Kembali ke Rumah Tua

Hito menatap lekat pria paruh baya yang berada di depannya itu, sayup-sayup wajahnya tidak asing baginya, pria yang menyebut dirinya pak Wikoh itu juga menatap ke arah Hito dengan tatapan yang Hito tak bisa artikan.

"Kenapa kamu menatapku begitu?" tanya pak Wikoh sedikit risih dengan pria yang berada di depannya.

"Maaf pak saya merasa pernah melihat wajah bapak sebelumnya, tapi entah dimana," ucap Hito.

"Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya, kita baru bertemu di penginapan tadi," jawab pak Wikoh.

Hito hanya terdiam mendengarkannya kemudian mencoba mendudukkan tubuhnya sambil menyandarkan punggungnya, namun geraknya terhenti saat merasakan sakit pada tulang rusuknya, hempasan yang di lakukan oleh Evril membuat luka di tubuh Hito.

"Apa wanita itu temanmu?" tanya pak Wikoh sambil membantu Hito untuk bersandar.

"Iya pak dia adalah temanku," ucap Hito.

"Lalu kenapa iblis itu merasukinya?"

"Ceritanya panjang pak, kami pernah berada di sebuah rumah tua yang angker di dalam hutan, sejak saat itu kejadian-kejadian aneh sering kami alami, hingga kami sekarang saling terpisah," ucap Hito dengan perasaan yang tak karuan dia rasakan saat ini.

"Aku akan membantumu," ucap pak Wikoh pada Hito.

Pria itu menatap Hito dengan serius, entah tujuan apa pak Wikoh mau membantunya, Hito tak tahu namun saat ini dia memang membutuhkan bantuan, bisa atau tidaknya pak Wikoh Hito pun tak tahu.

"Terima kasih pak," ucap Hito sopan, pak Wikoh tersenyum.

****

Seminggu kemudian Hito sudah boleh pulang dari rumah sakit, saat di dalam rumah Hito tak menemukan siapapun yang berada di sana, dia berfikir mungkin keluarganya masih belum kembali dari luar negeri saat ini, sambil merebahkan dirinya di atas ranjang Hito memandang langit-langit kamar yang perlahan menjadi gelap karena hari semakin petang.

Hito beranjak dari ranjangnya untuk menghidupkan saklar lampu kamarnya, dengan sedikit sempoyongan dia berjalan ke arah dimana saklar lampunya berada, sebelum benar-benar sampai Hito tak sengaja melihat seberkas bayangan hitam melewati jendela kamarnya, dengan cepat dia menekan saklar lampu agar segera menyala.

"Siapa itu?" ucap Hito tanpa ada yang menjawabnya, dia memberanikan diri untuk mendekati jendela dan membukanya, dia menengok ke kanan dan kiri, tak ada siapapun di sana, tiba-tiba tengkuk Hito menjadi hangat seperti ada sesuatu yang menghembuskan nafas di belakang Hito.

Krieet krieet

Suara jendela kembali terbuka perlahan sesaat setelah Hito menutup dan menguncinya, Hito kembali menutup jendela itu namun tiba-tiba angin berhembus dengan kencang membuat jendelanya semakin lebar terbuka, Hito dengan gugup menarik jendela agar bisa di tutup kembali, sosok wanita dengan baju merah dan rambut tergerai menampakkan dirinya di depan Hito, dengan kedua mata yang melotot hampir keluar dari tempatnya serta kuku-kuku tangannya yang berlumuran darah.

Hito terlonjak dari tempatnya berdiri saat ini, jantungnya berdegup kencang saking ketakutannya, dia ingin berteriak namun kerongkongannya seperti ada sesuatu yang menahan suaranya agar tak keluar, perlahan dia memundurkan kakinya yang tiba-tiba seperti membeku.

"Kamu harus mati!" ucap sosok hantu itu, Hito sangat ketakutan hingga hatinya mengatakan harus mengingat penciptanya, dia kemudian membacakan ayat kursi dan beberapa surat yang pernah diajarkan oleh ustad Maiz untuk menjauhkan makhluk tak kasat mata itu darinya.

Sosok itu perlahan menjauh dari pandangan Hito dan akhirnya hilang tak terlihat, begitu pula tubuh Hito yang tiba-tiba dengan mudah bisa di gerakkan kembali, dia buru-buru menutup jendela kamarnya dan menutup tirai agar sosok itu tak kembali mengganggunya.

Hito menghela napas lega dia kemudian menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dengan segera dia harus menunaikan shalat magrib yang waktunya tinggal beberapa menit telah habis.

****

Keesokan harinya Hito tak lagi ke kampus, dia mengambil cuti dua bulan untuk menyelesaikan masalahnya dan juga untuk mencari teman-teman Hito yang entah kemana saat ini.

Jam menunjukan pukul sembilan pagi suara bel rumah berbunyi, Hito segera menuju ke depan untuk membuka pintu rumahnya, saat pintu terbuka Hito menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat.

"Pak Wikoh?" ucap Hito heran kenapa bapak itu bisa mengetahui rumahnya.

"Nak Hito boleh bapak masuk?" tanyanya.

"Silahkan pak," ucap Hito mempersilahkannya masuk ke dalam rumah.

Mereka kini sedang duduk di sofa ruang tamu, sebelumnya Hito telah membuat jus jeruk untuk mereka.

"Silahkan pak di minum," ucap Hito sopan.

"Terima kasih nak Hito, saya langsung saja pada hal yang ingin saya sampaikan," ucap pak Wikoh tanpa basa-basi.

"Tentang apa ya pak?" tanya Hito hati-hati.

Pak Wikoh menatap ke dalam kedua kornea mata Hito dengan tatapan yang Hito tak mengerti, dia seperti terbius pada tatapan yang pak Wikoh lakukan.

"Kita harus kembali ke rumah tua itu, jika kamu mau teman-temanmu selamat," ucapnya yang membuat Hito sedikit terperanjat, namun entah kenapa lidahnya sangat ingin mengiyakannya.

"Ba-baik pak Wikoh, kapan kita ke sana?" kata-kata itu muncul begitu saja dari mulut Hito tanpa bisa terkendali oleh pemiliknya.

Pak Wikoh tersenyum, satu langkah lagi dia bisa menangkap iblis sialan itu melalui Hito, entah apa yang di rencanakan pria tua itu, Hito tidak bisa membaca apa yang di inginkan pak Wikoh dengan kembali ke rumah tua yang telah membawa petaka baginya dan juga kelima teman Hito.

****

Siang itu juga pak Wikoh mengajak Hito ke rumah tua yang angker di tengah hutan itu, mereka mengemudi menggunakan mobil milik Hito namun anehnya kali ini waktu terasa begitu cepat bukan seperti saat pertama mereka ke sana dahulu.

Pak Wikoh menatap ke arah wajah Hito yang terlihat bingung dengan sesuatu.

"Ada apa?" tanya pak Wikoh.

"Saya merasa aneh saja pak, perjalanannya lebih cepat dari yang pertama saya kemari," balas Hito.

"Tentu saja karena saya membatalkan sihir pelena iblis itu agar kamu fokus mengemudi tanpa dia bisa mengganggu," ucap pak Wikoh.

Entah benar atau salah ucapan pak Wikoh Hito mengiyakan saja, walau sebenarnya hatinya belum mempercayai pria tua itu sepenuhnya.

Perjalanan yang hanya di tempuh tiga jam itu akhirnya sampai juga di ujung hutan sebelum masuk ke dalam rumah angker itu, tempat dimana mereka dahulu mengalami kecelakaan, seperti bisa membaca pikiran Hito pak Wikoh kembali mengeluarkan suaranya.

"Apa kamu masih penasaran dengan keadaan dua temanmu yang tidak ketemu sampai saat ini setelah kecelakaan itu?" tanyanya.

Hito kembali terperanjat tak percaya lagi-lagi pak Wikoh bisa mengerti apa yang dia pikirkan.

Terpopuler

Comments

Nana Khansa Alhusna

Nana Khansa Alhusna

semangaaattt💪🏻💪🏻

2020-11-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!