Khay mengenali mobil berwarna hitam yang kini sedang ada di hadapannya, ya ini adalah mobil yang kemarin menjemputnya. Khay langsung masuk ke dalam mobil itu dengan senyuman manisnya. Kemarin malam Khay bersama dengan Putri mabar bersama, putri kala berkali-kali dan membuat Khay menang telak tanpa perlawanan jadilah di pagi hari mood Khay membalik sebab ia sudah menghajar habis-habisan sahabatnya itu dalam permainan mabar semalam.
“Neng Khay sudah jauh lebih baikan sekarang?” tanpa Pak Mamang yang merupakan supir khusus untuk mengantar jemput Khay setiap hari.
“Alhamdulillah, sudah memangnya kenapa Pak?” tanya Khay balik sembari melihat ke arah sang supir yang kini sedang sibuk memusatkan perhatiannya ke arah jalanan.
“Kemarin Pak Mamang sedih melihat Neng Khay menangis, tapi Alhamdulillah kalau sudah baikan sekarang,” jawab Pak Mamang menatap sekilas ke arah Khay dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.
“Kalau sedih bentar aja Pak jangan lama-lama nanti takut cepat tua,” canda Khay pada sang supir.
Keduanya pun tertawa bersama hingga tanpa terasa mobil ini berhenti tepat di depan gerbang sekolah kemudian Khay langsung turun dari dalam mobil setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Mamang.
Khay melangkah memasuki gerbang sekolah dan terlihat jika kini Dilan melewatinya dengan ducati merahnya itu. Khay langsung mengingat tentang kejadian semalam hingga membuat tubuhnya membeku bagaikan ada paku yang kini menancapkan kedua kakinya hingga membuatnya tak bisa bergerak, kemudian terdengarlah suara seorang perempuan yang berada di belakangnya.
“Ya allah, calon suami gue baru aja datang, lo lihat nggak tadi dia sempat mengedipkan satu matanya sama gue,” kata seorang perempuan cantik dengan begitu centil. Ya, dia adalah Cantika memangnya siapa lagi.
“Aslian, gue juga lihat hal itu tadi. Tapi Dilan kalau dihadapan banyak orang selalu saja pasang wajah datar kayak nggak perduli gitu sama lo, padahal kalau lagi berdua mah mesumnya nggak karuan,” balas Anita sembari melirik ke arah Khay yang sekarang ada di sampingnya.
Cantika dan juga Anita sengaja berbicara dengan cukup lantang supaya Khay bisa mendengarkan perbincangan keduanya tanpa ada satu kata pun yang terlewatkan. Cantika memang meminta Anita untuk mengatakan demikian supaya Khay tak berharap jika ia bisa dekat dengan Dilan. Kedua sahabat itu sudah merasa ada yang aneh ketika hari pertama Khay masuk ke sekolah ini. Dilan yang di kenal cuek dan juga anti pada perempuan tiba-tiba mulai memperhatikan Khay.
Khay tersenyum miris ketika melihat kedua perempuan itu sudah menjauh darinya. “Dia bahkan mesum, pantas saja dia melakukan itu padaku ketika aku ada di dalam toilet! Sial, dia pikir aku perempuan apaan sudah punya pacar malah menyentuh istrinya.” Sepertinya pikiran Khay mulai korslet bagaikan listrik yang tiba-tiba padam di tengah malam. Seharusnya kamu itu bilang jika sudah punya istri masih saja pacaran, lah ini malah kebalik. Namanya juga Khay, ya gitulah kadang akal dan pikiran nggak berjalan selaras.
***
“Dilan, yok kita ke kantin gue laper nih,” ujar Cantika dengan bergelayut manja di tangan Dilan.
“Astaga, itik Cantika, ngapain sih lo ngajak babang Dilan terus, sekali-sekali ngajakin Malik dong,” goda malik sembari memukul tangannya di atas tempat duduk yang terbuat dari kayu.
“Mana mau Cantika sama Malik, Malik jelek,” jawab Cantika sembari melirik ke arah Malik jutek.
“Si anjir, gue ganteng begini di kira jelek, memangnya Itik nggak cuci muka ketika berangkat ke sekolah tadi,” kata Malik nggak terima dia dibilang jelek, lah semua adik kelas saja pada ngantri mau jadi gebetannya.
“Cantika nggak salah lihat, lo memang jelek dah gitu lemot lagi,” ujar Galih nggak tahan untuk tak menyahuti percakapan konyol keduanya.
“Ya, elah nyet! Namanya juga kegantengan itu nggak sempurna pasti ada kekurangannya, ya seperti gue ini,” jawab Malik dengan pada Galih sembari menyisir rambutnya kebelakang mengunakan jemari-jemari tangan. Mode sok cakep dimulai.
“Terserah elo lah, dari pada gue ikutan gila,” sahut Galih malas menangapi kepedean Malik yang sudah nggak ada obat.
“Eh, Dilan ini cakep dan dia juga terlihat sempurna. Pintar, idola para gadis di sekolah, anak orang kaya dan juga kesayangan semua guru, tapi siapa tahu jika diam-diam Dilan mesum,” kata Malik asal bicara dan itu berhasil mendapatkan lirikan tajam dari Dilan.
Disaat yang sama Khay lewat di samping mereka, Khay melangkah sembari mengandeng tangan Putri seakan tak terjadi apapun. Padahal di dalam hati Khay sedang mencoba untuk menahan gemuruh badai di hatinya ini.
“Si anjir si Barra terus saja mepet ke murid baru itu, seakan dia sedang tak memberikan cela pada siapapun untuk mendekati Khay,” keluh Galih yang begitu ingin dekat dengan Khay sejak gadis cantik itu pertama kali menjejakkan kakinya ke sekolah ini.
Dilan hanya diam sembari melihat ke arah Khay yang berjalan santai. Istrinya itu sesekali menoleh pada Barra dan juga Putri ketika bicara.
“Ayo ke kantin sekarang!” kata Dilan pada Cantika.
“Eh tumben dia mau ke kantin terus-terusan, bisanya juga paling ogah,” kata Galih pada Malik.
“Kali aja dia lapar karena kebanyakan mikir, kan tadi habis kita berdua contekin,” jawab Malik dan berhasil membuat Galih meliriknya.
“Gue mah cuman nyontek dua soal aja, lah elo 10 soal yang bu guru kasih, nggak ada satupun yang mampu lo jawab. Dan alhasil lo nyontek semua ke Dilan,” keluh Galih sembari menggelengkan kepala melihat kebodohan sahabatnya ini.
“Untuk apa gue capek-capek belajar, lah ada lo dan juga Dilan yang bakal bantu gue untuk menjawab semua soal,” kata Malik santai dan dengan wajah tak acuhnya itu.
Ingin sekali Galih mengumpati sahabatnya ini, tapi ia memilih untuk diam melihat adek-adek gemes yang sedang menatapnya dengan penuh damba.
Di kantin Mak Yanti.
“Eh si Cantika dan juga Dilan makin lama makin erat aja, mereka pacaran ya?”
“Sepertinya memang begitu deh. Lihat itu tangan Cantika memegangi lengan Dilan, anjir gue patah hati lihatnya,”
“Mereka memang cocok sih, dan gue setuju jika Dilan sama Cantika. Entah mengapa suka aja lihat mereka berdua jalan bersama, yang satu cantik dan yang satu ganteng.”
Itulah suara-suara yang Khay dengar sekarang. Khay melirik ke arah meja yang ada di samping mejanya sekarang. Dan benar saja jika kini Dilan sedang bersama dengan Cantika dan juga ketiga orang lainnya.
“Kenapa dia selalu melihat aku dengan begitu tajam, padahal sudah ada pacarnya,” batin Khay bingung sekali melihat sikap si Dilan ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments