Sepulang sekolah, seperti biasanya, Alyssa selalu berlatih basket dan menunggu untuk diajari oleh Mario. Katanya sih dia akan telat karena ada sedikit urusan. Tapi, sudah menunggu hampir satu jam berlalu, Mario tak kunjung datang. Alyssa pun sudah cape berlatih sendiri dan tak memiliki semangat lagi. Akhirnya ia memilih untuk pulang ke rumah.
Karena ketika berangkat bersama Mario, Alyssa pun harus pulang menaiki angkutan umum. Menunggu Mario seperti bukanlah jawaban. Bahkan Mario tidak datang saja, laki-laki itu belum memberikan pesan apapun padanya. Alyssa merasa, Mario agak sedikit berubah.
Di dalam bus, Alyssa duduk di kursi yang paling belakang sambil mendengarkan musik kesukaannya. Ia terlalu fokus sampai tidak sadar sudah ada orang yang duduk di sebelahnya. Bahkan ia masih asik sendiri saja dengan musik yang dinikmatinya.
Orang itu pun hanya diam mengamati, tanpa berniat untuk menyapa. Keduanya duduk saling sibuk dengan urusan masing-masing. Hingga di tempat pemberhentian pertama, orang yang di sebelah Alyssa turun. Rupanya orang itu adalah Abram. Alyssa baru sadar ketika, melihat laki-laki itu di turun ke halte.
"Astaga! Apa yang lo lakuin tadi, Ica! B*go! Dia pasti akan ngira gue ini cewek aneh kan?"
Alyssa malah berpikir yang tidak-tidak. Karena ia jika sudah membaca novel dan mendengarkan musik, orang yang ada di sekitarnya seolah tak pernah terlihat. Hanya sebagai bayang-bayang saja.
Hingga di pemberhentian kedua, Alyssa pun turun dan kemudian berjalan masuk ke dalam gang hingga sampai di rumahnya. Rupanya Mario sudah ada di rumah, tepatnya di depan rumah. Seperti tengah menunggu seseorang yang akan datang.
Mario berjalan ke arah Alyssa yang akan masuk ke dalam rumah.
"Apa?! Ngapain ngikut-ngikut?" tanya Alyssa dengan ketusnya karena ia kesal Mario tidak datang dan melupakan janjinya sendiri.
"Ca, gue minta maaf ya," ucapnya yang terlihat tulus.
"Emangnya lo salah apa ke gue?" tanya Alyssa seolah-olah tidak tahu. Padahal wanita itu ingin mendengar langsung Mario yang merasa bersalah.
"Karena gue nggak datang untuk ngajarin lo main basket tadi padahal gue udah janji. Niatnya, sepulang dari nganterin Ashilla pulang ke rumahnya, gue mau balik ke sekolah lagi. Tapi, mamanya Ashilla minta gue buat mampir dulu. Eh, malah keterusan. Gue malah diajak makan bareng juga disana. Sekali lagi maaf ya, Ca. Gue janji lain kali nggak akan begitu lagi."
Mendengar nama Ashilla hati Alyssa langsung berdenyut sakit. Ia kini tersadar, prioritas Mario bukan lagi dirinya. Ia pun harus mengerti dan tidak mau Mario terus merasa bersalah.
"Iya nggak papa. Lagian tadi gue juga nggak latihan kok," ucap Alyssa sengaja menyembunyikannya.
"Bohong! Terus kenapa lo jam segini baru pulang? Harusnya kalau nggak latihan, dari satu jam yang lalu, lo udah ada di rumah Ca."
"Gue jalan-jalan dulu bentar ke taman kota," alibi Alyssa.
"Bener?"
Alyssa mengangguk.
"Gue masuk dulu ya, ngantuk banget, pengen tidur," ucapnya kemudian masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Mario sendirian disana.
Begitu juga dengan Mario, laki-laki itu pun langsung masuk ke dalam rumahnya.
*
*
Kamar Alyssa, 20.00
Lampu kamar sudah Alyssa matikan, ia sengaja melakukan itu, supaya Mario berpikir ia sudah tidur. Karena Mario tahu Alyssa tidak bisa tidur kalau lampunya menyala.
Padahal yang sebenarnya terjadi, Alyssa masih belum bisa tidur karena memikirkan persahabatannya dengan Mario yang kini terasa berbeda. Harusnya ia senang kan Mario punya kekasih? Harusnya ia mendukung kan? Tapi kenapa ini? Ia jadi gelisah sendiri dan merasa terbuang pelan-pelan. Seolah-olah ada sebuah rasa yang tak seharusnya timbul dalam sebuah hubungan persahabatan.
"Nggak mungkin kan? Ya pasti nggak mungkin. Ini pasti cuma karena gue ngerasa beda aja, karena hampir tiap hari bareng terus. Iya pasti itu. Bukan alasan lain, yang nggak pernah gue bayangin sebelumnya. Come on Ca. Lo dan Mario adalah sahabat."
Alyssa mencoba menyangkal apa yang ada pikirannya. Ia tidak ingin rasa itu merusak segalanya. Alyssa pun memeluk gulingnya dan menatap ke arah jendela yang dimana jendela itu akan memperlihatkan jendela kamar Mario juga di seberang.
"No, Ica! Jangan liat kesana! mending tidur!"
Alyssa melarang dirinya sendiri untuk melihat ke arah sana. Bahkan ia sampai menutup wajahnya dengan selimut. Tapi, yang namanya magnet yang berbeda kutunya, pasti akan terus tarik menarik. Alyssa sampai kesal sendiri lalu membuka selimutnya dan keluar dari kamarnya untuk pergi ke dapur mengambil ai minum.
Berbeda dengan Mario, laki-laki itu justru heran, karena Alyssa yang jarang tidur cepat sudah mematikan lampunya. Bahkan Mario sampai memberikan pesan untuk memastikan Alyssa sudah tidur atau belum. Tapi, tak ada balasan yang ia dapatkan.
"Mungkin, memang hari ini dia benar-benar kelelahan makanya tidur cepat," pikir Mario.
Tapi tetap saja rasanya aneh. Ia jadi tidak bisa mengganggu Alyssa di malam itu. Karena biasanya Mario pasti akan mengganggu Alyssa dengan menelpon atau memberikan pesan chat beruntun untuk menggagalkan fokus baca Alyssa pada novel-novelnya.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
💐€^ĽYŹÆ ĎWĪ Ř@£ÑÄ🌺
bau2 pnyesalan akn dtang mario
2023-04-20
0
Nayla Ujji ...
next... Thor
2023-04-20
0