5 Pertimbangan

Hafiz yang baru saja berganung dengan keluarga besarnya di meja makan membuatnya menajdi pusat perhatian. Dengan tatapan yang masih menyimpan kekesalan terhadap sang Ayah, membuat Sang kakak bertanya-tanya, Tingkah apa lagi yang di lakukan sang Adik bungsunya ini hingga membuat suasana makan malam terasa seperti menghadiri rapat para petinggi negara.

"Kenapa?"Bisik Ilham

"Biasa lah perang antara bapak dan anak"Jawab Raisa

"Siapa pun yang masih mau tinggal dirumah ku ini maka qajib mengikuti perintah dan aturan yang sudah ada"Ucap Handoko ia menatap Hafiz dengan tatapan tajam

Bukan Hafiz namanya jika tidak membalas tatapan sang Ayah tak kalah tajam.

"Mas ini pada kenapa sih?"Bisik Windy sang istri Ilham yang sudah ia nikahin selama lima tahun

" biasalah"Jawab Ilham

Handoko dan Hafiz saling memberikan sorotan tajam, Keduanya saling mengibarkan bendera perang.

Ilham, Raisa dan Windy yang memyaksikan kegentingan diantara mereka hanya bisa diam tanpa memberika komentar apa pun.

"Ka Ilham pinjam CC dong"Ucap Hafiz

"Ilham jangan pernah kamu kasih dia fasilitas apa pun"ucap Handoko

"Termasuk Windy dan Raisa, Sepersen pun kalian membantu anak ini maka jangan berharap apapun dengan warisan yang akan ku bagikan"Ucap Handoko kembali

"Iya Pa"Jawab Windy dan Raisa

Hafiz benar-benar di buat geram dengan tingkah laku sang Ayah, Ia bahkan sejak tadi tidak menyatap makan malamnya dan hanya mengaduk-aduk makananya

"Para pegawai ART disini jangan pernah lagi kalian cuci pakaian anak ini, Boarkan aja dia mencuci pakaiannya sendiri"Ucap Handoko yang semakin membuat Hafiz merasa kesal, Ia hanya bisa meremas Garpu

"Siapa pun yang memberinya bantuan maka siap-siap saya pecat"Ucap Handoko yang membuat pada pegawainya merasa takut

"aku bisa melakukan semuanya tanpa bantuan apa pun, Ingat itu"Ucap Hafiz, Ucapannya terdengar penuh penekanan hingga membuat para pegawai merasa merinding

Tuan muda ini memang sangat terkenal dengan sifatnya yang kaku, Tidak pernah mendengarkan siapa pun alias keras kepala dan sangat urak-urakan.

Ia tak segan menghajar siapa pun yang membuatnya marah, Bahkan salah satu pengawal pernah mendapatkan pukulan dari tangannya yang kekar hanya karna tak sengaja memenuhi keinginannya.

Suasana makan malam yang tegang pun berakhir dengan kekesalan Hafiz, Ia dengn sengaja menjatuhkan piring ke lantai hingga pecah dan berserakan dimana-mana

"HAFIZ"Teriak Handoko yang merasa benar-benar marah karna sifat sang Anak

Namun Hafiz tak menghiraukan teriakan sang Ayah dan memilih pergi.

Ilham dan windy Memilih menenangkan Handoko sementara Raisa menyusul sang adik, Sejauh ini hanya Raisa yang ucapannya sedikit di dengar oleh Hafiz, Tidak banyak perbandingannya 1:10..

"usia mu sudah dua puluh lima tahun, apa seperti ini sikap seorang pria berumur"Ucap Raisa yang terus mengikuti langkah kaki Hafiz

Hafiz berbalik hingga membuat Raisa berhenti mendadak untungnya saja ia tidak menabrak tubuh tegap sang adik

"Mba sama Yang lain itu sama"Ucap Hafiz

"kami melakukan ini demi kebaikan mu, Kamu saja yang terlalu keras kepala dan susah diatur"Ucap Raisa

"Ingat Penawaran mba gak berlaku lama"Ucapnya kembali

Hafiz tidakenghiraukan ucapan Raisa dan memilih berbalik dan seger masuk kedalam kamarnya yang berukuran begitu besar.

"Kembali ke jakarta besok,Selesaikan kuliah mu"Ucap Raisa yang berada di liar kamar Hafiz

Namun sang pemilik kamar tidak menjawab ucapannya, Raisa yang merasa kesal pun hanya bisa membalas sikap sang adik dengan menendang pintu kamar lalu pergi dengan bibir yang tak henti menggerutu.

Ia tak habis pikir dengan sikap Hafiz yang sangat berbeda, Ia mengerti sang adik mungkin kecewa dengan sikap sang orangtua hingga membuatnya menjadi seperti ini, Terkadang Raisa menyesal mengapa ia baru menyadari trauma Hafiz setelah sekian lama sang adik berjuang seorang diri.

Tak salah ia pergi ke club malam namun selalu menghindar setiap kali di dekati oleh para wanita ******.

Sejak satu tahun lalu Raisa baru mengetahui kondisi sang Adik itu pun ia dapatkan dari Salah satu sahabat Hafiz. Sejak saat itu ia mencoba mencati keberadaan sang Mami Alias Angel namun selalu berakhir nihil, Saat ia mengetahui Angel berkunjung ke Kediamannya Raisa pun bergegas untuk pulang namun yang ia dapatkan justru informasi Hafiz menghusir sang Ibu.

Hafiz merebahkan tubuhnya diatas sofa dengan membaca koran, Tanpa sepengetahuan Keluarganya Hafiz sangat rajin sekali membaca berita-berita terkini, Ia mengetahui mengenai Hak Waris perusahaannya, Ia meremas dan melempar koran kesembarang arah.

"Berita murahan"Ucap Hafiz dengan rahang yang begitu keras

Setelah lima belas menit Hafiz hening dengan pikiran entah kemana ia akhirnya beranjak dari sofa dan segera keluar kamar untuk mencari seseorang.

Satu persatu pintu kamar ia buka hingga akhirnya ia melihat sang kakak, Raisa sedang bersantai di balkon.

"Mau apa?"Tanya Raisa yang merasa kesal

"Aku terima tawarannya Mba"Ucap Hafiz

Raisa yang mendengan pun sontak saja menatap sang Adik dengan tatapan tak percaya.

"Really?"Ucap Raisa

"Hmm"Ucap Hafiz

"Alasannya?"Tanya Raisa ia merasa penasaran dengan keputusan Hafiz

"Banyak yang aku pertimbangkan"Ucap Hafiz

"Salah satunya?"Tanya Raisa

"Mba kepo banget jadi orang"Ucap Hafiz sedikit merasa kesal karna sang Kakak yang terus-terusan bertanya

Setelah menemui sang kakak Hafiz pun kembali menemui sang Ayah, Meski keduanya masih saling mengibarkan bendera perang Namun Hafiz berusaha untuk bersikap santai

"Mau apa kamu kemari"Ucap Handoko tanpa menatap Hafiz

"Aku terima perjodohannya Asalkan Papa memenuhi Syarat dari ku"Ucap Hafiz membuat Handoko menatap sang anak yang berdiri tepat di hadapannya

"Syarat Apa?"Tanya Handoko

"Setelah menikah biarkan Hafiz hidup mandiri dan jangan ikut campur dengar rumah tangga ku, satu lagi Jangan memaksa ku untuk segera mewarisi Perusahaan sampai Hafiz benar-benar siap"Ucap Hafiz

"Hanya itu Saja?"Ucap Handoko dirinya merasa tenang setelah mendengar syarat dari Hafiz yang terkesan sangat mudah

"Papa setuju"ucap Handoko dengan senyum yang begitu lebar, Sejenak ia melupakan sikap Hafiz beberapa saat lalu

"Besok Kita kerumah calon Istri mu"Ucap Handoko

"Tidak, Biarkan Hafiz menemui dia sendiri terlebih dahulu"Ucap Hafiz yang di setujui oleh Handoko

keesokan harinya seperti yang sudah ia rencanakan, Hafiz menemui Azura.

mendapatkan informasi mengenai pekerjaan sang calon istri dari asisten pribadi sang Ayah mempermudah urusan Hafiz untuk menemui sang calon Istri

Hafiz dengan sabar menunggu Azura disalah satu ruangan yang tlah disediakan dari kantor Azura.

Azura yang mendapatkan informasi mengenai seseorang yang mencarinya ia tampak berpikir sejenak siapa yang mencarinya, Tak ingin penasaran Azura pun menemui orang itu yang sudah menunggu dirinya.

Azura tampak begitu kaget melihat laki-laki muda dengan penampilan khas seorang mahasiswa hanya menggunakan celana jeans, Dan baju kemeja serta Tas ransel.

"Azura?"Ucap Hafiz

"Iya saya Azura, Kamu siapa?"Tanya Azura yang tampak begitu bingung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!