Jeratan

Hito dan teman-temannya telah sampai di kota mereka, namun ada hal aneh yang terlihat dari wajah Fero, tak seperti biasanya dia hanya terdiam sepanjang perjalanan dari terminal ke kotanya, Evril menatap sang kekasih sebelum mereka berpisah, ada hal aneh yang terpancar dari mata pria itu, seperti bukan lagi Fero yang Evril kenal.

"Sayang apa kamu baik-baik saja?" tanya Evril saat didekat Fero.

Fero menatap sekilas perempuan yang menanyakan keadaannya itu, tatapannya seolah tak mengenal Evril lagi.

"Aku baik-baik saja," ucap Fero dingin, sebelum mereka sampai di kota, Fero sudah di bawah kendali perempuan yang berada di bis yang mereka kendarai, namun ketiga sahabatnya tak mengetahui tentang hal itu.

Hito mendekati Evril dan menepuk pundaknya.

"Mungkin Fero lelah setelah perjalanan panjang, sebaiknya kita kembali ke rumah masing-masing dulu, biar aku antar kalian berdua," ucap Hito kepada kedua sahabatnya itu, saat ini mereka berada di rumah Fero, setelah memastikan Fero istirahat di kamar ketiga temannya kemudian pamit pulang kepada pembantu Fero, ya dia tinggal bersama satu pembantu dan satu sopir pribadinya, kedua orang tuanya sibuk bekerja mengurusi perusahaan keluarga di luar negeri, sedangkan Fero memilih tinggal sendiri di kota ini.

"Aku merasa aneh dengan Fero deh Hit," ucap Evril pada Hito saat mereka di dalam mobil milik Hito yang dia tinggalkan di rumah Fero sebelumnya.

"Maksudmu apa Vril?" tanya Hito heran.

"Lo lihat nggak matanya beda, kayak gak ada kehidupan, seperti tatapan kosong," jelas Evril, Hito dan Kiki saling menatap bertanya apa yang sedang Evril katakan.

"Lo mungkin merasa kurang perhatian aja Vril dari Fero," ucap Kiki sambil terkekeh menyindir temannya itu.

"Lah bukan itu yang gue rasain Ky," bantah Evril.

"Udah-udah kalian mending diam dulu, udah mau sampai ke rumah kalian nih," ucap Hito menengahi keduanya, kebetulan rumah Evril dan Kiki satu komplek yang sama, jarak rumahnya hanya berselisih tiga rumah dari Evril, Kiki memilih berhenti di rumah Evril dan berjalan kaki ke rumahnya yang sedikit lebih jauh dari rumah Evril.

"Lo yakin turun di sini Ki?" tanya Hito pada Kiki, memastikan dia baik-baik saja.

"Iya gue turun di sini aja, lagian rumah gue kan deket dari sini," ucap Kiki.

"Oke kalau begitu gue pamit dulu ya, kalian cepat istirahat sana!" perintah Hito sambil tersenyum, Hito adalah sahabat yang paling pengertian kepada semua temannya, dia lah yang selalu memberi perhatian kepada siapapun, tak ayal teman-temannya sangat segan padanya, apapun yang dia katakan mereka selalu menuruti.

"Iya hati-hati Hit, makasih buat jadi sopir kita," ucap Evril sambil tertawa kecil.

"Siap bos!" Hito mulai mengemudikan mobil kembali menuju ke rumahnya.

Evril dan Kiki berpisah di depan rumah Evril, Kiki berjalan sendiri di malam itu, suasana yang tadinya ramai tiba-tiba berubah menjadi sepi seolah tidak ada kehidupan, hawa dingin menyeruak ke tengkuk Kiki, membuatnya merinding seketika, dia mempercepat langkahnya agar bisa cepat sampai ke rumah.

"Kok jadi merinding gini ya?" tanya Kiki pada dirinya sendiri.

Setelah sampai di depan rumahnya, Kiki segera masuk ke dalam rumah dan menguncinya, kebetulan hari sudah malam, kedua orang tuannya sudah tidur jam segini, untung saja dia membawa kunci duplikat rumah, tanpa mengganggu kedua orang tuanya Kiki bisa masuk ke dalam rumah dengan begitu mudah.

Di dalam rumah sangat gelap, mungkin karena sudah malam kedua orang tuannya mematikan lampu mereka, Kiki berjalan ke arah kamarnya di lantai satu, ingin segera membaringkan tubuhnya yang sangat lelah setelah perjalanan jauh kemarin.

Dia berbaring di atas kasur saat sampai di kamar, namun tiba-tiba suara angin memaksa jendela kamarnya terbuka, dengan rasa takut Kiki mendekati jendela itu, mencoba menutup kembali tirai dan jendelanya, namun sebelum menutupnya Kiki melihat sesosok wanita bergaun merah dengan wajah menyeramkan berdiri di hadapan jendelanya, sontak Kiki berteriak namun suaranya tertahan di kerongkongan saja.

Wanita itu melototkan matanya sampai bola matanya seperti ingin terlepas dari tempatnya, Kiki tak bisa menggerakkan tubuhnya hingga dia jatuh pingsan karena ketakutan.

Evril juga merasakan seseorang mengikutinya saat masuk kedalam rumah, namun dia tak mau menghiraukannya karena rasa lelah yang sudah sangat membuatnya mengantuk berat, dia dengan segera terlelap di atas ranjang, tak memperdulikan bayangan yang memperhatikannya dari tadi.

Di sisi Fero, dia menatap ke arah ranjang, sosok perempuan sedang berbaring di atas ranjang itu, kecantikannya membuat Fero tak bisa menahan lagi untuk tak mendekat dan menyentuhnya.

Wanita itu tersenyum dan menggelayut manja di dada bidang Fero, menyentuh bagian-bagian sensitif milik Fero.

Sesaat kemudian mereka saling menikmati kegiatan malam itu, hingga Fero jatuh pingsan karena kelelahan, wanita itu berubah menjadi sosok yang sama yang di lihat oleh Kiki, kuku panjang jarinya mulai menusuk ke tubuh pria itu untuk mengisap darahnya.

Fero hanya merintih kesakitan tanpa bisa membuka matanya, dia tidak mengetahui apa yang di lakukan sosok wanita di atasnya.

Fero tidak menyadari wanita itu adalah iblis yang siap menjeratnya hingga kematian membayangi Fero.

Sebelum Fero masuk ke dalam kamar, pelayan rumah melihat penampakan wanita yang masuk ke dalam kamar tuannya, dia dengan segera meninggalkan kamar itu karena ketakutan, sosok itu menatapnya seolah ingin membunuh pelayan wanita milik Fero.

Sedangkan kejadian aneh di rasakan Hito saat sampai di depan rumahnya, dia melihat bayangan mengikuti langkahnya dari parkiran mobil hingga ke kamar tidurnya, Hito yang terbiasa menjaga sholatnya tak lupa untuk menunaikan sholat isya saat sampai di rumah, dia melanjutkan dengan berzhikir memohon perlindungan kepada Yang Maha Kuasa.

Bayangan itu mulai menjauh dari Hito, dia tidak mampu menembus kekuatan yang Hito miliki, iblis itu merasa Hito adalah sebuah ancaman untuknya.

Tujuan iblis itu adalah untuk memperdaya semua orang yang mengusik ketenangannya di rumah tua tengah hutan itu, tak ada manusia yang luput dari jeratnya, menguasai hati, pikiran dan juga raga mereka.

Dia menjadikan manusia bonekanya, sedikit demi sedikit dia akan mengisap darah manusia yang di jeratnya hingga kehilangan nyawa mereka secara pelan-pelan.

Hito menatap ke langit malam itu, dadanya sesak merasakan hal-hal aneh yang terjadi pada mereka beberapa hari lalu, serta kehilangan dua teman yang begitu dekat dengannya, entah dimana jasad keduanya sampai saat ini belum bisa di temukan, Hito merasa mereka melakukan kesalahan yang melanggar alam lain, meski belum yakin sepenuhnya Hito akan mencoba mencari bantuan dari guru di pesantrennya dahulu.

Terpopuler

Comments

Nita Pitriani

Nita Pitriani

keren ceritanya

2020-11-03

0

Triana R

Triana R

lanjut

2020-08-22

0

Ria. T

Ria. T

Lanjut tour, semangat. Salam dari novel Adriell

2020-07-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!