berkomentar atau mencoba menentang keputusan Arkan. Bagi papi Firman sendiri, apa yang dilakukannya 5 tahun yang lalu, menghajar putranya habis-habisan karena merasa malu, adalah satu kesalahan yang membuatnya hidup penuh dengan penyesalan sebagai seorang ayah.

“Jadi hubungan macam apa yang akan kalian jalani ?” Mami Mira masih menunjukkan rasa tidak sukanya pada Milea.

“Kami akan memulainya dari awal tanpa bayang Dina. Akan sulit melupakan rasa sakit di masa lalu kaau Emilia berada di antara kami,” tegas Arkan.

“Jadi kamu akan…”

“Kali ini dengan atau tanpa persetujuan mami atau papi, aku sudah memutuskan untuk menjdikan Milea satu-satunya wanita dalam hidupku.”

Milea tersenyum tipis dan merasa kurang nyaman dengan ucapan Arkan apalagi melihat tatapan mami Mira.

Tapi Arkan tidak peduli. Hidup dalam penyesalan dan merasa jadi pengecut selama bertahun-tahun membuatnya bertekad untuk merubah diri.

Akhirnya Makan malam hari itu diakhiri tanpa persetujuan Arkan dan Milea untuk menjalankan wasiat Dina. Keduanya berkeras dengan keputusan mereka, hingga keluarga Arkan tidak bisa bicara apa-apa.

****

“Apa kamu berpikir kenapa Arkan begitu keras menolak Mili bahkan terlihat sangat membencinya setiap ksli membicarakan bocah itu ?” tanya Arumi pada suaminya.

Keduanya sudah sampai di rumah bahkan sudah di atas tempat tidur. Henri masih memangku laptopnya, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.

“Kamu sudah mendengar sendiri alasannya dari Arkan dan kita juga sudah mendengar cerita bagaimana Dina berhasil membuat Arkan menikahinya. Wajar kalau Arkan merasa benci dengan Dina bahkan anak yang dilahirkannya.”

“Aku punya firasat kalau Arkan tahu siapa ayah kandung Mili.”

“Biarkan saja kalau Arkan tidak mau mengatakannya, itu hak dia. Mungkin saja Arkan berpikir tidak penting memberitahu siapa ayah kandung Mili pada keluarga kalian karena bisa membuat masalah bertambah rumit.”

“Hon, aku boleh tanya sesuatu ?”

“Sejak kapan aku mengeluarkan larangan atau batasan padamu untuk bertanya padaku ?” Henri tertawa dan melirik sebentar pada istrinya yang ikut bersandar pada papan sandaran tempat tidur dengan ganjalan bantal.

“Apa selama aku tidak ada di Jakarta, Dina pernah menunjukkan sikap yang aneh padamu ?”

“Maksudmu ?” Henri sampai melepas kacamatanya dan menatap Arumi dengan dahi berkerut.

“Kamu kan sering ke rumah bertemu dengan papi dan mami sementara Dina juga sering datang karwna dirinya sudah dianggap seperti anak kandung papi dan mami. Apa kalian sering bertemu ?”

“Kamu cemburu pada wanita yang sudah meninggal ?” Henri tertawa sambil mencubit pipi Arumi dengan gemas.

“Tidak, hanya setelah dipikir-pikir, kepribadian Dina itu sedikit mengerikan. Dia sanggup melihat kehancuran orang lain, bahkan sahabat-sahabatnya sendiri. Arkan itu sahabatnya sejak kecil, tapi dia tega memfitnahnya dengan bilang kalau Arkan lah yang menghamilinya.”

“Dina itu korban kedua orangtuanya. Terutama Tante Heni begitu memanjakannnya, menempatkan Dina seperti wanita yang sempurna sejagad raya hingga lupa berpijak pada bumi. Dan aku setuju dengan keputusan Arkan untuk menolak mengambil alih tanggungjawab Emilia.”

“Kamu nggak kasihan pada bocah kecil yang tidak bersalah dan posisinya juga adalah korban keegoisan orang-orang dewasa.”

“Kasihan, Honey, tapi pikirkan beban yang harus ditanggung Arkan dan Milea kalau menerima wasiat Dina.”

Henri melepas kacamatanya kembali dan mematikan laptopnya.

“Apa Dina pernah menggodamu ?” Arumi memicingkan mata menatap suaminya dari samping.

Henri menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Aku tidak pernah peduli dengan Dina hingga tidak tahu apa dia sedang menggodaku atau tidak. Terus terang, aku tidak terlalu suka pada gadis model begitu.”

“Yakin ? Karena banyak orang bilang kalau Emilia lebih cocok jadi anakmu daripada Arkan ?” Arumi masih menyipitkan matanya, menelisik wajah suaminya.

“Mungkin karena saat hamil Emilia, dia membenciku. Dina tidak menyukaiku karena aku pernah tidak sengaja melihatnya di hotel bersama dengan om-om,” Henri terkekeh.

“Kok kamu nggak pernah cerita padaku ?”

“Buat apa ? Bagiku tidak penting karena Dina bukanlah adik kandungmu. sebaik apapun hubungan orangtua kalian, tetap saja Dina bukan keluargamu kan ?”

“Iya juga sih,” Arumi menganggukkan kepalanya.

“Jangan terlalu memaksakan diri dalam hubungan Arkan dan Milea. Mereka sudah dewasa. Lebih baik kita fokus pada diri sendiri. Jangan bilang kalau masih datang bulan.”

“Sudah selesai dari 2 hari yang lalu,” Arumi terkekeh saat Henri mulai menciumi ceruk lehernya.

“Jangan cari alasan lagi.” Henri langsung mencium bibir istrinya penuh kehangatan melewati malam bertabur cinta, berharap diberikan buah cinta setelah 5 tahun pernikahan mereka.

Terpopuler

Comments

Dhika Chawla

Dhika Chawla

hahh.... gmn hati arumi nt klo tau emilia anak kandung henri.... ckckck.... dina luar biasa..

2023-05-19

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!