Bab 6 - Sekelas dengan Alyssa

Keesokan harinya, Mario menunggu Alyssa di depan rumahnya. Namun, wanita itu tak kunjung keluar juga. Ia jadi kesal sendiri dan mulai berteriak-teriak di depan rumah.

"Ck! Lama banget deh keluarnya!" kesal Mario.

"ICA KELUAR!" teriak Mario dengan suara baritonnya.

Alyssa pun keluar kemudian menutup pintu rumahnya rapat-rapat lalu menatap Mario dengan wajah masamnya.

"Apa sih, teriak-teriak pagi-pagi! Lo kira kita di hutan? Dimarahin tetangga tau rasa loh!"

"Bagus ya. Lo udah buat gue nunggu lama. Ayo cepet naik! Kita berangkat nanti telat," ajak Mario dengan menyerahkan satu helm ke Alyssa.

"Emang gue minta lo buat berangkat bersama ya?"

"Udah jangan nolak. Lumayan rezeki."

Karena helm nya tak kunjung diterima Alyssa, Mario pun langsung memasangkan helm itu di kepala Alyssa dan menarik wanita itu untuk naik ke motornya.

*

*

SMA Antariksa, parkiran.

Alyssa dan Mario telah sampai di sekolah. Alyssa pun melepas helm yang dikenakannya dan memberikannya ke Mario. Namun, Mario tidak menerimanya karena laki-laki itu malah pergi duluan tanpa sepatah kata pun. Rupanya Mario menghampiri wanita yang ia bilang ada cinta pada pandangan pertamanya.

"Hhhh, melihat lo begini. Gue jadi semakin kepikiran. Bahwa yang gue baca di novel dan yang gue liat sekarang akan terjadi di dunia nyata antara lo sama gue."

Alyssa pun meninggalkan parkiran dan menaruh helmnya di atas motor Mario. Antara marah, kesal dan sedih, semua rasa itu bercampur jadi satu. Hingga Alyssa tanpa sadar malah menabrak orang yang ada di depannya.

Dug!

Kepala Alyssa terbentur dada seorang pria bertubuh jangkung. Alyssa memegang kepalanya dan mengusapnya pelan.

"Lain kali kalau jalan lihat-lihat area sekitar. Supaya lo nggak nabrak orang sembarangan kaya gini."

Setelah mengatakan itu, laki-laki itu pun melengos pergi dari hadapan Alyssa. Alyssa jadi tidak enak dan merasa bersalah, karena belum mengucapkan maaf.

"Eh, kenapa dia main pergi-pergi aja sih? Gue kan belum minta maaf. Mana jalannya cepet banget. Udah kaya dikejar maling aja."

Alyssa sedikit menghentakkan kakinya saat ia teringat, ia tidak melihat baik-baik wajah laki-laki tadi. Karena ia sudah takut duluan akan dimarahi habis-habisan.

"Aih, mana gue nggak liat wajahnya dengan jelas tadi. Cuma suaranya yang terdengar jelas di telinga. Ah! Jadi nggak enak gini kan gue. Ini semua gara-gara Mario! Kenapa dia harus ninggalin gue di parkiran coba!"

Alyssa pun menyalahkan kesialannya di pagi hari karena Mario. Memang siapa lagi orang yang pantas disalahkan? Ya cuma Mario bagi Alyssa.

Sementara di sisi lain, pria yang tadi ditabrak Ela tampak menyentuh dadanya yang berdetak tak karuan. Seolah ada yang menyalakan drum di dalam sana.

"Jantung gue nggak sehat."

*

*

Di sisi Mario, semenjak melihat Ashilla di parkiran sekolah tadi. Mario terus mengejar Ashilla tanpa mendekatinya. Ia hanya ingin tahu dimana ruang kelas Ashilla supaya ia bisa datang dan sesekali mengajak makan bersama di kantin. Sampai pada akhirnya, Ashilla pun masuk ke dalam kelasnya.

Mario seakan tersadar oleh sesuatu.

"Tunggu sebentar." Mario tampak berpikir. "Ini kan kelasnya Ica, kenapa dia nggak ceria ke gue kalau dia sekelas sama Shilla?"

Tiba-tiba mata Mario melihat Alyssa yang akan berjalan masuk ke dalam kelasnya. Saat akan memasuki kelas, Mario menahan tangan Alyssa.

"Lo kok nggak bilang kalau sekelas sama Shilla?" tanya Mario.

"Lo kan nggak nanya. Makanya gue nggak bilang," jawab Alyssa.

"Aih, benar-benar ya lo Ca! Harusnya peka dikit napa. Pokoknya lo harus bantu gue. Cari tahu semua tentang Shilla. Apa dia udah punya pacar atau belum," pinta Mario dengan paksa.

"Emang gue babu lo? Ogah banget! Cari tahu sendiri sana!"

Alyssa menolak perintah Mario lalu melepaskan tangan Mario dan masuk ke dalam kelasnya.

Mario pun pergi ke dalam kelasnya dengan keadaan kesal dan wajah yang sudah tertekuk dan terlihat kusut.

"Nggak salah tuh, pagi-pagi gini udah berkerut aja itu muka. Kenapa? Padahal kemarin wajah lo berseri-seri.

Alfonso meledek sekaligus menanyakan alasannya raut wajah Mario yang tidak ada senyumnya.

"Gue kesel sama Ica. Dia nggak ngasih tahu gue. Kalau dia sekelas sama Shilla," jawab Mario kemudian duduk di bangkunya.

"Ya elah, cuma karena itu doang, lo sampai kesal begini? Ayolah, itu cuma masalah sepele, Rio," ucap Alfonso yang gemas dengan kekesalan Mario yang karena masalah kecil.

"Ya, tapi kan dia udah tahu kalau gue suka sama Shilla. Harusnya tanpa diminta pun dia akan bantu gue kan?"

"Jadi lo udah tahu alasan lo tertarik sama dia? Dan jawabannya lo jatuh cinta?"

Mario mengangguk.

"Bisa dibilang gitu. Kemarin gue curhat sama dia. Harusnya dia ngasih tahu gue. Ah, pokonya gue kesel sama Ica."

"Emang lo beneran yakin itu cinta?"

"Yakin 100 persen," jawab Mario tanpa ada keraguan di dalam hatinya.

Gue harap keyakinan lo itu salah, Yo.

"Terus apa yang bakalan lo lakuin selanjutnya? Mulai pendekatan?"

"Itu mah udah jelas. Nanti jam istirahat temenin gue ke kelasnya Ica. Biar lo juga tahu seberapa cantiknya Shilla."

"Oke deh."

Alfonso pun mengiyakan.

Jam pelajaran pertama pun dimulai. Semua murid tampak fokus menerima pelajarannya. Tapi tetap saja pasti ada segelintir murid yang pura-pura fokus padahal melakukan aktivitas lain.

*

*

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!