Sepanjang perjalanan ke rumah tua Hito hanya terdiam sambil tetap fokus mengemudi, pikirannya melayang mengingat dua temannya tadi.
"Bagaimana nasib ke tiga temanku nanti, jika mereka tidak bisa keluar dari belenggu iblis sialan itu?" pertanyaan itu keluar dari dalam hatinya, entah apa yang akan terjadi jika saja mereka tak bisa keluar dari masalah ini, nyawa mereka menjadi taruhannya.
"Nak Hito," panggilan pak Wikoh membuat Hito terhenyak dari lamunannya.
"Ya pak," jawab Hito.
"Hentikan mobilnya kita sudah mau sampai di depan rumah itu," ucap pak Wikoh sambil menunjuk rumah tua yang terlihat sangat gelap di sisi kanan dan kirinya, tak ada penerangan apapun di sana, Hito memanfaatkan nyala lampu senter yang sudah dia siapkan sebelum mereka ke tempat itu, serta beberapa lilin yang mungkin akan berguna nanti di dalam rumah tua itu.
Pak Wikoh melangkahkan kakinya terlebih dahulu di susul oleh Hito yang sejak turun dari mobil sudah merasakan seluruh bulu kuduknya merinding, entah karena udaranya yang memang sangat dingin malam itu atau sesuatu yang buruk sedang mengikutinya.
"Pak," panggil Hito pada pak Wikoh karena dia sedikit ngeri membayangkan apa yang dulu pernah dia temui di rumah ini, pak Wikoh perlahan membuka pintu depan dari rumah tua itu, suara decitan pintu beradu dengan suara jendela yang tak tertutup sedang terhempas angin membuat suasana semakin mencekam.
"Tenanglah nak, bapak akan melindungimu," ucap pak Wikoh sambil menatap Hito memberi pria itu keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.
Hito hanya mengangguk dan seterusnya memasang kembali kedua matanya untuk menatap ke dalam rumah tua itu, dia mengikuti pak Wikoh ke dalam salah satu ruangan yang dulu pernah Hito dan teman-temannya menemukan lukisan seorang gadis cantik yang tak sengaja terjatuh.
"Lihatlah ini," ucap pak Wikoh sambil membuka sebuah kain yang menutupi sesuatu, terlihat sebuah bingkai yang usang karena debu namun masih utuh di baliknya, Hito terbelalak melihat gambar siapa di bingkai lukisan itu.
"Evril?" tanya Hito heran saat melihat lukisan itu.
"Dia bukan Evril, tapi dia adalah Avril," ucap pak Wikoh.
"Avril siapa maksud bapak?" tanya Hito penasaran dengan sosok yang berada di lukisan itu, namun belum selesai pertanyaan Hito terjawab oleh pak Wikoh tiba-tiba kedua senter mereka berkedap-kedip tak mau menyala dengan baik.
"Pak ada apa ini?" tanya Hito was-was, suasana menjadi sangat gelap ditambah suara-suara aneh yang tiba-tiba muncul begitu saja.
"Tenanglah mereka sepertinya datang untuk menemui kita," ucap pak Wikoh membuat Hito bergidik ngeri.
"Mereka?" tanya Hito lagi namun lagi-lagi dia tak mendapatkan penjelasan yang sesuai logikanya, Hito terpaksa menyalakan lilin yang dia bawa dari tadi, karena dia tidak bisa berjalan dalam keadaan gelap gulita.
Saat lilin itu menyala, Hito dikagetkan dengan sosok perempuan berambut panjang dengan pakaian berwarna merah tengah menatapnya dan pak Wikoh.
Hito memundurkan langkahnya dia melihat ke arah pak Wikoh yang entah sejak kapan duduk bersila dengan mengucapkan beberapa mantra yang Hito tak mengetahui apa itu.
Tiba-tiba sosok wanita itu semakin mendekat ke arah mereka berdua, pak Wikoh bangun dari duduknya dan mengeluarkan sebilah keris yang telah di jampi-jampi, dia mengarahkan keris itu ke arah iblis tadi.
"Enyahlah kau malam ini!" teriak pak sambil mengarahkan keris saktinya, hantu itu tak sedikitpun ketakutan dengan aksi pak Wikoh namun hal buruk malah terjadi pada pak Wikoh, keris yang seharusnya mengenai hantu itu berbalik arah melawannya sendiri, membuat perut pak Wikoh terkoyak begitu saja, Hito gemetar ketakutan dengan apa yang dia lihat barusan.
"Hahaha dasar tua bangka, mau melawanku, matilah kamu!" ucap sosok iblis itu sambil mencekik leher pak Wikoh dengan kuku jari-jarinya yang tajam, pak Wikoh tak lagi bernyawa tubuhnya telah jatuh lunglai di lantai rumah tua itu, Hito ketakutan setengah mati, tatapan iblis itu sangat menakutkan dari kedua matanya memancarkan warna merah menyala dengan gigi-gigi bertaringnya, perlahan iblis itu mendekati tubuh Hito yang mendadak membatu di tempat, dia tak bisa menggerakkan kakinya untuk segera melangkah pergi dari rumah tua itu.
"Aaarghh kenapa aku tidak bisa mendekatimu!" teriak iblis itu kesal karena lagi-lagi tak bisa membunuh Hito, namun dia masih bisa mengendalikan tubuh itu dengan melemparkan kursi yang berada di dekat Hito agar melukai pria itu.
Braaak! tepat mengenai tubuh Hito sebuah kursi yang melayang secara tiba-tiba menyerang ke arah Hito, semua itu iblis yang melakukannya, darah bercucuran di lengan Hito, dia meringis kesakitan.
"Evril sadarlah ini gue Hito," ucap Hito yang mengira iblis itu menggunakan tubuh Evril, karena memang wajahnya bagai pinang dibelah dua.
"Hahahaha Evril? aku bukan lah wanita lemah itu," ucap sosok iblis itu sambil tertawa riang, kemudian matanya menatap dengan penuh kebencian pada Hito.
"Kamu harus mati sekarang!" teriak iblis itu sambil mendekati Hito, susah payah Hito menggerakkan tubuhnya, mencoba menyeret kakinya ke arah pintu keluar, sosok iblis itu semakin mendekati Hito dan mengarahkan kuku tangannya yang panjang ke arah pria itu.
Sejenak Hito membeku dengan apa yang terjadi padanya, seberkas cahaya bersinar dengan terang membuat sosok iblis itu dengan segera menjauh dari tubuhnya, namun setelah itu Hito tak mengingat apapun lagi, semua menjadi gelap.
*****
"Ahh sakit," ucap Hito sambil memegang kepalanya saat menyadari dia sudah tidak berada di rumah tua tadi, pandangannya mengedar ke segala sudut kamar yang sama sekali tak dia kenali.
"Dimana ini?" tanyanya pada diri sendiri, tiba-tiba pintu kamar terbuka seseorang mendorongnya dari luar menampakkan sosok yang Hito kenal.
"Pak Kamsi?" ucap Hito tak percaya bisa berada di rumah pak Kamsi.
"Iya nak ini saya pak Kamsi, bagaimana keadaanmu?" tanyanya.
"Saya merasa sedikit pusing pak? bagaimana saya bisa berada di rumah ini?" tanya Hito kebingungan, yang dia ingat semalam dia berada di rumah tua angker itu bersama dengan sosok yang mirip dengan Evril.
"Bapak yang membawa kamu ke sini nak, setelah bapak tidak sengaja menemukanmu di depan rumah tua itu dengan luka penuh darah di bagian lenganmu, apa yabg sedang terjadi sebenarnya nak?" tanya pak Kamsi sambil membantu Hito bersandar pada ranjang.
"Saya ingin membantu teman-teman saya keluar dari jerat iblis itu pak, tapi malah orang yang saya bawa mati di tangan iblis itu," ucap Hito dengan sedih mengingat kembali keadaan teman-temannya saat ini.
"Bapak mengerti tapi sebaiknya kamu memikirkan dirimu sendiri, teman-temanmu sudah di bawah kendalinya," ucap pak Kamsi sambil memandang jauh ke depan, entah apa yang di pikirkan oleh pria paruh baya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments