Di antara semak-semak belukar itu mereka mencari Alfi dan Maudi. Berjalan ke sana kemari. Tak terlihat sesosok pun manusia di sana. Hito dan kawan-kawannya kembali berkumpul.
"Gimana Hit lo nemuin sesuatu?" tanya Fero.
"Gak ada Fer, Lo?" Hito bertanya balik ke Fero.
"Gak ada juga, kalian gimana?" Fero menatap Evril dan Kiki.
"Gak ada juga di sebelah sana, lo yakin kita jatuh di tempat ini?" Evril menatap Hito.
"Gue yakin kok kita kemarin jatuh di sini." Hito memandang sekitaran semak di jurang itu. Meyakinkan teman-temannya bahwa memang di sana lah mereka terjatuh.
"Tapi anehnya gak ada mobil apapun di sini?" ucap Kiki yang sedari tadi memperhatikan area itu. Di siang hari seperti ini suasananya begitu menakutkan. Pohon-pohon dan tumbuhan liar yang tumbuh lebar menambah keangkeran tempat itu.
"Iya juga ya, dimana mobil kita?" tanya Evril menyadari satu hal yang seharusnya ada saat mereka masuk ke jurang itu.
"Ini benar-benar aneh Alfi yang saat itu mengemudi dan Maudi yang berada di sampingnya ikut menghilang bersama mobil kita. Dan kalian sadar gak gimana cara kita bisa lolos keluar dari mobil itu?" Hito mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Ketiga temannya hanya menatap bingung Hito.Mereka juga tak tahu dimana mereka berdua dan bagaiman mereka berempat bisa lolos dari maut kemarin.
"Terus kita harus gimana? Mau pulang tapi gak ada mobil,terus Alfi dan Maudi entah kemana sekarang?" Fero meminta jawaban dari teman-temannya.
"Lebih baik kita nyari rumah penduduk sekitar sini deh siapa tahu bisa membantu kita," Evril memberi saran dan ketiga temannya menyetujui. Mereka berjalan menyusuri hutan belantara itu.
Hari semakin sore namun mereka belum menemukan satupun rumah penduduk, hingga mata mereka kembali bertemu dengan rumah tua yang kemarin mereka tempati.
"Loh kok kita kembali ke sini ya?" tanya Kiki heran karena sejauh mereka melangkah hanya kembali ke tempat semula. Padahal mereka ingat berjalan melawan arah dari rumah tua itu.
"Iya gue juga heran kok bisa kita kembali ke sini lagi." Hito sependapat dengan Kiki. Mereka saling menatap bingung.
Tiba-tiba seberkas bayangan hitam melintas di depan mereka.
"Apaan tadi ya?" tanya Fero.
"Kok bulu kuduk gue merinding gini?" Hito memegang tengkuknya.
Kiki dan Evril saling memeluk ketakutan. Sesaat langit berubah mendung, hujan deras turun membasahi hutan itu. Mereka dengan cepat mencari tempat untuk berteduh.
"Kayaknya kita harus balik lagi ke rumah tua itu," ucap Hito yang dianggukki teman-temannya. Mereka dengan segera berlari menuju rumah tua di ujung jalan.
Baju mereka basah kuyup saat tiba di teras rumah tua itu. Kiki dan Evril semakin terlihat pucat karena terguyur air hujan. Fero pun juga begitu. Hanya Hito yang tak terlihat terlalu pucat.
"Sebaiknya kita bermalam lagi di sini sampai kita bertemu Alfi dan Maudi," ucap Fero.
"Iya lagian di luar juga hujan deras gak mungkin kita melanjutkan pencarian lagi."
Evril mendudukkan dirinya di kursi tua ruang depan rumah itu. Tiba-tiba tubuhnya seperti teraliri sesuatu . Membuatnya seperti melihat suatu kejadian di masa lalu di dalam rumah tua itu. Dia melihat seseorang duduk di kursi yang saat ini dia duduki sedang menangis kesakitan karena seseorang ingin membunuhnya. Wanita yang terikat dengan pakaian yang sudah terkoyak tak lagi pantas di sebut berpakaian. Evril kembali melihat teman-temannya saling berbicara.
"Apa yang gue lihat tadi ya?" tanya Evril pada dirinya sendiri.
Fero menatap aneh kekasihnya itu dan menghampirinya.
"Lo gak papa say?" tanya Fero membuyarkan lamunan Evril.
"Gue gak papa kok yang." Evril berusaha tersenyum meski pikirannya jauh melayang tentang sosok misterius yang dia lihat itu.
Hiks hiks hiks hiks hiks.
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita menangis. Hito dan ketiga temannya saling memandang.
"Siapa yang menangis di malam hari seperti ini?" batin mereka.
Evril memeluk Fero, begitu pula Kiki yang ketakutan memeluk Hito. Namun Kiki merasa berbeda dengan tubuh Hito.
"Siapa itu?" tanya Fero memberanikan diri mencari sumber suara di dekat ruang utama itu.
"Say aku takut?" Evril memeluk erat tubuh Fero yang berjalan ke arah kamar utama.
Dengan sedikit keberanian Fero membuka pintu kamar utama di ikuti ketiga temannya.
Kreeeeet.
Pintu terbuka. Namun tak ada siapapun di kamar itu.
Praaaaang.
Tiba-tiba sebuah lukisan berfigura jatuh di dekat mereka. Terlihat kaca figura itu pecah berkeping-keping. Sontak keempatnya terkejut dengan kejadian itu.
"Lihat itu lukisannya!" teriak Kiki.
Terlihat lukisan seorang wanita cantik yang bagian wajahnya sudah tak begitu jelas. Darah segar menetes dari lukisan itu tepat di kedua bagian matanya.
Evril merasakan nafas dingin ditengkuknya, Kiki memegang erat tangan Hito. Rasa takut kini mengikat keempatnya.
Suasana semakin mencekam,suara-suara decitan jendela tersapu angin dan lolongan anjing hutan menambah kengerian malam itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Rani nay
baca jam 10 malam 😓
2022-09-10
1
Lia halim
Edisi Horror y
2020-11-01
0
Triana R
halo kak semangaatt yaa...
2020-08-18
0