SMA Antariksa, koridor sekolah, 06.40.
"Hm? Bagus ya, gue cariin kemana-mana. Taunya lo malah duduk sambil baca novel lo itu," ucap Mario yang menemukan Alyssa yang dicari-carinya.
"Masih pagi, udah nyari gue aja. Mau ngapain?" tanya Alyssa dengan malasnya.
Mario membalasnya dengan diawali cengiran.
"Hehe, soalnya tadi kan kita nggak berangkat bareng. Suka aneh aja gue kalau belum liat lo sebelum masuk kelas."
"Dih, aneh banget!"
"Suka-suka gue lah."
"Eum, Yo," tiba-tiba Alyssa agak sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Apa?" jawab Mario.
"Lo percaya cinta pada pandangan pertama?" tanya Alyssa.
Mario mengernyit bingung.
"Pertanyaan lo random banget asli."
"Jawab aja. Gue kan tanya."
"Em, gue ... " Baru juga akan menjawab, ucapan Mario terpotong ketika ada seorang siswi yang menghampiri mereka berdua.
"Permisi, boleh tanya ruang kepala sekolah ada dimana?" tanya siswi itu.
Baik Mario maupun Alyssa keduanya sama-sama terdiam. Karena terkagum-kagum dengan kecantikan paras wanita yang ada di hadapan mereka. Namun, Mario cepat sadar dari terpesonanya dari wanita di hadapannya.
"Eh, em, lo tadi tanya apa?" ucap Mario bicara senormal mungkin agar tidak terlihat terpesona.
"Ruang kepala sekolah ada dimana," jawab siswi itu.
"Ayo gue anterin aja," ucap Mario mengajukan diri.
"Emang nggak ngerepotin?" tanya siswi itu.
"Nggak tenang aja. Ca, gue anterin dia dulu," ucapnya sambil menepuk pelan bahu Alyssa.
"Ayo," ajak Mario si siswi itu pun mengangguk lalu berjalan mengikuti Mario.
Setelah kepergian Mario bersama siswi itu, Alyssa tersadar dari lamunannya itu. Ia mengingat beberapa kejadian di dalam novel yang pernah ia baca ceritanya.
"Di novel yang pernah gue baca. Si cowok nantinya akan suka sama anak baru. Apa ini juga akan terjadi ke Mario?" Alyssa bertanya-tanya.
Sejenak kemudian, ia sedikit mengacak rambutnya.
"Haish! Kebanyakan baca novel sih gue kayanya. Tapi, cewek tadi emang cantik banget sih. Mana lembut banget suaranya. Beda jauh sama gue. Jadi, insecure gue."
Alyssa pun pergi dari koridor sekolah ke dalam kelasnya.
*
*
Di sisi Mario, laki-laki itu telah mengantarkan si siswi itu hingga ke depan ruang kepala sekolah.
"Makasih ya, udah antar gue sampai sini."
"Sama-sama. Kenalin gue Mario, ketua team basket SMA ini," ucap Mario sambil mengulurkan tangannya.
"Ashilla Graceva," ucap siswi itu sambil membalas uluran tangan Mario dengan tersenyum.
Anjir! Manis banget senyumnya!
Hati Mario dibuat meleleh karena senyuman manis dari Ashilla.
Tak lama kemudian, mereka pun melepaskan tangan masing-masing.
"Kalau gitu, gue permisi dulu."
Ashilla mengangguk lalu masuk ke dalam ruang kepala sekolah.
*
*
Kelas XII IPA-1
Mario datang ke kelasnya dengan wajah yang berseri-seri. Alfonso yang melihat itu dibalut keheranan dan penasaran dibuatnya. Dia jadi terus mengamati raut wajah dari Mario.
"Cantik," gumam Mario.
"Siapa yang cantik?" tanya Alfonso yang mendengar gumaman Mario.
"Anak baru, namanya Ashilla. Bening banget, gila!" puji Mario dengan wajah yang masih berseri-seri itu.
"Terus?" tanya Alfonso yang penasaran.
"Gue jadi tertarik sama dia," jawab Mario kemudian duduk di bangkunya.
"Tertarik karena kagum atau karena emang suka?" tanya Alfonso lagi untuk memastikan.
"Entahlah, gue nggak ngerti. Yang jelas gue mau liat wajahnya lagi dan lagi. Apalagi senyumnya, duh manis banget!"
Mario jadi menopang tangannya tangannya di dagu mengingat kembali pertemuannya dengan Ashilla tadi.
Apa iya lo jatuh cinta pada pandangan pertama? Lalu bagaimana dengan Ica? Kenapa jadi gue yang mikirin hubungan mereka berdua sih? Wuh! Geser kayaknya nih otak gue, gerutunya di dalam hati.
"Coba lo pastikan dulu, ketertarikan lo itu alasannya apa. Jangan langsung mabil kesimpulannya. Atau lo akan menyesal pada akhirnya."
Entah kenapa, meski awalnya gue berpikiran aneh. Gue yakin itu cuma rasa kagum doang. Karena lo, bukan lo kalau tanpa Ica.
"Iya! Bawel deh! Ngalahin si Ica, tau nggak!"
Mario jadi terdiam sesaat kemudian teringat kalau ia meninggalkan Alyssa sendirian tadi di koridor sekolah. Ya, walaupun ia sudah bilang, tapi tak ada respon dari wanita itu.
"Astaga! Gue tadi ninggalin Ica karena nganter itu anak baru ke ruang kepala sekolah."
"Parah! Bisa-bisa dia ngamuk nanti," ucap Alfonso supaya Mario lebih merasa bersalah lagi.
"Kayanya nggak bakalan ngamuk juga sih. Gue kan tadi bantuin orang."
"Iya deh iya. Ngomong-ngomong hari ini ada tugas nggak sih?" tanya Alfonso.
"Ada "
"Nyontek dong! Rio kan baik hati, tidak pelit. Boleh ya?" ucap Alfonso dengan tatapan puppy eyes nya.
"Tatapan lo menjijikkan!"
Alfonso masih menatap dengan posisi yang sama.
"Aih!"
Mario membuka tasnya. Mengambil buku tugasnya dan melemparnya ke arah Alfonso.
Puk!
Lemparan itu jatuh tepat di wajah Alfonso.
"Sakit b*go! Nggak berperikemanusiaan banget sih lo!" kesal Alfonso.
"Oh, ngatain gue? Mau gue ambil balik bukunya?"
"Eh, jangan dong. Yang tadi cuma becanda, peace," jawab Alfonso sambil memperlihatkan dua jarinya yang berarti damai.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments