Bab 5 - Cinta pada pandangan pertama

Lapangan basket, 15.00

Alyssa sedang men-dribble bola basket sambil menunggu kedatangan Mario untuk mengajarkannya bermain basket.

"Hhhh, susah banget deh! Padahal gue udah belajar berkali-kali. Baru 7 kali dribble aja, udah berhenti bolanya," gerutu Alyssa yang kesal karena tak kunjung bisa main basket.

"Ya iyalah susah. Orang lo nggak pernah serius belajarnya," sahut Mario yang baru saja datang kesana.

"Kan itu juga gara-gara lo yang ngajarin nya nggak bener."

Alyssa malah menyalahkan Mario yang tidak mengajarinya dengan benar.

"Apaan? Gue udah ngajarin lo main basket hampir tiap hari setelah pulang sekolah. Lo nya aja yang ngelakuinnya nggak niat dari hati. Makanya susah bisanya. Malah nyalahin gue segala, lagi," balas Mario yang tidak mau disalahkan.

Wajah Alyssa jadi ditekuk seperti kanebo yang kering.

"Cepet mulai lagi latihannya. Coba lo lempar bola ini ke ring," pinta Mario.

"Nggak bakalan masuk," jawab Alyssa yang tidak memiliki keyakinan.

"Tuh! Belum juga nyoba udah ambil kesimpulan sendiri aja. Kebiasaan banget! Kurang-kurangin yang begitu."

"Emang nggak bakalan masuk dodol!" ucap Alyssa sekali lagi.

Tuk!

Mario menyentil dahi Alyssa sambil memberikan ceramahnya.

"Jangan pesimis dulu. Coba dulu sana! Dribble bolanya terus shoot ke ring, oke? Jangan banyak cincong dan ini itu. Coba dulu baru komentar. Gue akan ada disana, lo boleh selesai nyoba kalau udah ada 3 lemparan yang berhasil masuk," ucap Mario sambil menunjuk tempat yang akan dijadikannya untuk bersandar.

Alyssa hanya bisa pasrah saja.

Mario pun berjalan menuju ke pohon besar yang ada di dekat lapangan basket kemudian bersandar di pohon tersebut sambil menyilangkan kedua tangannya ke belakang kepala sebagai bantalan untuk kepalanya. Setelahnya ia memejamkan matanya.

Alyssa mulai mencoba melempar bolanya, udah beberapa kali dicoba, tapi tak ada satu pun yang masuk, selalu meleset semua.

"Menyebalkan!" gerutu Alyssa.

Karena merasa cape, ia pun berhenti berlatih dan berjalan menghampiri Mario yang terlihat nyaman dengan posisinya.

"Yo," panggil Alyssa sambil mengguncang tubuh Mario.

"Apa sih panggil-panggil? Emang udah masukin 3 lemparan ke dalam ring?" tanya Mario yang masih memejamkan matanya.

"Belum."

"Sana lanjut lagi, lo ganggu tau nggak. Gue lagi lihat pemandangan indah," ucap Mario yang membuat Alyssa keheranan.

"Gue cape. Pemandangan indah gundul mu! Mata lo aja nutup gitu. Terus apa yang lo pandangi? Bayangan hitam?"

"Cantik," ucap Mario.

Mario bukannya membalas ucapan Alyssa, ia malah membuat Alyssa keheranan dan kebingungan. Pasalnya Mario mengucapkan satu kata itu sambil tersenyum.

Cantik? Apanya yang cantik? Siapa yang cantik?

"Lo lagi mikirin apa sih? Sampai kaya orang nggak waras gini!"

Alyssa sampai nekat membuka mata Mario paksa.

"Pemaksaan tau nggak!"

Alhasil Mario membuka matanya juga. Karena Alyssa mengganggu waktu bersantainya dan mengganggu imajinasi yang ada di pikirannya.

"Abisnya lo aneh!"

"Tadi pagi lo tanya gue kan? Gue percaya atau nggak soal cinta pada pandangan pertama. Dan sekarang gue mau jawab pertanyaan itu. Gue percaya cinta pada pandangan pertama. Gue rasa gue suka sama cewek baru tadi," jujur Mario.

Deg!

Seperti ada sebuah dentuman yang dipukul di uluh hatinya.

Kenapa jadi sesak ya?

"Lo yakin itu cinta pada pandangan pertama?" tanya Alyssa untuk memastikan.

"Gue yakin. Gue belum pernah merasakan ini sebelumnya. Gue kebayang-bayang terus sama wajahnya, senyumnya. Ah pokonya, gue suka dia. Gue akan berusaha untuk dapetin dia. Gue cuma butuh dukungan dari lo, Ca."

Alyssa mengangguk.

"Perjuangin apa yang mau lo perjuangkan. Gue akan selalu dukung lo kok."

"Thanks. Lo emang sahabat terbaik gue."

Mario langsung memeluk Alyssa. Alyssa pun membalas pelukan Mario itu sambil batinnya terus berbicara.

Entah kenapa sekarang rasanya beda, Yo. Ada rasa sesak, senang dan juga sedih. Tapi gue nggak tahu apa alasannya.

Setelahnya, pelukan itu pun terlepas. Mario pun mengajak Alyssa untuk pulang bersama.

"Udah sore, kita pulang aja. Besok latihan lagi."

*

*

Kediaman Alyssa, kamar Alyssa, 20.00

Alyssa duduk di kursi sambil membaca novel yang isinya hampir sama dengan apa yang dialaminya sekarang.

"Setelah pertemuan dengan anak baru itu. Lelaki itu pun terus berusaha untuk mendekati anak baru dan mendapatkan hatinya. Sampai ia lupa ada sahabatnya sendiri."

Deg!

Alyssa langsung menutup novelnya dan berhenti membaca. Ia kemudian meletakkan novel itu di atas meja dan pergi ke ranjangnya.

"Apa lo juga akan seperti itu, Yo? Gue harap lo nggak akan seperti laki-laki yang ada di novel yang gue baca. Gara-gara baca novel itu, gue jadi terus berpikiran negatif."

Alyssa menghela napasnya lalu merasakan rasa gelisah entah karena apa alasannya.

"Hhhhh, Ada apa dengan gue? Ini bukan pertama kalinya Mario dekat dengan cewe selain gue. Tapi kenapa yang sekarang rasanya beda? Apalagi Mario bilang dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Padahal selama ini, dia dekat sama cewek pun, cuma jadi kang ghosting doang, deketin doang, jadian mah kagak."

Karena terus kepikiran tentang hal itu. Alyssa jadi pusing sendiri.

"Au ah, mending tidur aja. Palingan besok juga nggak bakalan kepikiran lagi."

Alyssa pun membaringkan tubuhnya ke ranjangnya lalu menutupi tubuhnya dengan selimut hingga dada. Tak lupa sebelum itu, ia juga mematikan lampu kamarnya lebih dulu.

*

*

Kediaman Mario, kamar Mario

Mario terus menatap ke jendela kamar Alyssa yang berada di sebrang kamarnya. Ia merasa sedikit keheranan karena lampu kamar Alyssa sudah padam. Padahal, biasanya wanita itu selalu begadang untuk menamatkan bacaan novelnya tiap malam.

"Tumben banget. Baru juga jam 20.25, udah mati aja lampu kamarnya. Biasanya kan dia nggak kenal waktu kalau lagi baca novelnya. Atau jangan-jangan dia kecapean kali ya gara-gara main basket tadi? Salah siapa udah diajarin benar-benar tapi nggak bisa-bisa."

Mario terus bicara sendiri tentang Alyssa.

"Hihi, kenapa ya buat lo kesel itu rasanya seneng banget. Kaya hiburan tersendiri buat gue."

Mario tertawa kecil sambil membayangkan ekspresi wajah kesal Alyssa. Benar-benar lucu hingga membuatnya selalu ingin tertawa.

"Astaga! Hahah, wajah kesal lo itu selalu terbayang di pikiran gue. Ica ... Ica ... Kenapa ya gue bisa sahabatan lama sama lo? Padahal lo itu agak galak, kutu buku, lebih tepatnya doyan baca novel doang sih. nggak pinter, tapi tingkah laku lo selalu nyenengin. Bahkan bisa buat gue yang bete jadi ketawa sendiri karena tingkah aneh lo. Gue harap persahabatan kita nggak pernah berakhir, Ca. Karena cuma lo satu-satunya orang yang paling gue percayai."

*

*

TBC

Terpopuler

Comments

Purwanty

Purwanty

baca novel ini... serasa kembali ke masa sma... keinget sahabat ku

2023-05-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!