Tangan Sekar terangkat lalu menyentuh kerah baju Andre. Dia hendak melihat lebih jelas tanda tersebut. Kedua mata Sekar menyipit sejenak. Memperhatikan dengan seksama tanda yang terukir di kulit Andre sekarang.
"Mas, tanda apa ini? Kok diam?" tanya Sekar menatap penuh curiga.
Sekali lagi Sekar melontarkan pertanyaan yang membuat degup jantung Andre berdetak cepat.
Pingkan, awas saja dia!
Andre begitu gugup. Namun, secepat kilat ia menyembunyikan kegugupan dengan meraba lehernya. Lalu melemparkan senyum tipis pada Sekar. "Tadi malam aku lupa semprot baygon di ruangan, jadinya ada nyamuk deh dan garuk-garuk kuat tadi jadinya merah gini, kenapa Sayang?"
Sebisa mungkin Andre bersikap biasa-biasa saja meski detak jantungnya berpacu kencang. Apalagi saat ini melihat raut wajah Sekar yang tak bisa terbaca olehnya.
Sekar menatapnya lekat-lekat.
Mendadak suasana jadi aneh seketika. Dalam sepersekian detik, Sekar membuka suara, setelah tadi berperang dengan batinnya.
"Oh gitu, ya udah nanti pakai zambuk ya Mas, biar memudar bekasnya," ucap Sekar sambil tersenyum tipis. Mencoba berpikir posifif terhadap suaminya.
Untunglah Sekar percaya, kamu memang pintar Andre. Bodoh sekali Sekar, mudah sekali untuk dibohongi.
"Ya Sayang, pakaiin ya nanti, aku mau dimanjain sama istriku yang cantik dan perhatian ini," kata Andre bermaksud menggoda Sekar.
Sekar geleng-geleng kepala sebentar. "Memangnya kamu anak bayi apa, sudah yuk kita sarapan, aku juga mau ke butik Mas."
"Ayuk." Andre mengambil tangan Sekar seketika sambil mencium gemas pipi Rena yang sedari tadi diam saja memperhatikan interaksi orangtuanya.
Sesampainya di ruang makan, Andre menurunkan Rena dan mendudukan anaknya ke atas kursi.
Andre duduk di kursi. "Tumben kamu hari minggu ini mau ke butik?" tanyanya heran sebab Sekar jarang sekali mengunjungi butiknya. Dan biasanya di hari minggu hanya memantau karyawan butik melalui CCTV di handphone.
Yaps, Sekar memiliki butik sendiri dari hasil jerih payahnya. Dulu sewaktu masih muda, selepas menamatkan pendidikan strata satu di jurusan akuntansi. Dia langsung membuka butik dari hasil kerja part time-nya ketika kuliah. Sekar hanyalah anak yatim piatu yang mempunyai segudang prestasi di bidang akademik dan non akademik. Dia wanita yang ambisius jika ingin mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Pengen aja Mas, nanti bisa antar aku nggak Mas, aku lagi malas bawa motor, Rena juga mau ke butik temanin aku," ucap Sekar sambil membuka nasi yang dibelikan Andre tadi.
Wah ada kesempatan nih, aku ketemu Pingkan, awas saja dia nanti.
"Iya nanti aku antar. Aku nemenin kamu di butik deh hari ini."
"Iya, terima kasih, Mas."
"Iya." Andre melemparkan senyuman.
Selang beberapa menit, setelah sarapan dan mandi. Sekar, Andre dan Rena pergi bersama-sama ke butik. Di sepanjang jalan Rena berceloteh kecil karena dibelikan boneka barbie oleh Ayahnya barusan.
Sesampainya di butik, mereka langsung masuk ke butik melalui pintu depan. Andre tersenyum sumringah, melihat Pingkan tengah melayani pengunjung butik. Dia curi-curi pandangan ke arah Pingkan saat melihat bodynya yang aduhai, membuat adik Andre terasa amat sesak tiba-tiba. .
Pingkan tak menyadari kedatangan Andre. Dia masih asik melayani si pembeli.
"Mas, ayo kita ke atas dulu, Rena kayaknya mau poop, tadi pagi dia belum poop," ucap Sekar sembari menepuk pelan pundak Andre.
"Kamu duluan ya Sayang, aku baru ingat, ada dokumen yang harus aku kirim, mau ambil laptop dulu di mobil," kilah Andre padahal ia tengah mencari alasan untuk bertemu Pingkan.
"Kenapa nggak dari tadi Mas?"
Andre mengerutkan dahi, kala Sekar tak langsung mengiyakan. Perkataan Sekar terkesan dingin menurutnya.
"Aku kan lupa Sayang, aku nggak lama kok, kamu ke atas ya, nanti aku pasti nyusul sebentar lagi," ucap Andre memberi pengertian.
"Baiklah." Sekar menoleh ke arah Rena. "Ayo Rena!" serunya sambil menggandeng tangan anaknya menuju tangga.
Meninggalkan Andre yang tengah mengedarkan pandangan ke segala arah, hendak mencari Pingkan. Yang sekarang hilang dari radar penglihatannya. Tanpa pikir panjang ia mengirimi Pingkan pesan. Mengatakan bahwa dirinya berada di butik dan ingin bertemu Pingkan di toilet. Setelah mengirimi pesan, Andre bergegas ke toilet.
"Ah, Andre, agresif banget sih?" Pingkan baru saja masuk ke dalam toilet. Tapi sudah di tarik tangannya oleh Andre. Pria itu langsung mengecup leher jenjang Pingkan.
"Biarin, habisnya kamu nakal, gara-gara kamu aku hampir ketahuan sama Sekar, udah sekarang kamu harus puasin aku!" seru Andre sambil menutup pintu toilet dan tak lupa memasang tanda toilet rusak di depan pintu.
"Aish, jadi kamu marah, haha, aku memang sengaja, ah..." Pingkan mendesah pelan saat lidah Andre menjelajahi lehernya.
"Jangan gila Pingkan, kamu hanya sebatas memuaskan nafsu aku aja." Gairah Andre semakin memuncak kala mendengar suara mendayu Pingkan.
"Iya, iya aku tahu, aku cuma penasaran, gimana tanggapan Sekar kalau tahu suaminya ada main sama karyawannya," ucap Pingkan sedikit ketus.
Enggan menanggapi, Andre malah menarik rok span Pingkan hingga ke bawah dan langsung membuka kain segitiga tersebut lalu melemparnya ke sembarang arah.
Dalam hitungan detik, Andre memasukan rudalnya ke inti tubuh Pingkan dari belakang. Kemudian menggerakan pinggulnya dengan sangat cepat sambil menutup mulut Pingkan menggunakan tangannya agar tak menimbulkan suara.
Sementara itu, di sisi lain.
Ruang pribadi Sekar.
Sekar melamun di atas sofa, menunggu Rena membuang air besar di dalam toilet.
Drtt!
Di atas meja, ponsel Sekar tiba-tiba bergetar. Secepat kilat ia menyambar ponselnya lalu membaca sebuah pesan aneh dari nomor tak di kenal lagi.
...Pergilah ke toilet bawah sekarang! Suamimu sedang bermain dengan selingkuhannya. Jangan mengabaikan pesanku, Sekar. Aku sudah memperingatkan! Jangan terlalu percaya dengan Andre. ...
"Ha?" Bukannya langsung bergegas ke bawah, Sekar malah menghubungi si pengirim pesan. Namun, setelah di telepon tak aktif sama sekali.
"Siapa ya?" Sekar beranjak sambil meletakkan kembali benda pipih tersebut ke atas meja. Perasaan tak nyaman merasuk ke relung hatinya. Dia mematung di tempat sejenak.
"Kenapa Bunda?" Rena menyembul keluar dari balik pintu.
Sekar menoleh. "Nggak Sayang, Rena tunggu di sini sebentar ya, Bunda mau ke bawah dulu susulin Ayah."
"Oke Bunda, jangan lama-lama ya, Rena tunggu di sini sambil main barbie."
"Iya Sayang."
Setelah pamit pada Rena, Sekar bergegas turun ke bawah ingin memastikan sendiri apakah benar suaminya berselingkuh. Sebab akhir-akhir ini ia melihat gelagat-gelagat aneh dari Andre. Ditambah lagi tadi pagi dia mendengar samar-samar suara wanita di kantor Andre. Sekar tahu betul Andre hanya memiliki sekretaris seorang pria. Lalu suara siapakah itu?
"Loh kok toiletnya rusak?" ucap Sekar pelan sambil memutar gagang pintu.
Gurat kebingungan terukir di wajah Sekar seketika kala melihat tanda toilet rusak terpasang di depan pintu kamar mandi.
Andre kalang kabut ketika melihat gagang pintu bergerak sendiri dari luar. Dia langsung mencabut rudalnya lalu melemparkan pandangan ke arah Pingkan sejenak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Maria Magdalena Indarti
edan tenan, suami hypersex
2025-03-18
0
Lusiana Karangan
jijik
2025-02-15
0
Erlinda
kayak nya emang si Sekar ini bodoh nya luar biasa deh
2023-09-26
2