Bab 19 - Alyssa Sakit

Berhari-hari pun berlalu, hubungan antara Mario dan Alyssa belum juga membaik. Begitu pula hubungan antara Mario dan Ashilla yang sepertinya di ujung tanduk. Mario kini bersikap dingin padanya. Dulu yang setiap istirahat selalu menjemputnya dan mengunjungi ke kelas untuk ke kantin bareng pun, sekarang tak pernah lagi. Bahkan pesan maupun telepon darinya tak pernah ditanggapinya sama sekali.

Sebenarnya Ashilla mulai jengah, tapi rasa cintanya ke Mario masih sangat besar. Ia berpikir Mario seperti itu mungkin karena banyak pikiran. Tapi, ketika melihat Alyssa, entah kenapa rasa marah dan kesal selalu aja berkumpul di hatinya.

Ketika di dalam kelas hanya ada mereka berdua, Ashilla lagi-lagi memperingati Alyssa untuk tidak mendekati Mario lagi.

"Gue nggak tahu, kenapa lo sepertinya benci ke gue dan kelihatan sekali nggak suka sama gue. Padahal gue nggak pernah buat salah apapun sama lo. Gue bahkan menghargai lo sebagai pacar dari Mario. Kini gue dan Rio tak lagi saling menyapa dan mengobrol. Tapi, kenapa lo masih menyalahkan gue? Harusnya gue kan yang marah dan kesal disini? Lo yang baru datang di kehidupan Mario tapi udah bisa jadi seseorang yang berarti di hidup Mario. Gue yang hampir selama hidup tumbuh dan berkembang sama-sama aja cuma bisa menyandang gelar sahabat. Harusnya gue kan yang kesal dan marah? Gua capek diam dan terus menghargai perasaan lo. Tapi lo sendiri, nggak pernah ngertiin gimana perasaan gue. Maaf Shilla, gue harap lo nggak pernah lagi bahas apapun tentang Rio sama gue."

Karena kesal, Alyssa pun keluar dari kelasnya dan Ergo mengunjungi perpustakaan untuk meredakan rasa marah dan kesalnya. Dan seperti sebuah kebetulan saja, Abram selalu datang di waktu yang tepat. Keduanya duduk berhadapan di tempat baca yang ada di perpustakaan. Meski tak saling mengobrol, tapi tatapan mata Alyssa mampu membuat Abram tahu kalau Alyssa sedang tak baik-baik saja.

*

*

Pulang sekolah, Abram dan Alyssa sengaja tak langsung pulang ke rumah, keduanya pergi ke taman bermain atas inisiatif dari Abram. Disana, mulut Alyssa memang bisa tersenyum dan tertawa, tapi dari sorotan mata, tetap saja masih terlihat sedih.

Abram pun mengajak Alyssa untuk duduk dan berbincang sama-sama. Abram pun memberikan satu ice cream ke Alyssa.

"Memendam rasa sakit dan amarah itu nggak bagus kalau dilakukan terus-menerus. Alangkah lebih baiknya, lo keluarin semuanya. Kalau perlu lo luapin semua unek-uneknya supaya merasa lega dan nggak ada lagi beban. Anggap aja gue ini hanya patung disini. Dan lo lagi sendirian," ucap Abram.

Alyssa menatap ke arah Abram, ia benar-benar merasa takjub ke Abram. Meski tanpa bercerita pun, laki-laki itu selalu tepat ketika menebak perasaannya.

"Jangan liatin gue kaya gitu, kalau gue tiba-tiba maksa lo buat terima cinta gue gimana? Emangnya lo mau tanggung jawab?"

Alyssa mendengus sebal. Rasanya tidak lucu, sebuah perasaan dijadikan candaan seperti ini. Apalagi ia masih merasa tidak enak hati ke Abram.

"Jangan manyun-manyun gitu. Jelek tahu!"

"Cih!"

Alyssa malah dibuat tambah kesal oleh Abram.

"Coba sekali aja, lo jujur sama perasaan lo sendiri. Kalau kesal yang bilang kesal. Kalo marah ya tinggal marah. Kalau suka ya tinggal bilang suka. Jangan sukanya sembunyi dan menghindar terus. Apalagi menghindarinya setengah-setengah kaya gini. Kalau mau menghindar ya lakuin dengan sungguh-sungguh. Tapi satu hal yang perlu lo ingat. Penyesalan itu datangnya terakhian."

Alyssa menghela napasnya pelan. Ia sebenarnya tahu apa yang dikatakan Abram itu benar semua. Tapi apakah daya, ia memang sangat sulit untuk mengungkapkan isi hatinya.

"Ya, kalau lo belum mau bicara mah, tidak apa-apa juga sih. Gue sih nggak rugi. Yang rugi kan lo."

Lagi-lagi Abram bersuara supaya Alyssa mulai cerita dan tegas tentang hatinya.

Alhasil, karena Abram yang terus bicara dan perkataan itu membuatnya kepikiran. Alyssa pun mulai bercerita tentang Ashilla yang tidak suka padanya. Padahal ia sudah tak lagi dekat dengan Mario, tapi tetap saja Ashilla masih menyalahkannya. Seolah-olah dirinya adalah biang utama dari masalah yang ada di hubungan Mario dan Ashilla.

"Nah, gini kan enak didengarnya. Gue jadi tahu apa yang sebenarnya lo pikirin sejak tadi. Menurut gue sih, lo emang harus menjaga hati Shilla dan menjaga jarak dengan Mario. Tapi, kalau lo udah lakuin itu semua dan malah membuat hubungan kedua orang itu jadi renggang. Sepertinya masalahnya bukan dari lo, tapi dari mereka berdua. Jadi itu bukan salah lo. Setelah ini jangan terus mikirin perasaan orang lain, pikirin aja perasaan lo sendiri. Mau tetap diam atau bersuara. Itu adalah keputusan lo sendiri."

Alyssa mengangguk mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Abram.

Keduanya pun pulang ke rumah dengan menaiki bus. Abram turun lebih dulu dan Alyssa pun menunggu di pemberhentian selanjutnya.

Alyssa turun dari bus di halte terdekat dari rumahnya. Ia pun pergi dari sana. Tapi ternyata cuaca di hari itu tidak mendukung. Hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras membuat seragam sekolah yang dikenakan oleh Alyssa basah kuyup.

Sesampainya di rumah, Alyssa langsung menggigil dan jatuh pingsan.

*

*

Keesokan harinya, seperti biasa Mario menjemput Shilla dan mengantarkan Shilla ke sekolah. Di hari itu, Mario bahkan mengantarkan Shilla sampai ke kelasnya. Ashilla merasa senang karenanya, itu artinya hubungan mereka akan segera membaik. Tapi apa yang ia lihat? Mario justru menanyakan keberadaan Alyssa yang belum terlihat padahal jam masuk sekolah akan berlangsung sekitar 8 menit lagi.

"Nggak tahu, gue nggak dapat kabar apapun. Mungkin masih di jalan. Atau jangan-jangan kesiangan. Lo kan tahu sendiri, Ica mah sering telat datang ke sekolah."

"Ah, benar juga sih!"

Setelah itu, Mario pamit ke Ashilla untuk pergi ke kelasnya.

Waktu berlalu, jam istirahat kedua pun tiba, Mario pergi ke kelas Alyssa. Tujuan utamanya sebenarnya adalah Alyssa, tapi teman-teman Ashilla malah mengatakan kalau Ashilla lagi di toilet dan menyuruh Mario untuk menunggu Ashilla jika ingin pergi makan siang bareng.

Seperti sebuah kesempatan, Mario malah mengajak Jehana untuk mengobrol dan menanyakan kemana Alyssa.

"Ica nggak masuk sekolah. Kata wali kelas tadi, Ica lagi demam," jawab Jehana.

"Astaga! Kenapa lo nggak ngasih tahu gue dari tadi? Kalau tahu gitu, gue bakalan bolos dari tadi. Aih! Kalau sekarang bolos rasanya tanggung sekali bentar lagi juga pulang."

"Ye! Malah kesal ke gue segala. Harusnya lo yang sebagai sahabatnya sejak orok, lebih tahu keadaan Alyssa. Lagian kenapa sih kalian berdua akhir-akhir ini kelihatan saling menghindar, bahkan kelihatan seperti orang asing! Heran gue!"

Mario tak menjawab, ia malah jadi khawatir dengan keadaan Alyssa.

Tak lama, Ashilla pun masuk ke dalam kelasnya dan melihat Mario ada di kelasnya. Ia jadi tersenyum senang. Kemudian mengajak Mario untuk langsung pergi ke kantin. Mario tak menolak ajakan itu, karena perutnya memang sudah lapar juga meski pikirannya acak-acakan entah kemana.

*

*

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!