Azura menghampiri Ajeng yang berada di lantai tiga, Ia berjalan lengkap dengan gaun pernikahannya yang masih membalut tubuhnya. Beberapa pengunjung hotel tak henti menatap dirinya, Azura tak peduli dengan tatapan para pengunjung, mereka mau menatap dirinya dengan tatapan aneh atau pu terpesona dengan kecantikannya saat ini, ia benar-benar tak peduli.
***Tok
Tok
Tok***
"Bu, Buka pintunya ini Azura"Ucap Azura
Ajeng yang mendengar suara ketukan pintu pun membuka pintu dan betapa terkejutnya ia melihat sang anak yang berdiri di depan pintu dengan gaun pengantin dan keringat yang membasahi keningnya.
"Ngapain kamu kesini Ra"Ucap Ajeng
"Bantu Azura buka ini gaun Bu"Ucap Azura ia hendak masuk kedalam kamar sang Ibu Namun Ajeng menghalangi
"Bu"Ucap Azura yang merasa kesal
"Kamu itu sudah punya suami, Minta tolong sama suami kamu kenapa malah sama Ibu"Ucap Ajeng
"Haduh Bu..."Ucap Azura
"Ini Resletingnya nyangkut, Azura gak bisa buka...Ibu tega nolak permintaan anaknya"Ucap Azura
"Dengar ucapan Ibu, meskipun kamu sama Hafiz menikah karna paksaan dari kami, Tapi kalian itu suami istri sah secara hukum atau pun agama, Mau Hafiz memperlakukan kamu gimana pun itu hak dia,Termasuk melepas gaun mu ini juga hak Hafiz, kamu dengar"Ucap Ajeng
"Bu...Gak semudah itu Dia main lepas baju Azura, Pokoknya Azura maunya Ibu yang bantu"rengek Azura
"Pak ...."Ucap Ajeng
"OKE OKE..."
"Assalammualaikum"Ucapnya kembali meninggalkan Ajeng dengan wajahnya yang benar-benar kesal.
Azura kembali ke kamar hotel dengan bibirnya menekuk kebawah, Hafiz yang baru saja selesai mandi tanpa bingung dengan perubahan mood Azura.
"Kamu gak mandi?"Tanya Hafiz
"Gimana mau mandi gaunnya aja belum bisa di buka"Ucap Azura
"Ibu mu..."
"Ibu gak mau bantu, Dari pada kamu banyak tanya mending bantu aku buka"Ucap Azura
Azura menunjukkan punggungnya yang masih terbalut gaun dihadapan Hafiz.
"Buruan, Tapi ingat ya jangan macam-macam"Ucap Azura penuh ancaman dengan tatapannya yang tajam
Hafiz tampak bengong menatap punggung Azura, Keringatnya mulai mengalir setiap kali ia hendak membuat resleting.
"Bisa gak?"Tanya Azura
"Aku udah gak betah pakai baju kaya gini"Ucap Azura
Hafiz tak menjawab ucapan Azura ia masih mencoba mengangkat kedua tangannya, Menyentuh resleting dengan tangan yang bergetar dan keringat yang membasahi keningnya
Bayangan dirinya beberapa tahun lalu kembali menghantui dirinya, Dengan refleks ia mendorong Azura kearah samping dan ia berjalan menghindari tatapan tajam Azura yang merasa kesal dengan sikap Hafiz yang dinilai kasar.
"Kalau kamu gak mau bantu bisa bilang baik-baik, Bukan malah main dorong-dorong untung saja aku gak jatuh"Omel Azura
"Sobek aja bajunya"Ucap Hafiz ia meghindari tatapan Azura, Dan menyembunyikan wajahnya yang pucat
"Gila ya kamu, Ini mahal dan harus dibalikin ke butik"Ucap Azura
"Aku sudah bayar gaun mu, di sobek aja"Ucap Hafiz menunjukkan bukti pembayaran
"Hah"Ucap Azura yang tampak begitu syok dengan tindakan Hafiz
"Kalau gak mau disobek yaudah kamu bisa pakai gaun itu sampai besok"Ucap Hafiz
"Okey aku sobek"Ucap Azura
"Benar-benar hobinya menghamburkan uang, Gaun semahal ini dengan enaknya di suruh sobek, Tapi ya mau bagaimana lagi"Gumam Azura
Setelah melepaskan gaun pengantin Azura segera membasuh tubuhnya dengan air dingin yang mengalir dari shower, Sementara Hafiz berusaha menenangkan dirinya dengan meminum sebuah pil yang ia dapatkan dari dalam laci nakas.
"Tenang Fiz, ini hanya pernikahan Terpaksa, Tidak ada sentuhan atau apa pun itu"Ucap Hafiz ia memejamkan matanya dan menghilangkan rasa takut pada dirinya.
setelah membersihkan tubuhnya, Azura kembali sibuk membuka laptop dan membuka laporan yang ia terima melalui Email. Beberapa laporan perusahaan memang harus di review dirinya lebih dulu sebelum sampai ke atasan.
Menjabat sebagai seorang manager memang membuat hari-hari Azura tampak begitu sibuk, Itu sebabnya ia tak ada waktu untuk mencari pasangan.
Suara dengkuran Hafiz terdengar cukup keras hingga membuat konsentrasi Azura terganggu, Beberapa jam lalu Pria yang berusia empat tahun dibawahnya itu baru saja menjadi suaminya, Meski pun keduanya secara hukum dan agama sah sebagai pasangan, Namun Baik Azura atau pu Hafiz sama-sama sepakat untuk menjalani pernikahan ini tanpa melipatkan perasaan atau pun sentuhan.
Malam pertama yang dilewati kedua pasanga baru ini hanya suara hening, Tidak ada aktifitas layaknya suami istri naru pada umumnya.
Sudah jam satu malam namun Azura masih setia membuka matanya dan menatap langit-langit kamar, Ia beberapa kali melirik Hafiz yang tidur layaknya mayat, Tak ada pergerakan sama sekali hanya suara dengkurannya yang terdengar yang membuat Azura tak dapat tidur.
"Babi disamping ku ini sangat berisik"Gumam Azura ia memunggungngi Hafiz dan mencoba memaksa matanya untuk terpejam.
Malam tlah berganti pagi, Seluruh keluarga Bambang dan Handoko tlah berkumpul di restoran hotel untuk menyantap sarapan, sementara Sang Pengantin baru masih tidur lelap dikamar.
Ketidakhadirannya Azura dan Hafiz menimbulkan banyak tanya darinpara keluarga, Beberapa dari mereka tersenyum nakal dan beberapa lainnya mengharapkan doa-doa baik.
"Gayanya nolak pernikahan, Lihat aja sekarang mereka malah gak datang sarapan"Ucap Raisa
"Ussssttt Mereka mungkin lelah habis kerja keras"Sahut Windy keduanya tertawa senang membayangkan apa yang dilakukan oleh Sang adik dan iparnya.
Hafiz terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara ponselnya yang tak kunjung berhenti, Sebuah panggilan masuk.
"Hmm halo"Ucap Hafiz dengan suara khas baru bangun tidur
"Wahhhh baru bangun, Gimana malam pertamanya Bro, Enak pasti"Ucap Dika disebrang telpon
"Apaan sih, Ganggu tidur aja"Ucap Hafiz
"Duh ganggu ya...Maaf maaf cuma mau infoin aja Hari ini aku sama Haris sidang skripsi, Kita duluan yaa, selamat ***-***"Ucap Dika dengan suara tawanya
"sialan gua di tinggal beneran"Ucap Hafiz
Ia menatap Azura yang masih tertidur begitu lelap. Wajah Azura yang terlelap begitu terlihat adem dan menenangkan.
"bisa-bisanya aku nikah sama perempuan yang lebih tua dari ku"Gumam Hafiz
Ia beranjak dari kasurnya dan segera mandi pagi. Azura bangun setelah merasakan Sinar matahari mengenai wajahnya.
Dengan samar-samar ia membuka mata, Melihat Hafiz yang tak lagi dikamar membuatnya teringat sesuatu.
"Astagaa sarapan keluarga"Ucap Azura ia bangkit dari kasur dan bergegas mandi.
Hafiz yang tiba lebih dulu pun mendapatkan banyak pertanyaan dari para keluarga, Tapi yang paling gencar memberinya banyak pertanyaan Raisa,Sang kakak Yang sudah dua tahun menjanda.
"Gimana rasanya, enak kan?"ucap Raisa
"sekarang mana Azura, Kamu pasti mainnya kasar ya sampai-sampai istri mu gak bisa bangun"
"Duh dulu waktu mba Masih nikah sih sehari bisa sampai lima kali"Ucapnya kembali
Hafiz hanya memberikan tatapan dan tak menjawab satu ucapan pun dari Raisa.
"Atau jangan-jangan kamu sama Azura belum melakukan itu, kan kamu Trauma..."Bisik Raisa yang teringat akan trauma sang adik
"Hm"Akhirnya Hafiz bersuara hingga membuat Raisa begitu syok ia menutup mulutnya dengan kedua tangan dengan matanya yang membulat sempurna
"Bisa-bisanya kamu melewatkan surga dunia de"Ucap Raisa
Hanya berselang sepuluh menit dari Hafiz, Azura datang dan membuatnya menjadi pusat perhatian, bagaimana tidak ia datang dengan rambut yang masih basah. Hafiz yang melihat Azura dan mendengar reaksi para keluarga hanya bisa menepuk jidat.
"Wahhh bener-benar habis malam pertama"Sahut Ilham
"Hah..."Ucap Azura yang tampak begitu bingung
****
Kenapaa sih gak malam pertama beneran ajaa kalian 😌
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments