Sepulang sekolah, Alyssa seperti biasa menunggu kehadiran Mario untuk mengajarinya main basket. Namun, sudah menunggu hingga 30 menit berlalu, Mario masih belum terlihat batang hidungnya.
Sudah berkali-kali Alyssa menghela napasnya karena lama menunggu. Ia pun harus membiasakan diri untuk berlatih sendirian. Meski masih asal-asalan, bahkan satu lemparan ke ring pun tak ada yang masuk satu pun.
"Gue emang seharusnya nggak pernah latihan basket, cuma karena sering diledek Rio. Mungkin setelah ini gue akan benar-benar berhenti latihan, karena percuma saja, sudah latihan berkali-kali pun gue tetap tidak bisa main. Mengenaskan sekali!"
Alyssa melempar bolanya ke dalam ring dengan perasaan gundahnya. Tapi ternyata, lemparan itu masuk dan membuatnya terdiam sejenak.
Di kala diamnya itu, seseorang datang menghampirinya.
"Kalau mau jago main basket. Jangan mengeluh terus. Cara lo bermain udah hampir bener, cuma lo harus fokus saat mau lempar bolanya supaya bisa masuk ke dalam ring. Lemparan tadi cukup bagus. Kalau lo mau lebih bagus lagi lemparannya dan tahu triknya. Gue bisa ajarin lo."
Laki-laki yang tiba-tiba datang itu adalah Abram dengan senyuman lengkung tipis di bibirnya.
"Emangnya lo bisa main basket? Setahu gue lo cuma anak aktivis OSIS yang tidak tertarik sama kegiatan olahraga begini," ucap Alyssa.
"Tidak tertarik bukan berarti tidak bisa kan? Mau gue buktiin? Oke, siapa takut! Kalo gue bisa masukin bola ke dalam ring sebanyak 3 kali dengan masa percobaan 4 kali, gue akan dengan sukarela ajarin lo main basket. Tapi kalau sebaliknya, ya nggak jadi," ucap Abram yang percaya diri kalau ia bisa. Alyssa masih belum percaya kalau masih belum melihat buktinya.
Bola sudah sampai ke tangan Abram. Lemparan pertama berhasil masuk, lemparan kedua pun begitu, Sampai lemparan ketiga pun masuk. Tak ada yang meleset satu pun. Bahkan mungkin jika lemparan keempat dilakukan itu akan masuk juga.
Alyssa cuma bisa terbengong melihatnya. Memang tidak baik melihat seseorang hanya dari luarnya saja.
"Gimana percaya? Jadi gue bisa mulai ajarin lo kan?"
Spontan Alyssa langsung mengangguk. Hal itu membuat Abram tertawa kecil. Karena tingkah Alyssa terlihat menggemaskan di matanya.
"Oke kalau begitu, kita mulai dari lemparan untuk posisi kaki dan tangan ketika lo melemparnya."
Abram mengajari Alyssa dengan serius dan penuh penjelasan, berbeda sekali dengan Mario yang kadang cuma mempraktikannya sekali lalu meninggalkannya untuk latihan sendiri, kadang ia juga sih yang meminta begitu, karena tidak mau diledek terus.
Alyssa berulang kali mencoba melempar bola. Dan hasilnya berhasil karena ajaran Abram. Saking bahagianya, Alyssa sampai lupa kalau yang mengajarinya bukanlah Mario melainkan Abram. Ia memeluk Abram seperti ketika bersama Mario ketika ia berhasil melempar bolanya. Ketika sadar akan tingkahnya, Alyssa langsung meminta maaf karena malu.
"Eh, maaf-maaf, kelepasan. Udah kebiasaan soalnya."
"Santai aja," jawab Abram ada Alyssa.
Alyssa jadi heran sendiri, bukannya Abram yang ia tahu adalah orang yang galak, perfeksionis dan tidak ramah. Tapi kenapa yang ia temukan malah sebaliknya? Sebenarnya rumor macam apa yang tersebar di sekolah.
"Jadi, sifat asli lo begini ya?" tanya Alyssa tiba-tiba.
"Maksudnya?" tanya Abram yang tidak mengerti.
"Eh, maksud gue, lo tidak galak dan jutek, cuek, sama seperti rumor gitu. Lo terlihat ramah dan tidak mudah marah. Terus kenapa bisa ya, rumor itu muncul?"
Abram hanya tersenyum mendengarkan ucapan Alyssa.
"Nah kan, sekarang lo malah bisa tersenyum. Jarang sekali lihat pak ketos bisa senyum-senyum begini."
"Hahaha. Gue malah baru tahu, ternyata rumor tentang gue seburuk itu ya? Mungkin memang karena sikap gue yang terlalu keras di OSIS jadi menyebar kemana-mana. Tapi, ya sebenarnya gue emang begini," jawab Abram.
"Wah, kurang update mereka. Mungkin lo seharusnya jangan galak-galak kalau ngurus OSIS. Mereka semua pasti takut tuh."
"Lalu, apa lo juga takut sama gue?" tanya Abram.
"Awalnya sih iya karena gue percaya rumor itu. Tapi setelah tahu lo begini, ya biasa aja," jawab Alyssa dengan jujurnya.
Lengkungan senyum di bibir Abram mulai terlihat kembali.
"Ya syukur deh, kalau sudut pandang lo udah berubah. Masih mau latihan atau pulang?"
"Pulanglah, ini udah sore banget. Gue harus balik, takut dicariin mama di rumah."
"Ya udah ayo, gue juga mau balik, kita bareng aja naik bus nya."
Alyssa pun mengangguk dengan ajakan Abram itu.
Keduanya berjalan beriringan hingga sampai di halte bus. Sambil menunggu bus datang, Abram terus mengajak Alyssa untuk mengobrol.
"Asal lo tahu ya, sebenernya gue sering liat lo latihan sama Mario beberapa kali saat gue pulang dari rapat OSIS. Tapi kenapa akhir-akhir ini Mario nggak ngajarin lo lagi?"
Alyssa jadi menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Mungkin dia sibuk. Lagian diajarin sama dia mah gue nggak bisa-bisa. Yang ada gue malah diledek terus sampe bikin gue kesel sendiri. Ujung-ujungnya tetap aja latihan sendiri. Dianya mah tiduran."
"Ya kalau dia sibuk lagi, lo bisa minta bantuan gue untuk ngajarin lo lagi kaya tadi. Gue jamin lo bakalan jago."
"Ya mungkin lain kali, kayanya sih gue udah males juga belajarnya," jawab Alyssa yang sudah agak malas berlatih.
"Jangan males-males ah, nggak bagus tahu. Kalau lo udah mulai untuk belajar, lo harus menuntaskannya sampai akhir. Lo harus bisa main basket, seenggaknya lo tahu cara lempar bola yang bener itu gimana sama pinter dribble atau pinter oper bilangnya ke teman main."
"Mungkin bisa lempar bola dan masuk ke dalam ring aja udah cukup. Lagian gue bukan mau jadi atlet basket juga. Jadi nggak perlu sampai harus jago. Cukup tahu dan bisa sedikit itu sudah lebih dari cukup.
"Oke deh kalau begitu."
Tak lama kemudian bus pun datang, keduanya naik ke dalam bus dengan Alyssa yang naik lebih dulu dan Abram naik setelahnya. Keduanya duduk di kursi paling belakang yang kosong.
Sama-sama saling fokus dengan kegiatannya masing-masing. Abram heran sendiri, Alyssa terlihat santai ketika naik bus. Wanita itu bahkan melakukan hal yang sama seperti ketika ia naik bus waktu itu. Selalu memasang headset di kepalanya dan melihat ke arah jalan, tanpa memperdulikan siapa pun yang duduk di sebelahnya.
Halte pemberhentian pertama dari sekolah pun tiba, Abram turun disana. Lalu mengucapkan kata hati-hati ke Alyssa.
Alyssa pun mengangguk, karena di saat itu, musik yang ia dengar sedang berhenti. Wanita itu melanjutkan lagi mendengarkan musiknya hingga halte berhenti di halte selanjutnya. Alyssa turun dari sana lalu berjalan sendirian menuju ke rumahnya.
"Alyssa pulang Ma!" teriak Alyssa yang sudah sampai di depan rumahnya.
Sesekali ia memandang ke arah rumah Mario. Tapi motornya pun tidak ada di depan rumah. Bisa dipastikan anak itu sedang pergi keluar. Entah kemana karena Alyssa pun tidak tahu, bahkan Mario pun tak memberikan kabar padanya. Untuk kedua kalinya, laki-laki itu sudah mengingkari janjinya sendiri.
Alyssa pun tak mau larut dalam sedihnya. Ia masuk ke dalam rumah lalu meletakkan tasnya di kursi dan melepas seragam sekolah yang melekat ditubuhnya.
*
*
Mario tiba-tiba datang ke rumah Alyssa ketika malam tiba. Seharian tidak ada kabar, malah datang tidak diundang seperti jelangkung.
"Apa sih, ganggu aja malam-malam begini. Gue kan lagi asik baca novel tahu," kesal Alyssa ketika Mario datang di saat yang tidak tepat.
"Huh! Dasar kebiasaan! Gue datang karena mau minta maaf Ica. Lagi-lagi gue ngingkarin janji gue sendiri ke lo."
"Padahal kalau mau minta maaf bisa besok aja, atau lebih baik lo tinggal beliin gue cokelat sama ice cream di minimarket udah beres pokoknya. Dijamin gue maafin lahir dan batin."
"Yee, itu sih maunya lo. Gue yang tekor jadinya. Tapi suer gue bener-bener minta maaf Ca," ucap Mario dengan tulusnya.
"Iya santai aja kali. Lagian itu bukan untuk pertama kalinya lo ingkarin janji. Jadi, nggak usah dipikirin," jawab Alyssa.
"Nggak usah dipikirin, tapi Lo malah buat gue jadi makin nggak enak."
"Dih! Kaya sama siapa aja. Santai aja kali. Ngomong-ngomong emang tadi lo kemana sampai lupa ngajarin gue main basket?"
Mario belum menjawab ucapan Alyssa. Laki-laki itu malah senyum-senyum sendiri karena terlihat bahagia.
"Senyum-senyum sendiri, kaya orang gila tau nggak!"
"Hehe," dibalas cengiran oleh Mario.
"Gue abis nganterin Ashilla ke dokter kecantikan tadi tuh. Mau gue tinggalin disana, tapi nggak enak juga. Makanya gue tungguin sampai selesai. Gue kira cuma bentar, ternyata perawatannya hampir 2-3 jam. Gue baru inget janji sama lo saat gue dan Shilla udah mau jalan pulang. Tapi, karena hari sudah mulai sore, gue pun yakin kalau lo pasti udah pulang. Jadi gue langsung pulang aja, terus mandi, makan, main-main game bentar terus kesini deh."
Lagi-lagi hati Alyssa berdenyut nyari, rupanya alasan Mario mengingkari janjinya lagi karena Ashilla. Kini Alyssa merasa dirinya sudah bukan lagi prioritas bagi Mario. Sesak sekali rasanya. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka kan hanya sahabatan.
"Wah, kayanya pendekatan lo kali ini lancar banget ya Yo."
"Iya tahu, entah kenapa gue juga ngerasa nya gitu. Bahkan gue udah ngerasa langsung klik gitu sama dia. Gue berharap sih pdkt-an nya nggak usah lama-lama. Biar langsung pacaran aja, hehe."
"Hih, itu sih maunya lo."
Dibalas dengan cengiran lagi oleh Mario.
"Sanah! Sanah! Pulang aja, gue mau lanjut baca novel gue lagi. Kedatangan lo menganggu."
"Ck! Dasar maniak novel!"
Mario berdiri dari duduknya kemudian melambaikan tangannya dan pergi dari rumah Alyssa.
Alyssa menaruh tangannya di dadanya.
"Rupanya pura-pura baik-baik aja itu nggak mudah."
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
💐€^ĽYŹÆ ĎWĪ Ř@£ÑÄ🌺
lnjutttt
2023-04-24
0
Nayla Ujji ...
next...
2023-04-24
0