Di jam istirahat, Alyssa, Jehana dan Alfonso jajan bersama di kantin. Alfonso bercerita kalau Mario tidak masuk di dua jam pelajaran pertama karena sakit dan ada di UKS. Alyssa yang mendengarnya jadi khawatir dan gelisah. Ia pun cepat-cepat menghabiskan makanannya dan membelikan beberapa makanan untuk dimakan oleh Mario.
Setibanya di depan UKS, Alyssa masuk kesana dan melihat Ashilla yang sudah lebih dulu disana dan menyuapi Mario makanan. Alyssa langsung lemas dan tak jadi masuk kesana. Ia langsung keluar dengan langkah pelan agar tidak diketahui.
Kakinya terus berjalan hingga sampai di taman sekolah. Makanan yang niatnya ingin diberikan ke Mario ia terus lihat dan amati. Tiba-tiba saja, Abram duduk di sebelahnya dan mengambil makanan yang dipegang oleh Alyssa.
Dengan tak tahu malunya, Abram langsung menamakan makanan itu tanpa meminta izin lebih dulu.
"Kalau punya makanan, daripada terus diliatin terus tanpa dimakan. Lebih baik kasih ke orang kan? Ini enak, tapi kenapa cuma diliatin doang? Bodoh banget!"
Bahkan ucapan Abram pun tak dipedulikan oleh Alyssa. Alyssa masih tetap diam tak bergeming.
"Patah hati?" tebak Abram tiba-tiba.
Alyssa langsung menoleh dan membantahnya.
"Sembarangan kalau bicara! Mana ada gue patah hati, pacar aja nggak punya."
"Ya mungkin pacar memang tidak punya. Tapi orang yang disukai pasti punya kan?" tanya Abram lagi.
Alyssa hanya terdiam enggan menjawabnya. Ia malah memilih berdiri dan pergi jauh dari Abram.
"Wah, rupanya gue harus bekerja keras supaya bisa mendapatkan hatinya."
*
*
Jam masuk sudah berbunyi lagi. Ashilla pun keluar dari UKS dengan wajah sedihnya. Ia tak tega meninggalkan Mario sendirian disana. Tapi, Mario selalu bilang kalau ia tidak apa-apa, ia hanya butuh istirahat.
Setelah Ashilla pergi, Mario menghela napasnya. Hari ini ia belum melihat Alyssa. Sangat tidak mungkin kalau Alyssa tidak tahu kalau dirinya ada di UKS karena Alfonso Asti memberitahukan hal itu ke Alyssa. Tapi kenapa? Alyssa tidak mengunjunginya?
Padahal kalau dipikir-pikir, seharusnya kehadiran Ashilla lebih membuat Mario senang, tapi justru kehadiran Alyssa lah yang ditunggu-tunggu oleh Mario.
Di kala kebosanannya di UKS, Mario memainkan ponselnya sebentar, lalu melihat status media sosial Alyssa.
Lilin di dalam kegelapan mungkin tak akan mampu untuk menerangi semua sudut ruangan. Tapi ia mampu untuk memberikan energinya ke lilin yang lain. Tapi dalam sebuah hubungan, mungkin hal itu tidak mungkin terjadi. Karena itu artinya, rasa cinta harus dibagi. Dan kebanyakan orang, tak rela cintanya harus dibagi-bagi.
"Ih, apaan sih anak ini bikin status kaya gini. Kaya dia lagi pacaran aja. Heran deh!"
Mario malah kesal setelah membaca status media sosial Alyssa. Ia lalu meletakkan ponselnya di meja kecil sebelah ranjang. Ia menatap langit-langit kamar UKS itu kemudian bangkit dari rebahannya jadi terduduk. Ia menjadi tidak tenang karena status media sosial Alyssa itu. Laki-laki itu berpikir kalau Alyssa sedang menyukai seseorang dan seseorang itu telah menyakiti Alyssa. Yang paling membuatnya kesal adalah, Alyssa tak menceritakan apapun padanya.
"Huh! Kenapa gue jadi gelisah gini sih?"
Mario heran sendiri dengan dirinya. Semua tentang Alyssa selalu membuatnya kepikiran dan penasaran. Bahkan hal sekecil apapun. Mario selalu beranggapan bahwa hal itu adalah wajar karena ia sudah hampir seumur hidupnya bergaul dan tumbuh bersama. Padahal kenyataannya, Mario memiliki rasa sayang yang lain ke Alyssa hanya saja belum menyadarinya kalau rasa itu adalah cinta.
Lalu bagaimana dengan Ashilla? Entahlah, Mario justru beranggapan kalau Ashilla adalah cinta pertamanya. Padahal mungkin bukan cinta pertama hanya kagum dan tertarik sementara. Begitulah namanya laki-laki.
*
*
Saat pulang sekolah, Alyssa berjalan sendirian menuju ke gerbang sekolah. Mario yang sudah baikan kondisinya menghampiri Alyssa ketika tak ada Ashilla disana.
Kedatangan Mario mengagetkan Alyssa hingga wanita itu reflek menaruh tangannya di depan dada.
"Astaga! Kalau datang itu jangan kaya jelangkung dong!" kesal Alyssa yang merasa terkejut.
Mario hanya bisa nyengir.
"Lo nggak khawatir sama gue? Kenapa lo nggak jenguk gue di UKS? Pastinya Alfon nggak mungkin nggak cerita ke lo."
Alyssa menarik napasnya dulu sebelum mulai bicara.
"Khawatir sih, tapi pastinya pacar lo kan akan selalu ada buat lo. Jadi, gue sengaja nggak jenguk, karena pastinya udah ada Shilla yang jagain lo. Lagian, hari ini gue juga banyak tugas. Makanya nggak bisa kesana."
Mendengar jawaban Alyssa membuat Mario kecewa. Tapi ia berusaha untuk tersenyum. Lagi-lagi Mario tidak tahu perasaannya sendiri.
Mata Alyssa sedikit memicing ketika melihat Ashilla di ujung koridor sana. Ia langsung menepuk pundak Mario dan pamit pulang duluan. Ia tidak mau jadi sebab pertengkaran di antara Mario dan Ashilla. Karena Mario pernah bercerita kalau Ashilla cemburu laki-lakinya terlalu dekat dengan dirinya. Alyssa pun memaklumi itu, tapi di hati kecil Mario ia malah merasa tidak nyaman berjarak dengan Alyssa. Makanya perlakuan Mario di rumah dan di sekolah berbeda pada Alyssa.
Tak lama kemudian, Ashilla datang menghampiri Mario. Ia langsung bertanya, tadi Mario mengobrol dengan siapa.
"Sepertinya tadi kamu sedang ngobrol sama cewek? Siapa? Alyssa?"
Mario diam tak menjawab.
"Kalau beneran Alyssa. Aku marah ya! Aku kan udah bilang, kalau aku nggak suka kamu terlalu dekat sama Alyssa meskipun dia sahabat kamu."
"Iya, iya, iya, maaf ya."
Ashilla masih kesal, tapi ia juga tak bisa lama-lama kesal karena Mario sudah minta maaf padanya. Keduanya pun pulang sekolah bareng. Mario mengantarkan Ashilla pulang ke rumahnya. Kemudian ia kembali lagi ke sekolah untuk pergi ke lapangan basket.
Disana tidak ada orang yang berlatih. Mario jadi teringat akan Alyssa dengan segala tingkahnya. Dari mulai rengekan, keluhan, sampai raut wajah menangis ketika Alyssa tak bisa-bisa mendribble bola.
Seketika Mario jadi tertawa sendiri. Kelakuan Alyssa selalu ajaib ketika ia ingat-ingat. Bahkan tingkah konyolnya selalu seliweran di kepalanya. Namun, sesaat kemudian ia jadi terdiam. Mengingat janjinya yang selalu ia ingkari. Ia merasa sangat bersalah, tapi Alyssa justru itu mempermasalahkan itu dan meminta Mario untuk tidak mengajarinya lagi, karena wanita itu sudah menemukan pelatih yang lain.
Daripada terus memikirkan Alyssa, Mario memilih untuk bermain basket sendirian hingga petang menjelang. Lalu setelahnya ia pulang ke rumah.
Di depan rumahnya, ia melihat Alyssa yang sedang mematikan kran air. Mario pun sengaja menakut-nakuti Alyssa.
"Udah mau gelap, masih aja di luar rumah. Ati-ati loh nanti diculik Wewe gombel."
"Ih, apaan sih! Jangan ngada-ngada!" jawab Alyssa dengan raut wajah takutnya.
Mario tersenyum tipis, lalu menakut-nakuti Alyssa lagi.
"Ada lah, setan mah kan ada dimana-mana. Itu di sebelah kanan dan kiri lo juga ada setan. Mana ada yang lagi jilatin tangan lo lagi!"
"Mario!" teriak Alyssa dengan kencang kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Tawa Mario langsung meledak seketika. Ia bahkan hampir mengeluarkan air matanya saking lucunya raut wajah Alyssa saat ketakutan. Alyssa seolah telah menjadi mood booster baginya.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Maria Kibtiyah
ashila posesif bgt gk suka ma dia
2023-05-05
0
💐€^ĽYŹÆ ĎWĪ Ř@£ÑÄ🌺
jgn lma2 upnx dong thor ak g sbar mnunggu mereka jadian thor sperti yg dijudul
2023-05-05
0