Khay kini sedang berdiri di depan pintu dapur dan ia melihat jika Mama Aulia sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Entah mengapa Khay merasa begitu bahagia sekali sebab selama ini ia begitu ingin memiliki seorang Mama dan sekarang ia telah mendapatkannya. Aulia mengangkat pandangannya dan ia melihat Khay berdiri bengong di depan pintu dapur ini.
“Sayang, Khay kenapa berdiri di sana? Apakah kamu membutuhkan sesuatu Sayang?” tanya Aulia seraya melangkah menghampiri menantunya ini.
“Khay ingin membantu Mama membuat sarapan pagi,” jawab Khay. Kemudian perempuan itu langsung memeluk tubuh Aulia sembari berkata, “Ma, terima kasih karena sudah bersikap baik pada Khay, jika Mama dan juga Papa tidak ada, pasti Khay akan hidup terlunta-lunta di pinggir jalan,” ujar Khay dengan menitihkan air matanya ketika bayangan akan semua orang yang ia minta bantuan ternyata menjauh dan tak mau mengenalnya lagi setelah tahu jika Khay jatuh miskin.
Aulia melepaskan pelukan Khay kemudian membingkai wajah cantik putrinya mengunakan kedua tangan dan berkata, “Sayangku kamu tidak perlu berterima kasih dan justru Mama sangat bahagia sekali karena pada akhirnya memiliki putri cantik dan juga baik hati seperti kamu dan mulai dari sekarang Mama ingin kamu melupakan hari menyedihkan itu.” Aulia melihat ke arah Khay dengan sorot mata meminta jawaban dan Khay langsung menganggukkan kepalanya setuju.
“Khay akan membiarkan semuanya tertinggal bersama dengan kehidupan bahagia dan juga sedih yang ada di kota bandung. Dan Khay akan memulai semuanya dari awal meskipun tanpa adanya Papa.” Suara Khay bergetar ketika ia menyebutkan kata ‘Papa’ namun, Khay juga tahu jika papanya akan merasa sedih ketika melihatnya masih terpuruk akan semua kenangan memilukan itu. Khay bertekad untung bangkit secepat mungkin dan ia harus melupakan semua yang ada di masa lalunya.
“Axel dan juga Andrea pasti merasa senang sekarang sebab mereka melihat kamu kembali melanjutkan hidup lagi. Mama dan juga Papa Jiro memang tak akan bisa menggantikan posisi Axel dan juga Andrea di hati kamu, tapi kami akan menyayangi kamu sama seperti kami menyayangi Dilan,” ujar Aulia kemudian meraih tubuh Khay masuk ke dalam pelukannya.
***
Jiro bersama dengan Dilan melangkah masuk ke dalam ruangan dapur ini dan kedua lelaki itu melihat ke arah kedua perempuan yang kini sedang berbincang-bincang bersama dan sesekali terdengar cada tawa renyah disela-sela perbicangan keduanya itu.
“Sepertinya Mama sangat senang sekali nih karena memiliki seorang putri yang selama ini selalu mama impikan,” ujar Jiro pada sang istri seraya melangkah masuk ke dalam ruangan ini.
“Pagi Pa,” sapa Khay pada Jiro sembari menarik salah satu kursi yang biasanya Papa mertuanya itu duduki. Khay sebelumnya sempat bertanya pasa Aulia tentang di mana sang Papa bisanya duduk.
“Seharusnya yang lo persilahkan duduk itu gue bukan Papa,” ujar Dilan sembari melirik ke arah Khay.
Aulia dan juga Jiro yang mendengarkan ucapan putra mereka itu hanya bisa terkekeh geli.
“Dilan, bagaimana mungkin kamu bisa cemburu dengan Papa kamu sendiri,” kata Aulia sembari menggelengkan kepalanya.
“Mana mungkin Dilan merasa cemburu, Mama jangan salah sangka,” tangkis Dilan yang tak menerima tuduhan sang Mama begitu saja.
“Sudah-sudah, ayo kita lekas sarapan pagi sebab Papa ada meeting pagi hari ini dan Dilan juga harus berangkat ke sekolah,” ujar Jiro dan semua orang menganggukkan kepalanya setuju.
Setelah selesai melakukan sarapan pagi Aulia mengantarkan sang suami sampai ke halaman rumah, sedangkan Khay beranjak menaiki anak tangga rumah ini untuk mengambilkan tas sekolah suaminya, kok rasanya aneh banget ya ketika mengatakan jika suami masih sekolah dan bukannya kerja, tetapi itulah yang terjadi pada kehidupan Khay sekarang.
“Lo ngambil tas aja lama banget sih.” Sembur Dilan ketika melihat khay mulai menuruni anak tangga rumah ini sedangkan Dilan sendiri sudah menunggu di kaki anak tangga.
“Kenapa juga tadi ketika hendak sarapan nggak langsung bawa tas, malah nyuruh-nyuruh,” ujar Khay seraya menuruni anak tangga rumah ini. “Hua ...” Khay berteriak ketika kakinya melewati salah satu anak tangga.
Khay memejamkan kedua matanya seakan perempuan itu sudah siap untuk jatuh ke lantai, tetapi tidak di sangka tangan kekar seseorang langsung meraih pinggangnya kemudian membawa Khay masuk ke dalam pelukan hangatnya. Khay membuka mata dan melihat jika ini adalah suaminya, ya lelaki angkuh yang nampak dingin serta menyebalkan ini ternyata memeluknya dengan begitu erat agar tidak terjatuh.
Ketika keduanya saling beradu tatap dan adegan ini sungguh terlihat begitu romantis sekali. Jika seseorang tidak tahu maka mereka semua pasti akan mengira jika Khay dan juga Dilan sedang berpelukan di bawah anak tangga rumah ini dan itulah yang sekarang sedang Aulia pikirkan.
“Astaga, kalian ini masih pagi sudah main peluk-pelukan saja, kenapa ngga melakukannya di dalam kamar saja tadi, biar nggak ada yang lihat,” ujar Aulia sembari melewati sepasang pengantin baru itu begitu saja.
Khay langsung sadar jika kini ia masih ada didalam pelukan suaminya, kemudian perempuan itu pun langsung mendorong tubuh Dilan lalu melemparkan tas yang ia bawa pada sang empunya sembari berkata, “Nih tas kamu,” ujar Khay. Khay hendak menjauh namun, Dilan menarik bajunya hingga membuat niat awal Khay untuk menjelaskan pada sang Mama tentang apa yang barusan perempuan itu lihat urung sudah.
“Antar gue berangkat sekolah sampai ke teras rumah,” pinta Dilan dengan wajah datar.
“Kenapa aku harus mengantarkan kamu,” ketus Khay tidak suka.
Dilan mencondongkan tubuhnya ke arah Khay hingga membuat jarak keduanya mulai terkikis sekarang. Dilan memperhatikan kedua bola mata Khay yang bergerak kesana-kemari kemudian berkata, “Lo itu istri gue dan kata lain dari istri itu babu, jadi lo harus nurutin semua keinginan gue. Paham.”
Khay hanya diam saja tanpa menjawab. Dilan melirik ke arah Khay sekilas kemudian mengangkat kedua pundaknya tak acuh hingga mereka kini berhenti di depan halaman rumah.
“Gue berangkat dulu,” kata Dilan pada Khay.
“Hem,” jawab Khay tanpa mau melihat ke arah Dilan sedikitpun. Khay merasa sakit hati ketika dirinya disamakan dengan babu alias pelayan.
“Gitu aja?” tanya Dilan dengan melihat ke arah Khay.
“Lalu gue harus kayang gitu,” jawab Khay sewot dan nada suaranya juga terdengar marah, tapi entah kenapa Dilan malah ngakak mendengarnya. Hal itu tentu membuat Khay merasa semakin kesal saja. Tapi Dilan ganteng kalau tersenyum begini seakan pemuda itu sedang melepaskan topeng wajah datarnya.
Dilan mengulurkan tangannya di depan wajah Khay dan Khay yang tidak peka hanya diam saja hingga membuat Dilan merasa kesal kemudian tangannya terulur untuk menggengam tangan sang istri sembari berkata,
“Mulai besok lo harus salim begini sama gue!” perintah Dilan dengan wajah datar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Hilman damara
wah key jangan galak2 ya orang kaku sedingin bongkahan es itu di lawan nya Ama yang sabar2 jangan di lawan Ama kejutekan juga bisa berabe...oke lanjut kak dan tetap semangat oke
2023-04-13
1