Hari ini rekan kerja Embun mengadakan acara makan malam bersama di sebuah restoran mewah yang biasa mereka gunakan untuk melepas penat setelah melakukan operasi .
Embun juga saat itu sudah selesai bertugas . Dia juga di ajak oleh rekan kerjanya sesama dokter di sana .
" Dokter sudah mau pulang ?" tanya seorang dokter pria yang di kenal ramah di rumah sakit tersebut .
" Dokter Ryan , sudah dok . Ini saya mau pulang " jawab Embun , ketika sedang merapikan tasnya lalu Dokter Ryan masuk ke dalam ruangannya .
" Mau ikut gabung bersama kami ?" tanya Dokter Ryan .
" Kemana dok ?" tanya Embun yang memang tidak tahu .
" Kita biasanya sering menghabiskan waktu untuk makan malam bersama . Ya supaya kita sesama dokter ini sedikit hilang lelah nya setelah di hadapkan dengan beberapa pasien " ucap Dokter Ryan .
" Ya hitung hitung Dokter Embun bisa saling kenal dengan dokter lain . Kan dokter baru satu bulan di sini . Menambah keakraban aja " ucap Dokter Ryan .
" Boleh " jawab Embun yang memang belum terlalu mengenal rekan kerjanya selama dia bertugas . Embun selalu sibuk dengan pasiennya dan selalu fokus dengan pekerjaannya . Mungkin hanya akan saling sapa jika berpapasan tanpa mengenal .
Restoran yang mereka pilih juga tidak terlalu jauh dari rumah sakit . Di sana memang tempat yang mereka pilih . Jika ada keadaan darurat mereka tinggal berlari menuju rumah sakit .
" Selamat malam . Maaf kita telat " ucap Dokter Ryan .
" Oke nggak papa " jawab Dokter Anton.
" Siapa nih ? Pacar ?" tanya rekan satunya lagi .
" Oh iya . Kenalkan , ini Dokter Embun . Dokter baru di rumah sakit kita mencari nafkah " jelas Ryan .
" Perkenalkan saya Embun . Salam kenal " sapa Embun yang sedikit canggung . Karena terlihat dari rekan kerjanya yang perempuan seperti kurang menyukai kehadirannya .
" Ini namanya Dokter Anton , Ini Dokter Rizal , Ini Dokter Mutia dan ini Dokter Via " ucap Ryan memperkenalkan rekannya .
" Salam kenal Dokter cantik " ucap Rizal .
" Buruan pesan makan gih . Laper gue " ucap Via yang terlihat sedikit kesal .
" Oh jadi lo yang gantiin gue operasi waktu itu " ucap Mutia .
" Iya dok " ucap Embun dengan tersenyum berusaha tenang .
" Dokter sudah punya pacar ?" tanya Rizal to the point .
Embun sedikit terkejut dengan pertanyaan yang bisa di bilang pribadi itu .
" Em . Udah belum ya ?" ucap Embun mencoba mencairkan suasana yang canggung .
" Wah main tebak tebakan nih " sahut Dokter Anton yang usianya bisa di bilang lebih tua dari mereka .
" Kalian ini baru kenal sudah tanya seperti itu . Ngobrol dulu baru ke sana " ucap Ryan .
" Itu juga mewakili pertanyaan anda Tuan " ucap Rizal .
Gelak tawa pun terdengar namun tidak dengan kedua gadis itu yang lebih memilih diam . Dan menikmati makanannya.
" Dokter Mutia katanya besok pemilik rumah sakit akan mengalihkan tugasnya kepada anak nya ya ? " tanya Dokter Anton .
" Ya begitulah . Mungkin dalam waktu dekat ini " ucap Dokter Mutia .
" Ada yang bahagia nih " ledek Dokter Via kepada sang sahabat
" Apaan sih " jawab Dokter Mutia dengan wajah yang bersemu merah
Dokter Mutia cukup di segani di sana karena dia termasuk anak dari salah satu pemegang saham di rumah sakit tempat dia bekerja .
Tapi banyak dari rekan kerjanya yang kurang menyukai Dokter Mutia . Dokter Mutia terlihat Arogan , berkuasa dan bertindak sesuka hati . Meski begitu tidak ada yang menegurnya .
drt drt drt
" Ya hallo " Jawab Dokter Mutia
" Dokter ada operasi darurat apakah dokter bisa ? " tanya Hani .
" Saya sedang ada hal yang saya urus , jadi saya tidak bisa . Hubungi dokter yang ada di sana saja " jawab Dokter Mutia segera memutuskan sambungan ponselnya .
tut tut tut
" Ada apa ?" tanya Dokter Ryan .
" Ada operasi darurat . Lagian di sana banyak dokter kenapa harus menghubungi ku " ucap Dokter Mutia lalu menyodokkan makanan ke mulutnya .
" Mungkin mereka sedang sibuk " ucap Dokter Rizal .
" Jika kamu ingin silahkan tapi aku tidak mau " jawab Mutia .
" Biar saya saja yang kembali ke rumah sakit " ucap Embun lalu berpamitan dengan rekan kerjanya itu .
" Tunggu aku ikut " ucap Dokter Ryan .
" Aku ?" ucap Dokter Anton .
" Udah di sini aja . Sepertinya Ryan ada feeling sama dokter baru " ucap Via
" Baguslah . Biar dia nggak jomblo lagi " ucap Anton .
Sementara di rumah sakit Embun dan dokter Ryan segera menuju ruangan pasien yang sudah menunggu mereka .
Dokter di sana sedang sibuk dengan pasien masing masing . Dan seharusnya Dokter Mutia juga masih bertugas . Tapi dia selalu sesuka hati dan bertindak seenaknya . Tapi tetap daja rekan kerja mereka akan tetap diam dan tidak bisa berbuat apa apa . Takut jika di pecat .
" Dokter balik lagi ?" tanya Hani yang sedang menyiapkan peralatan medis
" Iya . Bagaimana kondisinya ?" tanya Embun lalu mengambil stetoskop untuk memeriksa keadaan pasien .
" Tadi sempat kritis dok , tapi setelah menerima penanganan awal sudah lebih baik " jawab Hani .
" Ruang operasi sudah siap ?" tanya Embun .
" Sudah dok " jawab Hani .
" Tolong dok selamatkan anak saya . Dia anak saya satu satunya " tangis ibu dari pasien tersebut pecah melihat putra nya terbaring lemas .
" Saya usahakan yang terbaik ya bu . Ibu harap tenang dan bersabar " ucap Embun .
Ponsel Embun sedari tadi terus berdering . Namun Embun tidak menanggapinya sama sekali . Embun tahu betul itu pasti dari kedua orang tuanya. Terlebih lagi sang mama yang terus memintanya untuk pulang .
Bukan Embun tidak mau , tapi Embun tidak ingin selalu yang menjadi yang di korbankan . Kenapa bukan kakaknya saja yang di jodohkan . Kenapa selalu harus dirinya yang berkorban .
Operasi berjalan dengan lancar . Embun merasa lega dan segera menghampiri ibu dari pasien tersebut .
" Ibu , semuanya lancar . Anak ibu akan sehat kembali berkat doa ibu " ucap Embun .
" Terima kasih dok .. Terima kasih banyak " ucap ibu tersebut .
" Sudah tugas saya bu . Baiklah kalau begitu saya permisi dulu ibu " pamit Embun .
" Dok.. " panggil ibu itu dengan ragu .
" Iya " jawab Embun .
" Dok boleh tidak saya bayarnya nyicil . Saya ..... Saya tidak punya uang " ucap Ibu itu .
Ibu itu hanya seorang diri menunggu sang putra . Memang jika di lihat kurang mampu . Tapi ibu itu yakin dengan keputusannya untuk segera memeriksakan putra semata wayangnya .
" Saya akan menjual rumah saya dok . Nanti kalau rumah saya sudah terjual saya akan membayarnya lunas " dengan isak tangis dan air mata yang terus mengalir ibu itu mencurahkan isi hatinya kepada Embun .
Embun tersenyum melihat begitu sayangnya ibu di depannya ini kepada putranya . Membayangkan bagaimana dirinya cukup membuat hati Embun merasa prihatin dengan dirinya sendiri .
" Ibu tidak udah khawatir masalah biaya ya . Yang penting sekarang ibu harus tetap sehat untuk menjaga putra ibu " jawab Embun lalu meninggalkan Ibu yang tertegun dengan ucapan Embun .
Ibu itu masih berdiri terdiam mendengar ucapan Embun . Apakah rumah sakit sebesar ini akan memberikan biaya geratis untuk operasi anaknya ? tentu saja tidak . Lalu ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments