Kediaman Alyssa, 19.00.
Mario sudah ada di rumahnya dan duduk santai di ruang tamu. Alyssa hanya bisa menghela napasnya saja kemudian duduk di sebelah Mario.
"Tadi lo kenapa pulangnya sore banget?" tanya Mario lagi dengan pertanyaan yang sama.
"Nggak penting kan apa jawaban gue buat lo. Mending lo istirahat aja deh Yo. Mata lo kelihatan sayu banget tahu."
"Jadi, lo nggak mau cerita ke gue? Ke sahabat lo sendiri? Lo nggak nganggep gue lagi?" tanya Mario yang kesal karena Alyssa seolah-olah memberikan jarak di antara mereka.
"Apa sih? Kenapa jadi kesana bahasannya. Kenapa lo jadi baperan gini sih Yo!"
Alyssa jadi ikutan kesal juga karena Mario seolah-olah mengintimidasi dirinya.
"Mana ada gue baperan, gue cuma ngungkapin apa yang gue rasain. Emangnya gue nggak tahu apa, kalau selama ini Abram yang gantiin gue buat ngajarin lo main basket. Kalian udah mulai deket kan? Tapi lo nggak pernah cerita apapun hal itu ke gue."
Mario tampak berapi-api karena kesal. Padahal jika diingat-ingat lagi, bukan Alyssa yang tak mau cerita, tapi memang Mario juga yang sulit untuk ditemui. Karena malas berdebat dengan Mario, Alyssa mengusir Mario dari rumahnya. Ia bahkan tak membalas pertanyaan Mario itu.
Mario yang diusir dan kini masih berdiri di depan rumah Alyssa hanya bisa kesal dan marah karena Alyssa tak mau cerita padanya. Padahal dirinya selalu cerita soal kedekatannya dengan Ashilla. Tapi, mungkin Mario sendiri tidak sadar kalau dirinya pun egois.
Mario melangkah kaki masuk ke dalam rumahnya. Raut wajahnya berubah jadi masam. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ketika ponselnya berdering. Mario melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Namun, ia sengaja mendiamkannya. Padahal yang menelpon adalah Ashilla.
Alyssa seolah-olah terus masuk ke dalam pikirannya. Hingga membuyarkan konsentrasinya dan membagikan Ashilla. Perubahan sikap Alyssa yang terkesan menjauhinya membuat dirinya gelisah dan tak bisa tenang. Apalagi mengingat aktivitas di sore itu.
Flashback on.
Mario tidak bisa datang ke lapangan basket sekolah karena mengantar Ashilla pergi perawatan wajah. Ia bahkan sampai lupa memberikan kabar ke Alyssa kalau ia tidak bisa datang. Ia baru ingat ketika ia sudah mengantarkan Ashilla pulang ke rumah dan posisinya saat itu ia masih di jalan. Ia iseng ke sekolah karena berharap Alyssa masih disana. Meski ia datang terlambat.
Dan benar saja, Alyssa memang masih disana tapi tidak sendirian melainkan ditemani oleh Abram. Bahkan kedua orang itu tampak sangat akrab. Mereka bercanda tawa ditambah Alyssa yang semakin jadi main basketnya. Bahkan lemparan bolanya sudah lebih bagus dari sebelumnya.
Seketika hawa panas mulai menjalar dalam tubuhnya. Ia merasa panas hati, dan tidak rela Alyssa bersama laki-laki lain, bahkan bercanda riang seperti itu. Ingin ikut kesana tapi ia sadar kalau telah berbuat salah dengan mengingkari janjinya berkali-kali. Alhasil Mario pun memilih untuk pergi dari sana.
Flashback off.
"Apa lo suka sama Abram, Ca? Tapi, kenapa harus dia? Apa nggak ada cowok lain?"
Mario terus bertanya-tanya karena ia tidak bisa menerima itu semua. Abram adalah rivalnya bahkan Abram sama pintarnya dengan dirinya. Mario mulai merasa takut kalau Alyssa benar-benar suka dan sampai jadian dengan Abram, ia tak dibutuhkan lagi. Karena selama ini, dirinya lah yang selalu membantu mengerjakan pr Alyssa.
"Huh!"
Mario menghela napasnya perlahan. Kemudian mengambil ponselnya yang sudah tak berbunyi lagi. Ada 10 panggilan tak terjawab dari Ashilla. Mario langsung menghubungi Ashilla.
"Darimana aja kamu Yo? Kenapa dari tadi teleponku nggak ada yang kamu angkat satu pun?" tanya Ashilla dengan kesalnya.
"Maaf, tadi aku lagi di kamar mandi," bohong Mario.
"Kamu nggak bohong kan? Kamu nggak habis main sama Alyssa kan?" tanya Ashilla memastikan.
"Nggak Shil," jawab Mario.
"Syukurlah, pokoknya kamu harus kurangi waktu sama-sama dengan Alyssa. Aku nggak mau kamu terlalu dekat sama dia. Ingat loh Yo, kamu itu pacar aku, dia cuma sahabat kamu. Jadi, kamu harus lebih mementingkan aku."
"Iya, iya Shill. Aku tahu itu. Tadi kamu telepon ada apa?"
"Nggak ada apa-apa, cuma kangen aja pengen ngobrol."
"Oh, kirain ada apa."
"Oh kamu bilang? Jadi kamu nggak kangen sama aku?" tanya Ashilla.
"Kangen lah."
Wajah Ashilla langsung bersemu merah.
"Besok kamu jemput aku ke rumah kan?"
"Iya, besok aku jemput."
Obrolan mereka terus berlanjut hingga larut malam. Setelah sambungan telepon sudah terputus, Mario menghela napasnya kemudian merubah posisinya jadi bersandar di tepi ranjang.
Sebenarnya ia tidak sepenuhnya mengikuti perintah Ashilla. Mario tidak bisa jika jauh-jauh dengan Alyssa. Mungkin, jika di sekolah ia bisa begitu, tapi ketika di rumah, ia tidak bisa. Sehari tidak melihat wanita itu rasanya ada sesuatu yang hilang dan kosong di hatinya. Tapi, ia masih belum mengerti apa alasannya.
Jika disuruh memilih antara Alyssa dan Ashilla pun ia tidak bisa, karena dua-duanya memilih tempat yang berbeda di dalam hatinya.
Daripada pusing memikirkan hal itu, Mario pun berusaha untuk memejamkan matanya dan mulai tidur.
*
*
Paginya, Mario berangkat sekolah lebih dulu. Sesekali ia melirik ke rumah Alyssa, berharap Alyssa pun keluar dari rumah dan menyapanya. Namun, itu tidak terjadi karena ia harus buru-buru pergi.
Sesampainya di depan rumah Ashilla, Mario disambut dengan baik oleh Ashilla dan mamanya. Ia diajak untuk sarapan bersama disana. Mario pun tak bisa menolak. Meski ia sudah sarapan di rumah, tapi ia menghargai ajakan itu dengan memakan sedikit hidangan yang disuguhkan.
"Ma, Shilla berangkat sekolah dulu ya."
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut ya Rio."
"Siap Tante. Kami pamit dulu."
Mario langsung menancapkan gas nya setelah berpamitan ke mamanya Ashilla. Di perjalanan keduanya saling diam. Karena Mario yang tak menanggapi pertanyaan Ashilla. Makanya Ashilla pun jadi ikut diam meski hatinya kesal.
Sesampainya di parkiran sekolah, Ashilla mempertanyakan sikap Mario yang seperti banyak pikiran dan tak peduli padanya.
"Kamu kenapa sih Yo? Ada masalah di rumah?"
Mario menggeleng.
"Aku cuma lagi nggak enak badan aja," jawab Mario.
"Kalau lagi nggak enak badan. Harusnya kamu nggak usah pergi ke sekolah dan jemput aku. Lebih baik istirahat aja di rumah!"
"Iya, iya, tapi aku masih kuat kok."
Huh!
Ashilla kesal dan langsung menarik Mario ke dalam UKS. Benar apa yang diucapkan Mario, laki-laki itu memang sedikit tidak enak badan. Keningnya sedikit panas, dan wajahnya agak pucat.
"Jangan pergi kemana-mana! Kamu disini aja. Kalau udah mendingan kamu baru boleh masuk kelas. Nanti biar aku yang minta izin ke guru yang mengajar."
"Eh, nggak usah, aku nanti minta tolong sama teman sekelas ku saja. Supaya kamu nggak repot."
"Oh, ya sudah kalau seperti itu mah. Aku ke kelas dulu ya."
Setelah kepergian Ashilla, Mario benar-benar membaringkan tubuhnya di ranjang UKS. Ia pun terheran-heran karena tidak biasanya ia demam begini. Apa ini semua karena ia terlalu banyak pikiran?
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
💐€^ĽYŹÆ ĎWĪ Ř@£ÑÄ🌺
cmn ak blang ksihannnnn mkanx jd orang itu jgn plinplann yooo unitu udah cnta sm shabat u sendirii tpi mlahhh begoooo😒😒😒
2023-04-28
0