Harus Kembali

Fajar mulai berubah menjadi sinar menyilaukan di pagi hari, Hito dan ketiga temannya kini berada di meja makan keluarga pak Kamsi, ketiganya telah di jamu dengan makanan khas pedesaan yang enak di lidah.

Mereka sangat berterima kasih atas bantuan keluarga pak Kamsi kepada mereka, entah bagaimana caranya mereka tadi malam jika tak bisa keluar dari rumah tua angker itu.

Usai sarapan keempatnya bercengkrama dengan pak Kamsi, yang duduk di ruang tamu, setelah semalam berada di rumah pak Kamsi mereka tahu bahwa kedua anak beliau ternyata kuliah di Jakarta.

"Bagaimana kalian bisa tersesat di hutan itu nak?" tanya pak Kamsi memulai percakapan.

"Sebenarnya kita sedang melakukan perjalanan dengan mobil pak, namun di tengah perjalanan kita merasakan keanehan," jelas Fero.

"Keanehan apa maksud nak Fero?" tanya pak Kamsi penasaran.

"Kita merasakan perjalanan yang begitu lambat pak, sedangkan kecepatan mobil kita sudah maksimal," jelas Fero lagi.

"Dan kita seperti di hipnotis kecuali saya, akhirnya kami mengalami kecelakaan, mobil yang kita kendarai masuk ke jurang," Hito ikut berbicara.

"Hingga akhirnya kita berempat tersadar sedangkan kedua teman kita entah kemana, sampai sekarang kita belum bisa menemukan mereka pak," ucap Evril.

"Dan kalian akhirnya tersesat di hutan itu?" tebak pak Kamsi, mereka berempat mengangguk.

"Sebenarnya kita sempat tidur semalam di rumah tua tengah hutan pak," ucap Kiki, wajah pak Kamsi membeku, matanya menatap dalam ke arah mereka berempat.

Hito dan ketiga kawannya saling menatap satu sama lainnya, bertanya dalam hati apa yang di pikirkan pak Kamsi.

"Sepertinya akan sulit buat kalian keluar dari belenggunya," ucap pak Kamsi menghela napas panjang.

"Maksud bapak?" tanya Hito.

"Kalian tau rumah tua yang kalian singgahi itu, jika siapa saja masuk dan tinggal di sana meskipun hanya semalam, penghuni rumah tua itu akan menjerat kalian hingga kematian menjemput raga pemiliknya," jelas pak Kamsi.

Mereka berempat sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar barusan, kenapa bisa hanya sebuah rumah dapat mengambil nyawa mereka.

"Apa maksudnya pak? apakah pernah terjadi pembunuhan di rumah itu?" tanya Fero.

"Bapak juga kurang tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu, tapi kalian harus segera pergi dari sini, kembalilah ke kota agar nyawa kalian tak terancam," ucap pak Kamsi.

Keempatnya dalam kebingungan, bagaimana mereka kembali ke kota sedangkan kedua teman mereka belum di temukan.

"Tapi kita belum menemukan kedua teman kita pak, mana mungkin kita kembali tanpa mereka?" tanya Evril.

"Mereka tidak akan kembali, karena mereka masuk ke dunia yang berbeda saat kecelakaan itu terjadi," ucap pak Kamsi membuat keempatnya tak percaya.

"Dunia lain?", tanya Kiki heran.

"Maksud bapak mereka sudah meninggal?" tanya Hito.

"Bapak belum tahu pasti mereka meninggal atau belum, tapi sepengetahuan bapak jika ada mobil yang masuk ke jurang di dalam hutan itu tak akan kembali lagi ke dunia ini, tapi kenapa kalian berpisah dari kedua temanmu, itu yang bapak bingungkan."

Pak Kamsi terlihat sangat gelisah memikirkan mereka berempat.

"Cepat kalian bersiap-siap saya akan antarkan kalian ke terminal untuk kembali ke kota siang ini," pinta pak Kamsi.

Mau tidak mau keempatnya mengangguk, mungkin ini juga demi kebaikan mereka berempat.

"Baik pak, kita berterima kasih sekali atas semua kebaikan bapak sekeluarga kepada kami," ucap tulus Hito.

"Iya nak, ayo kita berangkat perjalanan ke terminal lumayan jauh, bapak sudah menyewa angkot untuk membawa kalian ke sana, satu pesan buat kalian setelah naik bis nanti kalian tidak boleh menengok ke belakang apapun yang terjadi."

Saat mengucapkan itu pak Kamsi begitu tegas, sepertinya ada hal yang dia sembunyikan dari keempat anak muda itu, namun tak urung keempatnya hanya diam tidak berani menanyakan alasannya.

Angkot yang pak Kamsi pesan telah tiba, mereka berempat kemudian masuk ke dalam angkot di ikuti pak Kamsi, hingga angkot itu melaju di jalanan desa yang belum teraspal itu, jalanan yang hanya di lapisi bebatuan sesekali membuat angkotnya harus ekstra hati-hati karena ban selip, licinnya batu jalanan di tambah tanah yang basah setelah hujan semalam membuat perjalanan itu sedikit lebih lama dari pada waktu yang biasanya di lalui pak Kamsi jika mengantar kedua anaknya ke kota.

Butuh tiga jam perjalanan ke terminal agar mereka bisa kembali ke kota, pak Kamsi meminta keempatnya turun dari angkot dan mengantarkan mereka naik ke bis jurusan ke kota, setelah beliau membelikan tiket bis untuk mereka.

"Ini dari ibu, terimalah," ucap pak Kamsi sambil menyerahkan bungkusan makanan kepada mereka dari istrinya, Hito menerimanya dengan senang hati.

"Terima kasih banyak pak, entah bagaimana kami membalas budi baik bapak ini," ucap Hito mewakili teman-temannya.

"Sudah-sudah semoga semuanya baik-baik saja, ingat pesan bapak tadi jangan sekali-kali kalian melihat ke belakang ya!" pesan pak Kamsi kepada mereka.

"Baik pak, kami pamit ya pak," ucap Fero kemudian mereka saling bersalaman dengan pak Kamsi dan menaiki bis mereka.

Sesuai dengan perintah pak Kamsi mereka tidak berani menengok ke belakang sama sekali, dalam perjalanan mereka hanya tidur di kursi masing-masing.

Fero yang masih terjaga merasa keanehan pada pak Kamsi, kenapa hanya menengok ke belakang saja tak boleh, tanpa sepengetahuan ketiga temannya Fero melanggar pantangan pak Kamsi, dia menengok ke belakang, alangkah terkejutnya dia saat melihat hamparan sungai yang mereka lalui dengan bis ini.

Rasa tak percaya memberontak di hatinya, namun tiba-tiba bulu kuduknya merinding, saat di bis kebetulan Fero sedang duduk sendiri sedangkan Hito di depannya bersama kedua teman mereka.

Tiba-tiba datang seorang perempuan duduk di kursi samping Fero, mata Fero tak bisa berhenti menatap wanita cantik dengan tubuh yang sangat mempesona, membuat sesuatu di bawah milik Fero menegang tak kala melihat pemandangan menggiurkan itu, bagian depan wanita itu sedikit terbuka dengan belahan rok setinggi 20cm di atas lututnya.

Seolah terhipnotis oleh pesona perempuan itu, Fero merasa bahwa hanya ada mereka berdua di dalam bis itu, perempuan itu menatap ke arah Fero, tangannya bergerilya di paha milik pria itu.

Fero yang sangat tergoda tak mempermasalahkan perlakuan perempuan itu dia malah menikmati setiap sentuhannya, hingga bibir perempuan itu menyatu dengan bibir Fero, seolah mereka berada di dalam ruang kosong dengan ranjang yang empuk, Fero kehilangan kendalinya, perempuan itu membawa kenikmatan kepada Fero.

Tanpa Fero sadari dia masuk dalam belenggu iblis rumah tua yang mengincarnya, hanya kenikmatan yang dia rasakan saat ini namun dia tak memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya.

Terpopuler

Comments

Nana Khansa Alhusna

Nana Khansa Alhusna

semangaattt

2020-11-06

0

Triana R

Triana R

semangat kak

2020-08-22

0

HeniNurr (IG_heninurr88)

HeniNurr (IG_heninurr88)

Lanjut...lanjut lagi thor...😄😄

2020-07-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!