Kiki menengok ke kiri dan ke kanan barangkali Hito berada dekat dengannya, saat melihat ke ujung jalan mata Kiki tertuju ke satu arah yaitu pria yang bernama Hito itu.
Kemudian dia berlari kecil untuk menghampirinya, nafasnya sedikit terengah-engah.
"Hito," panggil Kiki, Hito yang merasa seseorang memanggilnya pun menoleh ke arah sumber suara.
"Kiki?" ucap Hito heran.
"Kenapa ngos-ngosan gitu?" tanyanya lagi melihat wanita itu sedikit mengatur ritme napasnya.
"Gue mau bicara sama lo," ucap Kiki sambil mengatur napas.
"Tentang apa sih kayaknya serius amat?" tanya Hito heran dengan sikap temannya itu.
"Tentang Evril Hit, tapi sebaiknya kita bicara di taman belakang aja gimana?" pinta Kiki kerena merasa tak leluasa berbicara di jalan seperti itu.
"Boleh ayo Ki."
Mereka kemudian berjalan ke arah taman do belakang kampus, keduanya duduk di bawah pohon yang menutupi tubuh mereka dari teriknya matahari siang itu.
"Kenapa sih Ki?" tanya Hito memulai pembicaraan mereka.
"Hit lo lihat ada hal aneh gak sama Evril akhir-akhir ini?" tanya Kiki dengan wajah serius.
"Maksud lo gimana sih Ki?"
"Gini Hit semalam kan gue nginep di rumahnya Evril karena ortu gue gak di rumah jadi gue takut di rumah sendirian, nah saat gue tiba di rumah Evril gue ngerasa ngelihat sosok hantu yang nyeremin banget, dan naasnya gue pingsan seketika hingga esok pagi baru terbangun," jelas Kiki.
"Terus?" tanya Hito penasaran.
"Terus paginya pas gue bangun gue lihat Evril kayak bukan dia yang seperti biasanya, tatapannya menakutkan, dan anehnya dia bilang tidak melihat apa yang kita lihat semalam, padahal jelas-jelas gue ingat semalam bersama dia saat melihat sosok hantu itu," ucap Kiki.
"Jadi maksud lo ada sesuatu yang kemungkinan merasuki tubuh Evril?" Hito mencoba menyimpulkan dari cerita yang di jelaskan Kiki.
"Yup seperti itulah yang gue rasain," Kiki mengiyakan apa yang di ucapkan Hito.
Hito sedikit berpikir hingga dahinya terlihat berkerut, sedangkan Kiki mencoba menerka apa yang sedang di pikirkan pria di sampingnya itu.
"Sebenarnya gue juga ngerasa hal yang sama, kalian terlihat aneh sejak kita mengalami kecelakaan di hutan beberapa hari lalu itu, dan bukan itu saja, akhir-akhir ini seperti ada bayangan yang mengikuti gue," jelas Hito membuat Kiki merinding.
"Jadi kita harus gimana Hit?" tanya Kiki ketakutan kalau-kalau dia di ganggu lagi dengan sosok yang semalam mengganggunya.
"Lo tenang aja, gue akan ke rumah ustad yang menjadi guru gue di pesantren dahulu, siapa tahu beliau bisa membantu kita semua keluar dari masalah ini," ucap Hito menenangkan.
"Gue harap beliau bisa bantu Hit," ucap Kiki pasrah.
"Udah ah, yuk ke kelas dulu, jangan sampai ini mengganggu kuliah kita," ajak Hito sambil berdiri dan melangkah terlebih dahulu, di susul Kiki yang mengekor di belakangnya.
Setidaknya ada rasa lega setelah bercerita pada Hito, meski mereka belum menemukan titik terang dari masalah yang akhir-akhir ini mereka alami.
Hari berikutnya Hito sengaja izin untuk tidak hadir kuliah karena dia berniat ke pesantren menemui ustad Maiz, guru sekaligus orang yang Hito anggap sebagai kakaknya.
Mereka kenal dekat saat Hito belajar agama di pesantren selama tiga tahun, selain berbagi ilmu beliau juga selalu menasihati Hito agar tetap memegang teguh pada agamanya.
Dengan mengemudi mobilnya, Hito mulai menuju ke pesantren yang jaraknya kurang lebih di tempuh dua jam dari tempat kuliahnya sekarang, dengan berbekal tekad yang kuat ingin menolong teman-temannya agar terbebas dari masalah ini.
Dua jam berlalu perjalanan Hito akhirnya sampai di depan gerbang pesantren, dia di sambut oleh penjaga pesantren yang dia kenal dengan baik.
"Apa kabar pak Romi?" tanya Hito pada penjaga pesantren itu.
"Nak Hito ya?" tanya pak Romi terkejut dengan kedatangan Hito yang tiba-tiba.
"Iya pak ini Hito," jawab Hito.
"Ya Alloh lama tidak ketemu bapak pangling nak, alhamdulillah bapak sehat bagaimana dengan kamu di kota?" tanya pak Romi.
"Alhamdulillah pak saya juga sehat, oya ustad Maiz ada kan pak?" tanya Hito.
"Ada nak ayo masuk dulu," ucap pak Romi mempersilahkan Hito masuk ke pesantren, mereka saling mengobrol saat menuju ke ruang ustad Maiz.
"Pesantren ini masih sama seperti dahulu, menenangkan sekali berada di sini," batin Hito sambil melihat sekelilingnya.
Setelah berjalan kurang lebih lima puluh meter mereka sampai di ruang ustad Maiz mengajar.
"Assalamualaikum ustad?" ucap Hito saat melihat ustad Maiz sedang mengajar para santri.
"Waalaikumsalam," jawab ustad Maiz sambil melihat siapa yang memberi salam.
"Hito?" ucapnya heran.
"Iya ustad ini saya," sambil mencium punggung telapak tangan ustad Maiz, Hito mendekat ke arah beliau.
"Ada apa Hit kamu sampai harus menemui ku?"tanya ustad Maiz melihat ada sesuatu yang terjadi pada Hito.
"Bisa kah kita bicara empat mata ustad?" pinta Hito.
"Baiklah, kamu tunggu sebentar ya di mushola," ucap ustad Maiz.
"Baik ustad," Hito pun kemudian keluar dari ruangan itu dan menuju ke mushola pesantren.
Saat di mushola Hito dan ustad Maiz berbincang-bincang tentang kabar mereka masing-masing.
"Jadi apa sebenarnya yang membawamu ke sini Hit?" tanya ustad Maiz seolah mengetahui apa yang terjadi pada Hito.
"Ustad saya akan menceritakan semuanya tentang saya dan teman-teman saya, Hito harap ustad bisa membantu kami," ucap Hito kemudian dia mulai menceritakan semua yang terjadi pada mereka saat melakukan perjalanan ke hutan kemarin.
"Astagfirulloh Hit, apa yang sebenarnya kalian lakukan sampai kalian mengalami itu, sebaiknya kamu segera kembali ke kota melihat teman-temanmu, ustad takut terjadi sesuatu saat kamu ke sini pada mereka."
Ucapan ustad Maiz sukses membuat Hito khawatir.
"Lalu apa yang harus saya lakukan ustad untuk membantu mereka?" tanya Hito dalam kekalutan.
"Tenanglah, saya akan ikut bersamamu untuk melihat keadaan mereka," ucap ustad Maiz membuat Hito sedikit bernapas lega.
"Terima kasih ustad maaf saya harus merepotkan anda kali ini," ucap Hito.
"Sudah lah saya hanya ingin membantu kalian agar keluar dari jeratan iblis itu," jawabnya.
Mereka kemudian bersiap-siap untuk ke kota hari ini juga, karena tidak ingin membuang-buang waktu percuma, dua jam perjalanan mereka telah sampai di kota, Hito membawa ustad Maiz ke rumahnya agar bermalam terlebih dahulu di sana, karena mereka tiba cukup petang di kota.
"Ustad sebaiknya kita istirahat dulu ya, saya tidak mau ustad kelelahan nantinya," ucap Hito sopan.
"Iya Hit kamu tenang saja," balas ustad Maiz.
Mereka kemudian membersihkan diri dan shalat Isya' berjamaah di lanjut dengan dzikir keduanya larut dalam alunan doa yang menenangkan hati dan pikiran mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Nana Khansa Alhusna
semangaattt💪🏻💪🏻💪🏻
2020-11-06
0
HeniNurr (IG_heninurr88)
Lanjut...lanjut...Aq mendukungmu😉😉
2020-08-13
0