Esok harinya, ketika mau berangkat sekolah, Mario sudah menunggu di depan rumah Alyssa dengan motornya.
"Tumben lo belum berangkat? Biasanya lo kan jemput Shilla," ucap Alyssa yang heran melihat Mario malah ada di hadapannya.
"Dia dianterin sama papanya. Katanya sih papanya mau pergi ke luar kota."
"Oh, pantesan aja lo udah ada di depan rumah gue sekarang."
"Ya gitu deh. Cepet naik! Nanti kita telat."
"Udah langganan telat gue mah, tapi ya biasa aja, karena udah jadi kebiasaan."
"Ah, buru naik Ca!"
"Iya, iya bentar napa! Mana helm nya sini!"
Mario pun memberikan helm nya ke Alyssa. Alyssa langsung memasangnya dan menaiki motor Mario.
Di perjalanan, keduanya saling diam, tidak seperti biasanya yang selalu mengobrol ngalor-ngidul tidak jelas. Seperti ada jarak di antara mereka. Keduanya sama-sama tahu, tapi tak ada yang ingin memulai pembicaraan duluan.
Sampai akhirnya tiba di sekolah, Alyssa langsung mengucapkan terima kasih dan pergi lebih dulu. Di koridor sekolah, ia berpapasan dengan Abram. Laki-laki itu mendekat padanya dan bertanya tentang Alyssa yang tidak naik bus hari ini.
"Berangkat naik apa? Sepertinya lo nggak naik bus hari ini."
"Iya, tadi sama Mario," jawab Alyssa.
"Oh, begitu," balas Abram dengan sedikit rasa cemburunya.
Namun, ia mencoba menyembunyikan itu semua dengan bertanya tentang latihan basket lagi.
"Sepulang sekolah nanti, mau latihan basket lagi?"
Alyssa menggeleng.
"Nanti sore gue ada janji sama mama."
"Oh gitu."
Alyssa mengangguk kemudian berjalan lebih dulu karena kelasnya sudah ada di depan mata. Sementara Abram hanya bisa menatap wanita itu sampai masuk ke dalam kelasnya kemudian pergi ke kelasnya.
*
*
Kelas XII IPA-1
Abram meletakkan tas nya di kursinya. Ia kemudian duduk di kursinya dan membuka tas nya untuk mengambil buku-bukunya. Aktivitas Abram itu terhenti ketika Mario ada di hadapannya.
"Sejak kapan lo kenal Alyssa?" tanya Mario.
"Memangnya harus gue jawab? Nggak kan?" jawab Abram yang membuat Mario kesal.
"Awas aja kalau sampai lo buat Alyssa nangis! Gue nggak akan tinggal diam!" ancam Mario kemudian pergi ke tempat duduknya.
Abram hanya bisa mengelus dadanya sambil bergumam, "Harusnya perkataan lo tadi untuk lo sendiri. Yang bikin dia nangis ya itu lo sendiri. Betapa bodohnya lo Yo. Nggak sadar kalau Alyssa menyukai lo."
Untungnya ucapan itu terlalu kecil jadi tidak sampai terdengar oleh Mario.
Pelajaran pun dimulai, murid-murid mendengarkan penjelasan dari guru dengan fokus dan seksama. Sesekali guru bertanya tentang materi yang disampaikan. Abram dan Mario sama-sama mengangkat tangan untuk menjawab. Ya, Abram dan Mario adalah rival di kelasnya. Keduanya selalu bergantian dalam juara kelas juga juara paralel di angkatan mereka. Kalau Abram juara satunya, Mario lah yang kedua. Begitu juga sebaliknya.
Soal kepintaran, mereka berdua memang sudah terkenal. Cuma bedanya, Mario berkecimpung di dalam dunia olahraga yaitu basket, sementara Abram di OSIS sebagai ketua OSIS nya.
Sampai pelajaran pun berkahir. Mario keluar dari kelasnya menuju ke kelas Alyssa. Tapi namanya masih dibutakan cinta yang entah itu cinta atau bukan. Mario malah memilih untuk menghampiri Ashilla.
"Tadi sampai di sekolah jam berapa?" tanya Mario.
"10 menit sebelum masuk," jawab Shilla.
"Mau ke kantin? Atau mau gue beliin aja?" tawar Mario.
"Ke kantin aja yok, di kelas aja pusing gue. Apalagi tadi gurunya, huh! Killer abis!"
"Ya udah ayo!"
Mario pun keluar dari kelas Alyssa dengan menggandeng tangan Ashilla. Alyssa yang memang masih berada di dalam kelas juga melihat itu dan hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun. Meski sesak di dada, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.
Jehana yang kurang peka, malah mengajak Alyssa untuk pergi ke kantin juga. Dengan cepat Alyssa menggeleng dan langsung pergi ke perpustakaan sendiri.
Di perpustakaan, Alyssa bisa sedikit tenang dengan membaca novelnya. Tiba-tiba ada orang yang duduk di sebelahnya. Alyssa langsung menoleh dan ikut tersenyum ketika orang itu memberinya senyuman.
"Ternyata lo suka baca novel ya? Mana yang lebih lo suka? Baca novel atau main basket?" tanya Abram yang sudah duduk di sebelah Alyssa.
Alyssa hanya menanggapinya dengan senyuman. Ia tak mau menjawabnya.
"Ah, iya lupa. Di perpustakaan kan dilarang berisik."
Keduanya pun saling terdiam dan fokus pada bacaan masing-masing. Setelah hampir setengah jam disana. Bel masuk pun terdengar. Itu artinya jam istirahat sudah berakhir dan mereka harus kembali ke kelas masing-masing.
Setelah keluar dari ruang perpustakaan, Abram bertanya lagi ke Alyssa.
"Nanti pulangnya sama Mario lagi?"
Alyssa mengangkat bahunya tidak tahu kemudian berjalan ke arah kelasnya.
*
*
Waktunya jam pulang sekolah pun tiba. Mario sudah berdiri di luar kelas Alyssa entah menunggu siapa. Ketika Alyssa dan Ashilla keluar bersamaan, Mario langsung mengajak Ashilla untuk pulang bersama. Tentu saja Ashilla tidak menolaknya.
Kedua orang itu pergi dengan gembira. Berbeda dengan Alyssa yang hanya bisa merasakan sesak di dadanya. Ia seperti tidak dianggap lagi. Padahal hal tersebut wajar, karena Ashilla adalah orang yang disukai oleh Mario. Dan dirinya hanya seorang sahabat.
Daripada terus memikirkan itu, Alyssa berjalan ke arah luar gedung sekolah sendirian. Ia berpapasan dengan Alfonso di parkiran sekolah.
"Mario nggak nganterin lo pulang?" tanya Alfonso.
Alyssa menggeleng.
"Dia nganterin Ashilla."
"Huh!"
Terdengar suara helaan napas dari Alfonso.
"Harusnya kalau kalian berangkat sekolah bareng, pulangnya pun bareng."
"Gue nggak masalah, lagian gue kan bisa naik bis."
"Nggak usah, gue anterin lo pulang aja Ca," ajak Alfonso.
"Emang nggak ngerepotin?" tanya Alyssa takut Alfonso terpaksa mengantarnya pulang.
"Direpotin sama lo mah udah biasa. Jadi jangan tanya hal-hal semacam itu. Saling merepotkan dalam persahabatan itu wajar. Ayo cepet naik!"
Alyssa pun naik ke motor Alfonso dengan mengenakan helm yang dipinjam dari pos satpam. Keduanya sudah melesat jauh dari area sekolah. Di tempat yang minim kendaraan, Alfonso sengaja melambatkan laju motornya dan mulai mengajak Alyssa untuk berbicara.
"Ca, gimana tanggapan lo soal Mario dan Ashilla? Apa menurut lo mereka bakal jadian?"
"Sepertinya iya. Karena gue lihat sendiri bagaimana Mario memperlakukan Ashilla. Beda sekali dengan Mario memperlakukan gebetan- gebetannya sebelumnya."
"Lalu gimana perasaan lo?" tanya Alfonso membuat Alyssa sedikit heran dan takut kalau Alfonso tahu ia menyukai Mario.
"Ya nggak gimana-gimana. Gue mah dukung aja asalkan mereka bahagia."
"Ca, yang gue tanya itu tentang perasaan lo. Bukan jawaban dukungan untuk mereka. Kalian bersama sudah dari kecil. Apa-apa kalian lakuin sama-sama. Apa nggak ada rasa yang timbul selain rasa sayang. Rasa cinta mungkin?"
"Ih, apaan sih, ngawur aja ucapan lo. Mana mungkin lah. Gue sama Mario itu udah kaya tom and jerry tahu kalau lagi bareng. Baik gue maupun Mario nggak akan ada yang saling suka."
"Ah, begitu ya. Kalau semisal Mario yang suka sama lo gimana?" tanya Alfonso lagi.
"Udahlah fon, gue malas jawabnya. Pertanyaan lo makin ngawur aja."
Alfonso pun jadi diam tak bertanya lagi sampai tiba di depan rumah Alyssa. Alyssa mengucapkan terima kasih lalu masuk ke dalam rumahnya. Begitu juga dengan Alfonso yang langsung pergi dari sana.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
💐€^ĽYŹÆ ĎWĪ Ř@£ÑÄ🌺
makasihh thor udah up 3 sekaligusss
2023-04-28
0
Maria Kibtiyah
malah alfonso yg peka ma mereka berdua
2023-04-28
0