7. Keputusan

Azura tak pernah terpikirkan Kedua orangtuanya memiliki hutang dengan jumlah yang cukup besar, Dan hal ini baru saja terungkap, Otaknya masih berusaha menerima dan mencerna semua yang terjadi.

otak Azura benar-benar dibuat bekerja tanpa henti, Baru saja siang tadi ia menghadapi Hafiz dengan ancamannya yang terkesan klasik, Lalu Malam harinya ia harus menghadapi drama keluarganya yang di luar dugaan.

"STOP....AZURA GAK MAU DENGAR APA PUN"Ucap Azura ia merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya akibat terlalu berpikir

"Ibu, Bapak sama Adek jangan temui aku dulu, Aku butuh waktu"Ucap Azura ia meninggalkan keluarganya dan bergegas masuk kedalam kamar

Didalam Kamar Azura membaringkan tubuhnya diatas kasur, Ia memijat pelipisnya yang terasa begitu ngilu, Sesekali Azura memijat kepalanya dan mengoles dengan minyak angin andalan yang selalu ia gunakan.

"Dua puluh sembilan tahun aku hidup baru ini dibuat sakit kepala sama drama keluarga yang gak kunjung usai"Gumam Azura

"Hutang...seratus juta....menikah.....Hal gila apa lagi yang harus ku hadapin besok"Ucap Azura

Sementara itu Bambanhg, Ajeng dan Bagas tak henti memikirkan bagaimana caranya agar Azura percaya dengan drama yang mereka mainkan.

"Pak, suruh pengawalnya Om Handoko kerumah buat nagih hutang"Ucap Bagas dengan mata yang berbinar-binar

"Bagas yakin habis ini Mba Zura bakal luluh"Ucapnya kembali

"Kamu yakin, Kamu lihat aja tadi Mba mu itu susah di tipu"Ucap ajeng

"Percaya sama Bagas Bu"Ucap Bagas menyombongkan diri

Bambang mu menghubungi Handoko dan menjelaskan semuanya, setelah berbicara kurang lebih selama lima menit, Bambang kembali bergabung dengan Anak dan Istrinya,Keduanya menatap Bambang dengan tatapan penuh ke kepoan

"Besok pagi Mereka datang, kalian harus akting yang bagus"Ucap Bambang

"Siap"jawab Ajeng dan Bagas

"Kalau Mba Azura masih nolak perjodohan ini Keterlaluan sih"Ucap Bagas

"Tapi mba mu itu normal kan Gas?"Tanya Ajeng

"Normal mungkin"Jawab Bagas

****

Hafiz tiba di Balikpapan pukul 23.00 WITA, Ia segera kembali kerumah dan beristirahat.

Sementara Raisa sang anak tengah masih sibuk mencari tau Keberadaan Donita, Sang wanita yang membuat Adiknya semakin trauma dengan wanita.

Raisa membaca setiap laporan yang ia terima dari orang suruhannya, Dan semuanya sama saja, Nihil.

"Sial kemana perginya wanita itu"Ucap Raisa

Jam terus berputar, Malam pun tlah pergi kini berganti pagi, Azura tlah siap dengan pakaian kantornya yang begitu rapi

"BAMBANG KELUAR"Teriak seseorang yang membuat Azura cukup terkejut terlebih suaranya begitu lantang

Azura pun bergegas menuju Lantai satu dan mencari tau siapa orang yang berteriak-teriak di pagi hari seperti ini, Merusak mood dan membuat orang lain tak nyaman saja

"Siapa Pak?"Tanya Azura

"Kayanya itu orang suruhannya Handoko deh Ra"Ucap Bambang

"Hah...Gak mungkin Om Handoko sampai kaya gini Pak kan Bapak sama Om Handoko berteman Dekat"Ucap Azura

"Ya kan pertemanan bisa aja berubah apalagi kalau udah menyangkut uang"Ucap Bambang

Azura tak memperdulikan ucapan Bambang, ia justru melangkah keluar rumah dengan tatapan matanya yang tajam dan aura dinginya yang mematikan.

"Bisa diam gak kalian berdua, Kalau mau teriak-teriak dihutan jangan disini"Ucap Azura

"Aku gak peduli, Yang jelas dimana Bapak mu, Suruh bayar hutang sekarang"Teriak pria dengan tubuh yang tinggi besar dan penuh tato di lengan kanannya

"Ra, Gimana in"Ucap Ajeng yang entah sejak kapan ia berdiri disamping Azura

"Bilang ke boss kamu, Saya yang akan melunasi hutang orangtua saya, Dan kalian berdua silahkan pergi dari sini, Saya gak suka orang yang berisik"Ucap Azura

Kedua pria itu pun pergi setelah mendengar penuturan Azura.

Bambang dengan Aktingnya yang benar-benar profesional duduk di sofa ruang tamu dengan Badan yang dingin, Tentu saja dingin ia sudah merendam tangannya di air Es.

"Jadi Ini beneran Bapak Punya hutang sama Om Handoko?"Tanya Azura

"Iya Ra, Hutangnya udah lima tahun lalu"Ucap Bambang

"Ya Ampun Ra Badan Bapak mu sampai dingin gini loh"Ucap Ajeng menyentuh tangan sang suami dengan wajah yang panik

"Mba udahlah Mba terima aja perjodohan itu, Kita gak punya uang sebanyak itu"Ucap Bagas

"Kamu diam"Ucap Azura yang tentu saja membuat Bagas menutup mulutnya

"Temui Om Handoko dan sampaikan Azura terima perjodohan ini, Tapi dengan syarat hal seperti ini gak terjadi lagi"Ucap Azura setelah itu meninggalkan Ruang Tamu

Bambang, Ajeng dan Bagas yang mendengar penuturan Azura pun merasa begitu senang, Bahkan ketikanya sampai kompak

"Tuh kan betul Kata Bagas"Ucap Bagas

Azura bercermin didepan kaca lemari dengan pandangan yang sanyu. Ia menatap dirinya yang terlibat begitu cantik dan rapi dengan kemeja biru dan Celana berwarna putih

"Demi keluarga gak papa Ra,Ini hanya pernikahan sesaat sama seperti yang di bilang laki-laki itu"Ucap Azura

Bambang, Ajeng dan Bagas masih setia diruang tamu, ketiganya hanya menatap Azura yang menuruni Tangga dengan wajah datar.

"Hati-hati mba"Ucap Bagas

"Hm"Jawab Azura

"Biarin aja yang penting dia nikah minggu depan"Ucap Ajeng yang tak memperdulikan mood anaknya yang jelek.

Azura menggunakan Motor Vario yang ia beli dari hasil jerih payahnya, Meski pun motornya sudah berusia lima tahun, Namun Azura masih sangat menyukai dan sayang jika harus diganti dengan motor baru.

Azura meninggalkan rumah tanpa berpamitan kepada kedua orangtuanya, Entahlah moodnya pagi ini benar-benar hancur.

Berita mengenai Persetujuan Azura tlah di dengar oleh keluarga besar Bambang, Tak kecuali Hafiz.

Mendengar kabar itu Hafiz hanya bersikap biasa saja, Berbeda dengan Bambang, Raisa, Ilham dan Windy yang bersorak begitu bahagia.

"Akhirnya Papa punya hak waris"Ucap Windy

"Setelah ini kalian"Ucap Handoko

"Lohh kenapa Pa"Ucap Ilham

"Bulan depan kalian ke Singapura disana ada Dokter obgin yang terkenal, Papa harap Promil kali ini berhasil"Ucap Handoko

Mendengar ucapan Handoko, Ilham dan Windy hanya saling pandang tanpa memberikan komentar.

"Rais hubungi sahabat mu, Bilang ke dia buatkan siapkan baju pengantin terbaik"Ucap Handoko

"Siap Pa"Jawab Raisa

"Kamu kenapa santai banget"Ucap Raisa yang melibat Hafiz begitu santainya menyantap sarapan tanpa memperdulikan Kehebohan yang terjadi

"Terus mau bagaimana lagi"Ucap Hafiz

"Biarkan saja dia"Ucap Handoko mengabaikan Sikap acuh sang Anak

"Berarti dia menerima tawaran ku, Bagus mempermudah urusan ku"Batin Hafiz dengan senyuman kecilnya

Azura tiba dikantor dan menampilkan senyuman yang begitu indah, ia sejenak melupakan masalahnya dan bersikap profesional.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!