Koma

Sayup-sayup terdengar sebuah keributan peralatan medis yang sedang saling beradu, rasa sakit pada kepalanya hilang sejenak karena efek pembiusan, Hito tersadar beberapa jam kemudian namun kali ini dia melihat sosok tubuhnya berada di atas ranjang dengan peralatan medis di beberapa tubuhnya.

"Kenapa gue bisa ngelihat tubuh gue sendiri? apa gue udah mati?" tanya Hito pada diri sendiri namun tak ada jawaban, kini raga dan roh Hito terpisah, jarak kematian yang memisahkannya.

Roh milih Hito berdiri di samping raganya, berharap bisa masuk ke dalam raga itu kembali, ya kini Hito mengalami koma, karena beberapa syaraf otaknya rusak setelah kecelakaan tadi malam.

Namun dia tidak bisa kembali ke raga itu saat ini, entah harus bagaimana lagi Hito tampak frustasi berdiri di samping raganya.

"Kenapa harus begini?" keluh kesah Hito.

Tiba-tiba sosok iblis yang menyerupai Evril datang di hadapan roh Hito dengan senyum kemenangan, Hito menatap benci pada iblis itu.

"Apa maumu!" teriak Hito.

"Hahaha aku ingin kamu mati!" balas si iblis sambil mendekati raga Hito, dia berusaha mencekik raga yang sedang terbaring di ranjang itu, sedangkan roh Hito dengan cepat mencoba menghentikan iblis itu dengan mendorongnya menjauh dari raga milik Hito.

"Jangan coba-coba menyentuh ragaku! teriak Hito, namun iblis itu malah tertawa terbahak-bahak.

"Percuma kamu melindungi ragamu, bahkan rohmu pun tidak akan bisa lagi masuk ke dalamnya," ucap iblis itu, dia kemudian menyerang roh Hito dengan kuku-kuku jari tangannya yang tajam. Membuat roh Hito harus menahan kekuatan itu hingga rohnya terhempas jauh ke luar ruangan.

Si iblis itu berusaha untuk mendekati raga Hito kembali, namun sia-sia tubuh itu seperti punya pelindung meski rohnya tak berada di dekatnya.

"Ah manusia rendahan, lebih baik aku mencari tumbal lagi," ucap si iblis kemudian berlalu meninggalkan raga Hito.

Di sisi lain roh Hito yang terhempas jauh tadi tak sengaja masuk ke dalam ruangan pasien lain, terlihat seorang gadis sedang tidur di atas ranjang ruangan itu, dengan selang infus di tangannya, Hito menatap ke arah gadis itu.

"Gadis yang cantik," batin Hito saat dia berada di samping gadis itu, namun tiba-tiba kedua mata gadis itu terbuka lebar dan seketika menjerit saat mengetahui keberadaan Hito.

"Aaarghh! kamu siapa?" tanya si gadis terkejut dengan kedatangan Hito yang tiba-tiba berada di sampingnya.

"Gue Hito," ucap Hito.

"Eh tunggu kok kamu bisa lihat gue?" tanya Hito menyadari bahwa saat ini dia tidak bersama dengan raganya.

"Ka-kamu hantu?" tanya gadis itu tergagap karena ketakutan, dia kemudian duduk dan menjauhkan tubuhnya dari Hito.

"Hei jangan takut, sebenarnya gue bukan hantu, hanya saja raga gue sedang koma, dan gue belum bisa masuk ke dalam raga itu," jelas Hito dengan wajah tampak sedihnya.

Gadis itu menatap iba pada Hito, ya dia terbiasa bertemu dengan keanehan-keanehan seperti itu sejak kecelakaan dua hari yang lalu, seperti anugrah atau entah musibah, banyak hantu yang bisa dia lihat, meski itu sangat mengganggunya namun gadis itu tidak bisa menolak kemampuannya itu.

" Sudahlah kamu jangan sedih, mungkin kamu belum sekarang kembali ke ragamu," ucap gadis itu menenangkan roh Hito.

Hito tersenyum, setidaknya ada orang yang bisa melihatnya saat ini, meski gadis itu terlihat lemah.

"Oh iya siapa namamu? dan kenapa kamu bisa melihatku?" tanya Hito.

"Gue Riku, em masalah gue bisa lihat hantu itu juga belum bisa gue jelasin, yang jelas semuanya begitu saja terjadi," jelas gadis yang bernama Riku itu, Hito mengangguk paham, yang terpenting baginya sekarang adalah ada orang yang bisa berkomunikasi dengannya.

*****

Di tempat lain Evril sedang menatap dirinya sendiri di depan cermin besar, pikirannya ke beberapa hal yang dia tak bisa mengerti, kenapa setiap kali dia terbangun tangan dan bajunya penuh dengan darah, serta sosok yang sering datang setiap malam seperti mimpi yang nyata baginya, sosok perempuan yang mirip dengannya itu seolah ingin mengatakan sesuatu yang sangat rahasia.

"Apa yang sebenarnya terjadi kenapa jadi seperti ini?" ucap Evril menatap kedua tangannya yang masih berlumuran dengan darah.

Evril pada dasarnya hanya di manfaatkan oleh iblis wanita yang merupakan saudara kembarnya yang bernama Avril, iblis yang bersekutu sebelumnya dengan iblis yang lebih kuat dari Avril, sebenarnya hati Evril menolak melakukan pembunuhan terhadap beberapa lelaki yang telah mendekatinya, namun tubuhnya tak bisa menolak apa yang di lakukan Avril.

"Avril sadarlah aku ini saudara kembarmu, kita satu darah kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Evril sambil menatap ke arah cermin di kamarnya.

"Hahaha aku ingin kamu membalaskan dendamku terlebih dahulu kepada ayah kita dan kedua orang yang telah memperkosaku," ucap Avril yang berada di dalam tubuh Evril.

"Tapi dimana mereka? aku bahkan tidak tahu wajah mereka?" ucap Evril kembali.

"Aku akan membawamu ke sana tapi kamu tidak boleh melawanku, jika kamu masih mau hidup?" ucap Avril memperingatkan Evril agar tidak membangkang padanya.

Evril seperti terhipnotis dengan ucapan Avril, dia mengangguk dan menerima apa yang mereka sepakati bersama.

Bagaimana dengan Fero sekarang?

Dia berada di sebuah tebing di pinggiran pantai dekat dengan villa yang keluarganya miliki, entah apa yang membawanya ke sana namun tanpa sadar dia menjatuhkan dirinya sampai dasar tebing itu, membuat tubuhnya menghantam batu karang yang berada di dasar tebing, dengan luka di bagian punggung dan kepalanya, Fero menghembuskan nafas terakhirnya.

Semua itu merupakan perbuatan iblis yang merasuki Fero, iblis itu merasa Fero tak lagi berarti untuk menjadi pengabdinya.

"Hahaha dasar manusia lemah, mendapatkan tumbal perawan saja kesulitan, lebih baik kamu mati menjadi tumbalku saja," ucap iblis itu sambil tertawa menatap tubuh Fero yang telah menyemburkan darah segar dari luka yang di alaminya.

Suasana malam itu menjadi sangat hening, apalagi di pinggiran tebing itu tidak ada siapapun selain Fero, arwahnya menjadi tidak tenang Fero menatap ke raganya yang hancur akibat perbuatan si iblis jahanam itu.

Hingga pagi menjelang, pelayan villa di dekat tebing itu menjerit ketakutan melihat jasad Fero yang begitu mengenaskan, dia segera melapor ke polisi agar segera di evakuasi.

"Ya Alloh den Fero kenapa bisa seperti ini? bibi gak tahu ada masalah apa sampai den Fero berbuat nekat seperti ini, bagaimana dengan tuan besar nanti," ucap bibi Eli penjaga villa milik Fero itu.

Hingga menjelang siang evakuasi baru selesai di lakukan, sulitnya medan membuat para polisi sedikit terhambat. Dari hasil yang di dapat di tempat kejadian perkara polisi menemukan keanehan yang terjadi, namun segera mereka membawa jasad Fero ke rumah sakit untuk di autopsi.

Roh Fero selalu mengikuti kemana jasadnya di bawa, dia hanya terdiam di samping jasad itu, dengan wajah yang memucat pada bagian kepalanya mengeluarkan darah serta bagian otaknya setengah terlihat karena tempurung kepalanya pecah, bau anyir menyeruak masuk di hidung para pembawa jenasah tersebut.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!