Kilatan dan hujan bersahut-sahut di luar sana. Sekar melirik jam weker sekilas di atas nakas. Melihat waktu menunjukan pukul sembilan malam. Dia tersenyum miris karena Andre tak menatapi janjinya pada Rena. Saat ini Sekar berada di kamar Rena, tengah terduduk di tepi ranjang sambil mengusap-usap pelan kepala Rena yang sedang tertidur pulas.
Sekar mengecup singkat pipi Rena lalu menatap lurus ke depan lagi. Tatapannya sangat kosong dan muram. Sorot mata Sekar seakan tak bernyawa kini. Pikiran Sekar berkecamuk memikirkan nasib pernikahannya yang tak sehat ini.
Drt!
Bunyi getaran kembali terdengar di telinga Sekar. Secepat kilat ia mengalihkan pandangan ke samping lalu menyambar ponsel mini merk apel tersebut.
Aku tak tahu apa yang membuat kamu. Masih bertahan dengan pria brengsek itu. Aku hanya berpesan Andre tidak akan pernah berubah sampai dia meninggal! Apa kamu membuka foto-foto dan file yang aku kirim tadi?
Sebuah pesan dari nomor tak terkenal kemarin menghiasi layar ponsel Sekar. Sejak mendapat pesan-pesan dari nomor asing itu, Sekar jadi tahu jika selama ini Andre ternyata tak hanya berselingkuh dengan Pingkan. Namun, dengan sahabatnya dulu, teman-teman kantor Andre dan juga wanita kenalan michat. Sekar sampai jijik setiap melihat wajah Andre dan bersentuhan dengan suaminya itu.
Terima kasih, maaf aku baru bisa membalas pesanmu, ya aku sudah melihat file yang kamu kirim. Aku sedang hamil. Jadi aku dan Andre belum bisa bercerai. Kalau boleh tahu kamu siapa? Apa sebenarnya motifmu?
Sekar membalas pesan itu seketika.
Centang dua dan langsung terbaca. Dan seseorang di ujung sana sedang mengetik.
Astaga, aku harap kamu baik-baik saja. Aku minta maaf karena mendesakmu, kamu tak perlu tahu siapa aku, tapi yang jelas. Aku adalah seseorang yang disakiti Andre juga lima tahun yang lalu. Jika kamu perlu bantuan, katakan padaku, aku siap membantu.
Apa kamu selingkuhan suamiku?
Bukan!
Lalu kamu siapa?
Bukan siapa-siapa, sudahlah, sebaiknya kamu tidur saja. Ini sudah malam, kamu harus beristirahat, jangan sampai stres, Sekar. Bye! Selamat malam.
Sekar enggan membalas. Dia membaca pesan terakhir dari si pengirim berulang-ulang. Mencoba menerka-nerka, siapa di balik nomor asing tersebut.
Tak sampai semenit. Ponsel Sekar kembali berdering. Kali ini telepon dari seseorang dan si pemanggil adalah Pingkan. Dahi Sekar mengerut kuat seketika melihat nama Pingkan di layar ponsel. Sekar menekan-nekan layar sejenak.
"Hallo?" sapa Sekar terlebih dahulu.
"Sekar! Katakan pada suamimu itu untuk menikahiku!"
Di ujung sana Pingkan berteriak histeris. Membuat Sekar menjauhkan ponsel dari telinganya seketika dan melirik Rena sekilas tengah melenguh sejenak karena mendengar suara Pingkan barusan. Sekar membelai rambut Rena, berharap anaknya tak terbangun dari tidurnya.
"Apa kamu tak ada kerjaan Pingkan, katakan saja langsung padanya," ucap Sekar datar namun terdengar dingin di telinga Pingkan.
Pingkan mengernyitkahi dahi. Heran, mengapa Sekar malah memintanya mengatakan langsung pada Andre. "Aku sudah meminta Andre, tapi dia tak mau karena dia masih mencintaimu ha! Aku membencimu, Sekar! Aku hamil karena ulah suamimu itu!" serunya berapi-api sebab Andre susah dihubungi sekarang.
Tak ada sahutan. Hening seketika.
Sekar terdiam. Dia menarik napas panjang. "Membenciku? Apa aku tidak salah mendengar, Pingkan? Seharusnya kamu membenci Andre. Bukan diriku, selamat atas kehamilanmu."
Pingkan semakin bingung sekarang mengapa Sekar tak terprovokasi sama sekali. "Kenapa kamu tidak marah padaku Sekar?" Kali ini amarah di hati Pingkan sedikit reda. Dia menurunkan intonasi suaranya.
Sekar menyeringai tipis. "Untuk apa aku marah, tak ada gunanya, lagipula aku tidak peduli, kamu mau menbenciku atau tidak, aku tidak rugi sama sekali bukan. Kalau kamu menikah dengan Andre. Silakan, aku merestui kalian."
Pingkan terpaku sejenak.
"Sudah dulu Pingkan, aku mau ti–"
"Tunggu! Jangan di tutup Sekar, aku tidak bisa menikah dengan Andre. Karena dia sangat mencintaimu, kemarin dia malah memintaku mengugurkan anaknya. Tentu saja aku tidak mau, tapi karena aku tidak memiliki uang sekarang, sepertinya aku akan mengugurkan anakku secepat mungkin, aku minta maaf Sekar," ucap Pingkan dengan terisak pelan.
Setelah di pecat dari butik Sekar, Pingkan luntang-lantung. Dia kesusahan mencari perkerjaan. Dia menyesali perbuatannya selama ini. Hidup merantau di Jakarta dan tergiur uang yang ditawarkan Andre. Membuat Pingkan lupa diri padahal dirinya hanyalah seorang anak yatim piatu di kota metropolitan ini.
Sekar terenyuh. "Pingkan, jangan gugurkan anakmu, berkerjalah besok di butikku," ucapnya kemudian. Walaupun membenci Pingkan sebagai selingkuhan Andre tapi Sekar masih memiliki hati nurani.
"Benarkah? Terima kasih Sekar, aku janji tidak akan menganggu rumahtangga kalian, dan akan membesarkan anakku ini sendirian," ucap Pingkan senang. Dia merasa amat bersalah karena selama ini telah menyakiti Sekar. Sungguh dia merasa malu pada dirinya sendiri. Kini dia tahu apa yang membuat Andre tak mau berpisah dengan Sekar, mungkin istrinya terlampau baik.
"Hm, sudah aku mau tidur."
"Iya, terima kasih Sekar."
Sambungan pun terputus seketika. Sekar memasukan benda pipih tersebut ke saku dress tidurnya. Kemudian beranjak dari tempat tidur dan mematikan lampu kamar Rena.
Setengah jam kemudian.
Di luar, hujan berangsur-angsur reda. Tampak sebuah mobil sedan berwarna hitam, berhenti tepat di halaman rumah. Di kursi depan kemudi mobil Andre merapikan sejenak jasnya yang sedikit berantakan karena tadi tergesa-gesa saat keluar dari hotel.
"Gila banget si Melani, kencang banget mainnya, kalah dari Pingkan dan Sekar," gumam Andre sambil mengancingkan kemeja yang terbuka sedikit tadi. Lalu dia mengambil parfum di dalam dashboard mobil dan menyemprot pewangi tersebut ke seluruh tubuhnya.
"Semoga saja Sekar udah tidur," Andre kembali bergumam-gumam.
Setelah memastikan semua aman dan tak ada tanda-tanda aneh di tubuhnya, Andre turun dari mobil dan berlarian memasuki rumah. Begitu pintu di buka, Andre tampak salah tingkah, melihat Sekar di ruang tamu tengah berdiri tegap sambil berkacak pinggang di hadapannya.
"Ingat pulang kamu," ucap Sekar, melayangkan tatapan dingin.
"Maaf Sekar, aku tadi kelamaan di bengkel, ban mobilku kempes tiba-tiba di jalan, untung saja aku nggak kecelakaan atau apa," kilah Andre.
Sekar enggan menyahut. Malah melipat tangan di dada lalu berjalan pelan, menghampiri Andre.
Sementara Andre sangat panik. Jantungnya berdetak kencang sekarang. Sebisa mungkin Andre menyembunyikan kepanikan kala melihat Sekar melayangkan tatapan mengintimidasi dan mematikan.
"Sekar? Kenapa diam?" tanya Andre ketar-ketir.
Sekar malah menelisik penampilan Andre dari atas sampai ke bawah Sekar. "Beruntung sekali kamu tidak kecelakaan ya, bisa-bisa aku menjadi janda besok di tinggal mati karena tahu kalau suaminya berselingkuh."
"Ha? Maksudnya? Jangan sembarangan nuduh, Sekar. Aku tidak selingkuh Sayang, aku pulang dari kantor, mengerjakan laporanku yang sangat banyak." Dengan susah payah, Andre menelan salivanya.
"Aku mengingat perlakuanmu yang kemarin, Andre. Kamu kan memang berselingkuh dengan Pingkan, benar kan?" ucap Sekar.
Andre mengangguk lalu tersenyum tipis. "Hehe, iya, aku kemarin berselingkuh, hehe, maaf ya, aku khilaf, sekarang aku akan berubah menjadi lebih baik lagi, Sayang."
"Hm, terserah Ndre! Aku tidak peduli, mandilah sana, aku tak sudi mencium bau badanmu itu!" seru Sekar seketika.
Andre mengendus-endus badanya sendiri dengan dahi berkerut kuat. "Memangnya badanku kenapa? Perasaan wangi deh?" tanyanya heran.
"Nggak tahu tuh, tapi menurutku badanmu bau busuk sama seperti kelakuanmu yang sangat busuk itu." Sekar tersenyum sinis kemudian berlalu pergi dengan cepat dari hadapan Andre.
Andre sampai melonggo mendengar perkataan Sekar barusan. Menurut dia seakan menyindir dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Maria Magdalena Indarti
kl ga hamil pasti sekar gugat cerai
2025-03-18
0
Lusiana Karangan
bodoh banget si sekar
2025-02-15
0
Endang Oke
sekar jd msnusia munafikkkk
2024-02-28
0