Bab 12 - Bukan lagi prioritas

Waktu demi waktu berlalu. Berita tentang terjalinnya hubungan pacaran antara Mario dan Ashilla pun menyebar di seluruh penjuru sekolah. Bagaimana tidak? Keduanya adalah pusat perhatian orang-orang. Yang satu tampan dan ketua tim basket, yang satunya cantik meski anak baru tapi sudah jadi dewi di sekolah mereka.

Anehnya, Alyssa justru tahu kabar itu dari omongan orang lain bukan dari Mario nya sendiri. Ia merasa tidak dianggap oleh Mario. Bahkan beberapa Minggu terakhir ini Mario selalu mengingkari janjinya sendiri. Tak memperdulikan dirinya juga tak saling menyapa lagi. Bahkan ketika berangkat sekolah saja, motor Mario sudah tak ada di depan rumahnya. Ketika pulang sekolah pun begitu. Kini jarak sudah tercipta di antara keduanya.

Alyssa memilih untuk duduk sendirian di taman sekolah sambil tangannya memegang satu novel kesukaannya. Ia membacanya di bawa pohon rindang sambil mengendarakan kepalnya ke dahan pohon.

"Ternyata begini ya rasanya sakit tapi tak berdarah?" ucap Alyssa sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Ia teringat kejadian tadi pagi ketika ia baru saja tiba di sekolah. Mario bersikap sangat manis pada Ashilla di depan kelasnya. Tak jarang Mario juga memberikan elusan di kepala Ashilla. Pemandangan itu membuat hatinya tersayat. Namun ia bisa apa? Melarang mereka? Memangnya ia siapa?

Ya, lagi-lagi Alyssa sadar diri. Kalau dia hanya seorang sahabat bagi Mario. Dan kata sahabat itu tak akan mungkin bisa berubah. Ia harus sadar itu.

"Semuanya sudah berubah, perhatiannya, sikapnya dan juga prioritasnya. Harusnya gue senang kalau Mario punya pacar kan? Harusnya perasaan ini nggak tumbuh jadi cinta. Tapi kenapa malah kelepasan?"

Alyssa menghela napasnya kasar. Kemudian meletakkan novelnya di samping tubuhnya. Ia melihat awan di langit yang bergerombol dengan langit yang berwarna biru.

"Bisakah gue melupakan rasa cinta ini? Dan kembali ke rasa sayang saja? Gue nggak ingin jika Mario tahu, persahabatan kita yang sudah hampir seumur hidup ini rusak karenanya. Iya, mungkin memang seharusnya gue hilangkan saja dan bersikap seperti biasanya."

Masih terus menatap langit, Alyssa tampak terlihat murung dan senyuman ceria itu luntur di hari itu. Hingga suara bel masuk pun berbunyi. Alyssa beranjak dari sana dan pergi menuju ke kelasnya.

*

*

Kantin sekolah.

Setelah resmi berpacaran dengan Ashilla, Mario sudah jarang makan bersama dengan Alfonso, Jehana juga dengan Alyssa. Alyssa terlihat bersikap bodo amat padanya di hatinya sedang ada gemuruh perang antara hati dan pikirannya.

"Mario semenjak pacaran dengan Ashilla jadi jarang kumpul-kumpul sama kita. Apalagi ketika nyamperin Ashilla ke kelas gue. Dia bahkan nggak nyapa gue sama sekali. Nyebelin banget!" kesal Jehana ada sikap Mario yang berubah.

"Bukan cuma lo aja yang ngerasa begitu. Gue pun merasakan hal yang sama. Biasanya kalau mau istirahat dia pasti ajak gue ke kantin, atau kalau pulang ngajak ke kelas kalian atau kadang-kadang kita suka nongkrong malam-malam. Tapi sekarang udah jarang. Tau lah, terserah dia aja. Yang namanya lagi bucin ya kaya gitu."

Ketika dua orang sahabatnya tengah membicarakan Mario, Alyssa memilih untuk diam. Karena ia pun merasakan hal yang sama.

"Ca, lo pasti ngerasa gitu juga kan?" tanya Jehana.

Alyssa hanya mengangkat bahunya lalu fokus pada makanannya. Setelah makanannya sudah habis, Alyssa memilih untuk pergi dari kantin sekolah.

Jehana dan Alfonso yang masih ada disana dan belum mengabiskan makanan mereka hanya saling pandang, mencoba memikirkan sesuatu yang sama. Setelah makanan itu habis keduanya saling bicara.

"Apa lo juga berpikir hal yang sama Je?" tanya Alfonso.

"Yang Alyssa keliatan sedih dan patah hati, seolah-olah ia memiliki cinta untuk Mario?" tanya Jehana memastikan apa yang dipikirkan Alfonso.

Alfonso mengangguk.

"Mungkin sebenarnya Alyssa sadar akan rasa cintanya. Tapi ia tahu diri dan mencoba menyembunyikannya. Tapi, itu semua tidak akan pernah bisa karena Alyssa mudah sekali ditebak. Berbeda dengan Mario yang sepertinya nggak sadar."

"Jadi maksud lo, Mario juga suka sama Ica gitu? Bagaimana mungkin? Dia kan sudah jadian sama Ashilla."

Jehana tidak percaya jika apa yang dikatakan Alfonso adalah kebenaran. Bagaimana bisa sukanya sama siapa jadiannya sama siapa. Benar-benar tidak sampai di pikiran Jehana.

"Itu hanya asumsi gue sih. Tapi emang keliatan gitu tahu."

"Huh! Gue kira beneran. Ternyata cuma asumsi lo doang! Kalau beneran kaya gitu, gue mau gebukin Mario aja. Seenaknya aja dia nyakitin Alyssa. Gue nggak terima!"

"Tahan dulu Bu. Jangan emosi! Makanya kita harus cari tahu dulu. Gimana perasaan Mario yang sebenarnya. Ya, soalnya gue masih rada-rada nggak percaya kalau Mario suka sama Ashilla."

Kedua orang itu saling pandang dan membicarakan rencana mereka berdua.

*

*

Alyssa baru aja sampai rumahnya setelah latihan basket di lapangan sekolah bersama Abram.

Mario yang sudah pulang dari mengantar Ashilla pun berpura-pura mengecek motornya karena tahu Alyssa belum pulang ke rumah.

Ketika melihat Alyssa pulang, Mario langsung berdiri dan berkacak pinggang.

"Sore banget pulangnya! Lo abis ngapain Ca?" tanya Mario.

Alyssa tidak menjawab pertanyaan Mario itu karena ia sudah terlalu lelah. Ia ingin segera memasuki rumah dan segera mengganti pakaiannya dan juga langsung mandi dan tidur.

"Ca! Jawab kek!" kesal Mario karena tidak dijawab.

"Gue cape."

Hanya jawaban itu yang diberikan Alyssa sebelum wanita itu memasuki rumahnya. Mario yang masih berada di depan rumahnya jadi merengut sedih. Seolah-olah sesuatu yang biasanya jadi hiburan baginya tak ada lagi.

Tiba-tiba suara nada dering ponselnya terdengar. Mario langsung mengambil ponselnya yang ada di saku bajunya.

"Halo, Shil? Ada apa?" tanya Mario pada Ashilla yang menelpon.

"Rio, bisa ke rumah nggak? Gue sendirian di rumah. Mama lagi pergi kumpul-kumpul sama temannya. Gue takut."

"Oke, gue kesana sekarang."

"Jangan lama-lama ya."

"Iya."

Mario pun bergegas masuk ke dalam rumahnya mengambil jaketnya kemudian menaiki motornya dan melesat jauh dari rumahnya.

Rupanya Alyssa tak langsung pergi ke kamarnya. Ia mengintip dari jendela rumahnya.

"Kali ini gue benar-benar sadar. Gue bukan lagi prioritas bagi lo. Gue harus benar-benar menghilangkan perasaan ini Yo. Maaf, karena gue jatuh cinta sama lo. Gue janji rasa cinta ini nggak akan semakin berkembang."

Alyssa menutup gorden jendela rumahnya kemudian memasuki kamarnya. Rasa cape di badannya jadi menjalar ke hatinya. Rasanya tidak karu-karuan. Rupanya patah hati akan sesakit ini. Kalau tahu jadinya begini, mungkin Alyssa akan menutup rapat hatinya pada siapapun. Ia lebih memilih untuk tetap menjaga jarak aman. Tapi, itu tidak bisa, karena sekarang sudah kelepasan.

*

*

TBC

Terpopuler

Comments

Maria Kibtiyah

Maria Kibtiyah

nyesek bgt jd alysa

2023-04-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!