Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tak terasa sekarang perut Sekar nampak membesar. Kini rumah tangga yang dijalani Andre dan Sekar sudah tak sehat sama sekali. Keduanya selalu beradu mulut dan terkadang melontarkan kata-kata kasar.
Hampir setiap malam, pasangan suami istri itu bertengkar hebat. Kalau Sekar pulang dari butik pasti Andre mulai menuduh-nuduhnya lagi. Sekar sangat lelah, hampir saja stres karena sikap Andre yang selalu menuduhnya berselingkuh. Padahal jelas-jelas pria itulah yang menabuh genderang perang. Sebisa mungkin Sekar berusaha menghindari pertengkaran, namun Andre sangatlah egois.
Demi menjaga kewarasannya, Sekar mengusir Andre dari rumah dengan cara menendang pria itu.
Andre kesal setengah mati. Sehingga mau tak mau tidur di rumah Mamanya. Saat menginap di sana, Andre malah tidur bersama Melani. Melani selalu mempunyai alasan untuk bisa menginap di rumah Rika. Rika pun memperbolehkan. Ketika tengah malam secara diam-diam Melani pasti masuk ke kamar Andre. Mereka melakukan hubungan layaknya suami istri. Padahal status Andre masih menjadi suami sah Sekar.
Hari ini, tepat tujuh bulan Andre tidur di rumah Rika. Setiap pulang berkerja dia pasti ke rumahnya terlebih dahulu, sekadar ingin bertemu dan melihat keadaan anak dan istrinya itu. Walaupun setiap kali ke rumah selalu bertengkar dengan Sekar. Dan berakhir tidur di rumah Mamanya.
Setelah menghabiskan sarapannya. Andre pun bergegas pergi berkerja. Sesampainya di sana, Andre mengerutkan dahi melihat nomor tak di kenal meneleponnya.
"Siapa ya?" Sebelum mengangkat panggilan, Andre memperhatikan nomor tersebut dengan seksama.
"Hallo?" sapa Andre terlebih dahulu.
"Apa benar ini Bapak Andre Baskara, orangtua Rena Baskara?" tanya seseorang di ujung sana. Sepertinya guru Rena.
"Iya benar saya sendiri, ada apa dengan anak saya?" tanya Andre penasaran mengapa pihak sekolah tiba-tiba menghubunginya.
"Bisakah Bapak datang ke sekolah sekarang, saya adalah guru BK di sekolah, yang bertugas memantau murid-murid di kelas, ada yang mau saya sampaikan terkait Rena. Anak anda baik-baik saja kok Pak," sahut guru BK.
Wajah Andre berubah panik seketika. "Oke, oke baiklah saya ke sana sekarang."
*
*
*
Saat sudah sampai di sekolah. Andre mempercepat langkah kakinya di lorong-lorong sekolah. Dia sangat cemas apa yang terjadi pada Rena sampai-sampai dirinya di panggil ke sekolah.
Gerakan kaki Andre seketika berhenti saat melihat Rena di ujung sana sedang duduk di bangku sambil menghadap keluar taman. Rena terlihat termenung. Secepat kilat ia menghampiri putrinya itu.
"Rena, kamu kenapa Nak?" Andre berjongkok di hadapan Rena sambil memegang pipinya yang bulat. Perasaan kalut dan cemas merasuk ke relung hatinya seketika.
Rena melirik Andre dan tak menjawab sama sekali. Tatapan anak iitu begitu kosong seakan tak bernyawa. Raut wajahnya sangat datar dan tanpa ekspresi.
"Permisi, maaf menganggu, Pak. Bapak Andre Baskara ya?" Dari samping seorang wanita berhijab putih menyapa Andre seketika.
Andre bangkit berdiri dan melemparkan senyum tipis. "Ya benar saya Andre, ada apa ya Bu? Mengapa saya di panggil ke sekolah, Rena kenapa? Apa dia membuat ulah?" cecarnya beruntun.
"Sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Wati, saya guru BK di sini, tenanglah Pak, Rena anak yang baik, dia tidak membuat masalah sama sekali, hanya saja ada sesuatu yang harus diluruskan, mari kita bicara di ruangan BK, Pak," ucap Wati sambil mempersilakan Andre untuk masuk ke ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
Andre mengangguk pelan dengan mimik muka khawatir.
"Rena, tunggu di sini ya, Ibu guru pinjam Ayah Rena sebentar." Sebelum melangkah, Wati mengusap pelan kepala Rena.
Anggukan pelan sebagai balasan Rena.
"Ada apa sebenarnya Bu? Rena baik-baik saja kan?" Setelah menjatuhkan bokong di kursi yang berhadapan dengan Wati, Andre langsung bertanya.
Sebelum menjawab, Wati menarik napas panjang. "Begini Pak, akhir-akhir ini saya perhatikan Rena lebih banyak melamun dan tidak mau bersosialisasi dengan kawan-kawannya dan kalau ada kawannya yang mengajaknya berbicara, terkadang dia suka berteriak-teriak tak jelas di kelas. Saya pun heran dan menanyakan kepada Rena tadi."
Wati menjeda kalimatnya sebentar ketika melihat wajah Andre berubah muram.
"Setelah saya mencoba berkomunikasi dengan Rena. Dia mengatakan takut karena hampir setiap malam mendengar Ayah dan Ibunya berteriak-teriak. Sebelumnya saya minta maaf karena terlalu ikut campur masalah rumahtangga Bapak, tapi bisakah jangan berteriak di depan Rena. Karena Rena sepertinya mengalami trauma mendalam jadi saya sarankan selesaikanlah masalah Bapak dan Ibu di belakang Rena," jelas Wati panjang lebar.
Andre terpaku di tempat. Tak menyangka perkelahian yang terjadi di antara dia dan Sekar memberikan dampak buruk untuk anaknya.
"Saya sudah menghubungi Ibu Sekar untuk datang ke sini juga, saya sangat berharap Bapak dan Ibu dapat membawa Rena ke psikolog atau psikiater untuk mengatasi trauma Rena sebelum terlambat, kasihan Rena Pak ke depannya akan susah bersosialisasi dengan orang sekitar." Wati kembali menambahkan.
Lagi dan lagi Andre hanya diam saja. Tak membalas ucapan Wati. Kedua matanya bergerak ke sembarang arah sekarang, tengah memikirkan sesuatu.
Sementara itu, di luar ruangan.
Rena masih bergeming di tempat. Dia menatap lurus ke depan, memperhatikan kupu-kupu berterbangan di taman bunga.
"Hai, aku anak baru di sini," sapa seseorang tiba-tiba dari samping sambil mengangkat tangannya hendak menjabat tangan Rena.
Rena melirik sekilas anak perempuan yang umurnya sepantarannya. Tak ada pergerakan sama sekali dari tangan Rena. Dia menatap datar anak perempuan yang memiliki warna mata berwarna coklat.
Anak perempuan itu mengerutkan dahi lalu menurunkan tangan pelan-pelan saat tak mendapat balasan. "Kamu kenapa?" tanyanya sambil duduk di samping Rena.
Rena menggeleng pelan dan menundukkan muka.
"Apa kamu ada masalah? Kata Daddy kalau ada masalah jangan banyak melamun, nggak baik tahu, hadapi masalah dengan senyuman, hehe," celetuknya dengan melengkungkan senyuman.
"Hadapi? Tapi Ayah dan Bunda bukannya senyum malah marah-marah, hiks, hiks... Mereka jahat!" sahut Rena dengan menitihkan air mata seketika.
"Kenapa menangis? Ayah dan Bundamu tidaklah jahat, terkadang kita memang tidak bisa mengerti permasalahan orang dewasa yang sangatlah aneh itu, hei dengarkan aku. Mungkin saja Ayah dan Bundamu memililki permasalahan yang sangat susah untuk kita mengerti."
Anak perempuan itu langsung mengusap air mata yang mengalir di pipi Rena.
"Ayah dan Bunda tetap jahat, mereka nggak sayang lagi sama Rena." Rena nampak sesengukan.
"Ish! Jangan berkata seperti itu, walaupun mereka menyebalkan dan selalu marah-marah, mereka tetap orangtuamu bukan."Anak perempuan itu memeluk Rena tiba-tiba.
Rena hanya diam saja. Cairan bening dari pelupuk matanya masih mengalir pelan. Rena berharap nanti malam, tak ada lagi suara teriakan melengking di telinganya.
Selang beberapa menit.
"Nah bagaimana perasaanmu sekarang? Aku sudah memberikanmu terapi pelukan tadi," celetuk anak perempuan itu kemudian.
Rena mengusap cepat air matanya setelah tadi dipeluk oleh murid baru tersebut.
"Perasaanku lumayan baik, terima kasih ya," sahutnya pelan.
"Baguslah, aku senang mendengarnya. Oh ya perkenalkan namaku Shakila, aku pindahan dari sekolah XXX, Daddyku memindahkan ku kesini agar bisa dekat dengan tempat kerjanya. Mulai dari sekarang kita berteman ya, Shakila baru saja masuk sekolah hari ini," sahut Shakila dengan cepat sambil mengangkat tangan di hadapan Rena.
Keduanya pun berjabatan tangan.
"Namaku Rena, iya boleh, lagipula aku juga tidak memiliki teman lagi, mereka semua menjauhiku," Rena berkata dengan raut wajah muram.
"Maka dari itu Shakila akan menjadi temanmu sekarang, sudah jangan menangis lagi ya! Shakila tidak suka melihat air mata, kata Daddy kalau lama-lama menangis bisa sakit kepala loh! Coba Shakila tanya, apa kepala Rena sakit sekarang?"
Rena meraba-raba kepalanya sejenak. "Hm iya sakit sekali, nyut, nyut, nyut rasanya."
"Nah makanya jangan menangis lagi!" seru Shakila semangat.
Rena mengangguk cepat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Shakilla anak yang baik..
2023-08-15
1
ria
innalillahi..jauhkan dari orang2 macam mereka..
2023-08-03
0
Sukliang
bisa mikir tu binatang
2023-05-10
0