Sementara itu, di sebuah mobil berwarna biru laut. Sekar dan Rena duduk di belakang pengemudi. Setelah mendapati suaminya berselingkuh darinya, Sekar memilih pergi dari butik hendak menenangkan diri ke suatu tempat.
Saat ini Sekar tengah mendudukan Rena di atas pahanya.
Rena menoleh ke belakang seketika. "Bunda kok nangis?" tanyanya sambil menyentuh kedua pipi Sekar yang sudah basah dengan genangan air mata sedari tadi.
Sekar mengusap cepat air mata di pipinya lalu menarik napas panjang. "Mata Bunda kemasukan debu Sayang," ucapnya pelan.
"Debu? Jahat banget ya debunya, Bunda!" Rena cemberut seketika sambil melipat tangan di dada.
Sekar terkekeh pelan walaupun hatinya terasa perih sekarang. Sebisa mungkin dia tak mau Rena sampai tahu perbuatan yang dilakukan Ayahnya. Dia memeluk tubuh munggil Rena sejenak lalu mengecup pelan pucuk kepala putrinya bertubi-tubi.
"Iya, debunya jahat," sahut Sekar kemudian sambil melonggarkan pelukan lalu mengelus rambut panjang dan tebal Rena.
"Bunda," panggil Rena tiba-tiba.
"Iya?"
"Ayah di mana? Kok kita pakai taksi?" tanya Rena heran sebab saat bermain di butik tadi Sekar menarik tangannya lalu menuntunnya keluar dari butik.
"Ayah lagi ada urusan Sayang, makanya kita pakai taksi."
"Oh..." Kepala Rena mengangguk-angguk. "Tapi Bunda kita mau kemana? Ini kan bukan jalan pulang ke rumah?"
Sekar menarik napas panjang kembali. Dia tak mengira Rena hapal jalan pulang ke rumah. Memang benar saat ini dia tak mau pulang ke rumah. Sekar tak mau melihat muka Andre saat ini. Entah mengapa perasaan benci dan cinta melebur menjadi satu. Walaupun Sekar sudah kecewa dengn Andre. Akan tetapi, rasa cintanya masih ada sampai sekarang.
"Kita ke tempat panti asuhan Bunda ya, Sayang."
Hanya tempat itulah yang melintas di benak Sekar tadi. Dia akan bertandang ke tempat asal muasalnya dulu. Sekar ingin bertemu Ibu panti asuhannya karena wanita itu saja yang bisa ia jadikan tempat untuk berkeluh kesah sekarang.
"Panti asuhan? Tempat tinggal Bunda dulu ya?" tanya Rena.
"Iya, Rena pasti senang, di sana ada banyak teman-teman loh," jawab Sekar tersenyum tipis.
"Teman-teman? Berarti Rena bisa main barbie sama mereka ya Bunda," ucap Rena antusias.
"Iya Sayang."
"Yes!" seru Rena kegirangan.
Selang beberapa menit, Sekar dan Rena sudah sampai di Panti Asuhan Pancur Kasih. Setelah membayar taksi, Sekar mengajak Rena, melangkah masuk ke pekarangan panti asuhan.
Di depan pintu gerbang. Sekar mengedarkan pandangan sebentar. Melihat bangunan tua yang masih sama rupanya saat dia tinggalkan beberapa tahun lalu.
Masih teringat dengan jelas di benak Sekar, tempat inilah yang menjadi tempatnya berlindung dari teriknya matahari dan tempat untuk berpulang. Namun, sejak kuliah dan memilih kos di ibukota, Sekar sudah lama tak berkunjung. Terlebih lagi Andre melarang dirinya menginjakkan kaki di tempat ini. Sekar menurut-nurut saja, meski dia kurang setuju pada keputusan Andre. Tapi demi baktinya pada sang suami, Sekar mengiyakan.
Rasa bersalah merasuk ke relung hatinya seketika. Apakah dirinya masih di terima di panti tersebut. Mengingat Sekar tak pernah berkunjung.
"Bunda, kok sepi?" Rena mendongak kepala.
Sekar menoleh. "Jam segini anak-anak bersantai di taman belakang, Sayang, makanya sepi, udah yuk kita ke dalam, ke tempat Ibunya Bunda," ucapnya sambil mengandeng tangan Rena.
Rena mengangguk patuh.
"Sekar!"
Seorang wanita hijab berwarna putih berlarian cepat saat mendengar suara asing menyapa telinganya di belakang barusan.
Sekar melepas tangan Rena dan berhamburan memeluk Ibu pantinya, Rima.
"Ibu." Sekar langsung menangis dalam pelukan Rima. Dia sudah tak mampu lagi membendung perasaannya. Ingin marah tapi entah pada siapa. Dunia Sekar rasanya berhenti berputar tadi saat mendapati suaminya berselingkuh. Andre telah membuat hatinya hancur berkeping-keping kini.
Di dalam pelukan, Rima keheranan mengapa anak asuhnya menangis pilu. Wanita bertubuh kurus itu terenyuh mendengar isak tangis Sekar. Dia melemparkan pandangan ke arah Rena sejenak.
Rena kebingungan juga melihat Bundanya menangis.
Lima menit kemudian.
"Sekar, kamu kenapa toh?" tanya Rima sambil melepas pelukan setelah tak lagi mendengar isak tangis Sekar.
Sekar nampak sesenggukan. Dengan menarik napas pelan, ia berkata sambil mengusap jejak tangisnya.
"Bu, Sekar minta maaf sudah lama tidak berkunjung di sini, Sekar mau..."
Perkataan Sekar tiba-tiba terhenti, mengingat Rena masih di sekitar. Secepat kilat ia menoleh ke arah putrinya.
"Rena, main ke sana sama yang lainnya ya, Bunda mau ngomong dulu sama Ibu," ucap Sekar menunjuk ke arah selatan dengan melengkungkan senyuman.
"Iya Bunda, daaa Nenek, daaa Bunda." Tanpa banyak tanya, Rena berlarian menjauhi Sekar dan Rima.
Rima tersenyum tipis melihat kepergian Rena.
"Sekar, kita duduk dulu di situ, sepertinya kamu ada masalah serius. Ayo." Rima mengajak Sekar untuk duduk di bawah pohon.
Sekar manut, mengekori Rima dari belakang.
"Kenapa datang-datang minta maaf, kamu tidak ada salah, Sekar. Ibu memaklumi kamu sekarang sibuk menjadi ibu rumah tangga, tidak usah kamu pikirkan ya, sekarang Ibu tanya, kamu ada masalah apa?" tanya Rima to the point. Sebab dia yakin tangisan yang dia dengar tadi bukanlah tangisan permintaan maaf.
Sekar tak langsung menjawab. Dia tengah mengatur napasnya yang tak beraturan. Mencoba memberanikan diri mengadu pada sang ibu.
"Bu, Mas Andre selingkuh..." lirih Sekar lalu menundukkan muka.
Rima terkejut sekali, sampai membekap mulutnya sendiri. Tak menyangka pria yang ia lihat selalu memperlakukan Sekar seperti ratu, nyatanya berselingkuh juga.
"Astagfirullah."
"Andre sudah berselingkuh selama tujuh bulan Bu, aku mau bercerai dengannya sekarang," ucap Sekar kemudian.
Rima menarik napas panjang, menarik dagu Sekar seketika kemudian menyentuh kedua pundak Sekar.
"Sekar, apa kamu yakin dengan keputusanmu Nak?"
"Sekar yakin Bu, buat apa mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat ini, iya Sekar memang egois Bu, karena tidak memikirkan Rena, tapi Sekar sangat tak sanggup Bu, merajut kembali dan memaafkan kesalahan Andre, dulu membayangkan dia berjalan bersama wanita lain saja, aku sudah tak mampu Bu."
Sekar menjeda sebentar.
Dengan sabar Rima mendengarkan keluh kesah Sekar.
"Tapi khayalan Sekar malah menjadi kenyataan. Andre berselingkuh dariku dan melakukannya dengan sadar. Dia juga tidur dengan selingkuhannya, Bu. Sekar tak mau pulang ke rumah Bu. Sekar jijik melihat wajah Andre, Bu. Sekar bukan malaikat, yang bisa dengan mudah memaafkan kesalahan seseorang, izinkan Sekar menginap di sini ya Bu untuk sementara waktu, selagi Sekar mau mengurus surat perceraian," ucap Sekar dengan menahan tangisnya.
Rima terdiam sejenak.
"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu, Ibu hanya mendoakan yang terbaik untukmu, Sekar. Ibu berharap kamu dan Rena baik-baik saja, sudahlah, jangan menangis, simpan air matamu itu, Sekar. Air matamu terlalu berharga, iya Bunda malah senang kalian menginap di sini, yuk kita masuk ke dalam," ucap Rima.
Sementara itu Andre sangat panik kala tak mendapati Sekar dan Rena tak ada di rumah. Sedari tadi dia menghubungi Sekar. Namun, tak kunjung di angkat. Saat ini ia hendak pergi ke rumah orangtuanya, siapa tahu saja Sekar ada di sana.
"Ahk! Si@lan! Di mana mereka?! Awas saja kamu Pingkan!" umpat Andre sambil memukul stir kemut
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
gak ada kata maaf buat perselingkuhan, Sekar ....
apalagi kalo kamu tau seberapa banyak dj4l4ng yg udah tidur sama Andre ... kamu bakalan tambah jijik .... 🤮🤮🤮🤮🤮
tegas aja ... 1 kata ... cerai !!!!
2023-09-09
2
Yunerty Blessa
dasar suami celup 😠😠
2023-08-15
0
Anjani Fauziyah
tiada maaf buat penghianat pernikahan hidup sederhana g apa asal..jangan selingkuh tiada maaf bagi laki2 yg selingkuh
2023-08-13
0