Rumah Tua

Fero menatap Evril di sampingnya yang terlihat pucat,begitu pula dengan Kiki wajahnya pun memucat. Di pegang tangan Evril rasanya begitu dingin. Mereka berjalan tanpa tujuan. Hingga di ujung jalan terlihat sebuah rumah tua.

"Fero lihat itu ada rumah?" ucap Hito.

"Mana?" Fero belum melihatnya.

"Itu di ujung jalan, bawa mereka ke sana yuk?" ajak Hito.

"Oh iya itu baru lihat gue, ayolah!" segera Fero dan kawan-kawannya menuju rumah tua itu.

Mereka menatap rumah tua itu, terlihat tak terurus. Rumah dengan arsitektur bangunan jaman penjajahan dahulu.Apa boleh buat mereka mencoba masuk ke rumah itu untuk tidur malam ini.

Hito membuka pintu rumah tua itu,yang tak di kunci. Mereka masuk ke dalam rumah.

"Permisi." Hito mencari-cari barangkali ada penghuninya.

"Halo,ada orang kah di sini?" Fero ikut berbicara.

"Kayaknya kosong ni rumah," ucap Kiki.

"Iya lihat deh banyak barang berantakan juga disini," ucap Evril sambil menyapu ruangan rumah itu dengan ekor matanya.

Braak

Tiba-tiba pintu utama tertutup dengan keras.

Hito berlari menuju pintu itu, menarik gagangnya. Namun tak sedikitpun pintu itu terbuka. Tengkuk Hito seperti ada hembusan nafas,dia berbalik.Tak ada apapun selain ketiga temannya. Hito kembali menghampiri mereka.

"Kok jadi serem gini ya, mana gak ada lampu lagi?" ucap Evril memeluk Fero.

"Tenang sayang jangan panik lo harus tetep deket gue," ucap Fero.

Evril mengangguk dan memegang lengan Fero kuat. Mereka hanya mengandalkan cahaya senter yang Hito bawa.

Krieet krieet.

Tiba-tiba suara kursi berdecit sangat keras. Mereka saling mencari tahu sumber suara. Berjalan beriringan mencarinya. Sebuah kursi rotan tua bergoyang-goyang,seperti ada yang mendudukinya. Namun tak ada siapapun di sana. Suasana menjadi mencekam seketika. Mereka berempat menjauh dari ruang itu.

"Gue takut Hit," ucap Kiki yang ketakutan memegang lengan Hito kuat.

"Kita harus keluar dari sini!" ucap Hito.

Prang

Tiba-tiba sebuah cermin pecah berkeping-keping di depan mereka. Lampu senter pun ikut padam. Suasana menjadi gelap gulita. Hito mencoba mengetuk-ngetuk senter di tangannya. Saat senter bisa menyala Hito mencari ketiga temannya.

"Fero, Kiki, Evril?" panggil Hito

"Kalian di mana?" Hito berputar mencari mereka. Namun tak ada sahutan.

Disisi lain.

Evril tergeletak disalah satu ruang di rumah itu. Matanya memandang langit-langit kamar yang gelap. Hanya ada sinar rembulan yang masuk melalui celah-celah jendela yang mulai rapuh.

"Fero lo dimana?" Evril mencari kekasihnya. Tak ada jawaban.

Evril terbangun,ketiga temannya entah dimana. Evril berjalan keluar dari kamar itu mencoba mencari mereka.

****

"Evril,Kiky,Hito?" panggil Fero. Tak ada siapapun, Fero berjalan ke arah sebuah kamar dengan penerangan lilin.

"Jadi ada yang tinggal di rumah ini." Pikir Fero.

Kreeeett Fero membuka pintu kamar itu agar lebih lebar. Ada sosok wanita bergaun warna merah dengan belahan bagian dada sedikit terbuka. Fero memandang lekat wanita itu, matanya terbelalak.

"Evril," panggil Fero. Wanita itu menoleh dan tersenyum. Namun sejenak berubah menjadi datar.

"Lo ngapain di sini,mana Hito dan Kiky?" tanya Fero.

Wanita itu mendekati Fero,tiba-tiba pintu tertutup begitu saja. Membuat jantung Fero berdetak cepat. Namun Evril tak menjawab sepatah katapun,membuat Fero bingung.

Perlahan-lahan Evril membuka kancing kemeja Fero. Jemarinya mulai menyentuh dada bidang Fero. Membawa Fero dalam hasrat yang luar biasa. Fero membalas perlakuan Evril. Dan terjadilah apa yang seharusnya tak terjadi.

Pagi hari kemudian Fero terbangun dalam keadaan tubuh yang polos tanpa sehelai kain pun. Menatap ke arah sampingnya yang tak ada siapapun di sana. Segera Fero memakai pakaiannya yang berserak di lantai. Berjalan keluar kamar mencari teman-temannya.

Di ruang tengah terlihat Hito, Evril dan Kiki sedang tertidur di lantai. Fero segera membangunkan mereka.

"Hito,Evril,Kiki," panggil Fero sambil mengguncang tubuh ketiga temannya.

"Bangun bangun!" ucap Fero lagi.

Mereka bertiga membuka mata, saling menatap satu sama lain.

"Lo dari mana aja sih Fer?" tanya Hito melihat Fero di depannya.

"Gue di kamar sebelah sana kok sama Evril semalam, kok jadi pindah kesini sih Yang?" Fero beralih menatap Evril.

"Hah lo mimpi ya Fero, semalaman Evril dan Kiki sama gue kok,kita sempat terpisah tapi gue bisa nemuin mereka berdua kecuali lo." Hito menjawab pertanyaan Fero.

Kiki mengangguk membenarkan perkataan Hito.

"Gak mungkin lah gue yakin semalam gue tidur sama evril," ucap Fero.

Mereka saling menatap bingung,bertanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi.

"Terus gue semalem perang sama siapa kalo bukan Evril, gak mungkin kan Hito dan Kiki bohong." Batin Fero bingung.

"Udah gak usah di pikirin dulu, sekarang kita harus keluar dari sini nyari Maudi dan Alfi," ucap Kiki.

"Betul mending kita cari jalan keluar dari sini." Evril menyetujui ide Kiki.

"Yuk!" Hito mulai berjalan dahulu,disusul ketiga temannya. Meski di luar sudah tampak matahari terbit namun di dalam rumah masih terlihat gelap karena kurangnya jendela di rumah tua itu.Mereka menyusuri sudut-sudut rumah itu. Terlihat di bagian belakang rumah sebuah pintu yang terbuka. Dengan segera mereka berempat berlari ke arahnya. Hito,Kiki,Evril berjalan keluar terlebih dahulu, terakhir Fero yang masih menatap ke arah belakangnya. Hatinya masih bertanya-tanya siapa pemilik tubuh yang semalam dia nikmati. Tanpa sengaja Fero melihat bayangan hitam melintas di dekat pintu keluar rumah itu. Membuatnya merinding seketika.

"Fero!" panggil Hito.

Fero menengok ke arah sumber suara.

"Lo kenapa?" Hito bertanya kepada Fero yang terlihat kebingungan.

"Gue gak papa kok," ucap Fero gugup.

Mereka kemudian berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan pepohonan dan semak belukar. Berharap bisa segera menemukan kedua temannya.

"Hito," panggil Kiki.

Hito menoleh ke arah Kiki.

"Kenapa Ki?" tanya Hito.

"Gue kok ngerasa aneh ya kena sinar matahari gini?" ucap Kiki.

"Maksud lo gimana?" tanya Hito bingung.

Evril dan Fero ikut menatap Kiki.

"Gue juga gak tahu rasanya beda aja gak kayak hari-hari biasanya," ucap Kiki.

"Gue juga Ki," ucap Evril.

"Gue kok juga ngerasain ya hal yang sama," ucap Fero.

Membuat Hito dalam mode kebingungan luar biasa.

"Kalian kenapa sih?" ucap Hito menatap ketiganya.

Mereka hanya menaikkan kedua pundaknya.

Tak ada yang bisa menjawab satupun dari mereka.

Hito memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan di susul ketiga temannya di belakangnya.

Dalam perjalanan mereka kembali ke jurang di mana mereka terjatuh. Barangkali Alfi dan Maudi masih di sekitar mereka terlempar kemarin.

Terpopuler

Comments

Ananda Trizna

Ananda Trizna

baru ngikutin alur ..kyaknya seru

2021-06-16

0

Ananda Trizna

Ananda Trizna

baru ngikutin alur ..kyaknya seru

2021-06-16

0

Ananda Trizna

Ananda Trizna

baru ngikutin alur ..kyaknya seru

2021-06-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!