Mereka berempat saling berdiri berdekatan,hawa rumah itu semakin mencekam. Hito memeluk Kiki,begitu pula dengan Fero yang memeluk Evril.
"Apa lebih baik kita keluar dari sini?" tanya Fero pada teman-temannya.
"Tapi di luar hujan Fer, kita gak mungkin melakukan perjalanan di malam yang hujan seperti ini," ucap Kiki.
"Tapi kalau kita masih tetap di sini yang ada kita bisa mati berdiri!" Evril sedikit ketakutan dengan ucapannya sendiri begitu pula ketiga temannya.
"Ayo kita keluar!" Hito menyetujui usulan Fero.
Namun baru beberapa langkah mereka menuju pintu utama,tiba-tiba semua pintu dan jendela tertutup rapat dengan sendirinya. Seolah tidak mengizinkan mereka untuk keluar dari rumah itu.
"Kok semua tertutup?" Kiki merinding dengan apa yang mereka alami sekarang.
Tiba-tiba sosok bayangan muncul di depan mereka, membuat mereka bergidik ngeri. Pasalnya bayangan itu hanya sekilas datang lalu pergi begitu saja.
"Heh lo siapa kalo berani keluar jangan nakutin kami seperti ini!" teriak Fero.
"Apaan sih lo Fer, ngomong kayak gitu?" protes Kiki.
Tiba-tiba tubuh Kiki menegang, tatapan matanya tertuju ke arah Fero, warna matanya tak lagi seperti biasanya.
"Ki lo kenapa?" tanya Evril melihat perubahan wajah temannya itu serta tatapannya seperti bukan lagi dirinya.
Fero dan Hito juga merasakan keanehan pada Kiki yang tiba-tiba menatap tajam ke arah mereka.
"Sepertinya dia kesurupan deh, kalian harus hati-hati," ucap Hito.
"Terus gimana dong Hit?" tanya Evril bingung.
"Gue akan coba membacakan beberapa surat pengusir hantu, semoga dia bisa selamat," ucap Hito yang mulai melantunkan doa-doa yang telah dia pelajari saat di pesantren dahulu.
Kiki yang telah di kuasai oleh makhluk tak kasat mata itu mencoba menyerang Fero yang berada di belakang Hito, namun dengan cepat Hito mengusap wajah Kiki dengan telapak tangannya yang sudah dia lafadkan doa sebelumnya.
Tubuh Kiki melemas seketika, sepertinya makhluk tak kasat mata itu belum sepenuhnya menguasai tubuh gadis itu.
"Kiki pingsan Hit," ucap Evril sambil memegang kepala Kiki.
"Bantu gue membopong tubuhnya ke kursi itu dong," pinta Evril.
Kemudian Hito dan Fero memindahkan tubuh Kiki ke atas kursi panjang yang sudah tua.
"Kita harus bisa keluar dari sini Hit," ucap Fero.
"Kita coba cari bantuan sekitar sini, barangkali ada rumah penduduk yang bisa kita minta tolongin," ucap Evril di angguki oleh Hito.
"Sepertinya hujannya sudah reda, coba kita cari pintu keluarnya," Fero mencoba menarik pintu utama namun tak ada yang bergerak sama sekali.
Melihat Fero yang kelelahan membuka pintu itu, Hito beranjak membantunya.
"Biar gue coba Fer," ucap Hito.
Fero meminggirkan tubuhnya, membiarkan Hito mencoba membuka pintu itu.
"Dengan izin-Mu aku berpasrah ya Robb," ucap Hito lirih sambil memegang handle pintu.
Dengan sekali tarik pintu itu terbuka dengan mudahnya, membuat Fero menganga tak percaya dengan apa yang dia lihat kali ini.
"Cepat kita keluar dari sini!" ajak Hito sambil menggendong tubuh Kiki yang masih belum sadarkan diri.
Di kegelapan malam mereka berjalan menyusuri hutan itu, hingga mereka menemukan perkampungan tak jauh dari mereka berjalan, lampu-lampu yang menyala dari beberapa rumah di ujung sana.
"Lihat ada perkampungan, kita langsung ke sana aja!" ajak Hito yang dianggukki oleh kedua temannya.
Mereka berjalan menuju sebuah rumah yang terlihat paking terang diantara yang lainnya.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum pak," ucap Hito sambil mengetuk pintu, lengan yang satunya menggendong Kiki di pundaknya sudah mulai merasa pegal.
Seseorang bapak separuh baya membuka pintu rumah itu, dengan menggunakan peci dan sarung membalut pinggangnya.
"Waalaikum salam ada yang perlu di bantu nak?" tanya bapak itu ramah.
"Maaf pak kami tersesat di hutan sana, dan sekarang teman kami sedang pingsan, kalau lah boleh kami numpang menginap semalam di rumah bapak ini," pinta Hito hati-hati.
"Oh silahkan masuk dulu, temannya baringkan di kursi rotan itu dulu," bapak itu mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya.
"Terima kasih pak, oya nama bapak siapa ya?" tanya Fero.
"Saya pak Kamsi ketua Rt perkampungan ini, kalian siapa namanya?" tanya pak Kamsi pada mereka.
"Saya Fero pak, ini Evril , Hito dan yang pingsan itu Kiki," ucap Fero memperkenalkan diri mereka.
"Coba kalian beri minyak angin ini pada teman kalian yang bernama Kiki itu," pinta pak Kamsi sambil menyerahkan minyak kayu putih kepada Hito.
"Terima kasih pak," ucapnya.
"Bu ibu!" pak Kamsi memanggil istrinya.
Seorang ibu berjilbab keluar dari kamarnya, sepertinya mereka hendak tidur namun terganggu dengan kedatangan mereka.
"Iya pak ada apa?" tanya ibu itu sambil mengucek kedua matanya yang sepertinya sudah tertidur sebelum mereka datang.
"Tolong buatkan mereka teh ya bu, mereka tersesat di hutan itu," pinta pak Kamsi.
"Baik pak," istri pak Kamsi kemudian melaju ke arah dapur dan membuatkan teh untuk mereka.
"Kalian sebenarnya dari mana?" tanya pak Kamsi melihat mereka satu persatu yang sudah duduk di kursi ruang tamu.
Rumah pak Kamsi tidak terlalu besar, namun karena terawat membuat rumah itu terasa nyaman saat melihatnya.
"Kami dari kota pak, kebetulan kami tersesat saat perjalanan kami," jelas Evril yang sedari tadi terdiam.
"Dan kami juga sedang mencari dua teman kami yang lain pak, mereka terpisah dengan kami," ucap Fero kali ini.
Istri pak Kamsi membawa teh untuk mereka.
"Silahkan kalian minum dulu tehnya nak," ucap bu Kamsi ramah.
"Iya bu terima kasih sekali lagi, maaf kami merepotkan kalian malam-malam begini," ucap Hito sungkan.
"Sudah tidak usah sungkan begitu, kami juga ingin membantu sesama yang membutuhkan pertolongan kami, setelah kalian minum tehnya sebaiknya kalian istirahat dulu saja, karena hari masih gelap di luar," pak Kamsi berbicara sambil tersenyum.
"Baik pak," ucap ketiganya kompak.
Kiki terlihat mulai siuman, dia menatap di sekelilingnya.
"Kita dimana?" tanya nya penuh kebingungan.
"Kita sekarang berada di rumah pak Rt Ki, untung lo udah sadar, minum dulu ni tehnya biar badan lo hangat."
Hito membantu Kiki minum tehnya, hingga akhirnya mereka tidur di kamar yang telah di tunjukkan oleh istri pak Kamsi.
Rasa lelah yang sangat membuncah membuat mereka dengan cepat pergi ke alam mimpi.
Hingga tal terasa matahari mulai terbit di ufuk timur, memberikan kehangatan bagi siapa saja yang merasakan sinar ketenangannya.
Hito yang terlebih dahulu telah bangun untuk menunaikan ibadah sholat subuh terlebih dahulu.
Pak Kamsi yang melihat Hito sedang sholat pun tersenyum senang, sebenarnya ada hal yang di ketahui oleh pak Kamsi tentang Hito dan teman-temannya, namun beliau bingung bagaimana menjelaskan kepada mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Nana Khansa Alhusna
mulai seruuuu. semangat💪🏻💪🏻
2020-11-06
0
Triana R
likeeee
2020-08-18
0
HeniNurr (IG_heninurr88)
Hadirrr....lanjut thor..semangat truz..
Dtggu feedbacknya😄😄
2020-07-17
1