" Saya minta data dokter di sini " ucap Allan kepada sekretarisnya .
" Baik pak . Saya permisi " pamit Sita
Allan fokus dengan berkas berkas dihadapannya . Semenjak memegang rumah sakit sang papa , Allan lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sakit . Meskipun dia juga akan ke perusahaannya . Allan juga mengerjakan pekerjaan di perusahaannya di rumah sakit .
Di rumah sakit yang baru dia pegang , Allan masih harus belajar banyak . Karena banyak pemegang saham yang meragukan kemampuan Allan . Allan paling tidak suka di remehkan . Apapun dia harus bisa mengendalikan . Mungkin banyak orang kejam di rumah sakit ini jadi sang papa memberikan rumah sakit yang selama ini William banggakan karena banyak yang ingin merebut rumah sakit ini .
drt drt drt
..." Sayang aku sudah kembali " ucap Mona ....
" Hem " jawab Allan .
" Bisa jemput aku atau tidak ?"tanya Mona
" Aku sedang bekerja " jawab Allan .
" Baiklah , Aku tidak akan mengganggu mu . Bye sayang . Aku pulang naik taksi saja " ucap Mona lalu memutuskan sambungan ponselnya .
Allan mendesah kasar . Menghirup udara seakan melepaskan rasa kesal dalam hatinya
Entah apa itu , Allan sendiri tidak tahu . Tidak ingin berlarut larut Allan menghubungi teman wanitanya melalui asisten pribadinya di kantor .
" Permisi Tuan , ini data yang Tuan minta " ucap Sita .
" Letakkan saja " tanpa mengalihkan pandangannya .
" Baik Tuan " ucap Sita sedikit menunduk di depan Allan . Karena dia menggunakan pakaian yang belahan dada nya cukup rendah .
" Tunggu " ucap Allan ketika Sita hendak keluar .
" Saya tidak mau melihat kamu berpakaian seperti itu lagi . Buang baju jelek mu itu " ucap Allan .
" Menyakiti mata ku saja " desis Allan .
" Ba.. Baik Tuan " ucap Sita gagap .
Dengan hati yang kesal Dita memilih untuk keluar dari ruangan Allan . Bukankan Allan terkenal dengan banyak teman wanitanya . Tapi kenapa dia sama sekali tidak tergoda dengannya . Pikir Sita menerawang .
" Sita " sapa Mutia .
" Iya dokter " jawab Sita .
" Apa bos mu ada di dalam ?" tanya Mutia dengan gaya centilnya .
" Ada . Tapi sepertinya Tuan sedang tidak bisa di ganggu " ucap Sita yang tahu gelagat dari Mutia . Meskipun dia tahu jika Mutia anak dari salah satu pemegang saham di rumah sakit ini . Tapi Mutia juga terkenal arogan karena ayahnya yang juga bagian dari rumah sakit ini . Jadi Sita tahu betul apa yang Mutia harapkan .
" Aku hanya ingin menyapanya saja . Dan ini ayah ku menitipkan ini padaku " ucap Mutia .
" Tapi nona..
" Sudah cepat .." pinta Mutia .
tok tok tok .
" Permisi Tuan . Ada nona Mutia " ucap Sita .
Allan menghela nafasnya kasar .
" Masuk " ucap Allan dingin tapi tangannya tetap berada di atas laptopnya .
" Permisi Tuan . Saya Mutia anak dari pak Heru salah satu pemegang saham di sini " ucap Mutia
" Lalu ?" tanya Allan tak menatap Mutia sama sekali .
" Saya hanya mau memberikan ini . Makan siang untuk Tuan " ucap Mutia .
" Terima kasih . Tolong taruh di sana saja " ucap Allan menunjuk ke arah sofa ruangannya .
Mutia segera meletakkannya .
Allan kembali fokus ke pekerjaannya . Tidak peduli dengan Mutia yang ada di sana .
Setelah sekian menit .
" Kenapa ?" tanya Allan menatap Mutia sekilas . Mutia masih berdiri di depan Allan seakan enggan untuk berlalu dari sana .
" Oh . Tidak ada Tuan saya permisi " pamit Mutia .
Allan tidak menghiraukan nya lagi . Bagi Allan semua itu membuang waktunya .
Setelah urusan di perusahaannya selesai . Allan meraih berkas yang baru saja di berikan oleh Sita . Allan melihat satu persatu dokter di rumah sakitnya . Hingga berhenti di salah satu dokter cantik yang cukup mengganggunya akhir akhir ini.
" Ini . Bukan kah gadis yang berada di samping apartemen ku . Ternyata dia juga dokter di sini . Baiklah " ucap Allan yang kembali penuh semangat .
Entah apa yang ada di pikiran Allan saat ini .
Tio asisten pribadi Allan menghubungi Allan .
" Hallo bos , gadis yang bos pesan sudah siap " ucap Tio .
" Tidak jadi " ucap Allan .
" Oh ya , tolong siapkan .................. "
" Oke bos . Siap laksanakan " Ucap Tio .Dari seberang sana Tio menggelengkan kepalanya melihat tingkah bosnya dalam beberapa bulan terakhir ini . Selain permintaan yang aneh aneh . Bosnya yang bucin akut dengan kekasihnya tapi sekarang berubah menjadi seseorang yang suka berganti pasangan.
Allan tersenyum senang seperti sedang mendapatkan durian runtuh .
" Bro " ucap Ryan yang tiba tiba datang ke ruangan Allan . Jam kerjanya sudah habis .
" Ngapain lo . Kerja sana " ucap Allan ketika melihat Ryan sudah berada di ruangannya .
" Gue udah pulang. " ucap Ryan lalu menyalakan rokok di tangannya .
" Lo ada masalah " ucap Allan lalu berjalan ke arah Ryan .
Jika sudah menyalakan sebatang rokok . Allan tahu jika sepupu sekaligus sahabat nya itu sedang ada masalah .
" Hem . Bisa di bilang masalah juga bisa di bilang anugrah " ucap Ryan dengan senyum yang susah di artikan .
" Kenapa ?" tanya Allan ikut menyalakan sebatang rokok .
" Lo ada masalah ?" tanya bali Ryan .
" Entah " jawab Allan menghirup dalam - dalam rokok di tangannya .
" Huhhhh " desah Ryan .
" Ada apa ? " tanya Allan .
" Gue di jodohkan " ucap Ryan seraya menatap Allan dan melihat reaksi sepupunya itu .
" Haha .. Dengan siapa ? Cantik nggak ? Kok lo mau ?" tanya Allan merasa geli mendengar kata perjofohan .
" Ini jaman modern bukan lagi jaman perjodohan " ucap Allan .
" Dia cantik . Sangat cantik dan juga sempurna " ucap Ryan menerawang wajah Embun .
" Sepertinya lo suka sama calon ipar " ucap Allan .
" Tapi sepertinya dia masih ragu dengan perjodohan ini . Meskipun dia menerima tapi terlihat jelas dari matanya dia tidak bisa berbohong " ucap Ryan yang sudah berubah datar lagi .
" Malam ini kita ke zero " ucap Allan .
anggap saja zero itu tempat club malam ya guys .hihi
" Oke " ucap Ryan .
" Dasar dokter gadungan " ucap Allan .
" Bos yang ngajak mana bisa menolak " ucap Ryan .
Keduanya lalu tertawa bersama . Mereka juga hanya menghisap satu putung rokok . Itu hanya untuk pelepasan jika mereka sedang merasa ada masalah . Jika tidak mereka paling anti dengan rokok .
" Sepertinya gue mau mengadakan acara di rumah sakit . Untuk ramah tamah . Saling mengenal . Karena gue belu pernah melihat para dokter di sini . Yang gue lihat hanya lo " ucap Allan .
" Tumben . Bukannya lo nggak suka acara begituan ya " ucap Ryan penasaran .
Bagi Allan acara seperti itu hanya membuang waktu saja dan hanya akan dimanfaatkan untuk menggaet kolega besar . Dan Allan tidak butuh semua itu .
" Gue hanya ingin " ucap Allan menyandarkan tubuhnya di sofa .
" Baiklah . Gue balik dulu . Di suruh papa ke perusahaan . Hal yang paling gue nggak suka " ucap Ryan .
Allan dan Ryan adalah kebalikan . Jika Allan lebih suka ke bisnis di luar rumah sakit . Allan tidak suka jika harus bertemu jarum suntik . Berbeda dengan Ryan yang lebih suka menjadi dokter karena itu menyenangkan . Tapi saat ini mau tidak mau Allan maupun Ryan juga harus belajar bidang yang mereka enggan .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
miyura
up tiap hari ya othor yg baik budi dan rajin menabung..😗😗
2023-06-11
0